
FLASHBACK ON
Empat remaja dengan balutan baju kemeja putih dan bawahan warna hitam khas mahasiswa baru kini berkumpul disalah satu ruang tamu rumah megah bernuansa putih itu.
"Tugasnya dikumpulin besok loh", kesal seorang gadis bersurai hitam kecoklatan saat melihat tiga sahabatnya hanya asik dengan kegiatannya sendiri. Didepan gadis itu ada Gio Pratama Ananda yang sedang fokus dengan game di ponselnya dan Arsal Leondra yang juga tak jauh beda dari Gio. Bedanya, Arsal fokus bukan ke game tapi ke room chat yang menampilkan asrama putir miliknya. Sedangkan disamping kiri gadis itu duduk seorang Kenneth Leondra yang juga sibuk dengan game diposelnya.
"Bentar Una. Nanggung", sahut Gio.
Yah, nama gadis itu Aluna Georgia atau yang sering mereka panggil Una. Mereka berempat sudah bersahabat sejak kelas 1 SMA dan memutuskan kuliah di tempat yang sama dan dengan jurusan yang sama. Mereka seolah memang tidak bisa dipisahkan. Mereka benar-benar sudah lengket seperti prangko.
Hari ini adalah hari pertama mereka belajar sebagai mahasiswa disalah satu universitas ternama, sepulang dari kampus tadi mereka langsung kerumah gadis itu dan mengerjakan tugas kelompok yang kebetulan kelompok mereka memang diisi keempatnya. Tapi sayangnya, sampai dirumah gadis itu, ketiganya malah asik dengan ponsel dan mengabaikan tugas-tugas mereka.
"Ken...", rengek Aluna dengan mata berkaca-kaca karena tidak suka diabaikan.
Ken menoleh dan menatap teduh gadis itu. "Kenapa sih, sayang", sahutnya teramat lembut. Yah, selain bersahabat Ken dan Aluna juga sudah menjalin hubungan cukup lama, sekitar 3 tahun lebih. Hubungan mereka bahkan sudah terbilang cukup serius. Keduanya sudah saling mengenal cukup dalam, bahkan kata Ken dia akan segera melamar gadis itu. Tak ada yang masalah bagi Gio dan Arsal, bagi keduanya itu adalah kabar yang menggembirakan terlebih Ken juga sudah termasuk mapan, lalu apa lagi yang jadi masalah.
"Aku nangis nih ya", ancam gadis dengan paras cantik itu.
Mendengar ancaman Aluna, kompak ketiganya mendongak dan menghentikan aktifitas mereka. Bahkan hp mereka sudah tergeletak diatas meja.
"Jangan dong", seloroh ketiganya kompak.
Mereka memang tidak pernah bisa melihat Aluna menangis dan sebisa mungkin tidak pernah membuat gadis itu menangis. Gadis itu termasuk salah satu korban brokenhome, itu sebabnya ketiganya menjaga agar Aluna tetap bahagia. Cukup itu saja penderitaan gadis itu.
"Ya udah kita kerjain tugas dulu, nanti baru main", perintah gadis itu membuat ketiganya kompak mengangguk. Tugas-tugas mereka pun mereka kerjakan dengan tenang... emm ralat, bukan tenang tapi sedikit bacotan dari Arsal yang memang tidak bisa diam.
"Gue diputusin lagi anjr", kata Arsal memulai.
Ketiganya kompak tertawa kencang, playboy sekelas Arsal diputuskan, waw ini kabar yang membahagiakan.
"Kok kalian pada ketawa?", tanya Arsal jengkel.
"Karma", sahut Gio singkat fokus pada buku-bukunya.
" Kapan sih lo tobat? ", tanya Ken jengah pada saudaranya itu.
"Kapan-kapan",
"Tobat bang. Nanti kena karma nangis". Bukan, itu bukan suara Ken melainkan suara Aluna yang memperingati Arsal.
"Cewek gak boleh dimainin gitu. Contoh dong kakak kamu, dia setia sama Aluna", kata Aluna membanggakan Ken.
"Benar", sahut Ken mengacak rambut Aluna gemas.
"Iya, gue tobat besok. Kalau gak lupa". Ucapan Ken barusan berhasil membuatnya mendapat hadiah tabokan dari ketiga sahabatnya.
...---🌻🌻🌻---...
__ADS_1
Waktu tak terasa, setelah sahabat-sahabatnya pulang, Aluna juga kembali ke kamarnya. Hari ini dia bisa lega sedikit karena kedatangan sahabat-sahabatnya membuat dia terhindar dari amukan mamanya.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Aluna berjalan menuju jendela menutup jendela besar kamarnya karena keadaan diluar sudah hampir gelap. Aluna yang baru saja menutup jendela dibuat terkejut oleh kehadiran mamanya yang sudah menatapnya tak bersahabat.
"Kenapa, Ma?", tanya Aluna tenang. Bagaimana pun juga yang dia hadapi sekarang adalah mama kandungnya.
Mamanya berjalan mendekat dan melempar sebuah kertas tepat diwajah Aluna membuat gadis itu terkejut bukan main.
"APA ITU?", tanya mamanya dengan emosi yang menggebu-gebu.
Sebuah tes peck dan foto USG janin dengan umur yang masih sangat kecil terjatuh tepat di samping kaki gadis cantik itu. Aluna dibuat terkejut, dari mana mamanya mendapatkan itu.
"Mama dapat dari mana?", tanya Aluna berusaha tenang.
"MEJA BELAJAR KAMU. ANAK SIAPA ITU ALUNA?", tanya mamanya penuh emosi.
"GIO, KEN ATAU ARSAL, HAH? JAWAB MAMA", tanyanya lagi.
Aluna mengepalkan tangannya kuat berusaha mengumpulkan keberanian untuk menjawab, dia tau dengan pasti mamanya tidak akan pernah setuju dengan apa yang menjadi pilihan Aluna karena gadis itu tau, mamanya juga sudah menjodohkannya dengan laki-laki yang kan tanya kaya. Yah mamanya hanya berfikir tentang uang, uang dan uang tanpa memikirkan perasaannya. Mamanya memang tidak tau latar belakang sahabat-sahabatnya karena sampai detik ini mereka pun menyembunyikan identitas mereka.
"ANAK SIAPA ALUNA?", tanya mamanya lagi saat tak mendapat jawaban dari Aluna.
"Ken". Aluna menjawab dengan lantang.
Yah hubungan mereka memang sudah sejauh itu, Aluna tengah mengandung anak laki-laki dan usia kandungannya sudah menginjak 4 minggu. Aluna belum sempat memberitahu Ken dan berniat memberitahunya besok, tapi dia tidak tau apa dia masih sempat memberitahu Ken besok melihat raut wajah mamanya yang langsung berubah mengerikan.
Tamparan mendarat di pipi mulusnya. Tak berselang lama, jambakan pada rambutnya membuat Aluna seketika meringis.
"Mama, sakit. Lepasin Una", pinta Aluna berharap mamanya mengampuninya hari ini. Bukan apanya, dia takut terjadi sesuatu pada calon bayinya karena dia yakin setelah ini bukan hanya tamparan dan jambakan yang dia dapat tapi lebih dari itu. Dan benar saja, pukulan demi pukulan dia dapat dan sebisa mungkin dia menjaga agar pukulan mamanya tak mengenai perutnya.
"Ampuni Una, Ma", mohon Aluna dengan air mata yang sudah begitu deras.
Tak berselang lama, pintu kamarnya terbuka menampilkan sesosok laki-laki seumuran dengannya, sedang menatapnya iba.
"Udah cukup, Ma", kata laki-laki itu.
"DIA HAMIL ANAK ORANG LAIN SAAT MAMA MAU KALIAN MENIKAH", pekik mama Aluna kepalang emosi.
Aluna dapat melihat seketika raut wajah laki-laki itu berubah saat menatapnya. Tatapan yang begitu Aluna sulit artikan.
"Kamu urus dia", itu kata terakhir yang mamanya ucapkan sebelum meninggalkannya bersama laki-laki itu. Mamanya tak peduli lagi apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Aluna baiak-baik saja atau akan mati pun mamanya tak peduli.
"Tolong..... ",
...---💔💔💔---...
Gio dibuat terkejut saat mendapat begitu banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Aluna sepagi jni. Laki-laki dengan balutan hoodie hitam itu segera mengambil kunci mobil dan bergegas menuju ke rumah gadis itu. Dia takut terjadi apa-apa dengan Aluna.
__ADS_1
Sebelum benar-benar berangkat, dia sempat menghubungi Arsal dan juga Ken, tapi tiba-tiba laki-laki itu tidak bisa dihubungi. Gio mendengus dan langsung tancap gas setelah mendapat persetujuan dari Arsal untuk langsung menuju ke rumah gadis itu.
Tak butuh waktu lama, Gio sampai dan hendak menerobos masuk. Namun langkahnya terhenti saat melihat mobil Arsal juga memasuki halaman rumah gadis itu.
"Ayo", ajak Arsal tergesa-gesa yang langsung diangguki Gio.
Rumah besar itu terlihat sepi bahkan seperti tidak ada orang, tapi pintu utama rumah tidak terkunci membuat Gio dan Arsal kebingungan.
"Gimana sama Ken?", tanya Gio.
"Di diperjalanan kesini, mungkin bentar lagi sampai. Lo cari dilantai satu, gue cari dilantai dua. Perasaan gue gak enak", kata Arsal yang langsung diangguki Gio.
Keduanya berpencar mencari kesetiap sudut ruangan. Bukan hanya Arsal tapi Gio juga merasakan hal yang sama, bahkan dia merasa ada yang aneh dan tidak beres sekarang.
Langkah Gio terhenti tepat didekat kolam renang saat melihat hal yang benar-benar membuatnya takut bukan main. Kolam renang Aluna yang biasanya bersih dan jernih kini digenangi oleh air berwarna merah dengan sosok seseorang yang kini tengah tenggelam di dasar kolam. Gio mengenali tubuh orang itu. Nafas Gio tercekat, tubuhnya melemas dan bergetar hebat, kakinya seolah tak bisa lagi berdiri dengan tegap. Kepalanya seolah dihantam batu besar membuat pandangannya buram. Pemandangan didepannya begitu sangat mengerikan. Air kolam yang biasanya jernih kini berwarna merah entah karena pewarna atau.......Darah.
Tak berpikir lagi, Gio langsung menyebutkan diri membawa tubuh Aluna ke pinggir kolam dan berusaha membangunkan gadis itu dengan sisa tenaganya. Tubuh Gio bergetar hebat melihat kondisi Aluna yang sudah pucat pasi dengan kedua tangan terikat dan perut yang terus mengeluarkan darah.
"Una bangun. Unaa", pinta Gio dengan suara bergetar. Laki-laki itu sudah menangis. Melepas hoodienya lalu mengikat pada perut Una berharap dapat menghalau darah yang keluar. Entah caranya benar atau tidak tapi hanya itu yang ada di kepalanya sekarang. Wajah Gio pun ikut pucat.
"Ayo bangun. Nanti Ken datang liat kamu kayak gini bakal marah", lanjutnya dengan menepuk-nepuk pelan pipi Aluna.
"Una mau liat Ken marah?", tanyanya.
Hening tidak ada sahutan sama sekali membuat Gio makin-makin takut dan frustasi.
"GIOOOOO.... ", teriakan seseorang dari arah belakang membuat pertahanan Gio runtuh seketika. Gio menangis menatap Aluna dengan kondisi yang benar-benar mengenaskan.
Ken datang dan langsung tercengang dengan apa yang dia lihat. Ken sama terkejutnya dengan Gio. Dengan tergesa-gesa, Ken mendorong tubuh Gio kuat membuat Gio mundur.
"Una, sayang. Hei bangun, ini aku udah datang", kata Ken berusaha membangunkan Aluna tapi sama sekali tidak ada respon.
"Una ayo bangun. Aku kesini mau ajak kamu jalan-jalan. Mama mau ketemu Una. Katanya mau ngajar Una bikin Kue", kata Ken dengan air mata yang sudah menetes.
"Ayo sayang. Bangun, kita ganti baju terus kerumah. Habis dari rumah kita jalan-jalan", kata Ken masih berusaha membangunkan Aluna yang bahkan tak memberi respon sama sekali.
"Kita ke pasar malam, beli permen kapas lagi. Beli apa aja yang Una mau. Ayo sayang bangun", suara Ken semakin memelan.
"UNA BANGUN ATAU AKU AKAN MARAH", teriak Ken frustasi saat melihat wajah pucat pasi dan tubuh Aluna yang semakin dingin. Bahkan dia sama sekali tidak merasakan deru nafas Aluna.
Tak berselang lama, Arsal datang dengan memang secari kertas dan sebuah foto. Tapi tubuhnya dibuat membeku saat tatapan matanya langsung tertuju pada Aluna yang tak sadarkan diri dan air kolam yang berubah merah.
"INI SEMUA KARENA LO", pekik Ken menunjuk Gio dengan raut wajah tak bersahabat dan mata memerah. Tatapan yang selama ini belum pernah Gio lihat, kini Ken layangkan untuk sahabatnya itu
itu kata terakhir yang Gio dengar sebelum dirinya tumbanga dan kehilangan kesadarannya.
FLASHBACK OFF
__ADS_1
...---TBC---...