Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 62. kehilangan


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa Ara keluar dari mobil Gio dan langsung berlari di koridor rumah sakit diikuti Gio dari belakang. Laki-laki itu berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan Ara namun karena gadisnya itu panik, membuatnya tak sadar sudah berlari cukup kencang.


350, nomor ruang rawat yang menjadi tujuan Ara. Setelah sampai, Ara yang sudah dilingkupi rasa cemas, khawatir dan takut itu hendak masuk ditahan beberapa orang, lebih tepatnya omnya, Bimo. Ara baru sadar, keluarganya sudah berkumpul disini.


"Ara mau masuk om", kata Ara memohon.


"Gak usah, pergi aja kamu dari sini", sahut Bimo.


"Ara mohon om", gadis itu sudah menangkupkan dua tangannya didepan dada memohon agar Bimo mengizinkannya masuk. Demi Tuhan, Ara takut dan khawatir.


"Sayang...", panggilan itu mengalihkan tatapan semua orang yang ada disitu. Sontak panggilan itu membuat Ara mendekat kearah Gio dengan mata berkaca-kaca, dan ini yang paling Gio benci. Melihat gadisnya bersedih adalah hal yang paling dia benci.


"Bilang sama mereka aku mau masuk, Gii", pinta Ara memohon menatap Gio dengan sorot sedih.


Gio merengkuh tubuh mungil gadisnya itu lalu mengangguk.


"Tenang dulu, jangan nangis makanya. Nanti nenek khawatir liat Ara kalau gini", kata Gio lembut mengusap air mata gadis itu.


Sosok gadis cantik yang berdiri tak jauh dari mereka menatap Gio dengan sorot terluka. Rania, menatapnya dengan hati yang benar-benar sakit luar biasa. Gio bahkan tak pernah memperlakukannya selembut itu, tatapan teduh Gio sama sekali tak pernah dia perlihatkan padanya.


"Mau liat nenek", pinta Ara.


"Iya sayang, kita liat ya", kata Gio.


Dari Ara belakang Gio, muncul tiga orang yang semakin membuat Rania dan keluarganya kaget. Kevin, Vio dan juga Gea datang setelah Gio kabari sebelum ke rumah sakit tadi. Sedekat itukah Ara dengan keluarga terpandang itu.


"Ara...", panggil Kevin mengalihkan tatapan Ara.


"Ayah, Ara mau liat nenek tapi gak dibolehin", persis anak kecil yang mengadu pada ayahnya, Ara menatap Kevin dengan air mata yang sudah luruh, membuat Kevin dan Vio tak tega.


"Ayo masuk", kata Kevin hendak beranjak, namun laki-laki ditahan Bimo.


"Kalian gak boleh masuk, dokter belum selesai menanganinya", kata Bimo menghalangi.


Bertepatan dengan itu, pintu ruangan terbuka menampilkan sosok laki-laki dengan jas dokter khasnya.


"Bagaimana dokter?", tanya Kevin to the point.


"Dokter Abi ayo jawab", desak Gio.


Dokter yang menangani Muti, tak lain dan tak bukan adalah dokter kepercayaan keluarga Ananda, jadi wajar jika Gio dan keluarganya tahu.


Dokter yang Gio panggil dengan sebutan dokter Abi itu menatap satu persatu orang yang ada disana dengan raut sendu lalu menggeleng pelan.


"Pasien ingin bertemu Ara, Tuan muda, Tuan Kevin dan Nyonya Vio", sahut dokter Abi.


Bimo menatap tak percaya pada dokter itu, kenapa diantara banyaknya nama yang dia sebut, tak ada sama sekali nama dari anak-anaknya.


Tanpa menunggu lama, empat orang itu langsung masuk dan disuguhkan pemandangan yang begitu menyakiti hati ke empatnya terutama gadis yang sedari tadi sudah menangis.


"Nenek..", lirih Ara.

__ADS_1


Senyum tipis dari wajah pucak itu menyambut Ara, tangan wanita paruh baya itu bergerak memberi kode keempatnya untuk mendekat.


"Jangan nangis", kata Muti pelan, dia tidak suka melihat cucu kesayangannya menangis.


"Ara kan kuat, gak boleh nangis", lanjutnya.


"Ara gak nangis, tapi janji harus sembuh", kata Ara.


"Dok, ini sebenarnya ada apa?", tanya Gio yang berdiri dibelakang Ara.


"Pasien kecelakaan dan benturan pada kepalanya benar-benar parah", sahut dokter muda itu.


"Tapi masih bisa sembuhkan?", tanya Gio, tatapannya tak pernah berpindah dari punggung mungil gadisnya yang bergetar.


"Semoga ada mukjizat dari Tuhan, kami sudah berusaha tapi pasien sendiri yang menolak dan mengatakan jika dia tidak ingin cucunya tau kondisinya", sahut dokter Abi.


Gio diam tak lagi menyahut, laki-laki itu mendekat dan mengusap punggung Ara yang terus saja menangis. Tanpa menjawab pertanyaan Ara tadi, pandangan Muti beralih pada Gio.


"Jaga dia, sayangi dia dan bahagiakan dia. Dia sudah cukup menderita selama ini, jauhkan mereka dari Ara", kata Muti susah payah. Gio mengangguk pasti, tanpa diminta pun dia akan melakukan itu.


Pandangan wanita paruh baya itu lalu menatap Kevin dan Gio bergantian.


"Ibu harus kuat ya, kita kumpul lagi kalau udah sehat nanti", kata Vio pelan, mata lentiknya juga sudah mengeluarkan air mata sedari tadi.


"Jaga cucu ibu, sayangi dia seperti kalian menyayangi putri kalian sendiri. Saya titip dia, Aditama dan Aura akan senang melihat putrinya diasuh orang yang tepat", kata Muti lagi. Sama halnya dengan Gio, Kevin mengangguk pasti.


"A-ara sayang...", panggilnya membuat Ara mendongak.


"Harus nurut sama ayah bunda yaa,, dan jangan bikin Gio susah", lanjutnya.


"Nenek jangan bilang gitu, nenek harus temani Ara terus", sahut gadis itu.


"Nenek sayang Ara...",


Nafas Muti sudah tersengal membuat dokter Abi bergerak cepat, keempat orang itu juga sudah diperintahkan untuk keluar. Gio tak pernah lepas mendekap tubuh Ara yang sedari tadi menangis. Dia paham apa yang gadisnya rasakan, hanya Muti keluarga yang dia punya setelah bunda dan ayahnya meninggal.


"Gii, gimana kalau nenek ninggalin Ara", lirih Ara.


"Gak boleh gitu sayang, harus doa terus", kata Gio lembut.


Kevin sedari tadi tidak bisa tenang, dia selalu mondar-mandir didepan ruang rawat Muti. Sedangkan Rania dan keluarganya menatap mereka satu persatu, rasa benci Rania kini bertambah pada Ara.


Tak lama pintu kembali terbuka membuat Ara bergerak cepat mendekati dokter Abi begitupun Gio dan keluarganya.


"Gimana dok, nenek gak papa kan?", tanya Ara tidak sabaran.


Dokter Abi diam menatap sendu gadis dihadapannya itu, dia tidak tega. Pandangannya lalu beralih pada Gio. Setelah mendapatkan anggukan Gio, dokter Abi menatap Ara.


"Maaf, kami sudah berusaha...", jawab dokter Abi terpotong.


"Dokter bohong, bicara yang benar. Nenek gak papa kan?", sentak Ara. Air matanya luruh seketika, bukan hanya dia orang-orang yang ada disana juga seketika menangis histeris.

__ADS_1


"Sayang"


"Gio, dokternya bohong kan",


"Sayang, tenang dulu",


Ara memberontak dan bergegas masuk menemui neneknya, pemandangan pertama yang dia lihat adalah tubuh kaku neneknya yang terbaring pucat pasi. Hati Ara bagai ditusuk ribuan belati, kepalanya pening seperti baru saja dihantam batu besar, kakinya pun sudah lemas. Sekuat tenaga dia menopang dirinya agar tidak ambruk.


"Nenek bangun", teriak Ara mengguncang tubuh neneknya. Entah sudah berapa banyak air mata yang dia keluarkan hari ini, kenyataan pahit menghantam nya beberapa kali hari ini.


"Bangun jangan tinggalin Ara sendiri", lirih gadis itu memukul dadanya yang sesak.


"Sayang, udah. Ikhlaskan ya", kata Gio pelan memeluk Ara dari belakang.


"Enggak Gii, nenek cuma tidur", katanya menggeleng pelan.


"Ayo nenek bangun, biar Gio liat nenek cuma tidur. Ayo bangun nek", kata Ara mengguncang tubuh neneknya.


"Ara...", panggil Gio lirih.


Ara berbalik dan menatap Gio dengan tatapan memohon, demi Tuhan hati Gio benar-benar sakit melihat kondisi Ara yang sekacau ini.


"Bangunin nenek, Gii. Dia gak boleh ninggalin aku sendiri", katanya memohon.


"Bangunin nenek", pintanya frustasi.


"AYO GIO BANGUNIN NENEK", teriaknya mengguncang tubuh Gio.


"Bantu Ara bangunin nenek, Gii", pintanya lagi.


Mata Gio ikut berkaca-kaca, tanpa kata dia menarik Ara kedalam pelukannya, berusaha menenangkan gadisnya.


"Tenang sayang. Nenek udah gak ada, Ara harus ikhlas ya", kata Gio pelan.


Ara menggeleng, dia tidak Terima. Secepat itukah dia ditinggal lagi, lalu siapa yang akan menemaninya nanti.


"INI SEMUA GARA-GARA KAMU, KALAU KAMU JAGA IBU SAYA DENGAN BAIK INI SEMUA TIDAK AKAN TERJADI", teriak Arini tak terima.


"Jangan menyalahkan putri ku. Kenapa kalian menyalahkannya, apa kalian sudah becus menjaga dia selama ini?", bentak Kevin. Dia tidak terima Ara disalahkan seperti ini.


"Nenek pergi gara-gara aku", lirih Ara.


"Enggak sayang", sahut Gio.


"Memang karena gadis pembawa sial itu. Lihat, dulu bunda dan ayahnya sekarang ibu saya", tambah Bimo.


"CUKUP", bentak Gio keras.


"TUTUP MULUT ANDA KALAU ANDA MASIH MAU BAIK-BAIK SAJA", kesal Gio.


"Gii...", panggil Ara pelan.

__ADS_1


Gio menatap Ara yang masih memeluknya, tak ada lagi kata yang dikeluarkan Ara karena setelah itu gadisnya ambruk dan kehilangan kesadarannya.


...---To be Continued"...


__ADS_2