
...---Happy reading---...
Gio yang baru saja keluar dari ruang dosen langsung disambut sahabatnya dengan cengiran khasnya. Namun belum sempat membuka suara, deringan pada ponsel di saku Gio mengurungkan niat Arsal. Gio merogoh sakunya lalu melihat kontak yang menelponnya. Tidak ada nama, hanya deretan angka yang tertera membuat Gio mengerutkan kening.
"Angkat aja siapa tau penting", sahut Arsal yang juga ikut menatap ponsel Gio. Tanpa perlu repot-repot membalas ucapan Arsal, Gio menggeser tombol warna hijau dan meletakkan ponselnya didekat telinga. Beberapa menit Gio hanya diam, bahkan tak bertanya siapa yang meneleponnya membuat Arsal bingung terlebih melihat raut wajah Gio yang berubah memerah menahan amarah.
"Kenapa ?", tanya Arsal ikut khawatir melihat perubahan raut wajah Gio.
Gio memutuskan sambungan teleponnya dan dengan tergesa hendak meninggalkan kampus.
"Kenapa Gio. Jangan bikin gue panik", kata Arsal ikut menyamakan langkahnya dengan Gio.
"Dia berulah lagi", jawab Gio singkat membuat Arsal membulatkan matanya.
"Bodoh", gumamnya lalu ikut menyusul Gio yang masuk kedalam mobilnya.
Setelah berkendara beberapa menit, tibalah mereka ditempat yang mereka tuju. Tanpa pikir panjang Gio menerobos masuk dan mencari keberadaan orang yang sudah membuat amarahnya memuncak.
Brakk.
Gio menendang pintu kayu itu dengan kasar sampai terbuka. Pemandangan didepannya membuat amarahnya benar-benar terpancing dan ingin membunuh orang itu sekarang.
"Lo sentuh dia, lo mati", katanya dengan dingin, aura sekitar pun langsung berubah drastis. Laki-laki dengan postur tubuh tegap itu berjalan kearah Ara dan Ken dengan menahan amarah yang sebentar lagi meledak.
Ken berdiri dengan tegap dan menghadap Gio dengan senyum miringnya. Ini diluar dugaannya tapi tidak papa, dia bisa membuktikan orang seperti apa Gio pada Ara ditempat ini.
"Lo datang?", sapa Ken tersenyum mengejek.
Gio diam tak membalas, matanya menyorot pada Ara yang duduk dibelakang Ken yang juga menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca. Mata tajam Gio jatuh pada sudut bibir Ara yang terluka membuat kesabarannya benar-benar habis.
"Bangsat", umpat Gio, detik berikutnya dia menyeret Ken keluar dari ruangan kecil itu dan menghajarnya dengan membabi buta. Dia tidak akan melakukan itu dihadapan Ara, sudah cukup gadis itu melihat dan mengalami kekerasan, dia tidak ingin mental Ara terganggu nantinya.
"Siapa yang izinin lo sentuh milik gue", kata Gio murka.
"Dia milik gue, bukan lo", sahut Ken.
Satu pukulan mendarat di rahang tegasnya, membuatnya tersungkur karena tidak siap.
Sedangkan Arsal sedang membantu Ara melepas ikatannya. Dia tidak ada niat melerai keduanya karena dia tahu keduanya sama-sama keras dan tidak mau kalah satu sama lain.
"Bibir cewek lo manis juga", kata Ken susah payah sambil menahan ringisannya. Pukulan Gio benar-benar keras dan berhasil membuatnya tidak berdaya. Untuk pertama kalinya dalam hidup dia melihat Gio semarah ini.
"Brengsek", umpat Gio kembali melayangkan pukulannya. Gio bahkan sama sekali tidak berniat menghentikan pukulannya. Sampai akhirnya suara lirih dari arah belakang berhasil menariknya kembali pada kesadarannya.
"Gio", lirih Ara.
Gio meneguk salivanya kasar lalu beranjak berdiri menghadap Ara. Gadis itu tampak ketakutan, membuat Gio merasa bersalah.
"Lihat, Ra. Pacar lo itu psychopat", kata Ken terbatuk-batuk.
Gio melirik Ken tajam lalu kembali menatap Ara dengan lembut.
"Kaget ya?", tanya Gio lembut berusaha menjangkau Ara. Gadis itu diam namun terus menatap Gio. Diluar dugaan, Ara justru menerjang tubuh Gio dan memeluknya erat.
"Takut", cicit Ara.
"Gak papa. Aku disini", kata Gio mengusap lembut punggung Ara.
"Tenang ya", kata Gio berusaha menenangkan Ara sambil sesekali mencium puncak kepala Ara lembut. Melihat itu, amarah Ken memuncak dan berusaha bangkit. Dengan gerakan kasar, Ken menarik Gio sampai pelukan mereka terlepas dan Gio tersungkur tepat didekat kolam renang.
"Jangan sentuh punya gue", kata Ken memperingati.
Arsal mulai panik saat melihat Gio yang seperti tengah ketakutan. Percayalah saat mata laki-laki itu tak sengaja menatap kolam renang membuat bayangan itu muncul lagi, bayangan yang selalu menganggu ketenangannya. Tubuh Gio bergetar takut dengan nafas yang sudah mulai tak teratur dan keringat dingin mulai membasahi keningnya.
__ADS_1
"Ken udah cukup", kata Arsal sedikit berteriak.
"Lo gak usah bela dia. Gue saudara lo", kata Ken membuat Ara syok. Benarkah Ken dan Arsal saudara.
"Tapi....", ucapan Arsal terpotong saat Ken menyahut begitu saja.
"Dia udah ambil punya gue", kata Ken tajam menatap Gio yang sudah susah payah menahan diri.
Ara menyadari ada yang aneh pada Gio. Laki-laki itu tadi begitu kuat memukuli Ken tapi kenapa sekarang seperti kehilangan kekuatannya. Ara menatap sekeliling dan baru menyadari mereka berada tepat didekat kolam renang. Ucapan Gea hari itu terlintas begitu saja, "Abang takut sama air yang menggenang banyak kayak dikolam renang, dia punya trauma", kata-kata itu langsung menyadarkan Ara dan menatap Gio yang sudah Ken cengkram kuat kerah kemejanya.
"Menjauh dari Gio", teriak Ara panik.
Mendengar Ara membela Gio semakin membuat Ken hilang kendali dan dengan senyum miring menatap Gio yang sudah memucat. Lalu tanpa pikir panjang, Ken melempar tubuh lemah Gio kedalam kolam renang. Ken tak takut melakukannya karena dia tahu Gio sangat handal dalam berenang, ini hal kecil baginya. Namun, dia dibuat heran saat Arsal berteriak dan memanggil nama Gio terlebih saat tubuh Gio yang ada dalam air tak bergerak sama sekali.
Sedangkan tubuh yang sedang menyatu dengan air itu kembali membuat ingatannya kembali pada kejadian mengerikan itu. Ingatan itu membuat tubuh Gio semakin lemah, bahkan hanya bergerak untuk naik saja Gio tidak mampu. Ingatan itu benar-benar menakutkan untuknya membuat sekujur tubuhnya lemah seolah tak memilik tulang.
"Lo mau bunuh dia, bego", teriak Arsal melihat Gio tak bergerak.
"Arsal tolongin Gio", kata Ara ikut panik.
"Gue gak bisa renang", sahut Arsal yang tak kalah panik.
"Raa ini gimana, Gio udah gak gerak sama sekali", kata Arsal, cemas, panik, khawatir sudah diubun-ubun membuatnya tak bisa berpikir jernih.
Melihat itu Ken semakin dibuat bingung, setahunya Gio pandai berenang, dia juga tidak memukul Gio tadi lalu kenapa Gio tak bergerak atau berusaha naik.
Dengan menghela nafas pelan, Ara meyakinkan diri lalu detik berikutnya gadis itu melompat kedalam kolam untuk menolong Gio. Beberapa menit berusaha membawa Gio kepinggir kolam, usaha Ara ternyata tidak sia-sia, dia berhasil membawa Gio naik dibantu Arsal.
Arsal langsung melakukan pertolongan pertama dengan menekan dada Gio beberapa kali, namun tak ada hasil, laki-laki masih saja tak menunjukkan tanda-tanda sadar.
"Gio bangun", kata Ara menepuk-nepuk pipi Gio.
"BANGUN", pekik Ara, takut dan khawatir membuat dia tak bisa mengendalikan diri. Arsal memberikan Gio nafas buatan lalu kembali menekan-nekan dada Gio hingga beberapa menit laki-laki itu terbatuk membuat Arsal dan Ara bernafas lega.
Ara membantu Gio beranjak duduk. Gio menatap sekeliling dengan raut tak terbaca lalu kembali menatap Ara yang juga menatapnya. Tanpa sepatah kata, Gio memeluk Ara erat yang dibalas tak kalah erat oleh Ara. Gadis itu bisa merasakan tubuh Gio yang bergetar takut.
"Gak papa. Kita pulang ya", bujuk Ara membuat Gio mengangguk.
Ara melepas pelukannya lalu membantu Gio berdiri dibantu Arsal. Ara menatap Ken yang masih mematung menatap ketiganya.
"Aku makin benci sama kamu", kata Ara lalu membantu Gio pergi dari sana, lain dengan Arsal yang masih menatap Ken tak percaya.
"Lo saudara gue, tapi gua gak nyangka lo bisa-bisanya berbuat seperti itu ke teman lo sendiri, gue kecewa", kata Arsal.
"Dia bukan teman gue", sahut Ken dingin.
...---🌻🌻🌻---...
Sesampainya di apartemen, Ara langsung mengobati lukanya dan mengganti pakaiannya, Ara beralih ke dapur membuatkan Gio minuman hangat, sementara laki-laki itu terus diam dan melamun di tempat tidur. Akibat tenggelam tadi membuat ingatan itu begitu sulit hilang dari kepalanya.
Gio mencengkram kuat-kuat rambutnya berusaha menghalau ingatan itu agar pergi darinya tapi tetap saja semakin Gio berusaha melupakan, semakin ingatan itu masuk kedalam otaknya.
"Pergi", pekik Gio sudah tak tahan.
Mendengat pekikan Gio, Ara dengan tergesa masuk kedalam kamar dan duduk ditepi tempat tidur menatap Gio yang masih menjambak rambutnya.
"Pergi", kata Gio lirih.
Wajahnya masih saja pucat. Ara melepas paksa tangan Gio yang menjambak rambutnya lalu menarik laki-laki itu kedalam pelukannya.
"Pergi", gumam Gio lirih.
Ara diam berusaha memberi ketenangan untuk Gio. Lambat tapi pasti tangan Gio bergerak membalas pelukan Ara. Pelukan nyaman yang berhasil membuatnya tenang.
"Raa", panggil Gio pelan.
__ADS_1
"Aku disini", kata Ara mengusap punggung Gio lembut.
"Aku capek. Dia gak mau pergi", adu Gio memukul kepalanya pelan.
"Jangan dipukul", kata Ara menurunkan tangan Gio.
"Gak papa. Jangan dipaksa, aku disini", kata Ara lembut.
Gio masih tak melepas pelukannya hingga hampir satu jam, pelukan Ara terlalu nyaman untuk dia lepas.
"Makan dulu", bujuk Ara membuat Gio menggeleng dan mengeratkan pelukannya.
"Capek", kata Gio manja.
Ara terkekeh pelan, laki-laki cuek ini ternyata begitu menggemaskan saat manja.
"Mau tidur", tanya Ara membuat Gio mengangguk.
Ara melepas pelukannya lalu mengusap lembut rambut Gio membuat laki-laki itu memejamkan mata menikmati sentuhan lembut Ara.
"Ya udah, kamu istirahat. Makannya nanti aja kalau kamu udah bangun", kata Ara membuat Gio kembali membuka matanya.
"Mau sama Ara", kata Gio dengan raut yang begitu menggemaskan dimata Ara.
"Gak ada. Kamu tidur sendiri", kata Ara tak menyetujui. Banyak hal yang harus dihidari, Ara tidak mau karena hanya mereka berdua yang ada disini.
"Gak bakal macam-macam. Mau yaa", bujuk Gio dengan puppy eyes nya membuat Ara terkekeh gemas.
"Janji", sahut Ara.
Gio mengangguk lucu, lalu menarik Ara untuk ikut berbaring dengannya. Gio memeluk Ara erat dan menenggelamkan wajahnya diceruk leher Ara.
"Tadi gak diapa-apain kan ?", tanya Gio pelan.
"Enggak kok", jawab Ara.
"Terus itu bibirnya kenapa berdarah?", tanya Gio yang sebenarnya sudah dia tahu jawabannya.
"Ditampar doang, gak papa", sahut Ara.
"Tapi katanya dia cium kamu", kata Gio dengan suara bergetar menahan tangis. Tidak bisa dibayangkan jika itu benar-benar terjadi, dia berjanji akan membunuh Ken setelah ini.
"Enggak, eehhmmmm.. hampir", sahut Ara. Tangannya mengusap lembut rambut hitam Gio.
"Maaf", kata Gio mengerat pelukannya.
"Kenapa minta maaf?", tanya Ara.
"Aku gak bisa jaga kamu", jawab Gio.
"Enggak, Gio. Kamu udah jaga aku kok", sahut Ara.
"Kamu kok bisa tau aku disana ?", tanya Ara penasaran.
Gio tak membalas justru kembali mengeratkan pelukannya, semakin menenggelamkan wajahnya diceruk leher Ara menghirup dalam-dalam aroma parfum Ara yang selalu Gio suka.
Ara berdehem pelan, apa dia harus bertanya atau tidak. Apa ini waktu yang tepat untuknya bertanya. Ara melirik Gio yang masih anteng memeluknya, dengan menarik nafas pelan Ara memberanikan diri untuk bertanya.
"Gio", panggil Ara namun tidak ada balasan.
"Gio", panggilnya sekali lagi tapi tetap sama.
Ara merenggangkan pelukannya dan melihat Gio ternyata sudah tertidur pulas. Pantas saja tak menyahut, pikir Ara. Gadis itu terkekeh pelan melihat wajah tenang Gio saat tertidur. Ara kembali mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Gio.
"Gemesin banget sih",
__ADS_1
...---To Be Continued---...