Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 118. Cerita


__ADS_3

Gio memperbaiki selimut sambil mengusap-usap punggung istrinya yang kini sudah anteng dalam pelukannya. Setelah kedua orang tuanya tadi pulang, Gio mengajak Ara kembali ke kamar dan menidurkan istrinya itu.


"Gio.." panggil Ara.


Gio sedikit melerai pelukannya dan menatap mata istrinya yang terlihat begitu segar masih menatapnya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Gio mengusap kepala Ara.


"Bunda sama ayah kesini ngapain?" tanya Ara pada akhirnya. Sedari tadi dia menunggu Gio menceritakannya tapi sampai sekarang suaminya itu masih saja diam hingga akhirnya dia yang bertanya langsung.


Gio terkekeh pelan, "jadi belum tidur dari tadi karena itu?" tanyanya dijawab anggukan.


Gio mencium kening istrinya sekilas lalu kembali memeluk Ara dengan erat, menyamankan posisi istrinya agar perempuan itu bisa tidur dengan nyaman.


"Iih jawab," kesal Ara memukul pelan dada Gio.


"Gak papa, emang kenapa kalau mereka pengen liat anak-anaknya, salah?" tanya Gio.


"Iissh bukan gitu maksud aku,"


"Hahahah. Iya iya, maaf. Mereka datang buat jenguk kita," jawab Gio kemudian.


"Mereka udah gak marah?"


"Enggak,"


"Kok bisa,"


"Ya kan emang bisa,"


"Giooooo...."


Mendengar rengekan istrinya, Gio semakin tertawa. Rasanya begitu menyenangkan melihat Ara kesal.


"Aku serius sayang. Mereka kesini karena udah gak marah lagi, ayah udah ngasih restu dan bunda bakal adakan resepsi kita seminggu lagi,"


"Hah,"


Ara sedikit menjauhkan tubuhnya dari Gio saat mendengar penjelasan sang suami. Benarkan seperti itu, tapi rasanya mustahil, apa iya akan secepat itu.


"Kenapa?" tanya Gio mengerutkan keningnya bingung.


"Kamu serius?" tanya Ara lagi.

__ADS_1


"Serius sayang. Jadi kamu jangan kecapean, minggu depan kita adakan resepsi,"


"Tapi Gio..."


"Itu permintaan bunda, aku gak bisa membantah sama sekali. Aku tadinya juga mau nolak tapi bunda tetap keras kepala,"


Ara menghela nafas pelan, sebenarnya dia tidak terlalu menginginkan diadakannya resepsi seperti itu. Apalagi jika acara itu benar-benar terjadi, maka akan sangat menguras tenaga untuk menunggu para tamu undangan yang bahkan Ara yakin akan sangat banyak, mengingat ayah mertuanya bukanlah orang sembarangan.


"Gak papa kan?" tanya Gio saat melihat raut wajah Ara.


"Ya udah gak papa," jawab Ara mengalah.


"Oh iya, ayah nyuruh balik kerja lagi di perusahaan, gimana menurut kamu?"


"Kok aku?"


"Ya kan kamu istri aku, harus ada persetujuan istri doang,"


"Tapi tangannya masih luka,"


Ara meraih tangan Gio yang terbalut perban, tangan yang katanya terluka akibat pekerjaan barunya.


"Gak papa, ini udah kering," sahut Gio.


"Bukan kerja sama ayah sayang, lebih tepatnya balik ke perusahaan aku. Kan udah jadi milik aku,"


"Sombong,"


Gio kembali tertawa lalu memeluk Ara dengan gemas. Istrinya ini benar-benar menggemaskan. Bagaimana bisa Gio tenang jika Ara bersama orang lain. Tidak, tidak boleh ada yang mengambil Ara darinya. Sekalipun harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan istrinya ini, maka Gio akan lakukan dengan cara apapun.


"Aku boleh minta sesuatu?" tanya Gio membuat Ara mendongak menatapnya.


"Apa?"


"Kamu berhenti kerja aja, ya?"


...🌻🌻...


Ara berdiri mematung didepan restoran tempatnya bekerja selama kembali kesini, tempat yang punya banyak jasa untuknya, tempat dimana dia bisa mencukupi kebutuhannya setiap hari sebelum Gio kembali. Pagi-pagi sekali Ara datang kesini untuk meyakinkan diri akan keputusan yang akan dia ambil. Semalam Gio memang menginginkan agar dirinya berhenti bekerja tapi Ara belum menjawab dan Gio juga tidak memaksanya. Rasanya terlalu berat untuk meninggalkan pekerjaan yang juga termasuk hobbynya itu, tapi mau bagaimana pun, Ara sudah menentukan pilihannya. Dia akan mengundurkan diri dan akan fokus pada profesi barunya sebagai istri dan juga ibu nantinya.


Tadi sebelum Gio berangkat bekerja dan mengantarnya, Gio memberi pesan agar setelah bekerja Ara harus menemuinya di kantor. Entah apa alasannya tapi Ara mengikuti saja. Setelah dari sini, dia akan menemui suaminya itu.


Dengan menghela nafas pelan, Ara melangkah memasuki rumah makan besar. Bukan dapur yang dia tuju melainkan ruangan sang manajer. Setelah sampai dan mengetuk pintu, Ara melangkah masuk saat suara dari dalam sudah mengizinkannya masuk.

__ADS_1


Ara melihat sosok laki-laki yang begitu dia kenal sudah duduk di kursi kerja ruangan manajernya. Kening Ara berkerut bingung saat melihat Aldi duduk dan menyambutnya dengan senyum manis.


"Kok kamu disini?" tanya Ara yang masih berdiri tak jauh dari meja Aldi.


"Duduk dulu, nanya-nanyanya nanti," balas Aldi.


Ara mendengus lalu beranjak duduk didepan Aldi, menatap laki-laki itu masih dengan kebingungan.


"Aku dipindahin kerja disini, aku yang ganti bos kamu," jawab laki-laki itu.


Ara mengangguk-angguk tanda mengerti lalu mengeluarkan sebuah surat dari tas selempang yang dia bawa dan menyodorkannya kedepan meja Aldi.


Kini giliran Aldi yang menatap Ara dengan bingung. Dari tatapannya, Aldi seolah bertanya "apa ini?"


"Mulai hari ini, aku ngundurin diri. Aku gak kerja lagi disini," ucap Ara, membuat Aldi menatapnya cepat.


"Kenapa?"


"Mau fokus sama karir baru,"


"Karir baru, kamu dapat pekerjaan baru, dimana?" tanya Aldi.


Ara menggeleng sebelum berucap, "karir sebagai istri," ujarnya terkekeh kecil.


Aldi mengerjapkan matanya seolah tak percaya dengan ucapan Ara. Istri ? Ara sudah menikah? Tapi dengan siapa?. Jujur, dalam hati kecilnya, Aldi merasa sakit hati mendengar pengakuan Ara. Ternyata perempuan yang selama ini dia cintai sudah menikah dengan orang lain, dia terlambat, lagi.


"Kamu udah nikah, kapan, sama siapa?" tanya Aldi beruntun.


"Ayahnya dede bayi," jawab Ara tanpa ragu.


"Kok?" Aldi semakin bingung, bukankah Ara membenci laki-laki itu, lalu kenapa sekarang memilih menikah dengannya.


"Ceritanya panjang, yang jelas semuanya cuma kesalahpahaman aja," kata Ara menjawab kebingungan Aldi.


"Kamu yakin?" tanya Aldi.


"Maksudnya?" Ara balik bertanya dengan kening yang semakin mengerut bingung.


"Kamu yakin dia gak nyakitin kamu lagi, aku laki-laki dan aku tau. Takutnya dia cuma ada sesuatu sampai mutusin buat balik lagi, setelah itu pergi lagi. Bisa jadikan dia cuma mengarang kalau itu salah paham cuma buat mengelabui kamu," jawab Aldi.


Raut ara berubah seketika. Dia tidak suka Aldi menjelek-jelekan Gio yang notabenenya suaminya sendiri. Bagaimana bisa Aldi berkata seperti itu, bagaimana bisa dia beranggapan jika Gio hanya main-main, sedangkan suaminya saja kemarin hampir membunuh Ken karena mengira Ken yang menyebabkan anaknya meninggal, dia bahkan menentang orang tuanya, melepas segala kemewahannya, rela menjadi koki dan tukang cuci piring hanya untuk membiayainya. Apa semua itu belum cukup memberi bukti jika Gio benar-benar sungguh-sungguh. Ara yang tahu Gio adalah laki-laki yang begitu menghormati kedua orang tuanya, menganggap orang tuanya pusat dalam hidupnya tak akan percaya jika Gio menentang ayah dan bundanya jika hanya ingin mempermainkannya, dia juga tidak akan sampai menikahinya seperti sekarang ini.


"Ini surat pengunduran diri aku, aku pamit," Ara langsung beranjak dan berbalik meninggalkan Aldi yang baru saja tersadar akan ucapannya. Sungguh, dia tidak bermaksud menyinggung perasaan Ara. Sedangkan perempuan itu sudah melangkah menjauh meninggalkan Aldi yang masih menyuarakan namanya.

__ADS_1


...-To be continued-...


__ADS_2