
Setelah acara lamaran dadakan, Gio dan Ara berjalan mendekat kearah sahabat-sahabatnya yang juga sudah ada kedua orang tua Gio disana. Vio langsung menyambung Ara dengan pelukan hangatnya.
"Calon mantu kesayangan bunda," celetuk Vio memeluk Ara dengan gemas.
"Wiissh otw proyek debay nih," celetuk Arsal.
Plakkk
"Bisa gak jangan ngomongin gitu kalau ada adek gue, kasian otaknya tercemari," sahut Gio setelah memukul kepala Arsal.
"Oke oke, jangan marah-marah dong pak bos," ujarnya.
Satu persatu orang bergantian memberi selamat untuk keduanya, bahkan orang tua Zian, Reyhan dan juga Arsal ikut memberi selamat.
Gio menoleh pada Ara yang asik bercerita bersama bunda dan adiknya. Senyum perempuan itu selalu jadi candunya. Gio suka sekali melihat senyuman Ara, gadis itu makin-makin terlihat cantik jika tersenyum seperti itu. Perhatian Gio teralih saat seseorang menepuk bahunya. Gio menatap datar orang yang kini berdiri dihadapannya.
"Selamat," ujar Bisma mengulurkan tangannya.
"Hmm," balas Gio menjabat tangan Bisma.
Keduanya dulu berteman dekat tapi karena satu dua hal sampai akhirnya mereka berjarak dan tak lagi seakrab dulu. Bisma tahu diri jika balasan Gio sudah seperti itu. Laki-laki dengan balutan jas berwarna hitam itu menghela nafas pelan lalu undur diri saat melihat Gio sama sekali tak memiliki niat untuk menatapnya lebih lama. Setelah kepergian Bisma, Gio menatap punggung laki-laki yang sudah berjalan menjauh itu sampai akhirnya pandangannya teralih pada Ken yang sedari tadi menatapnya dingin. Mereka sedari awal sampai sekarang tak pernah bertegur sapa meski selalu berada di kumpulan yang sama. Keluarga mereka sangat-dangat dekat tapi berbeda dari keduanya yang malah semakin hari semakin berjarak.
"Abang..." panggil Gea yang sudah berdiri di hadapannya bersama Ara.
Gio menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya 'kenapa' saat melihat gadis itu menyengir lucu padanya. Jika seperti ini pasti ada maunya.
"Abangkan masih lama disini terus Gea udah mau pulang tapi...." Gea menggantung ucapannya, Gio hanya diam menatap keduanya bergantian.
"Boleh gak, Gea pulang bareng kak Ara," pintanya.
"Gak boleh," sahut Gio cepat.
"Abang, ayolah. Gea pulang bareng kak Zian sekalian sama kak Ara. kasian tau kakak ipar keliatan capek banget," bujuk Gea lagi.
Gadis itu ingin menghabiskan waktu bertukar cerita bersama Ara itu kenapa dia begitu ingin pulang bersama calon kakak iparnya itu.
Gio menatap Ara yang memang tampak kelelahan namun berusaha ditutupi. Sedangkan dia masih lama disini, masih harus berkumpul bersama ayah dan sahabat-sahabat ayahnya.
Gio menghela nafas pelan lalu menatap Ara yang juga menatapnya dengan senyum tipis.
"Emang gak papa?" tanya Gio memastikan.
"Gak papa kok, besok kita ketemu lagi kan?" jawab Ara.
"Ya udah, kalian hati-hati. Aku antar kedepan," ujar Gio lalu menggandeng tangan dua gadis kesayangannya itu.
__ADS_1
Sampai didepan gedung, ternyata Zian sudah menunggu disana.
"Kalian hati-hati," pesan Gio lagi.
"Lo jangan ngebut," perintah Gio pada Zian yang langsung diangguki Zian.
"Kabari kalau udah sampai," ujarnya pada Ara dan Gea.
"Siap pak bos," sahut keduanya dengan semangat.
...---💓💓💓---...
Setelah mengantar Ara dan Gea kedepan tadi, Gio berkumpul bersama ayahnya dan sahabat-sahabat ayahnya bahkan disana ada Arsal dan Ken. Sebenarnya Gio enggan sekali berada disini tapi demi hormatnya pada sangat ayah, Gio terpaksa duduk disana.
"Bosan banget," bisik Arsal yang sama jengahnya dengan Gio.
Gio yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan orang-orang itu sungguh merasa bosan sama seperti apa yang dirasakan Arsal.
"Pulang aja yuk," ajak Arsal dengan berbisik.
"Lo mau digantung sama papa lo?" bisik Gio pada akhirnya.
Arsal mendesah pasrah, benar juga. Sengklek-sengklek begitu, Arsal paling takut dengan papanya, ya jangan salahkan Arsal tapi memang jika ayahnya sudah marah pasti akan sangat mengerikan.
Arsal dengan kesal meneguk minuman yang ada didepannya lalu kembali berbisik pada Gio.
"Lo tau sendiri gue gak minum gituan," sahut Gio.
Arsal mendengus, dia baru ingat Gio tidak bisa minum minuman beralkohol. Pantas saja sedari tadi Gio tak pernah menyentuh minumannya. Tanpa basa basi Arsal meminta jus pada pelayan untuk sahabatnya itu.
"Ayah.." panggil Gio membuat ayahnya menoleh.
"Habis ini Gio boleh pulang?" tanya Gio hati-hati.
Kevin hanya tersenyum dan mengangguk. Bersamaan dengan itu, minuman yang Arsal pesan tadi datang.
"Minum dulu baru pulang, udah ada noh," kata Arsal.
Gio menghela nafas pelan padahal dia sudah bersiap untuk pulang. Terpaksa, Gio harus meneguk minumannya hingga setengah. Dia juga sebenarnya haus.
"Diam-diam aja lo," celetuk Arsal pada Ken yang tadi diam memperhatikan Gio.
Ken hanya melirik sinis pada Arsal lalu kembali menatap Gio seolah menunggu sesuatu, tapi sayang hingga bermenit-menit terlewati, Gio masih saja tenang seperti tadi.
Gio menghela nafas pelan lalu kembali menatap ayahnya.
__ADS_1
"Yah, Gio ke toilet dulu," katanya. Setelah mendapat persetujuan, Gio segera melangkah menjauh. Sedangkan Ken menghela nafas berat. Rencananya hari ini gagal lagi saat melihat Gio terlihat baik-baik saja.
Gio yang sudah menjauh dari aula itu kini berhenti lalu membuka jas miliknya. Tubuhnya terasa panas dengan nafas yang memburu cepat, matanya memerah menahan gejolak dalam dirinya. Gio tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ada tambahan obat dalam minumannya tadi, sepertinya ada yang sengaja menjebaknya. Gio yang hendak ke kamar mandi langsung berbalik menuju parkiran dan pergi dari sana. Dia tidak ingin tetap berada di hotel sialan itu, Bisa-bisa keadannya dimanfaatkan orang lain. Dia butuh menenangkan diri.
Hampir 30 menit mengendarai mobilnya, Gio sampai didepan apartemennya. Demi apapun dia sudah tidak tahan lagi. Keringat sudah membanjiri tubuhnya, kepala yang pusing dan dada yang berdebar kencang membuat Gio makin tidak bisa tahan. Jika seperti ini dia bisa mati ditempat. Dengan tergesa-gesa Gio menekan setiap angka pada pintu apartemennya dan langsung masuk setelah pintu terbuka. Dengan langkah tertatih, Gio mendekati sofa dan duduk disana.
"Arrrggghhh," Gio mengeram tak tertahan sembari mencengkram kuat kepalanya. Nafasnya memburu, gejolak dalam dirinya benar-benar sudah tidak bisa ditahan lagi tapi apa yang harus dia lakukan.
Bersamaan dengan itu, Ara keluar dari kamar saat mendengar teriakan Gio. Ara panik saat melihat Gio dalam keadaan yang jauh dari kata baik-baik saja.
"Gio, kamu gak papa?" tanya Ara mendekat pada Gio.
"Shitt",
Mendengar suara itu, Gio semakin merutuki dirinya sendiri. Kenapa bisa dia lupa jika Ara sekarang tinggal di apartemennya. Niatnya kesini ingin menenangkan diri justru dirinya seolah terjebak. Doa tidak mungkin pulang kerumah dalam keadaan seperti ini, apalagi mencari pelampiasan ditempat orang-orang sering melakukan itu.
"Gio..." panggil Ara mengusap pipi Gio lembut.
"Panas," gumamnya serak.
Tanpa sadar sentuhan Ara semakin membuat Gio semakin tidak tahan. Tanpa aba-aba, laki-laki itu menyerang Ara, mencium bibir gadisnya itu dengan rakus. Ara terkejut dengan serangan mendadak Gio terlebih saat melihat tatapan Gio yang berbeda dari biasanya. Tatapan Gio seolah ingin memakannya habis. Ara memberontak membuat Gio semakin menahan tubuh mungil gadis itu dengan erat.
"G-gio, b-berhenti," kata Ara memohon saat ciuman laki-laki itu turun kearea lehernya.
"Arrgh," Ara mengerang saat Gio membuat tanda merah pada lehernya. Hal itu semakin menambah nafsu Gio.
Dengan tidak sabaran, Gio mengangkat Ara lalu membawa gadis itu kedalam kamar dan membantingnya pelan keatas kasur. Gio mengunci pergerakan Ara dengan kedua kakinya lalu laki-laki itu membuka semua baju yang dia gunakan. Demi apapun sekarang Ara takut pada Gio, melihat Gio yang terlibat berbeda dari biasanya membuat dia ingin segera pergi dari laki-laki ini. Ara berusaha memberontak saat Gio kembali ******* bibirnya rakus dengan tangan yang sudah kemana-mana.
"Gio, tolong jangan lakukan ini," pinta Ara memohon dengan derai air matanya.
"Sadar, Gii. Ini salah," ujar Ara.
"INI BUKAN GIO YANG AKU KENAL," pekik Ara lagi.
Gio sama sekali tak mendengarkan Ara, otak dan tatapannya kini dipenuhi kabut nafsu, laki-laki itu sudah kehilangan akal sehatnya. Bahkan kini dia sudah merobek baju Ara sampai gadis itu sudah tak lagi mengenakan apapun. Ara menangis kencang dan berusaha lepas dari Gio. Ini bukan Gio-nya, dia tidak mengenal orang yang kini bersamanya.
"GIOOOO...." Ara berteriak keras saat Gio berhasil menerobos masuk pada tubuhnya. Gadis itu bahkan mencakar punggung Gio. Segala upaya dia lakukan untuk lepas dari Gio tapi percuma, tenaganya tak sebanding dengan Gio yang kini sudah menyatukan dirinya.
Ara menangis merutuki dirinya sendiri yang tak bisa melawan. Dia tahu dia calon istri Gio tapi tidak seperti ini juga bukan? ini salah, benar-benar salah. Ditengah perih dan kenikmatan yang menghunjamnya berkali-kali, otak Ara masih berfungsi, Ara masih berusaha menghentikan Gio yang sekarang menulikan telinganya. Dia tak mendengar penolakan dan tangisan Ara. Dia seolah kehilangan akal. Gio, laki-laki itu sudah keluar dari porosnya.
Malam itu saat hujan diluar sana semakin deras membasahi bumi, Gio melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan pada Ara. Suara desah*n dan tangis saling bersahutan dikamar luas itu. Malam ini akan menjadi malam yang tak akan pernah keduanya lupakan. Bukan, bukan karena sama-sama menikmati tapi karena malam ini akan menjadi malam petaka untuk keduanya, awal dari segala hal yang akan terjadi kedepannya.
Ara terus-terusan menangis terisak saat Gio sama sekali tak mau menghentikan aktifitasnya, bahkan dia justru kelihatan sangat-sangat menikmatinya. Ara tidak tahu apa yang terjadi pada Gio malam ini. Baru beberapa jam yang lalu dia begitu manis melamarnya didepan semua orang dan sekarang, apa yang dia lakukan benar-benar melukai hati Ara.
Setelah cukup lama dan berkali-kali menyemburkan miliknya didalam tubuh Ara, Gio ambruk disamping Ara. Sedangkan gadis itu kembali menangis sejadi-jadinya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya setelah kejadian malam ini. Dia tidak tahu, haruskah dia membenci Gio atau apa?
__ADS_1
...**TO BE CONTINUED**...