
Siap memecahkan teka-teki yang sebenarnya??
Dibaca pelan-pelan biar feelnya dapat yaa.
Happy Reading
Ara mengerjapkan matanya berusaha menyesuaikan cahaya dalam ruangan yang....tunggu dulu, ruangan bernuansa hitam putih dan abu-abu ini sepertinya dia kenal. Emm ralat, bukan kenal lagi tapi begitu dia kenali.
Kamar luas yang masih begitu rapi itu adalah kamar apartemen yang dulu menjadi tempat tinggalnya bersama Gio. Ara terkejut stengah mati melihat tempat yang dia pijaki sekarang. Jika seperti ini berarti yang menculiknya tadi adalah Gio?
Ara beranjak dari kasur dan memperhatikan setiap sudut kamar. Tidak ada yang berubah sama sekali. Ara tersenyum tipis, bayangan saat Gio yang begitu manja padanya terlintas begitu saja. Ara kembali duduk di tepi tempat tidur dan memukul kepalanya pelan, kenapa dia jadi memikirkan itu. Ara kembali menatap ruangan luas itu, bahkan bonekanya masih berjejer rapi di lemari khusus yang dibelikan Gio. Pantas yang menculiknya tadi tak melukainya, ternyata yang menculiknya adalah orang yang dia kenal, tapi kemana Gio.
Ara menghela nafas pelan, dia harus menyiapkan dirinya untuk bertemu Gio hari ini. Apapun yang terjadi dia akan terima, dia ikhlas atas segala kemungkinan yang terjadi. Ara menatap paper bag yang ada diatas meja dengan tatapan kosongnya, apa dia bisa, apa harus membuka luka lama seperti ini lagi.
Disisi lain, Gio berjalan tergesa-gesa masuk kedalam apartemen lamanya setelah Arsal mengabarinya bahwa dia ada disini. Banyak pertanyaan yang muncul dikepalanya, saat dirinya menolak, Arsal dengan tegas menyuruhnya datang. Tak ada pilihan lain, sekarang Gio harus lebih menurut pada Arsal agar sahabatnya itu mau membantu. Bagaimana tidak menolak jika Arsal selalu mengancamnya, jika tidak menuruti perkataannya, Arsal tidak akan mau membantu Gio lagi dan sangat-sangat terpaksa Gio harus selalu menurut padanya sekarang. Lihat saja nanti jika dia sudah berhasil bertemu Ara, dia tidak akan mau diperintah lagi.
"Apa?" tanya Gio dengan nafas ngos-ngosan.
"Anj..."
"Gue hajar juga lo,"
Arsal yang baru saja keluar dari dapur dengan sebotol minuman kaleng yang dia pegang, mengumpat dalam hati saat Gio tiba-tiba datang membuatnya terkejut lalu berakhir mengancamnya.
"Buruan, gue mau pulang," ketus Gio. Bukannya apa-apa, dia tidak ingin berlama-lama di apartemen yang begitu memiliki banyak kenangan dengan gadisnya, itu membuatnya semakin sesak.
"Di kamar lo," sahut Arsal.
Gio mengerutkan keningnya, bingung dengan arah pembicaraan sahabatnya itu. Arsal menghela nafas pelan lalu meneguk minumannya dan kembali menatap Gio.
"Dia ada dikamar lo, gue yang bawa kesini..."
Belum sempat Arsal menyelesaikan ucapannya, Gio sudah berlalu dengan buru-buru hendak ke kamarnya. Langkahnya terhenti diambang pintu saat ucapan Arsal kembali terdengar.
"Selesaikan masalah lo sama dia baik-baik. Jangan kebawa emosi atau lo akan nyesel seumur hidup. Gue pamit," setelah mengatakan itu, Arsal berlalu meninggalkan Gio yang masih menatap punggung Arsal yang hendak membuka pintu apartemen.
"Lo tau gimana gue," sahut Gio.
"BAYARANNYA JANGAN LUPA,"
Teriakan Arsal sukses membuat Gio tersenyum tipis. Laki-laki dengan balutan baju kaos hitam itu menatap gagang pintu yang dia pegang. Menghela nafas pelan berusaha menormalkan detak jantungnya yang berpacu tak normal. Setelah memantapkan hatinya, Gio memutar gagang pintu dan mendorongnya pelan hingga terbuka dengan lebar.
Pemandangan pertama yang dia lihat adalah gadis yang dua tahun ini menghilang darinya sedang menatapnya dengan tatapan terkejut. Dunia seolah berhenti berputar, tatapan keduanya terkunci satu sama lain, menyalurkan rindu dan rasa yang masih tertinggal dihati keduanya.
Cukup lama berada di posisi itu, Gio akhirnya memilih melangkah mengikis jarak dengan perempuan yang masih terpaku ditempatnya. Tatapan keduanya tak beralih sama sekali. Gio menatap mata teduh milik perempuan yang masih menduduki tahta tertinggi hatinya dengan rindu yang menggebu, darah Gio berdesir hebat saat untuk pertama kalinya setelah dua tahun berlalu dia bertemu Ara. Sama halnya dengan Ara, tidak munafik dia juga merindukan Gio, merindukan sosok laki-laki yang dulu membuatnya merasakan bagaimana rasanya bahagia.
Saat merasakan sentuhan lembut pada pipinya, Ara kembali ke alam sadarnya. Perempuan itu dengan cepat menepis tangan Gio dan mengalihkan tatapannya. Reaksi spontan Ara membuat Gio terkejut.
"Apa kabar?" tanya Gio dengan suara seraknya.
Ara menatap Gio dengan tatapan tak terbaca, jujur saja hatinya berdetak tak karuan saat untuk pertama kalinya lagi suara berat Gio mengisi indra pendengarannya.
"Aku mau pulang," balas Ara ketus.
Perempuan itu berjalan menuju pintu namun ditahan Gio dengan cepat. Gio membanting pintu kamar lalu menguncinya, tak lupa membuang kunci itu keatas lemari yang tingginya tak main-main buat Ara.
Ara berbalik dan menatap Gio dengan mata melotot, jika sudah seperti ini bagaimana dia akan pergi dari sini.
__ADS_1
"Kamu gak boleh pergi lagi," ucap Gio tegas.
"Kamu bukan siapa-siapa aku. Jangan melarang ku," balas Ara tak kalah tegasnya.
"Kita belum selesai Ara, masih belum ada kata selesai diantara kita. Kamu masih tetap milik aku," ucap Gio menekan kata-katanya diakhir kalimat.
Ara menggeleng tak percaya menatap Gio yang begitu egosi. Masih miliknya, waw Ara tak habis pikir dengan jalan pikiran Gio, jika Ara masih miliknya, lalu bagaimana dengan istri Gio, apa Gio tak memikirkan perasaan istrinya.
"Sejak kapan kamu jadi brengsek kayak gini?" tanya Ara menatap tajam kearah Gio.
"Sejak kamu pergi gitu aja," jawab Gio menatap Ara.
"Brengsek kamu, Gio,"
Gio menatap Ara takjub, baru kali ini dia mendengar ucapan Ara yang kasar seperti itu.
"Kamu bilang aku masih milik kamu, kamu bilang belum ada kata selesai diantara kita ?" tanya Ara yang dijawab anggukan dari Gio.
"KITA SUDAH SELESAI SETELAH MALAM ITU, GIO. KITA SUDAH SELESAI SETELAH KAMU MENGKHIANATI AKU, DAN BAGAIMANA DENGAN ISTRI KAMU, BRENGSEK BANGET KAMU, GIO," teriak Ara.
Gio terkejut bukan main dengan pertanyaan Ara. Mengkhianati? Sejak kapan Gio mengkhianati Ara, lalu apa tadi itu, Istri? Sejak kapan Gio menikah dan memiliki istri, Ara tidak salah bertanya kan?
"Aku belum menikah, Ara dan aku tidak pernah mengkhianati kamu, kamu yang ninggalin aku," jawab Gio masih berusaha tenang agar tak terpancing emosi.
"Kamu gak khianati aku?" tanya Ara membuat Gio mengangguk tegas.
Ara terkekeh pelan lalu berbalik mengambil ponsel yang terletak di nakas samping tempat tidur. Ara mengutak-atik ponselnya tersebut lalu melemparnya pada Gio yang langsung di tangkap langsung oleh laki-laki itu.
"LALU ITU APA, MAU NGELAK KALAU ITU BUKAN KAMU, JELAS-JELAS ITU KAMU," teriak Ara.
Gio diam memperhatikan apa yang Ara tunjukkan padanya. Fotonya bersama seorang perempuan, dan beberapa video yang membuatnya naik darah. Gio membanting ponsel Ara sampai pecah dan berhamburan.
"Itu bukan aku," ucapnya tajam.
"Bohong, jelas-jelas itu kamu," sahut Ara tak mau kalah.
Gio mendekat lalu menarik tangan Ara cukup keras hingga perempuan itu menabrak dada bidangnya.
"Itu bukan aku, Ara," kata Gio menatap dalam kedua netra Ara berusaha meyakinkan gadis itu.
"PEMBOHONG," teriak Ara didepan muka Gio.
Emosi Gio memuncak saat Ara sama sekali tidak mempercayainya. Gio tak sebrengsek itu sampai mempermainkan perasaan seseorang dan berhubungan badan dengan orang yang tidak memiliki hubungan dengannya.
"Dengarin aku," ucap Gio menangkup kedua pipi Ara.
Ara memberontak tak mau menatap Gio, dia mau lepas dari laki-laki dihadapannya ini. Ara tak menangis, dia hanya merasakan sesak dan sakit dihatinya saat kembali membuka luka lamanya.
"DENGARIN GUE," bentak Gio karena Ara tak berniat mendengarkannya.
Gio melepaskan Ara dan mundur selangkah memberi jarak pada Ara yang kini menatapnya dengan mata memerah menahan tangis. Rahang laki-laki itu mengeras dengan kedua tangan terkepal kuat, matanya menyorot Ara penuh intimidasi.
"ITU BUKAN GUE, GUE GAK PERNAH MELAKUKAN HAL SEBEJAD ITU. GUE GAK PERNAH MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU SELAIN SAMA LO HARI ITU DIKAMAR INI," teriak Gio. Nafasnya memburu menahan emosi yang kian memuncak, ingatkan Gio jika dia sudah berubah tempramen sekarang ini.
"Terus malam itu kamu kemana sampai menghilang berhari-hari tanpa kabar dan bertepatan dengan video-video itu masuk ke aku. Kamu udah khianati aku, Gii. Kamu nyakitin aku," kata Ara lirih menunduk menyembunyikan air matanya.
Gio diam memperhatikan Ara, menunggu perempuan itu menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
"Kamu ninggalin aku gitu aja padahal beberapa hari sebelumnya kamu udah janji gak akan ninggalin aku, kamu ingkar, Gio." lanjut Ara duduk di tepi kasur dan menangis sesenggukan.
Gio menghela nafas kasar mendengar penuturan Ara, dia akui ini memang salahnya dari awal. Seharusnya dia jujur dari awal pada Ara. Gio berjalan mendekat dan berdiri tepat di hadapan Ara, tanpa banyak bicara laki-laki itu melepas kaos hitamnya membuat Ara takut.
"M-mau ngapain?" tanya Ara.
Gio tak menjawab, laki-laki yang hanya mengenakan celana panjangnya itu berlutut dihadapan Ara, menggenggam tangan Ara. Perempuan itu hanya mengamati setiap gerak-gerik Gio dalam diam dan sesekali suara isakan lolos dari mulutnya.
"Aku minta maaf," ujar Gio lembut.
"Udah percuma," sahut Ara cepat.
"Kita sudah tidak bisa diperbaiki lagi, Gii," lanjutnya.
"Bisa," ucap Gio cepat.
"Dengarin aku baik-baik," perintah Gio.
Laki-laki itu beralih duduk disamping Ara lalu memutar tubuh Ara agar duduk berhadapan dengannya. Kedua mata mereka kembali bertemu. Gio menggenggam erat tangan Ara. Tatapan cinta dan sayang yang dulu Ara selalu liat dimata Gio masih sama hingga hari ini.
"Beberapa hari sebelum kamu tiba-tiba menghilang gitu aja, Gea kecelakaan," ujar Gio mulai menceritakan apa yang terjadi. Ara terkejut, saat hendak membuka suara, Gio menutup mulutnya dengan sebelah tangan besarnya.
"Aku gak ngasih tau kamu karena takut kamu khawatir dan kepikiran terus, tapi ternyata justru itu awal masalah dalam hubungan kita. Saat itu Gea koma, malam pas aku janji sama kamu mau nginap di apartemen semuanya berubah begitu saja, awalnya tak terjadi apa-apa sampai Gea sadar dan langsung ajak aku ketemu Zian. Singkatnya Zian melakukan hal yang membuat Gea kecewa. Aku bawa Gea pulang karena dia pingsan lagi dan aku mau bawa dia berobat di luar negeri. Tapi ditengah jalan, aku dikeroyok dan ditusuk orang yang gak dikenal," ujar Gio panjang lebar.
Ara melotot kaget mendengar penuturan Gio, benarkah seperti itu.
"Kalau kamu gak percaya...." Gio menggantung ucapannya lalu mengarahkan tangan Ara ke perut kotak-kotaknya yang tak terbungkus apa-apa. Ara terkejut dan hendak menarik tangannya tapi ditahan oleh Gio.
"Ini bekas jahitan waktu itu biasa bikin kamu percaya kan?" tanyanya. Ara menatap perut laki-laki itu, benar ada bekas jahitan kecil disana. Apa selama ini dia hanya salah paham, dia membenci Gio dan pergi dari Gio dengan alasan yang dibuat-buat, apa selama ini mereka dipermainkan tapi siapa yang melakukan ini semua.
"Aku menghilang bukan karena sengaja, aku koma 5 bulan lamanya. Arsal mau hubungi kamu tapi tiba-tiba kamu hilang begitu saja dan ternyata video murahan itu yang buat kamu pergi dari aku selama ini,"
"Kamu salah paham, sayang,"
Jantung Ara berdetak tak karuan saat dia kembali mendengar panggilan sayang dari mulut laki-laki itu.
"Aku nyari kamu dua tahun terakhir ini tapi gak pernah ketemu, sampai akhirnya Gea bilang kalau dia ketemu kamu disini. Aku minta maaf atas segalanya, aku minta maaf gak jujur dari awal, aku minta maaf karena sudah meninggalkan mu, aku minta maaf karena membiarkan kamu sendirian, aku minta maaf karena harus melakukan cara kasar biar aku bisa ketemu sama kamu," ujar Gio benar-benar menyesal.
"Aku kangen, Ra. Kangen banget. Dua tahun bukan tahun terbaik buat aku. Justru tahun yang menyakitkan. Aku mau sama kamu, bukan orang lain," lanjutnya lirih.
"Tapi kamu udah nikah, aku dapat undangannya," sahut Ara.
Gio menggeleng, "Enggak, Ra. Aku belum pernah menikah. Aku tunggu kamu, bahkan harus bohong sama ayah dan bunda. Aku bilang sama mereka, pernikahan kita diundur beberapa tahun karena kamu melanjutkan pendidikan diluar negeri, sambil aku cari kamu," lanjut Gio.
"Benar?" tanya Ara memastikan, jujur dia belum sepenuhnya percaya pada Gio.
Gio mengangguk pasti, "Kamu bisa tanya Arsal, dia tahu segalanya,"
"Maaf," ucap Ara pelan. Rasanya dia ingin menangis keras mengetahui segala kebenaran ini. Selama ini dia terjebak dalam permainan seseorang.
"Kangen, Ra," lirih Gio.
Ara mengangguk dan mengusap air matanya lalu memeluk Gio dengan erat. Bukan hanya Gio, dirinya juga sangat-sangat merindukan Gio. Laki-laki itu membalas pelukan Ara tak kalah eratnya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Ara yang dia rindukan, pelukan yang selama ini dia rindukan, kehangatan dan kenyamanan yang selama ini dia rindukan akhirnya dia dapatkan kembali.
"Kangen banget," ucap Gio menangis sesenggukan, menyalurkan rasa rindunya pada perempuannya itu. Sedangkan Ara hanya mengangguk pelan.
"Kamu masih milik aku," ucapnya.
__ADS_1
...-To be continued-...