
"ARAAAA....,"
Teriakan lantang Gio menggema di ruangan luasnya saat Naumi mendorong Ara hingga istrinya itu oleng dan hampir saja mencium lantai ruangannya yang dingin. Untung saja gerakannya lebih gesit ditambah posisi Ara yang tidak jauh darinya memudahkan Gio menangkap tubuh istrinya sebelum benar-benar menghantam lantai.
Ara mengerjapkan matanya syok sedangkan Gio yang tak kalah terkejutnya langsung mendekap Ara begitu erat. Sungguh, jantungnya hampir copot melihat istrinya hampir menghantam lantai dengan keras.
Gio menciumi pucak kapala Ara berulang-ulang menyalurkan rasa syok dan khawatirnya sekaligus menenangkan istrinya yang tampak syok.
"Maaf sayang, maaf," ujar Gio penuh sesal. Entah kenapa malah jadi yang yang meminta maaf.
Ara menggeleng pelan lalu, perempuan itu masih tak bereaksi lebih sebab masih syok dengan kejadian yang menimpanya tadi. Gio masih memeluknya dan mengusap punggungnya memberi kenyamanan sendiri untuk Ara.
Naumi menatap keduanya tajam, dia kesal sekali melihat Gio yang bahkan tak menganggapnya, justru sibuk memeluk istrinya. Ingin rasanya dia menimpuk kepala Ara dengan vas bunga yang ada di meja sekarang juga.
Cukup lama berada diposisi itu, Gio mengangkat pandangan tanpa melepas pelukannya. Mata hitamnya menatap Naumi begitu tajam, lebih tajam dari yang sebelum-sebelumnya.
"Kamu saya pecat. Kemasi barang-barang mu dan angkat kaki dari sini," ujar Gio begitu tajam.
"Tapi Gii...."
"Saya tidak akan segan-segan melakukan hal diluar kendali saya kalau kau masih berani menampakkan wajah mu didepan saya," peringat Gio memotong begitu saja ucapan Naumi.
"Kamu gak bisa gini dong," ucap Naumi masih membela diri.
"Kamu sudah berniat mencelakai istri saya. Jika kau masih mengulang ini lagi, liat apa yang akan saya lakukan padamu dan juga keluarga mu," tekan Gio tak menyurutkan pandangan tajamnya.
Mendengar itu, Naumi membeku ditempatnya. Siapa yang tidak akan takut, Gio dan keluarganya memiliki kekuasaan besar dan mampu melakukan apa saja yang dia inginkan.
"KELUAR," bentak Gio sudah habis kesabaran.
Naumi terlonjak kaget mendengar bentakan Gio. Tidak, bukan hanya Naumi tapi Ara yang masih memeluk Gio juga kaget mendengar bentakan keras suaminya. Menyadari itu, Gio kembali mengelus punggung istrinya dan meminta maaf berkali-kali.
Melihat Gio dan Ara yang tidak mempedulikannya, Naumi mendengus lalu beranjak meninggalkan ruangan Gio begitu saja.
"Sayang..." panggil Gio merenggangkan pelukannya dan menatap mata istrinya yang juga menatapnya.
"Kamu gak papa?" tanya Gio mendapat gelengan dari Ara.
Gio menghela nafas pelan, untung saja gerakannya cepat hingga dirinya masih bisa menangkap Ara. Tidak bisa dibayangkan, jika dirinya terlambat sedikit saja nyawa istri dan anaknya dalam bahaya.
__ADS_1
Gio mencium setiap sudut wajah istrinya penuh kasih sayang lalu berujar, "maaf."
"Buka bajunya," perintah Ara tak menanggapi permintaan maaf suaminya.
Mendengar perintah sangat istri, jelas Gio dibuat bingung. Untuk apa, pikirnya.
"Ada bekas lipstik wanita itu," ujarnya menjawab kebingungan Gio.
Gio menatap kemeja putihnya pada bagian dada sebelah kiri, jelas terlihat noda merah disana. Ara cemberut melihat itu, bahkan bau parfum Naumi masih menempel pada baju suaminya. Gio terkekeh pelan lalu mengajak istrinya masuk ke dalam sebuah ruangan yang lebih terlihat seperti kamar. Ara tau itu adalah ruangan tempat suaminya istirahat jika lelah bekerja. Ara sering tidur disini jika datang berkunjung.
Tak menunggu lama, perempuan itu bergerak menuju lemari disudut ruangan untuk mengambilkan suaminya baju. Kemeja putih dengan jas biru navy menjadi pilihan Ara. Gio menurut saat istrinya membuka dasi, jas dan juga kemejanya lalu membantu Gio mengenakan pakaiannya.
Setelah selesai mengenakan kemeja Gio, laki-laki itu menarik Ara duduk di tepi tempat tidur dan langsung memeluk istrinya erat, menenggelamkan wajahnya diceruk leher sangat istri.
"Cape," gumamnya manja.
"Kamu pikir dengan begini aku gak marah lagi?" tanya Ara kesal.
"Ya marah lah, enak aja kamu peluk-pelukan sama wanita lain,"
Gio terkekeh pelan mendengar dumelan istrinya itu. "Maaf," ujarnya pelan.
"Udah aku pecat. Gak akan lagi ganggu aku ataupun kamu," lanjutnya.
"Ya kita bantailah," jawab Gio.
"Iih serius," Ara memukul pelan punggung Gio yang masih setia memeluknya.
"Serius. Kamu pikir aku diam aja kalau kalian dijahati, oh tidak bisa sayang," ujarnya serius masih mempertahankan posisinya.
Ara bungkam, begitupun Gio. Laki-laki masih nyaman dalam pelukan istrinya tanpa mau melepas atau merenggangkannya.
"Gimana hari ini, anak papa rewel gak?" tanya Gio mengelus perut buncit Ara.
"Enggak," jawab Ara.
"Gak sabar pengen gendong,"
"Sabar, sebulan lagi,"
__ADS_1
"Udah makan?"
Pertanyaan Gio dijawab dengan anggukan. Gio menghela nafas pelan dengan jawaban istrinya, takut Ara belum makan siang. Gio melepas pelukannya lalu berjongkok didepan Ara sembari mengelus lembut dan sesekali mencium perut istrinya.
"Gimana sama hari ini, sayang?" tanya Gio.
"Di rumah Rania, senang?" tanyanya lagi.
"Seneng banget. Ada Gea, Dara, Arsal, Ken juga ada," jawab Ara girang.
"Ngapain aja?" tanya Gio.
"Makan-makan sambil cerita-cerita. Al sekarang aktif banget tadi ngelus-ngelus perut aku," jawab Ara lagi menyebut nama anak Gea sekaligus keponakannya itu.
"Dia nanya gini, papa gak datang yang ma, gitu,"
"Terus?"
"Ya aku bilang, kan papa mu gila kerja,"
Ara tertawa sendiri dengan jawabannya sekaligus geli saat Gio mencium-cium perutnya dan mengelus lembut yang di respon bayi kecilnya.
"Nendang terus anak papa, minta dijenguk kah?" celetuk Gio membuat Ara memukul lengan Gio pelan.
"Dijenguk mulu. Tadi malam kan udah."
"Ya kan kata dokter...."
"Udah ah, ini di kantor jangan bahas begituan,"
"Jadi kalau di rumah, bisa dong,"
"Iih kamu mah,"
Gio terkekeh setalah mendapat pukulan dari tangan kecil istrinya. Laki-laki itu beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya bermaksud mengkode Ara agar menggandengnya.
"Ayo pulang," ajak Gio.
"Kerjaan kamu, gimana?"
__ADS_1
"Udah selesai, tinggal kerjaan rumah sama kamu yang belum dikerjain."
...-To be Continued-...