Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 67. Kecurigaan


__ADS_3

Arsal dengan langkah lebar menyusul Ken yang sudah sejak tadi berada dikamarnya. Arsal melupakan satu hal tadi dan itu harus dia tanyakan. Dia harus mencari tahu kebenarannya. Tidak, dia bukannya tidak menyayangi Ken hingga terus membela Gio tapi pada kenyataannya, Gio tak sepenuhnya salah bahkan kalau dari padangan Arsal tidak ada yang salah disini, dia hanya curiga ada yang mengadu domba mereka hingga menjadi seperti ini. Dia akan bertanya pada Ken dan jika kakaknya itu tidak mengetahui apa-apa sudah jelas ada orang lain dibalik semua ini.


Setelah masuk tanpa izin dan berhasil mendapat hadiah tatapan tajam dari kakaknya, dengan tidak sabarnya Arsal melempar ponselnya pada Ken yang hanya ditatap tak mengerti sang pemilik kamar.


"Bisa jelasin?" tanya Arsal menunjuk ponselnya yang terletak disamping Ken.


Ken yang duduk berselonjor di kasurnya itu terpaksa meraih ponsel Arsal dan melihat apa yang Arsal tunjukkan. Rahangnya seketika mengeras dengan tangan terkepal erat saat matanya berhasil melihat sebuah foto diponsel Arsal.


"Siapa yang ngirim ginian?" tanya Ken menahan emosinya.


Sebuah hasil screenshot chat seseorang yang berhasil Arsal ambil dari ponsel Gio kemarin, sebuah foto yang menunjukkan sebuah nomor baru yang mengirim foto gadisnya yang berlumuran darah. Ken tidak suka jika foto gadisnya dibuat seperti itu.


"Gio kan?" tanya Ken menatap Arsal menuntut penjelasan.


"GIO KAN YANG LAKUIN INI SEMUA?" teriaknya kepalang emosi.


"Gak usah pura-pura deh, gue tau lo yang ngirim itu." sahut Arsal memancing Ken. Dari raut wajah Ken saja dia sudah mengerti Ken tak tahu menahu, dia tidak sebodoh itu. Tapi, dia juga harus memperjelas ini semua.


"Gue gak mungkin lakuin hal sebego itu." kata Ken membela diri.


"Halah ngaku aja. Ngapain lo kirim gituan dan nuduh Gio, padahal foto itu gue ambil dari ponsel Gio." sahut Arsal.


"Bukan gue, anjng!" Ken benar-benar diambang batas kesabarannya. Emosinya hari ini gampang sekali terpancing. Yaa walaupun hari-hari yang lainnya juga, tapi hari ini rasanya berbeda.


"KELUAR." bentak Ken.


Foto itu berhasil membangkitkan ingatannya pada kondisi terakhir Aluna. Kepalanya tiba-tiba jadi pening.


"GUE BILANG KELUAR, BANGSAT." teriaknya lagi. Untung saja mama dan papanya hari ini tidak ada dirumah.


Arsal mengambil ponselnya yang hampir dibanting Ken lalu bergegas keluar sebelum dia yang jadi sasaran empuk oleh kakaknya itu. Melihat reaksi Ken sudah cukup membuat Arsal mengerti dan tidak lagi bertanya lebih jauh.


"Anjirr senam jantung." kekehnya setelah menutup pintu kamar Ken.


...---🍁🍁🍁---...


Gio mengusap-usap kepala Ara yang kini sedang menggunakan pahanya sebagai bantal. Gadisnya itu tengah sibuk menonton kartun favoritnya, dua kembar botak dengan sangat serius.


"Bunda sama ayah belum pulang?" tanya Ara tanpa mengalihkan tatapannya dari TV.


Yah keduanya kini berada di rumah besar Gio, hanya berdua. Ayah dan bundanya sedang ke rumah keluarga besarnya atau lebih tepatnya ke rumah kakek dan neneknya, sedangkan Gea belum kembali sedari tadi katanya ingin menemui Zian, kekasihnya.


"Mungkin tengah malam nanti, kamu nginap aja ya," pinta Gio.

__ADS_1


"Gak enak, Gii. Nanti ayah sama bunda marah," sahut Ara.


Gio mendengus pelan, sejak kapan ayahnya marah Ara tinggal disini, sedangkan kemarin laki-laki kebanggaan Gio terus mendesaknya untuk membujuk Ara agar mau tinggal satu rumah dengan mereka.


"Gak akan, pokoknya kamu nginap. Aku gak terima penolakan,"


Gio dengan segala perintahnya. Jika sudah seperti ini, Ara hanya mampu menghela nafas pelan dan mengangguk pasrah, dia bisa apa jika sudah Gio yang bertitah. Lagipula, sejauh ini tak perlu ada yang harus ditakutkan. Gio selalu menjaganya.


"Ya udah, terserah kamu aja." sahut Ara.


"Kalau terserah aku berarti bisa dong tidur bareng," celetuk Gio yang langsung membuat Ara menoleh dengan tatapan horornya.


Enak saja, ya kalau itu di apartemen oke oke saja, bahkan Gio sering memaksanya tidur bersama tapi jika ini dirumah Gio yang ada bisa diseret mereka ke KUA.


"Jangan mulai deh, Gio." sahut Alana memukul pelan lengan Gio yang mengelus kepalanya.


"Emang apa yang salah, kamu sering ya nemenin aku tidur di apart" Gio menatap Ara dengan tampang polosnya.


"Di apart sama disini kan beda," sahut Ara cepat.


"Manja-manjaan terus," sahut seseorang yang baru saja datang.


Ara refleks bangun dan duduk dengan tegak disamping Gio yang langsung menunjukkan wajah tak bersahabat. Selalu saja ada gangguan jika ingin berduaan dengan Ara. Belum menikah saja sudah seperti ini, lalu bagaimana jika mereka menikah nanti.


Asal yang baru saja sampai memutar bola matanya malas dan menatap Gio yang kini bersedekap dada sambil menyorot Arsal tajam.


"Apa?" tanya Gio tanpa basa basi. Dia tahu betul apa arti tatapan Arsal.


Ara yang mengerti akan situasi hendak berlalu namun ditahan Gio. Gadis itu bahkan sekarang sudah bersandar didadanya.


"Bisa gak kalian jangan mesra-mesraan mulu depan gue?" tanya Arsal ketus.


"Resiko. Cepet cerita" desak Gio tak menghiraukan protesan Arsal.


"Aku naik aja, ya." kata Ara nunggu mendapat gelengan dari Gio. Laki-laki itu justru semakin mempererat pelukannya pada pinggang Ara.


"Disini aja, gak papa kok." kata Gio tak mau menyembunyikan apa-apa lagi dari Ara.


"Lo ingat gak foto yang kemarin bikin trauma lo kambuh lagi?" tanya Arsal ragu-ragu menatap keduanya bergantian. Dia sebenarnya sedikit tidak enak bercerita masalah ini karena ada Ara. Dia belum tahu jika Ara sudah mengetahui semuanya dan itu yang membuatnya tidak enak.


"Gak papa, Ar. Dia udah tau kok. Emang kenapa soal itu?" tanya Gio.


Arsal menghela nafas pelan dan mengangguk. Baguslah jika Ara sudah mengetahui itu.

__ADS_1


"Kemarin gue curiga Ken yang lakuin itu, tapi pas gue tanya dia gak ngaku bahkan malah nuduh lo dan dari raut wajahnya gue yakin seratus persen bukan dia pelakunya." jelas Arsal.


"Maksud lo?"


"Lo gak merasa apa, ada orang lain dibalik ini semua. Ini terlalu mencurigakan, Gii. Bayangin aja deh, Ken tau betul Una udah gak ada pas kita datang tapi kenapa dia malah nyalahin lo, gak masuk akal kecuali emang ada orang yang berusaha ngadu domba kalian berdua,"


Gio terdiam sejenak mendengar penjelasan Arsal, dia juga sebenarnya mikir kearah sana tapi yang jadi pertanyaan besarnya adalah siapa dan apa alasannya melakukan itu.


"Tapi alasan apa yang buat dia ngadu domba kita, gue gak pernah merasa punya musuh begitupun Ken apalagi Una. Gak mungkin." sahutnya.


"Gak ada yang gak mungkin, Gii. Lo dan Ken sama-sama orang ternama dan orang juga tahu siapa Una bagi kalian berdua," Arsal memelankan suaranya pada kata terakhir.


Ara diam memperhatikan dan berusaha membantu mereka mengurai benang merah pada permasalahan mereka, namun dia juga belum paham sepenuhnya.


"Surat itu...." ucapan Arsal terpotong karena suara Ara yang tiba-tiba menyeletuk.


"Kemarin ada yang ngajak aku kenalan di taman tapi orangnya mencurigakan," kata Ara memotong ucapan Arsal.


Gio dan Arsal kompak menatap Ara yang sudah duduk dengan tegap dengan tatapan tanya.


"Dia nanya aku datang sama siapa terus nunjuk Gio, dia malah bilang hati-hati sama dia. Pas aku tanya lagi dia kenal kamu atau enggak, dia cuma jawab bisa iya bisa tidak. Gitu katanya," kata Ara menjelaskan.


"Laki-laki kemarin?" tanya Gio membuat Ara mengangguk.


"Lo liat mukanya gak?" tanya Arsal.


"Sayangnya, enggak. Gue liat dia pas udah balik badan dan menjauh dari Ara," jawab Gio.


Gio dan Arsal kompak menghela nafas pelan, ada apa sebenarnya. Kasus kematian Aluna sudah hampir 5 tahun tapi semuanya masih terasa abu-abu. Bahkan penyidikan polisi pun hanya mengatakan Aluna mati bunuh diri.


Gio memijit pelipisnya pusing, dia ingin segera terlepas dari ini semua. Dia ingin hidup bebas, berdamai dengan keadaan dan pada sahabatnya. Apa sesusah itu?


"Mending kalian istirahat aja dulu. Kita coba cari tahu lagi dan gue bakal tetap bantu lo." kata Arsal beranjak dari duduknya hendak pergi.


"Terima kasih, Ar." ucap Gio pelan.


"Gak gratis, mas" celetuk Arsal lalu menjauh dan hilang dibalik tembok. Kan, baru saja tadi sehat sekarang udah geser aja tuh otak.


"Jangan terlalu dipikirin, nanti kita cari tau lagi." kata Ara menenangkan.


Gio mengangguk dan memeluk Ara, berusaha menghilangkan rasa tidak enak dihatinya.


"Sama aku terus ya"

__ADS_1


...---TBC---...


__ADS_2