
"Giooo....." teriakan dari lantai dasar membuat Gio berdecak kesal. Bagaimana tidak, baru dua menit yang lalu bundanya menyuruhnya untuk berganti pakaian sekarang wanita kesayangan Gio itu sudah berteriak memanggilnya.
"Ada apa bunda sayang," jawab Gio sedikit berteriak.
"Pakai baju lama banget udah kayak cewek aja kamu, turun cepat kita mau berangkat ini," protes Vio berteriak.
"Bunda duluan aja sama ayah dan Gea. Abang mau jemput calon istri habis ini," sahut Gio.
"Mantu bunda udah ayah jemput ini lagi sama bunda, kamu cepat turun. Lelet banget,"
Perkataan bundanya sukses membuat Gio membelalakkan mata kaget. Bagaimana bisa Ara datang bersama ayahnya. Bukankan ayahnya itu tadi masih di kantor.
"Abang...." teriakan melengking adiknya membuat Gio terkejut dan buru-buru memakai jasnya lalu turun menemui keluarganya dan benar saja, Ara ada di sana sudah siap dengan gaun berwarna biru navy. Cantik sekali, batin Gio.
"Lama banget sih," gerutu Gea.
Gio tak mempedulikan itu, laki-laki itu justru terus menatap Ara yang juga menatapnya dengan senyum tipis. "Kenapa gak bilang?" tanya Gio mendekat.
"Ayah tiba-tiba telfon kalau mau jemput, ya udah aku kesini aja," jawab Ara.
Gio mengangguk lalu menatap ayah dan bundanya yang juga sudah siap. "Mau berangkat sekarang?" tanya Gio.
Semua mengangguk lalu beranjak menuju pintu rumah dan keluar dari rumah besar itu. Ara dan Gio berada dalam satu mobil, sedangkan Gea bersama kedua orang tuanya.
"Cantik banget sih, sayang.." puji Gio.
Pipi Ara memanas, meskipun Gio sering memujinya, tapi tetap saja jantungnya tidak bisa diajak kompromi, selalu berdetak tak karuan setiap kali Gio memujinya. Jangankan memuji, berdekatan dengan Gio saja sudah tidak baik untuk jantungnya.
"Biar kamu gak malu,"
"Aku gak pernah malu tuh,"
"Nanti kamu bakal baku hantam gak ya sama Ken?"
"Tergantung,"
"Kok tergantung,"
"Iya tergantung, kalau dia berani nyentuh kamu atau nyakitin kamu, aku gak segan-segan tonjok dia. Bodoh amatlah mau itu acara dia atau bukan, kalau dia udah ngusik kamu itu artinya dia ngusik aku juga,"
Gio bertutur panjang lebar membuat Ara tertawa pelan.
"Ya gak mungkinlah, disana ada istrinya," sahut Ara.
Malam ini adalah resepsi pernikahan Ken. Ijab kabul telah berlangsung tadi siang. Gio tidak hadir, hanya ayah dan bundanya saja yang datang. Jika ditanya kenapa, jawabannya adalah Gio terlalu sibuk mengurus pekerjaan dan beberapa hal yang harus dipersiapkan di pernikahannya juga. Seperti kesepakatannya dengan Ara hari itu, keduanya sudah menyiapkan sedikit demi sedikit acara pernikahan mereka meski ditengah tumpukan pekerjaan. Gio tidak mau membebani ayah dan bundanya untuk terlalu ikut campur mengurus pernikahannya. Bukannya tidak mau, hanya saja Gio tidak mau ayah dan bundanya kelelahan. Apalagi orang tua Gio beberapa hari ini harus bolak balik luar negeri untuk menjenguk kakeknya yang lagi-lagi drop. Pekerjaan Gio akhir-akhir ini benar-benar banyak, kemarin mereka baru saja kembali dari luar kota mengurus beberapa cabang yang mulai berkembang pesat. Ditengah kesibukan pekerjaannya, Gio dan Ara menyempatkan untuk mengurus beberapa hal yang tidak terlalu ribet. Seperti desain undangan dan mengukur baju.
Setelah berkendara sekitar 30 menit, mobil Gio berhenti di parkiran gedung hotel yang menjadi tempat diselenggarakannya pesta. Sudah banyak karangan bunga ucapan selamat dan foto-foto Ken dan juga Veronica di sana. Ara mengenal istri Ken. Dia yang dulu sempat membully nya karena mengira dirinya memiliki hubungan spesial dengan Ken. Ara sebenarnya tidak mau datang tapi mengingat ada Gio yang menemaninya akhirnya dia ikut juga.
Ara melingkarkan tangannya dilengan Gio sambil mengikuti langkah laki-laki itu yang sudah berada dibelakang ayah dan bundanya.
Saat berada di ruangan mewah itu, mereka berpisah. Ayah dan bundanya yang langsung menuju orang tua Ken sedangkan Gea yang langsung ngacir menemui Zian saat melihat laki-laki itu juga hadir di sana. Sedangkan Gio dan Ara dihadang oleh Arsal yang raut wajahnya benar-benar menyedihkan.
"Lo kenapa?" tanya Gio.
"Lo tau kan, gue punya mimpi nikah bareng sama Ken. Eh malah dia yang nikah duluan," jawab Arsal memelas.
__ADS_1
"Ya udah sih, terima nasib aja," sahut Gio cuek.
"Gak asik sumpah," kesal Arsal.
"Kenapa gak ajak Naya nikah juga kalo gitu?" kini giliran ara yang bertanya.
"Tuh bocil gak mau nikah sebelum kuliahnya selesai," jawab Arsal melirik Naya yang berjalan mendekatinya.
"Nay, Arsal udah mau nikahin lo?" celetuk Gio saat Naya sampai di depannya.
Naya mengangguk polos lalu menggenggam tangan Arsal. "Nikahnya nanti aja," jawab Naya tanpa beban.
"Emang kamu gak mau dedek bayi?" tanya Arsal berusaha bernegosiasi. Emang dasar si Arsal nya yang ngebet nikah.
"Emang bisa?"
"Iya, kan buat dedek bayinya kalau udah nikah. Makanya kita nikah cepet terus bikin dedek bayi," jawab Arsal lancar sekali.
"Gitu ya?"
"Iya"
"Gimana kalau kita bikinnya sekarang aja, nikahnya nanti kalau dedek bayinya udah jadi,"
Jawaban Naya membuat Gio dan Ara kompak menepuk keningnya. Astaga bagaimana bisa seorang Arsal yang playboynya minta ampun bisa bucin sama anak polos seperti Naya.
"Dahlah, sana lo berdua bikin. Gue mau liat Ken dulu,"
Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu persetujuan Arsal, Gio menarik Ara untuk pergi menemui Ken daripada harus mendengar percakapan Arsal dan Naya yang tidak bermutu. Menurut Gio, Arsal dan Naya tidak ada bedanya, sama-sama goblok.
"Selamat, gue harap lo bahagia terus," ucap Gio tulus.
Ken sama sekali tidak menjawab atau bahkan mengangguk mengiyakan. Dia hanya diam menatap datar kearah Gio yang juga menatapnya dengan tatapan sama. Merasa hawanya sedikit tidak bagus, Ara mengulurkan tangannya pada Veronica yang langsung disambut perempuan itu.
"Selamat, bahagia terus ya. Langgeng sampai maut memisahkan," ujar Ara.
Veronica mengangguk dan menatap Ara dengan tatapan bersalah, "Sorry Ara" ujarnya.
Ara mengerutkan keningnya bingung mendengar penuturan Veronica. "Untuk apa?"
"Yang dulu, gue kira lo..."
"Gak papa, lupain aja. Semuanya juga udah berlalu," potong Ara sebelum Veronica menyelesaikan ucapannya. Bisa gawat kalau Gio tahu.
"Kamu cantik," setelah mengatakan itu, Ara menarik Gio turun dari panggung saat melihat dua laki-laki itu tak pernah melepas pandangan tajam mereka. Jika dibiarkan terus, bisa -bisa mereka kelepasan dan mengacaukan pesta malam ini.
"Jangan dilepas," tegur Gio saat Ara hendak melepas genggaman tangannya pada tangan Gio.
Gio risih sekali melihat beberapa pasang mata terus memperhatikan dirinya terlebih lagi banyak laki-laki yang memperhatikan calon istrinya.
"Sayang..."
"Apa?"
"Cium"
__ADS_1
Mata Ara membuat kaget mendengar permintaan Gio. Apa laki-laki itu sudah gila, disini banyak sekali orang dan tiba-tiba minta di cium. Ara pikir Gio hanya bercanda tapi melihat raut serius Gio, Ara jadi yakin dia benar-benar serius akan permintaannya.
Ara berdiri di hadapan Gio mengusap rahang tegas laki-lakinya, entahlah akhir-akhir ini Gio sedikit berbeda dari biasanya, menjadi semakin manja dan semakin lengket padanya.
"Kamu kenapa sih?" tanya Ara lembut.
"Gak tau, risih aja liat mereka liatin kamu terus," jawab Gio pelan.
"Enggak Gii, bukan itu. Kamu akhir-akhir ini kelihatan aneh, sikap kamu yang dulu agak berubah. Kamu kayak banyak pikiran, makin manja dan sama sekali gak mau lepas aku. Aku harus ikut kamu ke luar kota atau luar negeri meski kamu tau aku gak wajib ikut."
"Kamu keganggu?"
Ara menggeleng pelan. Sungguh, dia tidak merasa terganggu sama sekali, dia hanya merasa bingung dengan sikap Gio yang tiba-tiba berubah seperti ini. Dia ingin Gio bercerita padanya apa yang sedang laki-laki itu pikirkan.
Di tengah lautan manusia yang memadati gedung tersebut, Gio menatap Ara sendu. Sudah seminggu ini perasaannya sama sekali tidak tenang entah apa alasannya, tapi setiap kali jauh dari Ara perasaannya yang awalnya tidak tenang semakin tidak karuan saja. Gio menghela nafas pelan lalu memeluk pinggang Ara, menatap gadis itu dengan mata berkaca-kaca. Mengabaikan semua orang dan beberapa diantara mereka yang menatap keduanya yang begitu intim.
"Ada yang ganggu pikiran kamu?" tanya Ara, laki-laki itu hanya mengangguk saja. Karena memang seperti itu kenyatannya.
"Ada apa?" tanya Ara lagi.
Gio menghela nafas pelan, lalu menarik Ara menjauh dari keramaian menuju lift yang membawa mereka ke lantai paling atas gedung mewah itu. Beberapa menit berlalu, Ara dan Gio sampai di rooftop gedung pencakar langit itu. Ara bingung namun tetap mengikuti langkah Gio yang menariknya. Keduanya berdiri di pembatas tepi rooftop.
"Ada apa?" tanya Ara lagi mengulang pertanyannya yang belum terjawab.
Gio menoleh, menarik Ara kedalam pelukannya. menyandarkan kepalanya pada bahu Ara sambil sesekali menghela nafas berat.
"Gak tau, yang. Perasaan aku gak tenang dari kemarin," jawabnya.
"Emangnya ada apa?" tanya Ara mengusap lembut rambut lelakinya.
Gio menggeleng dan berujar, "Aku gak tau, gak tenang aja. Setiap kamu jauh dari aku rasanya gak enak banget itu makanya aku sekarang lebih sering nginep di apartemen, bawa kamu kemana-mana kalau aku lagi keluar. Kalau kamu jauh rasanya gak enak banget, gak tenang, khawatir dan takut kalau gak bisa liat kamu lagi,"
Ara diam mendengar ucapan Gio. Dia tidak tahu harus mengatakan apa, yang jelas tidak ada terlintas dalam pikirannya sedikit pun untuk meninggalkan Gio.
"Aku takut kamu ninggalin aku," ujarnya lirih.
"Kenapa jadi mikirnya gitu?" tanya Ara.
"Gak tau, yang. Takut aja,"
"Kamu raguin aku?"
Gio menggeleng pelan, "Aku sama sekali gak raguin perasaan kamu tapi setiap rasa sayang aku nambah rasa takut itu akan juga ikut. Aku takut kamu ninggalin aku, aku gak tau lagi mau gimana kalau kamu pergi. Please Ra, sebagian hidup aku itu ada di kamu jadi aku mohon jangan pernah ninggalin aku,"
Gio semakin mengeratkan pelukannya. Suasana hening dengan hembusan angin malam yang menerpa tubuh membuat perasaan Gio semakin kalut. Entah hanya perasannya saja atau bagaimana, tapi akhir-akhir ini dia merasa akan ada badai besar yang akan menerjang keduanya dan dia takut akan hal itu, dia takut salah satu dari mereka tidak kuat dan pergi. Tapi ditengah rasa takut itu, Gio selalu berdoa agar apapun yang terjadi kedepannya, dia maupun Ara bisa menghadapinya bersama-sama.
Gio melepas pelukannya, menangkup wajah Ara dan menatap wajah gadisnya itu dengan teduh.
"Aku sayang kamu, aku cinta kamu, lebih dari diri aku sendiri Ra. Perasaan aku gak patut kamu ragukan. Selamanya hanya akan ada kamu, tidak ada orang lain," kata Gio dengan suara beratnya.
Ara menggenggam tangan Gio yang berada dipipinya, mengangguk kecil dan membalas tatapan Gio. Sungguh, bukan hanya Gio tapi Ara pun sama. Gio Pratama Ananda, laki-laki manja yang menjadi laki-laki kedua setelah ayahnya yang sangat dia cintai.
Ara memejamkan matanya saat melihat wajah Gio semakin dekat pada wajahnya, sampai akhirnya bibir mereka saling bertemu. Di bawah sinar bulan dan taburan bintang di langit, Gio mencium Ara, melu*at lembut bibir perempuannya seolah menyampaikan betapa sayangnya Gio pada perempuan itu.
"I love you more," bisik Ara.
__ADS_1
...---to be continued--...