Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 116. Penjelasan Ara


__ADS_3

Ara berdiri didepan pintu kamar mandi dengan kondisi basah kuyup dan menangis sesenggukan. Matanya yang sedari tadi tak hendi mengeluarkan air mata menatap Gio yang duduk di tepi tempat tidur dengan hanya mengenakan celana pendek. Begitupun Gio, dia menatap istrinya yang sesenggukan dan memeluk tubuhnya sendiri. Gio yakin istrinya itu kedinginan. Bagaimana tidak kedinginan ketika dari ujung rambut sampai ujung kaki, bahkan baju yang masih melekat ditubuh Ara basah, bahkan air masih menetes dari baju yang digunakan istrinya itu.


Gio menghela nafas kasar lalu beranjak dari duduknya mendekati Ara, lalu menarik perempuan itu mendekat. Tatapan mata Gio masih sama, datar dan dingin. Tak ada suara yang terdengar, hanya suara isakan Ara yang memecah keheningan kamar mereka. Gio kembali menghela nafas pelan, menyesali apa yang sudah dia lakukan. Melihat air mata istrinya, Gio jadi tidak tega dan menyadari jika apa yang sudah dia lakukan adalah hal yang salah, tidak seharusnya dia bersikap kasar pada Ara. Tapi, setiap kali mengingat kejadian tadi siang membuat Gio tak bisa mengendalikan amarahnya. Memangnya laki-laki mana yang akan rela jika istrinya dipeluk dan dicium laki-laki secara sembarang. Gio adalah laki-laki pencemburu dan tidak suka berbagi.


Tanpa kata Gio meraih selimut yang berada diatas kasur lalu membalutkan pada tubuh Ara. Perempuan itu hanya diam menerima perlakuan Gio. Sejujurnya dia takut jika Gio semakin marah padanya. Gio menarik tangan Ara melingkar di pinggangnya membuat selimut itu ikut menutupi tubuhnya. Dengan pelan, Gio membantu Ara melepas pakaian basah yang masih melekat pada tubuhnya. Masih tak ada suara, hanya suara isakan Ara yang entah kapan akan berhenti.


Setelah seluruh kain yang membungkus tubuh istrinya terlepas, Gio melepas tangan Ara yang berada dipundaknya lalu membalutkan semua selimut tebal itu ketubuh sang istri, detik berikutnya Gio mengangkat tubuh Ara yang terbalut selimut naik keatas tempat tidur.


Keduanya kini duduk berhadapan dengan Ara yang masih menunduk takut sambil memegangi selimutnya kuat-kuat, takut selimut tebal itu jatuh begitu saja. Gio mengusap lembut pipi Ara yang begitu dingin.


"Maaf," ujarnya pelan.


Ara mendongak menatap Gio dengan mata memerah karena terlalu lama menangis.


"Gak mau jelasin apa-apa?" tanya Gio lebih lembut lagi.


Ara meneguk salivanya, kenapa Gio tidak dari tadi seperti ini, justru harus menyiksanya lebih dulu. Ara menarik nafasnya pelan, bergeser agar lebih dekat dengan Gio. Tangan kirinya terulur menggapai tangan Gio yang terluka mengusapnya lembut. Masih dengan sesenggukannya, Ara memperhatikan luka-luka Gio.


"Ini kenapa?" tanya Ara serak.


"Jangan mengalihkan dan jangan membuatku makin marah," sahut Gio.


Mendengar itu, Ara mengangguk dan makin menggeser duduknya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke dada bidang Gio. Menangis lebih keras dari tadi. Gio hanya diam sambil mengusap punggung Ara yang tertutup selimut tebal.


"Aku minta maaf," ujar Ara diiringi dengan suara tangisnya.


"Namanya Aldi, teman aku, dia...."


"Harus banget pelukan?"


"Maaf,"


Ara bergerak menyamankan posisinya, berusaha meredam perasaan tidak nyaman yang menghujamnya. Dia tahu Gio marah dan cemburu melihatnya dipeluk laki-laki lain.


"Dia teman aku, kita baru ketemu lagi. Kami bertemu saat aku masih mengandung dede bayi. Bunda dia yang jadi dokter kandungan aku, kita gak sengaja ketemu waktu itu dan dia ajak aku berteman. Dia dan kak Aura yang selalu membantu aku setiap aku punya masalah atau membutuhkan sesuatu. Tidak ada yang salah Gii, kami hanya berteman," jelas Ara.


"Tapi kenapa harus peluk-peluk gitu, sampai cium-cium kamu," sahut Gio ketus.


"Aku minta maaf, jangan dimarahin," rengek Ara semakin menangis.


"Aku tau aku salah, tapi itu diluar kendali aku. Dia yang peluk, dia yang cium bukan aku,"


"Kamu juga balas pelukan dia,"

__ADS_1


"Tapi dia yang mulai,"


"Sama aja kan,"


"Jangan dimarahin terus,"


Tangis Ara masih tak kunjung berhenti, dia masih terus menangis saat Gio membalas setiap ucapannya dengan begitu ketusnya.


"Terus kenapa ketemu ayah, mau ninggalin aku trus pergi sama temen kamu itu, iya?" tanya Gio lagi masih tak mengubah nada bicaranya.


Ara menggeleng kuat sebagai jawaban atas pertanyaan ngelantur Gio kali ini.


"Atau kamu sekarang malu karena kerjaan aku yang begitu?" tanya Gio dengan pelan.


"Enggak, Gii. Enggak," jawab Ara cepat.


"Terus kenapa?"


"Aku cuma mau bantu kamu buat minta restu sama ayah, aku gak mau kamu berusaha sendiri. Ayah harus tau kalau aku bahagianya cuma sama kamu, ayah harus tau kalau gimanapun kamu, aku tetap akan ikut kamu," jawab Ara.


Gio menghela nafas kasar, ada rasa lega saat Ara sudah menjelaskan semuanya, namun dia juga merasa bersalah sudah berbuat kasar pada istrinya itu. Gio melerai pelukan mereka, menatap dalam-dalam bola mata Ara yang sudah menyipit.


"Jangan nangis terus,"


"Jangan dimarahi makanya,"


Dengan lembut Gio mengusap air mata Ara, lalu mencium kening, mata, pipi, hidung dan berakhir di bibir Ara.


"Jangan dekat-dekat sama laki-laki lain, jangan pelukan apalagi di cium-cium kayak tadi, aku gak suka. Ini semua punya aku," ujar Gio mengusap rambut serta pipi Ara.


Ara mengangguk patuh, layaknya anak kecil yang sedang dibujuk ayahnya.


"Jangan nangis lagi, maaf," ujar Gio tulus.


Ara kembali mengangguk, lalu detik berikutnya Ara memejamkan matanya saat Gio mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya dengan bibir sangat istri. Sore ini, Gio kembali meminta haknya sebagai suami.


...💞💞...


Sejak sejam yang lalu, Ken duduk termenung di ruang tengah rumahnya. Kejadian kemarin masih cukup membuatnya kepikiran. Selama ini bukan Gio tapi dalang dari kematian dan kerumitan hidupnya adalah Axel, sekertaris pribadinya sendiri dan Raisa, ibu kandung dari kekasihnya dimasa lalu. Ken rasanya ingin tertawa keras menertawai dirinya sendiri bagaimana bisa dia tidak tahu akan hal itu padahal orang-orang itu adalah orang-orang terdekatnya. Akibat dendam masa lalu antara kedua orang tuanya, Raisa jadi membenci Ken dan Gio, perempuan itu menyalahkan ayahnya dan ayah Gio atas kematian suaminya hingga berujung membalas dendam kepada anak-anak mereka dan lebih parahnya lagi, Ken tak habis pikir dengan Axel, ternyata selama ini dia dan Aluna memiliki hubungan bahkan sudah memiliki anak dan tega-teganya laki-laki itu membunuh anak serta calon istrinya sendiri hanya karena Aluna mengakui bahwa anak itu adalah anak Ken, dan justru menyalahkan dan mengadu domba Ken dan Gio. Ken benar-benar tak habis pikir dengan mereka. Dirinya dan Gio sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu tapi bagaimana bisa mereka membalas dendam dan menyalahkan mereka. Berarti surat yang dia baca beberapa tahun lalu adalah salah, bukan Gio yang membunuh Aluna tapi Axel sendiri. Gila!


Ken menghela nafas kasar, akibat dari semua ini ternyata sangat berpengaruh untuknya dan juga Gio. Persahabatan yang hancur dan trauma besar mereka rasakan. Sungguh, kepala Ken rasanya ingin pecah saat mengingat semua itu.


"Assalamu'alaikum Kia pulang," teriakan dari arah pintu utama mengalihkan fokus Ken.

__ADS_1


Mata laki-laki itu menatap putri dan juga istrinya yang kini berjalan mendekat kearahnya. Senyum Ken mengembang melihat wajah berseri dari gadis kecilnya itu.


"Habis dari mana, sayang?" tanya Ken mengambil alih Kia dari gendongan Veronica, meletakkan gadis mungil itu dipangkuan nya.


"Beli esklim cama mommy," jawabnya dengan suara cadel yang begitu menggemaskan.


"Eskrimnya mana?" tanya Ken mengusap lembut rambut putrinya.


"Abis heheheh," jawab Kia dengan menyengir lucu memperlihatkan gigi susunya.


Ken yang gemas langsung kecium wajah putrinya berkali-kali membuat gadis kecil dengan rambut dikuncir itu tertawa cekikikan.


"Geli daddy," protesnya.


"Kia mo main," ujarnya lalu turun dari gendongan sangat ayah. Gadis kecil itu beralih pada boks mainan samping TV meninggal ayah dan ibunya.


Sementara itu, Veronica meraih tangan Ken dan menggenggamnya dengan lembut, "Ada apa?" tanya ibu satu anak itu.


Ken menghela nafas pelan lalu menggeleng. Laki-laki itu menggeser duduknya lalu memeluk Veronica, menyandarkan kepalanya pada dada sangat istri sambil menikmati usapan lembut dari Veronica.


"Ada masalah?" tanya Veronica lagi.


Ken kembali menggeleng sebagai jawaban. Dia hanya diam sambil memejamkan mata, menikmati momen kebersamaannya dengan sang istri.


"Kia mau gak yah punya adik," gumam Ken yang masih didengar dengan jelas oleh Veronica.


Perempuan itu tertawa pelan mendengar ucapan Ken. Suaminya itu memang beberapa hari ini menanyakan hal yang sama, sepertinya dia menginginkan anak kedua sekarang. Veronica sendiri sebenarnya tidak menolak, bahkan keduanya sudah mencoba hampir setiap malam tapi memang pada dasarnya Tuhan belum memberi kesempatan lagi, maka mereka harus banyak-banyak bersabar.


"Sabar aja dulu, nanti kalau emang udah rezekinya kita bakal dapat lagi kok," sahut Veronica.


"Gemes banget, pengen liat perut kamu ada bayinya lagi," ujar Ken yang kini sudah mengusap-usap perut istrinya.


"Sabar ya," ujar Veronica membuat Ken mengangguk patuh.


"Tapi nanti malam usaha lagi," jawabnya kemudian.


Veronica menghela nafas pelan, memangnya kapan Ken absen meminta jatahnya. Dia hanya akan diam jika sudah terlalu lelah bekerja siang hari. Tidak setiap hari juga sih tapi masih banyakan memintanya wkwkwkw.


"Pernikahan Arsal udah dekat kan?" tanya Veronica mengalihkan pembicaraan.


"Dua hari lagi," jawabnya.


"Hubungan kamu sama Gio, bagaimana?" tanya Veronica lagi.

__ADS_1


"Gak tau, nanti aku coba buat perbaiki. Sekarang biarkan dulu dia tenang,"


...-To be continued-...


__ADS_2