
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, namun pasangan yang baru saja mengikat janji suci beberapa hari yang lalu itu masih tertidur saling berpelukan. Setelah Gio meminta jatahnya tadi subuh, mereka kembali tertidur setelah lelah melakukannya. Masih dengan tubuh polos yang hanya tertutup selimut tebal, Ara menggeliat pelan di dalam pelukan suaminya.
Mata yang dihiasi bulu mata lentik itu perlahan terbuka saat merasakan cahaya masuk kedalam retina matanya. Ara mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha menyesuaikan cahaya dalam kamar luas tersebut. Perutnya terasa berat saat tangan yang sedari tadi memeluknya kini kembali dieratkan.
Setelah penglihatannya jelas dan nyawanya terkumpul, Ara menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 8 pagi. Lalu tatapannya beralih pada Gio yang masih setia memejamkan matanya. Ara tersenyum kecil melihat wajah polos Gio. Tangannya terangkat menyentuh alis lalu turun ke hidung dan berhenti di bibir pink suaminya. Ara tersentak kaget saat tiba-tiba tubuhnya ditarik lebih dekat bahkan kini tidak ada celah antara keduanya.
"Masih pagi sayang. Jangan memancing ku," peringatan Gio dengan suara serak khas bangun tidur.
Ara menelan salivanya. Semenjak menikah, Gio jadi lebih mesum dan tentu saja lebih manja dari biasanya. Bahkan Ara kadang kewalahan menghadapi sifat Gio yang berubah-ubah. Terlebih lagi jika Ara jauh dari jangkauannya dan tanpa sepengetahuan Gio, siap-siap saja Gio mengamuk dan berakhir mengajaknya bertempur habis-habisan. Ara paham kenapa sikap Gio bisa berubah seperti itu, dia pasti trauma karena dulu dia sempat meninggalkan Gio. Mungkin itu yang membuat Gio takut jika Ara tak ada di jangkauannya apalagi dalam jangka waktu yang lama. Gio takut ditinggal lagi oleh Ara.
"Bangun, udah jam 8. Aku masuk kerja hari ini," ucap Ara pelan mengusap-usap lengan yang masih melingkar di pinggangnya.
"Hmm," gumam Gio.
"Katanya kamu juga mau cari kerja," sahut Ara lagi, memperhatikan Gio yang masih belum membuka matanya.
"Ngantuk, sayang," keluh Gio mengeratkan pelukannya.
"Makanya gak usah minta jatah subuh-subuh gitu," ujar Ara kesal.
"Masih mau padahal,"
"Jangan bercanda Gio, aku mau kerja,"
"Kiss dulu kalo gitu," ucap Gio memajukan bibirnya masih dengan mata terpejam.
Ara hanya menghela nafas pelan lalu mengecup bibir suaminya dengan sayang. Tapi bukannya melepaskan, Gio malah semakin erat memeluk Ara.
"Gak mau lepas," gumamnya beralih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ara.
"Bangun atau gak ada jatah seminggu ke depan,"
Mendengar ancaman Ara, mata Gio terbuka sempurna dan langsung beranjak duduk. Laki-laki itu menatap Ara dengan tatapan memelasnya.
"Gak seru, ngancamnya gitu," ujar Gio.
Ara terkekeh melihat reaksi Gio. Perempuan itu ikut bangkit dan berlari kearah kamar mandi setelah mengecup bibir suaminya untuk yang kedua kali.
"Jangan marah-marah sayang, masih pagi," teriaknya setelah berhasil masuk kedalam kamar mandi. Gio hanya menggeleng pelan dan tersenyum tipis. Ah rasanya begitu bahagia jika hidup bersama dengan orang yang dicintai.
Otak Gio seketika teringat sesuatu yang membuat pipinya memerah malu. Gio mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan, dia tak bisa menyembunyikan salah tingkahnya setiap kali mengingat malam yang dilewatinya bersama sangat istri. (Ck otak Gio benar-benar sudah tidak waras setelah menikah).
__ADS_1
Sejenak, Gio terdiam memandangi pintu kamar mandi. Jika istrinya hari ini bekerja lalu apa yang akan dia lakukan, diam di rumah? Oh tentu saja itu tidak mungkin, dia juga harus bertanggung jawab. Urusan nafkah dialah yang seharusnya mengurus itu, Ara cuma cukup diam dan menunggunya pulang. Apalagi dia ingin segera memiliki anak. Seharusnya memang seperti itu tapi keadaan yang belum memungkinkan membuatnya harus dengan sangat-sangat terpaksa membiarkan Ara ikut bekerja itupun atas paksaan istrinya itu.
...🦋🦋...
Gio menghela nafas berat. Disiang yang terik ini, dia belum juga menemukan apa yang dia inginkan. Sudah beberapa perusahaan yang dia tempati melamar pekerjaan tapi tetap saja tidak ada yang mau menerimanya. Gio pikir akan sangat mudah mendapatkan kerja terlebih dia dulu adalah orang terkenal dan dilihat dari kinerjanya sudah tidak perlu diragukan lagi, tapi kenapa satu pun perusahaan yang mau menerimanya tidak ada. Banyak sekali alasan tak masuk akal yang membuat Gio pusing sendiri. Gio yakin semua yang terjadi sekarang ada campur tangan ayahnya.
Gio kembali menghela nafas panjang. Dulu hidupnya tak pernah sesusah ini, tapi sekarang? Hah ayahnya sudah merebut semuanya, tapi dia juga tidak menyalahkan ayahnya dengan masalah ini. Gio yakin, dia bisa meluluhkan hati ayahnya sebentar lagi. Laki-laki dengan baju kemeja putih itu duduk disebuah taman sambil berfikir keras apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia laki-laki dan dia harus bertanggung jawab untuk istrinya.
Pikiran Gio berkelana memikirkan nasibnya dan Ara. Seandainya ayahnya memberi restu, dia tidak perlu susah-susah seperti ini mencari kerja, tapi bukankah ini sudah menjadi keputusannya, meninggalkan kemewahannya untuk tetap bersama Ara. Dia ikhlas dan dia terima semua resiko yang dia tanggung.
Sebenarnya dia punya sahabat yang kapan saja bisa membantunya. Yah, Arsal akan dengan senang hati menerimanya untuk bekerja di perusahaannya tapi Gio tidak mau merepotkan Arsal lagi, sahabatnya itu sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahannya. Selain itu, dia juga tidak ingin bekerja di tempat yang sama dengan Ken. Dia belum bisa sepenuhnya memaafkan Ken. Meskipun tau semua hanya kesalahpahaman tapi tidak segampang itu untuk kembali biasa saja.
Meminta tolong pada adik iparnya, sepertinya akan menjadi pilihan paling buruk. Dia tidak ingin merepotkan adiknya sekarang, dia harus tunjukkan pada ayahnya jika dia adalah laki-laki bertanggung jawab yang mampu memenuhi kebutuhan Ara, istrinya.
Gio kembali beranjak dan melanjutkan langkahnya, dia harus mendapatkan pekerjaan hari ini, dia tidak mau istrinya yang terbebani soal masalah keuangan. Sampai akhirnya, langkah Gio terhenti di sebuah restoran mewah yang sepertinya memang membutuhkan pekerja.
Gio menghela nafas pelan, haruskah dia mulai mengganti profesinya sekarang. Gio terdiam sejenak sambil memantapkan hatinya. Setelah menghela nafas, Gio melangkah memasuki rumah makan tersebut.
"Tidak ada salahnya belajar hal baru," ujarnya dengan senyum kecil
...💫💫...
Dengan pelan Gio membuka pintu apartemen. Belum juga langkahnya menjauh dari pintu, matanya langsung di suguhkan pemandangan seseorang yang tidur diatas sofa dengan posisi tidur. Siapa lagi jika bukan istrinya, yah, Ara tertidur di sofa saat menunggu Gio pulang. Gio tersenyum tipis lalu berjalan mendekat dan duduk disamping sang istri.
Gio memperhatikan raut wajah tenang itu, tak bisa bohong, raut wajah itu menunjukkan bahwa dia lelah. Gio mengsuap lembut pipi istrinya.
"Pasti kecapean," gumam Gio pelan.
"Kasiannya istri ku harus ikut susah," Lanjutnya.
Senyum Gio semakin mengembang saat melihat pergerakan mata Ara yang masih tertutup. Dia yakin, sebentar lagi perempuannya itu akan terbangun.
"Emmm," lenguh Ara, benarkan dugaan Gio.
Ara langsung bertatapan langsung dengan suaminya yang tersenyum kearahnya.
"Udah pulang, jam berapa?" tanya Ara dengan suara khas bangun tidur.
"Baru aja sayang," jawab Gio lembut.
Ara mengangguk lalu mengikis jarak dan masuk kedalam pelukan suaminya itu. Lelahnya seketika hilang setelah menemukan kenyamanan yang sedari tadi ditunggu.
__ADS_1
"Ke kamar aja yuk, sekalian bersih-bersih. Masa bobonya disini," kata Gio membalas pelukan Ara.
Ara mengangguk sebelum berujar sesuatu yang membuat Gio terkekeh gemas.
"Gendong," pintanya manja.
"Laksanakan," ucap Gio girang, mengangkat tubuh istrinya.
Setelah sampai dikamar, Gio meletakkan Ara ditempat tidur lalu beralih menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya begitu lengket dan dia tidak tahan. Hari ini sudah cukup melelahkan untuknya. Beberapa menit, Gio keluar dari kamar mandi dan langsung menerima sodoran baju tidur yang sudah disiapkan Ara.
Setelah selesai memakai pakaiannya, Gio menarik Ara dan mengajaknya naik keatas tempat tidur. Keduanya tidur dengan posisi Ara yang memeluk Gio yang kini mengusap-usap kepalanya dengan sayang.
"Gimana kerjaan kamu hari ini?" tanya Gio lembut.
"Seperti biasa. Melelahkan, pelanggan lagi banyak-banyaknya," jawab Ara. Perempuan itu bekerja sebagai koki disebuah tokoh kue terkenal dan lumayan banyak pengunjungnya, jadi tidak heran jika Ara cukup kewalahan akan hal itu.
"Kamu sendiri gimana, cari kerjanya lancar?" tanya Ara menatap Gio yang kini menatapnya.
Sejenak laki-laki itu terdiam tak menjawab apa-apa. Dia hanya sibuk memandangi wajah istrinya yang selalu cantik meski dengan wajah baru bangun tidur nya itu.
"Gio,"
"Hmm,"
"Gimana?"
Gio terkekeh pelan melihat raut antusias Ara yang sedang menunggu jawabannya. Gio mengangguk sekali lalu memeluk Ara erat, menenggelamkan wajah gadis itu didadanya.
"Lancar dan aku udah dapat kerja," jawabnya.
"Benarkah, dimana?" tanya Ara lagi, menatap Gio dengan binar dimatanya.
"Nanti kamu tau. Udah ah, tidur udah larut," ucapnya mengusap wajah Ara.
"Tapi..."
"Ya udah begadang bareng," ucap Gio cepat langsung membungkam mulut Ara dengan ciumannya.
Ara merutuki dirinya dalam hati, jika sudah seperti ini maka dia tidak akan bisa lagi mencegah Gio agar tak melakukan apa-apa. Seharusnya dia langsung tidur saja tadi. Lihat, bahkan tangan suaminya itu tidak tinggal diam lagi sekarang. Ara hanya menghela nafas sebelum mengikuti permainan suaminya, tak munafik, dia juga menginginkan itu. Dan pada akhirnya, malam panjang pun kembali mereka lalui malam ini.
...-To be continued-...
__ADS_1