
"Lo ngapain disini", tanya Veronica bingung melihat siapa yang datang.
Dia tidak tahu, ternyata Ken dekat dengan gadis ini. Veronica menatap gadis itu dengan alis berkerut dalam. Bahkan gadis ini sama sekali tak menjawab pertanyaan dan dengan tenangnya menatap Veronica dengan senyum miring.
"Lo sendiri ngapain disini", tanyanya balik.
"Gue tinggal disini", jawab Veronica berhasil membuat gadis itu tersentak kaget. Sial.
"Ken ada?", tanyanya.
"Lagi mandi, ada urusan apa?", tanya Veronica.
"Lo gak perlu tau", sahut gadis itu santai.
"Gue boleh masuk?", tanya gadis itu lagi.
"Lo ngapain sih pagi-pagi gini bertamu kerumah orang, ganggu tau gak", bukannya menjawab, Veronica justru balik bertanya.
"Gue udah bilang, bukan urusan lo", sahutnya ketus.
"Siapa sayang.....", teriak seseorang dari dalam.
Laki-laki dengan balutan kaos army dengan celana pendek itu berjalan mendekat sambil menggosok kepalanya yang basah dengan handuk kecil yang dia bawa.
"Nih", jawab Veronica kesal menggeser tubuhnya hingga tubuh gadis yang bertamu sepagi ini ke apartemennya terlihat.
"Rania, ngapain lo kesini pagi-pagi gini, gak ada kerjaan banget lo", sahut Ken santai.
Ya, gadis yang bertamu sepagi ini adalah Rania. Dari tadi dia sudah menelfon Ken namun laki-laki ini tak bisa dihubungi membuatnya terpaksa harus menemuinya langsung.
"Bukannya kuliah malah ganggu orang", ketus Veronica lalu berbalik meninggalkan dua orang itu.
Sudah dibilang, sikap manja, manis dan lembut Veronica hanya dia perlihatkan di hadapan Ken, bukan orang lain. Biarkan orang menilainya buruk, yang jelas sikap yang dia perlihatkan diluar, bukanlah sikap aslinya. Dia melakukan itu untuk menutupi diri dari orang-orang. Tapi beda cerita jika bersama Ken. Laki-laki itu sudah paham dan tau betul kehidupan gadis itu.
"Masuk", perintah Ken berjalan lebih dulu menuju sofa.
"Lo tinggal barang dia disini?", tanya Rania setelah duduk di sofa depan Ken.
"Hm",
"Tapi kenapa bisa"
"Bisa aja kan, apa urusannya sama lo"
"Ara?",
Mendengar nama itu Ken paham Rania khawatir dia berpaling dari Ara dan tak mau lagi membantunya memisahkan keduanya.
"Gue gak bilang berhenti suka sama dia, jadi jangan takut gue gak bantu lo buat pisahin mereka", sahut Ken tepat sasaran.
"Awas aja lo bohong", sahut Rania.
__ADS_1
Sebenarnya dia masih ragu, Bagaimanapun juga jika keduanya tinggal bersama seperti ini, kemungkinan-kemungkinan itu bukan tidak mungkin akan terjadikan.
"Lo bisa pegang kata-kata gue. Ara masih tetap tujuan utama gue, gue masih tetap mau misahin mereka dan Ara jadi milik gue", ujar Ken lagi seolah mengerti pikiran Rania.
"Jadi rencana lo apa, jangan kebanyakan nunda kak", kata Rania. Dia sudah tidak tahan melihat kedekatan mereka.
"Ada", jawab Ken singkat.
"Iya tapi apa, kita udah kebanyakan buang waktu tau gak", sentak Rania.
"Sabar, bego. Gue udah bilang, main halus", ujar Ken tenang.
"Ya tapi lo tau sendiri, kalau gini terus mereka bakal makin susah dipisahinnya", Rania benar-benar sudah muak dengan Ken yang selalu bermain-main. Dia ingin ini selesai dengan cepat.
"Gue udah pake Gea buat gertak Gio tapi sama sekali gak ada hasil", ujar Rania lagi mengingat kejadian dulu.
Ken melotot tak terima, rautnya seketika berubah datar dengan tatapan tajamnya membuat Rania takut, dia salah bicara.
"Jangan pernah sekali-kali lo sentuh adik gue, atau lo sendiri yang tanggung akibatnya", peringat Ken tak main-main.
"Makanya lo susun rencana cepat kalau gak mau gue yang bertindak sendiri", sahut Rania memberanikan diri.
Ken mendengus, menyandarkan tubuhnya pada sandara sofa lalu menatap Rania dengan senyum miring.
"Minggu depan, setelah acara peresmian CEO baru diperusahaan Gio. Dan lo juga harus bersiap, jangan lakukan apapun diluar perintah gue", kata Ken
Rania menghela nafas kasar, oke kali ini dia harus mengikuti permainan Ken. Dia yakin Ken sudah memikirkan ini matang-matang.
"Eh udah pulang?", tanya Veronica mendekat dan meletakkan apa yang dia bawa diatas meja.
Ken mengangguk dan terus memperhatikan pergerakan Veronica, gadis yang sedang mengenakan dress rumahan itu benar-benar membuatnya mengingat Aluna.
Tanpa membuka suara lagi, Ken menarik Veronica sampai gadis itu terjatuh duduk di pangkuannya.
"Eh", Veronica kaget saat Ken melingkar tangan di pinggangnya.
"Hari ini mau kemana ?", tanya Ken menatap teduh Veronica. Tangan laki-laki itu terangkat mengusap lembut rambut Veronica.
"Gak tau, di apartemen aja kali. Gak ada acara juga", jawab Veronica.
Senyum Ken mengembang mendapat jawaban seperti itu.
"Kenapa memangnya?", tanya Veronica.
"Kita ulang yang kemarin, gimana?", goda Ken dengan senyum jahilnya.
Pipi Veronica memerah seketika. Mengingat kejadian itu membuat panas yang ada dipipinya perlahan menjalar ke telinga dan lehernya.
"Kok pipinya merah", tanya Ken jahil.
Veronica langsung memeluk Ken, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ken, "Malu", ujarnya tertahan.
__ADS_1
Ken terkekeh pelan melihat tingkah Veronica yang dia rasa begitu menggemaskan. Ah sungguh, perempuan ini bisa mengobati rindunya pada Aluna.
"Liat sini", perintah Ken membuat Veronica mengangkat kepalanya dan menatap Ken yang juga menatapnya
Perlahan wajah Ken mendekat, menyatukan bibirnya dengan bibir tipis perempuan itu, mel**atnya lembut. Tangan yang berada di pinggang Veronica kini sudah tidak bisa diam, meraba paha Veronica.
"Boleh ya, kita ulang lagi", bisik Ken berat.
Veronica yang kini terbuai akan sentuhan Ken hanya mengangguk pelan, membuat Ken kembali mel**at bibirnya. Dan yah, pagi ini Ken dan Veronica kembali melakukannya. Olahraga pagi disofa ruangan tamu
...---🍒🍒🍒---...
Sedangkan Rania, setelah keluar dari gedung apartemen Ken dibuat terkejut akan kehadiran seseorang yang kini menatapnya tak suka.
"Pulang", sentak orang itu menarik Rania.
"Apaan sih, Bisma. Gue bisa pulang sendiri", kata Rania berusaha memberontak.
Diparkiran mobil yang sangat sepi, bahkan hanya ada mereka berdua Bisma melepaskan kasar tangan Rania membuat gadis itu meringis pelan.
Dia, Bisma Alexander. Mantan kekasih Rania sejak SMA tapi sampai sekarang mantannya itu masih saja ikut campur urusannya jika itu berhubungan dengan Gea dan orang terdekatnya.
"Lo harusnya kuliah, ngapain datang kesini", tanya Bisma.
"Lo gak perlu tau", sahut Rania ketus.
"Urus aja calon pacar lo itu", lanjut gadis itu tak mau menatap Bisma.
"Kenapa hm? cemburu?", tanya Bisma tersenyum tipis.
"Gak, gue sekarang mau Gio bukan lo lagi", sahut Rania cepat.
"Gio sudah punya pacar dan pacarnya kakak lo sendiri. Lo mau rusak kebahagiaan kakak lo?", tanya Bisma.
Jangan tanyakan darimana Bisma tau tentang Gio. Mereka sudah mengenal lama dan kemarin dia baru saja mendapat berita itu dari rekan kerjanya. Bahkan Gio dengan terang-terangan mengakui Ara didepan kolega bisnisnya.
"Gue udah berjuang biar bisa dilihat Gio bertahun-tahun dan dengan gampangnya dia masuk antara gue dan Gio", teriak Rania.
"Lo harusnya sadar, mau berjuang seperti apapun Gio gak akan pernah liat lo karena dia udah benci sama lo", sahut Bisma tenang.
"Ini semua karena lo", teriak Rania lagi.
"Itu karena pikiran pendek lo dan sekarang lo masih gunain otak lo yang kecil itu untuk merusak kebahagiaan orang?", tanya Bisma pedas. Sebenarnya laki-laki itu ingin merubah Rania kembali seperti dulu lagi tapi rasanya sangat sulit. Gadis itu sudah dilingkupi rasa benci dan dendam. Meskipun begitu, dia tidak menyerah begitu saja, jika cara halus tidak bisa maka cara kasar pun akan dia lakukan.
"Apa lo gak liat, Gio bahagia bareng Ara dan begitu pun sebaliknya. Lo tega hancurin kebahagiaan kakak lo yang bahkan dari kecil gak pernah bahagia", tanya Bisma tahu betul kehidupan mantan kekasihnya itu.
"Lo sama Ara dulu deket banget tapi karena rasa iri, lo sampai buta, lo membencinya bahkan ikut menyiksanya seperti keluarga lo yang lain. Ini bukan Rania yang gue kenal", lanjut Bisma menohok hati Rania.
"Berhenti sebelum lo menyesal",
...---To be continued---...
__ADS_1