Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 107. Seseorang Dari Masa Lalu


__ADS_3

"Lo bunuh anak gue, Ken," ujar Gio lagi sangat pelan.


Setelah kalimat itu Gio ucapkan, suara tepuk tangan terdengar dari arah pintu utama rumah besar keluarga Ananda. Hal itu berhasil mengalihkan atensi semua orang yang ada disana. Termasuk Gio dan Ara.


Semua mata tertuju pada dua orang yang berjalan santai masuk kedalam rumah keluarga Ananda. Beberapa dari mereka tak mengenalnya, tapi berbeda dengan Ken, Kevin dan Albi yang menatap terkejut pada dua orang yang baru saja datang ikut bergabung dikekacuaan yang terjadi dirumah besar tersebut.


"Raisa," sebut Kevin dan Albi bersamaan. Sedangkan Ken terkejut melihat kehadiran Axel bersama dengan ibu dari wanita dimasa lalunya.


Ingat Axel? Laki-laki yang pernah menemui Ara di taman saat dia menemani Gio joging (Part 64). Iya, Axel Pramudya, asisten sekaligus orang kepercayaan Ken.


"Wah sepertinya sedang ada pertunjukan besar di rumah besar ini," ujar perempuan paruh baya yang berdiri disamping Axel. Namanya Raisa, perempuan berumur sekitar 40 tahunan itu adalah ibu dari Aluna, gadis yang Gio, Ken dan Arsal kenal betul.


"Untuk apa kamu datang kesini?" tanya Kevin menunjukkan ketidaksukaannya pada perempuan itu.


"Membalas dendam ku," ujarnya enteng.


Kevin dan Albi menatap Raisa dengan tajam, sedangkan anak-anak mereka sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Pergi Rai, kamu tidak dianggap di rumah saya," usir Albi terang-terangan.


"Sebentar, Tuan. Kami akan pergi setelah semuanya selesai," sahut Axel santai menatap satu per satu orang yang berada disana.


Ken melangkah berdiri di samping Arsal. Laki-laki itu menatap tajam kearah Axel dan Raisa bergantian. Menyadari tatapan Ken, Axel tertawa pelan lalu menatap Ken remeh.


"Sabar tuan muda. Saya belum menjelaskan semuanya," ujar Axel semakin menambah emosi Ken. Dengan tubuh yang hampir remuk karena ulah Gio, Ken melangkah menerjang Axel. Memukuli sekertaris kepercayaannya itu tanpa ampun. Demi apapun, Ken begitu marah, kecewa dan sakit hati melihat Axel. Sedangkan laki-laki yang kini sudah babak belur itu hanya tertawa pelan melihat kemarahan Ken.


Bughhh


Tinjuan keras Ken layangkan pada rahang laki-laki itu sebelum Ken menarik diri karena tak sanggup lagi menahan perih ditubuhnya serta sesak di dadanya. Dia tidak menyangka orang yang selama ini begitu dia percaya justru dalang dibalik semua kekacauan dalam hidupnya. Bahkan dia sampai membenci Gio karena sebuah kesalahan pahaman selama bertahun-tahun.


Ken terduduk dilantai, mengusap wajahnya kasar. Raut kecewa benar-benar terlihat jelas di raut muka laki-laki itu. Sedangkan Axel, berdiri lalu mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya. Laki-laki itu beralih menatap Gio yang menatapnya datar.


"Bagaimana rasanya kehilangan anak, Tuan muda?" tanya Axel dengan nada mengejek pada Gio.


Gio yang mendengar itu hendak menerjang Axel namun terhenti saat tangan yang masih melingkar di pinggangnya kembali mengerat. Sungguh, Ara sudah tidak mau melihat Gio lepas kendali lagi.


"MAKSUD LO APA?" teriak Gio.


Raisa tertawa pelan. Perempuan parah baya itu menatap Kevin, Albi, Ken dan Gio secara berganti. Perempuan itu maju selangkah lalu pandangannya berpusat pada Kevin dan Albi yang berdiri saling berdampingan.


"Bagaimana rasanya melihat keluarga kalian saling membenci satu sama lain?" tanya Raisa membuat Kevin mengepalkan tangannya.


"Gio dan Ken berseteru, anak Gio mati dan Ken...." Perempuan itu menggantung ucapannya lalu menatap Ken yang masih terduduk dilantai sambil menunduk.


"Kehilangan cinta dan sahabatnya sekaligus. Bukankah itu menyenangkan," ucapnya kembali menatap Kevin dan Albi.

__ADS_1


"Semua sudah menjadi bagian dari rencana ku tapi sayangnya beberapa tak berjalan mulus tali syukurnya justru itu yang membuat anak-anak kalian semakin menderita,"


"Anjing," umpat Gio dan Ken bersamaan.


"Biar ku ceritakan," ujar perempuan itu kembali berdiri di samping Axel. Perempuan itu menatap empat laki-laki yang kini berdiri bersama pasangannya masing-masing. Matanya tertuju pada Gio dan Ken yang sudah berdiri dibantu istrinya.


"Gio, Ken dan Aluna bersahabat sejak lama. Singkat cerita, Aluna sudah saya jodohkan dengan Axel, bahkan mereka sudah memiliki anak yang dikandung Aluna tapi dia lebih memilih Ken," ujarnya memulai bercerita.


Semuanya diam mendengarkan dan melihat apa yang mereka rencanakan.


"Awalnya saya biasa saja mengetahui kedekatan ketiganya tapi saat saya tau Gio dan Ken adalah anak kalian, dendam itu tak bisa lagi dihilangkan sampai Aluna menjadi sasaran saya, tapi tidak papa setidaknya saya puas melihat keluarga kalian berantakan," lanjutnya menunjuk Kevin dan Albi.


"Ingat mas Bagas?" tanya Raisa yang tak mendapat jawaban sama sekali.


"Iya, laki-laki yang kalian jebloskan ke penjara...."


"Itu semua karena kelakuan dia sendiri, dia mengkhianati perusahaan kami," potong Kevin cepat.


"Sabar, Vin. Aku belum selesai," ujar Raisa.


"Karena kalian berdua, mas Bagas sampai bunuh diri dalam sel. Dan karena ulah kalian juga anak kalian menanggung semuanya," ujar Raisa menatap Gio dan Ken yang sudah menatapnya tajam.


"Tapi sayang aku juga kehilangan anak ku dan semua itu karena Ken," lanjutnya.


"Bukan gue yang bunuh Aluna tapi dia sendiri," bantah Ken tegas lalu menunjuk Axel.


Gio dan Arsal menggeleng tak percaya, bahkan sudah sejauh ini mereka masih menyalahkan orang lain. Tidak tahu kan mereka jika itu semua akibat perbuatan mereka, Aluna mati karena tidak mau dengan Axel dan Axel yang menghabisi Aluna lalu kenapa malah menyalahkan Ken dan Gio.


"Lo bunuh anak dan calon istri gue," desis Axel menatap tajam kearah Ken.


Ken tak habis pikir bahkan dia sama sekali tidak mengetahui apa-apa dan sekarang dia dituduh, waw drama macam apa ini.


"Aluna mati dan cucu saya juga mati. Cucu mu juga mati bukan?" tanyanya menatap Kevin dan Gio bergantian. Sampai sini Gio paham siapa dibalik semua kekacauan dihidupnya, bahkan kepergian anaknya bukanlah ulah Ken tapi ulah Raisa dan Axel yang membawa-bawa nama Ken agar mereka ribut besar.


"Bukankah itu sudah adil, Vin. Ah iya, satu lagi anak Ken juga harusnya mati agar itu lebih seru lagi," lanjutnya.


"JANGAN BERANI-BERANI MENYENTUH PUTRI KU," teriak Ken saat mendengar itu. Raut cemas seketika menyerang Ken dan Veronica.


"Bukankah memang harus seperti itu," ujar Raisa.


"Gila," gumam Gio dan Ken bersamaan.


"Selamat atas kematian anak mu, Gio,"


Setelah mengucapkan itu, Axel kembali terhuyung kebelakang karena hantaman dari Gio yang tak main-main. Kejadiannya begitu cepat hingga orang-orang yang ada disana tak menyadari Gio yang tiba-tiba sudah berada didepan Axel dan menghajar laki-laki itu.

__ADS_1


"Mati lo, brengsek," maki Gio memukuli Axel habis-habisan.


"Anak gue gak salah apa-apa," lanjutnya.


Bugh


"Ini karena lo sudah membunuh anak gue,"


Bugh


"Ini karena lo sudah menyakiti perempuan gue,"


Bugh


"Ini untuk persahabatan gue yang rusak,"


Bugh


"Ini karena lo udah bunuh Aluna,"


Gio benar-benar lepas kendali. Axel yang sudah berada dibawah kuasanya hanya mampu menahan perih efek dari setiap pukulan Gio. Dia sudah melawan tapi tenaga Gio benar-benar kuat. Gio baru berhenti memukulinya saat Axel sudah kehilangan kesadarannya dan Ken yang menariknya menjauh dari Axel.


"Jangan jadi pembunuh, Ara takut liat lo yang kayak gitu," ucapnya. Refleks Gio menoleh pada Ara yang kembali menangis. Gio mendekati perempuannya itu lalu memeluk Ara, mengusap punggung perempuan itu untuk menenangkannya.


"Maaf buat kamu takut," bisik Gio.


"Akibat kesalahan kalian, anak kalian yang jadi korbannya," ujar Raisa kembali menatap Kevin dan Albi.


"Kamu sudah gila, Rai. Kamu yang membunuh, Bagas yang salah dan tunangan anak mu yang membunuh anak mu tapi kenapa kau menyalahkan orang lain," ujar Kevin tak habis pikir.


Tak ingin terlibat lebih lama dengan Raisa dan Axel, Albi berteriak memanggil pengawal lalu menyuruh mereka menyeret Raisa dan Axel keluar dari rumah itu.


"INI KARMA KALIAN," teriak Raisa sebelum menghilang di pintu utama.


Setelah kepergian dua manusia itu, semua kembali terdiam. Kevin dan Albi kembali mengusap wajahnya kasar, kenapa jadi seperti ini. Mereka tidak bersalah tapi kenapa malah mereka yang kena, terlebih anak-anak mereka.


...-To be Continued-...


Hai Author balik lagi setelah menghilang beberapa hari ini.


Maaf ya, updatenya baru bisa hari ini. Tugas didunia nyata melelahkan.


Tapi Terima kasih sudah menunggu ❤


Jangan lupa like dan komennya 🤍💙

__ADS_1


See you next paragraf


__ADS_2