Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 18 Toko buku


__ADS_3


...---Happy reading---...


Gio dengan semangat melangkahkan kakinya menuju parkiran untuk segera pulang. Sedari tadi, Ara sudah mengirimkannya pesan jika gadis itu sudah pulang setengah jam yang lalu.


"Gio...", panggil seseorang dari belakang Gio.


"Kenapa lagi ?", tanya Gio melihat siapa yang menghampirinya.


"Gue balik sama siapa ?", tanya Arsal.


Gio mendengus kasar, sahabatnya itu selalu saja menggagalkan rencananya. Entah bagaimana caranya, Gio harus memberitahu sahabatnya ini jika dirinya sedang memperjuangkan seseorang.


"Hari ini lo balik sendiri dulu, gue ada urusan", sahut Gio malas.


"Tapi Gii..."


"Udah, besok lo bisa nebeng lagi", kata Gio memotong cepat.


"Siapa suruh lo nebeng gue hari ini", lanjutnya sebelum benar-benar beranjak masuk ke dalam mobilnya.


Dengan gerakan cepat, Gio masuk kedalam mobil lalu membawa mobilnya meninggalkan kampus dan sahabatnya yang menatapnya kesal. Tak peduli dengan Arsal yang sudah mencak-mencak tidak jelas.


"Gak ada akhlak emang", seru Arsal kesal.


Sedangkan ditempat lain, Ara sedikit gugup harus bertemu dengan Gio. Ingatannya masih begitu jelas dengan apa yang terjadi tadi malam, Ara begitu malu. Sibuk dengan lamunannya saat tak menyadari mobil putih sudah berhenti tepat didepannya.


"Mau langsung pulang ?", tanya Gio setelah keluar mobil dan mendekati gadis yang masih terus melamun itu.


Tak mendapat respon, Gio menepuk pelan puncak kepala Ara membuat Ara refleks sadar dan mendongak menatap Gio. Gadis itu menelan salivanya susah payah saat menyadari keberadaan Gio. Lagi dan lagi ingatannya kembali ke kejadian tadi malam membuat pipinya memerah malu.


"Kenapa ?, Kamu sakit ?", tanya Gio melihat muka Ara yang tiba-tiba berubah merah. Ara hanya menggeleng pelan, sebisa mungkin dia menyembunyikan gugup dan salah tingkahnya.


"Bang Gio, kak Ara", teriakan dari seorang gadis mengalihkan pandangan keduanya.


Mereka kompak menatap gadis yang sedang berlari kecil kearah mereka dengan seorang laki-laki yang membuntutinya dengan senyum tipis.


"Kok belum pulang ?", tanya Gio menatap adiknya.


"Hari ini kak Ara boleh libur. Gea ada tugas kelompok", sahut gadis itu sambil menggandeng tangan laki-laki yang berdiri disampingnya.


"Kebetulan abang mau pinjam Ara", sahut Gio. Mendengar itu Ara sedikit terkejut, bagaimana ini, hari ini dia akan bersama Gio lebih lama lagi dan itu tidak baik untuknya. Dia masih sangat malu dengan laki-laki dihadapan ini.


Mata Gea memicing curiga menatap Gio yang hanya mendengus malas.

__ADS_1


"Abang mau ke tokoh buku sama Ara. Udah sana, kalian jangan pulang terlalu larut atau abang yang seret kamu pulang", sahut Gio.


"Iya-iya",


...---🌻🌻🌻---...


Setelah pamit pada Gea, laki-laki itu membawa Ara melesat membela jalanan kota yang sedikit ramai. Jam sudah menunjukkan jam pulang kerja membuat jalanan padat. Di dalam mobil itu sedari tadi hanya keheningan tidak ada yang mau membuka obrolan, Gio yang sibuk mengamati jalanan dan Ara yang dilanda rasa gugup sampai tidak tau harus membuka topik apa.


"Emm Gio...", panggil Ara memberanikan diri membuat laki-laki yang menggunakan topi hitam itu berdehem dan menoleh sebentar lalu kembali fokus pada jalanan.


"Untuk kejadian tadi malam....", Ara memejamkan matanya sekilas tidak tau harus melanjutkan ucapannya atau tidak.


Mendengar itu, Gio teringat akan kejadian tadi malam, membuatnya sedikit salah tingkah namun langsung mengalihkannya dengan kembali berdehem pelan. Laki-laki tampan itu memperbaiki duduknya sebelum membahas ini, dia harus minta maaf atas kelakuan kurang ajarnya tadi malam.


Tepat di jalanan yang terbilang sepi, Gio menghentikan laju mobilnya membuat Ara menatap laki-laki itu dengan kening berkerut.


"Raa..",


Laki-laki dengan kaos hitam dan hoodie hitam itu memiringkan tubuhnya menatap Ara yang sedang menatapnya bingung.


"Soal semalam, aku...", Gio menghela nafasnya memberanikan diri menatap gadis cantik disebelahnya yang sudah kembali menunduk saat topik masalah semalam kembali dibicarakan Gio.


"Aku gak akan cerita ke siapa-siapa. Dan aku juga mau minta maaf soal yang udah kurang ajar ke kamu", kata Gio.


"Aku cuma gak suka kamu bilang gitu, aku emosi makanya ngelakuin itu. Aku minta maaf", lanjut laki-laki itu.


"Iiisssh...", kesal Ara. Dia sungguh malu harus membahas itu tapi kenapa Gio malah membahasnya.


"Kok mukul", seru Gio dengan bibir yang terkulum menahan tawa.


"Malu tau", ujar Ara pelan.


"Ya udah kalau malu sini peluk", sahut Gio.


"Modus"


Tawa Gio seketika pecah, wajah memerah Ara yang salah tingkah karenanya begitu menggemaskan.


"Ya Allah, gemesin banget sih, calon istri", kata Gio mencubit pipi Ara gemas.


Mendengar ucapan Gio, gadis itu semakin tidak bisa menyembunyikan wajah memerahnya, jantungnya juga ikut bereaksi dengan berdetak kencang setelah mendengar apa yang dikatakan Gio tadi, entah dia bercanda atau tidak, sadar atau tidak, tapi itu berhasil membuatnya baper.


"E-emangnya tadi malam aku bilang apa?", tanya Ara mengalihkan pembicaraan.


Tawa Gio susut digantikan dengan tatapan datar yang membuat Ara tidak enak.

__ADS_1


"Kamu bilang mau nyusul ayah sama bunda kamu. Emang mau ngapain ? Mau nambah beban mereka diakhirat karena anaknya bunuh diri", ketus Gio.


"Ya enggak gitu juga", sahut Ara.


"Terus apa ? Aku gak suka ya kamu ngomong kayak gitu lagi", sahut Gio cepat.


"Iya-iya gak lagi"


...----------------...


"Gii,, gaji aku kok udah masuk padahal belum cukup sebulan ngajar Gea. Mana banyak banget lagi", tanya Ara melihat-lihat buku di rak. Tadi subuh dia mendapat notifikasi jika tabungan direkeningnya bertambah dan dia yakin itu gaji dari Gio, tapi kenapa cepat sekali. Bukannya tidak bersyukur tapi dia rasa kerjanya belum sepadan dengan gaji yang diberikan. Dia cukup tau diri baru mengajar Gea beberapa hari, jika gajinya sedikit itu tidak papa karena memang kerjanya masih belum lama, dia harus profesional kan dan tidak mau makan gaji buta.


Gio mengalihkan pandangannya lalu tersenyum tipis, "gak tau deh, itu ayah yang kirim", sahut Gio, entah dia berbohong atau tidak.


"Tapi kok...",


"Udah sih, itung-itung ganti gaji kamu di cafe kemarin. Kan harusnya udah gajian tapi aku malah suruh mundur dan ngajar Gea", sahut Gio cepat.


"Iya iya", sahutnya pasrah dengan menghela nafas pelan. Laki-laki keras kepala dihadapannya ini benar-benar tidak bisa dia tebak, bahkan dia baru berapa hari mengajar Gea tapi gajinya sudah masuk saja dan itu lebih besar dari gaji dia di cafe sebelumnya. Hah Ara rasanya beruntung, tadi pagi dia bisa membelikan obat untuk neneknya dan menutupi sedikit demi sedikit tabungannya dan yang pasti menutupi kebutuhannya sehari-hari dalam beberapa bulan kedepan.


"Mau beli buku apa ?", tanya Ara, pasalnya sedari tadi mereka datang, belum ada satupun buku yang Gio pegang hanya melihat-lihat saja.


"Bahan buat tugas, tapi belum ketemu", jawab Gio masih melihat-lihat buku di rak buku salah satu pusat perbelanjaan itu.


"Emangnya buku apaan", tanya Ara ikut melihat-lihat.


"Manajemen keuangan dan akuntansi", sahut Gio.


"Ya udah kamu cari disini, aku cari disebelah. Aku juga mau cari novel", kata Ara yang diangguki Gio.


Setelah beberapa menit berkeliling rak buku itu, Gio akhirnya menemukan apa yang dia dapat. Tak menunggu lama, Gio beranjak mencari keberadaan gadis yang sedari tadi menemaninya.


"Ara...", panggil Gio menatap gadis yang tengah berjongkok memilih sebuah buku entah buku apa.


Ara beranjak berdiri lalu menatap Gio dengan tampang kesal.


"Aku gak dapat, disini gak ada", kata Ara.


"Ini udah ada. Ayo makan dulu habis itu kita jalan-jalan", sahut Gio.


Ara mengangguk saja dan membiarkan Gio menarik tangannya menuju kasir.


"Pacarnya cantik ya mas", tanya kasir wanita melihat Ara dan Gio bergantian.


"Iya", jawab Gio dengan wajah datar.

__ADS_1


...---To Be Continued---...


__ADS_2