
Gio menoleh kesana kemari mencari keberadaan Ara. Entah bagaimana caranya gadis itu bisa hilang dari radarnya, padahal tadi dia melihat Ara berlari ke taman ini. Demi Tuhan, dia khawatir. Keadaan Ara begitu kacau dan dia harus mencari gadis itu tapi dimana.
Langkahnya terus membawanya mengelilingi taman dengan mata yang terus menyorot taman luas itu, berharap bisa menemukan gadisnya secepat mungkin. Bakan dia melupakan jika hari ini dia harus masuk kantor.
Deringan ponselnya membuat fokusnya terpecah dan berhenti sejenak, melihat siapa yang menelfonnya. Gio tidak pernah mengabaikan deringan ponsel karena takut itu dari orang tua atau bahkan adiknya. Saat mengambil ponsel itu, nama 'Ayah' tertera jelas dilayar ponselnya. Tanpa menunggu lama, Gio menggeser tombol hijau menerima panggilan masuk dari ayahnya.
"Iya Yah", katanya setelah tersambung.
"Kamu dimana, ayah tunggu kamu di kantor", sahut dari seberang.
"Maaf, Yah. Hari ini abang izin gak masuk ya", kata Gio pelan.
"Kenapa?. Ada masalah?", tanya Kevin.
"Sedikit. Abang lagi nyari Ara....",
"Putri Ayah kemana?", tanya Kevin langsung memotong.
Gio mendengus pelan, sekarang anak ayahnya bertambah satu, tapi itu tidak masalah baginya. Justru itu sangat membahagiakan, siapa yang tidak bahagia jika kekasih mi diterima baik di keluarga mu.
"Ada sedikit masalah, nanti abang ceritakan. Abang tutup dulu",
Setelah mendapat izin dari seberang, Gio menutup sambungan telfon dan kembali menyimpan ponselnya.
"Kamu kemana sih, Raa", gumam Gio kembali menyusuri taman. Dia yakin, Ara masih berada tak jauh dari sini.
Semakin dia masuk ke taman luas itu, isakan kecil dia dengar membuatnya ingin segera menghampiri sumber suara itu. Benar saja, gadisnya sedang duduk di bangku taman seorang diri dengan kepala tertunduk dan isakan kecil yang mengisi kesepian disana.
Gio menghela nafas lega, namun tak dipungkiri juga hatinya sakit melihat Ara menangis seperti ini. Ini yang kedua kalinya dia melihat Ara menangis. Gadisnya yang ceria kini begitu rapuh.
Gio berjalan mendekat lalu duduk disamping Ara. Gio diam membiarkan Ara menyelesaikan tangisannya. Tangan laki-laki itu terangkat menepuk-nepuk pundak Ara pelan. Beberapa menit terlewat, Ara akhirnya bisa mengendalikan diri. Isakannya tak sehebat tadi, bahkan gadis itu berusaha menenangkan diri dengan menghela nafas beberapa kali.
"Udah?", tanya Gio yang dibalas anggukan.
"Sini peluk", kata Gio merentangkan tangannya.
Hal diluar dugaan, Gio pikir Ara akan dengan senang hati masuk kedalam pelukannya tapi gadis itu justru menggeleng dan memberi jarak untuk mereka berdua. Ara menggeleng pelan membuat kening Gio mengerut bingung.
"Kenapa, gak mau dipeluk lagi?", tanya Gio tenang yang hanya dibalas anggukan.
__ADS_1
"Kenapa, sayang", tanya Gio lagi hendak mendekat namun Ara lagi-lagi memberi jarak.
Ara mengangkat kepalanya menatap mata Gio dengan mata memerah dan jejak air mata yang menandakan bahwa dia benar-benar hancur sekarang.
"Kita udahan aja ya", katanya pelan.
Bak petir di siang bolong, Gio terkejut bukan main mendengar penuturan Ara yang begitu tiba-tiba. Tidak ada angin, tidak ada hujan Ara tiba-tiba meminta seperti itu.
"Tarik kembali ucapan kamu", kata Gio pelan. Sakit, iya hatinya berdenyut sakit saat tiba-tiba Ara meminta sesuatu yang bahkan tak pernah dia inginkan terjadi.
Ara menggeleng pelan, dia tidak bisa berfikir jernih sekarang, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan pada Gio agar laki-laki itu mengerti.
"Aku gak mau. Aku ada salah?. Salah aku dimana, coba bilang. Aku bakal perbaiki. Aku bakal ubah sifat aku, gak manja lagi, gak cengeng lagi, gak nyusahin kamu lagi asal jangan putus, aku gak mau. Gak mau sayang", kata Gio lirih menggenggam erat tangan Ara.
Gadis itu hanya diam dan kembali berkaca-kaca melihat Gio yang seperti ini, bukan tanpa alasan dia ingin mengakhiri semuanya. Mendengar kebenaran tadi sudah cukup membuatnya merasa tak pantas ada disamping laki-laki ini.
Gio lalu beralih berlutut didepan Ara dan menggenggam kedua tangan gadis itu. Wajahnya mendongak menatap Ara yang sama sekali tidak mau menatapnya. Matanya ikut berkaca-kaca. Dia tidak tau masalahnya dimana, dia tidak tau salahnya dimana sampai tiba-tiba Ara jadi seperti ini. Kemarin semuanya masih baik-baik saja, bahkan Ara masih menciumnya kemarin, lalu apa yang salah sekarang.
"Sayang, Please....", ujar Gio frustasi.
"Pukul aku kalau ada salah, ayo pukul. Asal jangan minta putus. Please",
"Jangan minta aku pergi, aku gak bisa tanpa kamu", ujarnya menciumi tangan Ara yang dia genggam.
"Jawab aku", ujarnya dengan suara bergetar.
Ara menghela nafas pelan lalu memberanikan diri menatap Gio yang kini mulai menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu udah dengar tadi, semuanya. Aku gak pantas buat kamu, Gii.", ujar Ara pada akhirnya.
Gio menggeleng tak setuju. Dia tidak pernah berfikir seperti itu. Bagaimanapun Ara, siapapun Ara, dia masih tetap gadisnya, miliknya.
"Aku bahkan bukan hanya gak punya apa-apa buat dibanggain biar ada disamping kamu, tapi aku juga anak haram", katanya begitu pelan.
"CUKUP", bentak Gio.
Laki-laki itu berdiri dari duduknya dan menatap Ara dengan tatapan antara terluka dan juga marah, dia tidak suka jika Ara sudah seperti ini.
"Gue bahkan gak pernah berfikir seperti itu. Bahkan siapapun lo, bagaimana pun lo, gue tetap bakal milih lo gak peduli, siapa lo dan apa kata orang", lanjut Gio. Sekarang Ara paham, Gio sedang marah karena ucapannya tadi. Ara sudah tahu betul sikap Gio.
__ADS_1
"Lo gak pernah minta dilahirin kayak gitu, itu semua udah takdir Ara. Tugas kita cuma nerima dengan ikhlas. Tuhan punya alasan di setiap jalan hidup yang dia kasi ke orang, termasuk lo atau gue sekalipun. Gue emang gak membenarkan apa yang udah terjadi dulu, tapi lo harus tau, gak ada yang namanya anak haram. Lo datang ke bunda, bilang kalau lo anak haram gue yakin dia bakal sama marahnya kayak gue", lanjutnya.
"Lo gak kasian sama bunda dan ayah lo kalau lo sebut diri lo anak haram, hm?", tanyanya yang tak mendapat respon sama sekali.
"Bunda lo berjuang lahirin lo, ayah lo berjuang buat bahagiain lo. Tapi anak yang mereka udah besarkan justru marah dan menganggap dirinya anak haram. Mikir gak sih, Raa",
Gio menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan berusaha meredam emosi yang ada dalam dirinya.
"Lo mungkin butuh waktu sendiri buat tenangin diri dan berfikir jernih. Gue pergi dulu, nanti gue datang kerumah. Habis ini langsung pulang ya", kata Gio berusaha mengerti keadaan Ara, mengusap lembut rambut gadis itu.
"Gue sayang sama lo, temui gue kapan aja lo mau", dan itu kata-kata terakhir yang terlontar dari mulutnya sebelum benar-benar pergi. Ara hanya diam tak menjawab atau mengejar Gio. Pikirannya kini tak karuan.
Sedangkan dari kejauhan, seseorang yang sedari tadi mengawasi mereka, tersenyum miring seolah menemukan apa yang selama ini dia inginkan.
...---✨✨✨---...
Pagi ini, Ken masih asik bergelung dalam dunia mimpinya. Hari membosankan setelah lulus kuliah, dia juga tidak ada pekerjaan hari ini, dan yah dia memilih bermalas-malasan di apartemennya.
Suara bel yang dipencet berkali-kali disusul teriakan seorang gadis membuat Ken sedikit terganggung dari tidurnya. Laki-laki yang hanya mengenakan celana boxer itu beranjak dari tempat tidurnya dengan malas lalu keluar kamar.
"Siapa?", tanyanya yang kini berdiri diambang pintu kamar dengan malas.
Orang yang hendak membuka pintu itu berhenti dihadapannya, lalu tersenyum tipis.
"Pagi my boy", sapanya manis, mendekat dan merapikan rambut acak-acakan Ken.
Veronica Herald, gadis itu sekarang benar-benar tinggal bersamanya di apartemen itu. Tak ada lagi kecanggungan diantara keduanya setelah kejadian malam itu.
"Kamu mandi sana, aku buka pintu dulu", lanjutnya yang langsung diangguki Ken.
"Sini deh,", perintah Ken sebelum berlalu pergi.
Veronica semakin mendekat dan berdiri tepat dihadapan Ken. Tak menunggu lama, Ken menarik pinggang gadis itu dan mengecup bibirnya sekilas.
"Morning kiss, babe", ujar Ken serak membuat pipi Veronica memerah.
"Aku mandi dulu", pamitnya dan benar-benar berlalu.
Sementara Veronica setelah menstabilkan detak jantungnya, dia segera menuju pintu utama dan membuka pintu hendak melihat siapa yang pagi-pagi begini sudah datang ke apartemen Ken. Setelah pintu terbuka, kedua orang itu sama-sama terkejut.
__ADS_1
"Lo ngapain disini",
...---To be continued---...