Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 17. pengganggu lagi


__ADS_3


Gio berjalan menyusuri koridor kampus dengan lesu. Bagaimana tidak lesu, rencananya hari ini untuk berangkat bersama Ara gagal gara-gara Arsal. Sahabat tidak tahu dirinya itu datang pagi-pagi menghabiskan makanan dan mengajaknya berangkat bersama. Sebelum berangkat tadi, Gio sudah mengirim pesan pada Ara untuk pulang bersama.


"Kenapa sih lo?", tanya Arsal tidak mengerti, pasalnya sedari tadi Gio menatapnya sengit.


"Lo yang kenapa ?. Ngapain datang kerumah gue cuma buat ngerecokin gue?", kesal Gio. Sungguh, manusia satu ini harus Gio bantai habis-habisan.


"Mau kenalan sama adik lo" sahut Arsal tanpa beban langsung merangkul Gio.


Gio melepas rangkulan Arsal kesal lalu menatap sahabatnya itu horor.


"Adik gue udah ada pawangnya. Kalau lo mau noh hadapi Zian dulu", kata Gio menyebut nama laki-laki yang sedang dekat dengan adiknya.


"Yaah kala cepat", kata Arsal mendesah kecewa.


Gio hanya acuh, terserah Arsal mau berbuat apa itu bukan urusannya yang membuatnya kesal adalah dia menggagalkan rencananya dengan gadisnya---ehh.


Arsal mengambil kaca mata hitam dari dalam saku celana cargonya, ingat laki-laki itu paling malas membawa tas. Setelah memakainya, Arsal bersiul menggoda para mahasiswi yang berada di koridor kampus yang mereka lewati. Semua menoleh dan menatap pada Arsal, ah lebih tepatnya pada Gio yang bersikap cuek dan menampilkan wajah datarnya.


"Bro, jangan datar-datar banget, noh pada liatin lo", kata Arsal menatap Gio, sedangkan yang ditatap hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Terus ?", tanya Gio singkat.


"Gak ada, gak ada", kesal Arsal. Sahabatnya ini memang susah diajak berinteraksi, sudah cuek dingin pula.


"Hai neng, ikan hiu nabrak dinding i love you lima ribu", kata Arsal menggoda gadis sebut saja Ria.


"Gak nyambung bego", kata Gio memukul kepala Arsal.


"Bodo", sahut laki-laki jangkung itu.


"Nanti siang makan bareng ya, cantik", katanya lagi pada gadis disebelah Ria.


Mereka memutar bola mata malas, mereka sudah kebal dengan gombalan dan godaan playboy cap tikus satu ini.

__ADS_1


"Yang di sapa siapa yang diajak jalan siapa", gumam Gio meninggalkan Arsal yang sibuk dengan kerjaannya.


Saat sadar dirinya ditinggal, Arsal berlari kecil mengejar Gio yang sudah sedikit jauh darinya, namun langkahnya melambat seiring matanya menatap Gio yang tengah berhenti di koridor dengan seorang gadis yang menyodorkan kotak bekal padanya.


"Buat kamu", kata gadis itu. Siapa lagi jika bukan Rania, gadis yang selalu merecoki dan membuatnya bukannya respect malah makin muak.


Gio hanya mengangkat alisnya sebelah lalu menatap Rania dari atas kebawah dengan tatapan datarnya, lalu menatap kotak bekal berwarna biru itu lalu kembali menatap Rania. Ingatan laki-laki itu kembali ke kejadian tadi malam. Gio menghela nafasnya berusaha meredakan amarah yang tiba-tiba tersulut.


"Buat gue aja", sambar Arsal yang langsung mengambil kotak bekal itu. Rania menatap Arsal sengit.


"Itu bukan buat lo", kesal gadis itu.


"Sama aja. Gue yakin dan percaya Gio gak akan terima jadi dari pada mubazir, buat gue aja", kata Arsal lalu meninggalkan keduanya.


Gio menatap Rania sinis lalu tersenyum miring. Jika gadis ini masih mau bermain-main dengannya, dia akan mengikutinya. Dia tidak akan membiarkan gadis itu mencelakai orang yang dia sayang lagi, sudah cukup waktu itu.


"Jangan pernah ganggu milik gue", katanya pelan dan berlalu meninggalkan Rania yang menatap Gio tak mengerti.


"Milik", beo Rania.


...----------------...


Ara mengacak rambutnya pelan, bagaimana dia bisa bertemu Gio setelah kejadian itu ? Gio menciumnya dan dia hanya diam saja. Lagi, Ara menghela nafasnya pelan, ciuman itu adalah yang pertama untuk Ara dan yang mengambil ciuman pertamanya adalah sosok yang dia kagumi, waaaw.... Pipi Ara memerah seketika.


Saat Ara terbangun, Ara pikir itu hanyalah mimpi tapi melihat paper bag diatas meja riasnya, Ara bungkam seketika. Itu bukan mimpi tapi kenyataan. Saat sibuk dengan pikirannya sendiri, Ara sampai tidak menyadari kehadiran seseorang didepannya sampai akhirnya tubuh mungil gadis itu menabrak tubuh besar laki-laki dihadapannya.


Brukkkk


Ara mengusap hidungnya yang berhasil menabrak tubuh didepannya.


"Kalau jalan hati-hati", kata orang itu lembut.


Tunggu, Ara seperti mengenal suara itu. Gadis dengan rambut digerai itu mendongak menatap orang yang dia tabrak dan benar saja, orang itu orang yang dia begitu hindari.


Kenneth Leondra

__ADS_1


Masih ingat dengan laki-laki yang memaksanya pulang bersama kemarin, yah dia orang yang sama dengan yang Ara tabrak hari ini. Kenneth Leondra atau yang biasa dipanggil Ken, dia saudara kandung Arsal Leondra. Laki-laki tampan dengan postur tubuh yang bagus, kulit putih, rambut hitam legam dan mata sipitnya membuat siapapun mudah jatuh cinta padanya tapi tidak dengan Ara. Siapa yang tidak mengenal laki-laki dihadapannya ini, playboy dengan segudang wanita dan yang orang kenal dengan pergaulan yang 'cukup' bebas membuat Ara tidak suka dan sebisa mungkin menghindari orang ini. Selain itu, Ara tau Ken juga kasar.


Meskipun terkenal dengan sifat playboy nya, tapi Ara heran kenapa laki-laki ini selalu mengejar dan mengganggunya. Ara tidak mau dan Ara tidak suka, selain itu dia sudah mempunyai orang yang dia sukai. Tanpa membuka suara, Ara hendak beranjak namun tangannya dicekal membuat langkahnya berhenti.


"Lepas", kata Ara datar.


"Gak akan sebelum lo mau pulang bareng gue hari ini", sahut Ken.


"Boleh", sahut Ara membuat Ken senang bukan main, ini kali pertamanya Ara mau dia ajak pulang.


"In your dream", katanya lagi.


Ken menganga tidak percaya, Ara selalu bersikap dingin padanya namun pada orang lain tidak. Apa Ara setidaksuka itu padanya. Dia tidak tahu apa yang membuat Ara begitu tidak suka padanya. Setiap penolakan Ara selalu berhasil menyulut emosinya, sejauh ini hanya Ara satu-satunya orang yang selalu menolaknya. Ken mencengkeram erat tangan Ara membuat gadis itu mendesis kesakitan.


"Lepas Ken, sakit", kata Ara pelan berusah melepas tangannya namun gagal.


"Gak mau, lo harus ikut sama gue", kata Ken menarik Ara.


Saat Ken hendak menyeret Ara entah kemana, suara cempreng dari arah belakang Ken membuat laki-laki jangkung itu menghentikan pergerakan. Refleks laki-laki itu berbalik dan mendengus kesal saat melihat siapa yang datang.


"Kak Ara", teriakan gadis itu menggema dikoridor kampus.


Terlihat empat orang yang berjalan mendekati mereka. Ken menghela nafas kasar dan terpaksa melepas cekalan tangannya pada Ara, membuat gadis itu bernafas lega dan mendekat pada Gea, gadis yang baru saja memanggilnya.


Ken berbalik menatap empat orang itu dengan sinis, sebenarnya bisa saja Ken menghadapi jika hanya gadis itu tapi lihat siapa yang datang bersamanya. Ada Zian dan Reyhan, dia bukannya takut, dia hanya tidak ingin bertengkar disini dan merusak image nya. Apalagi didepan Ara.


"Kak Ken kenapa masih disini?", tanya Gea polos membuat semuanya menahan tawa karena secara tidak langsung gadis itu mengusirnya, ditambah lagi raut polos Gea begitu mendukung.


"Kalau gak ada urusan, mending pergi", lanjut gadis itu. Astaga wajah polos dan tampang tak berdosa Gea benar-benar ingin membuat Dara menyemburkan tawanya.


"Pffttttttt", tawa Dara hampir tersembur mendengar penuturan Gea. Astaga sahabatnya ini benar-benar yah.


Mereka sebenarnya tidak membenci Ken, mereka hanya tidak suka padanya, karena sifat laki-laki itu yang sok berkuasa. Pandangan Gea teralih pada Ara yang hanya tersenyum mendengar ucapan polos Gea. Gadis manis itu memeluk lengan Ara dengan gemas membuat mereka geleng-geleng kepala. Melihat Ken tidak beranjak sama sekali, Gea memutuskan mengajak Ara pergi dari sana.


"Ya sudah kita saja yang pergi, ayo kakak ipar", kata Gea menarik Ara pergi dari sana diikuti tiga orang yang hanya diam mengamati. Melihat itu Ken menghela nafasnya kasar, selalu saja ada halangan. Tapi tunggu dulu, apa kata Gea tadi 'kakak ipar', jangan-jangan Ara------Ken mengepalkan tangannya kuat menahan amarah yang langsung tersulut saat menyadari panggilan Gea ke Ara tadi.

__ADS_1


"Gio lagi"


...---To Be Continued---...


__ADS_2