
...---Happy reading---...
"Aira", gumam ayah pelan namun masih terdengar ditelinga tiga orang yang ada disana, refleks Ara mendongak menatap ayah saat telinganya menangkap suara yang menyerukan nama bundanya, begitupun Gio yang terlihat semakin bingung. Aira ? Siapa dia, bukankah nama kekasihnya Ara dan ekspresi seperti apa itu, ayahnya seolah terkejut dengan kehadiran Ara dan seperti melihat orang yang sudah lama dia tidak lihat.
Saat Gio hendak bertanya, mulutnya kembali dia rapatkan saat dengan tergesa-gesa ayahnya menghampiri Ara dan memeluk gadis itu erat. Bahkan Gea yang berdiri diambang pintu dapur terlihat terkejut sekaligus bingung saat melihat ayahnya memeluk Ara. Setahunya, ayahnya bukanlah orang yang begitu ramah meskipun tak secuek Gio, tapi dia tidak pernah melihat ayahnya sampai memeluk orang yang belum dia kenal lama.
"Aira ?", tanya ayah sambil menangkup wajah yang masih terlihat bingung itu. Laki-laki itu menatap Ara dengan mata berkaca-kaca. Mengusap pipi gadis itu pelan.
"Ayah...", panggil Gea masih dengan ekspresi bingungnya.
Ayah tersenyum tipis pada putrinya lalu menatap Gio yang juga menatapnya dengan kening berkerut.
"Ayah akan ceritakan", kata ayah saat melihat raut bingung dari kedua anaknya dan juga dari Ara.
...-💗💗💗-...
"Jadi om kenal sama bunda ?", tanya Ara.
Kini kelima orang itu duduk diruang keluarga, tak sabar mendengar cerita dari ayah.
"Ayah akan ceritakan", kata ayah menatap tiga anak muda yang sedang duduk berhadapan dengannya itu, sedangkan bunda duduk disampingnya. Pandangannya beralih pada Ara yang duduk disamping kanan Gio lalu berujar, "tapi sebelum itu, ayah gak kasi kamu izin panggil ayah dengan sebutan om. Panggil sama dengan Gio dan Gea. Ayah", katanya.
Ara mengangguk kaku. Ini sebenarnya ada apa, batinnya bertanya-tanya.
"Baik. A-ayah", kata Ara kaku.
Ayah tersenyum tipis menatap bergantian pada Ara, Gio dan Gea lalu menggenggam tangan bunda lembut.
"Ayah kenal sama bunda kamu. Aira, sahabat sekaligus penolong dan perempuan yang ayah anggap adik ayah sendiri", kata ayah memulai ceritanya. Sedangkan ketiga orang itu diam sambil menunggu ayah menyelesaikan ceritanya.
"Dulu, ayah, Aira dan Aditama bersahabat. Bahkan Aira yang kenalin bunda ke ayah" kata ayah memulai bercerita.
"Ayah dulu bukan anak-anak seperti kalian yang bebas kesana kemari. Ayah selalu dipantau kakek karena rekan bisnis kakek yang begitu terobsesi menjatuhkan kakek, sampai-sampai ayah yang notabenenya anak pertama harus dijaga ketat", laki-laki dengan balutan baju santai itu terus menggulirkan ceritanya pada tiga anak muda yang juga senantiasa mendengarnya.
"Dan benar saja, hari itu kakek kecolongan. Ayah sempat diculik dan yang menyelamatkan ayah dari penculikan adalah Aira. Entah bagaimana ceritanya dia bisa tau, tapi yang jelas dia yang sudah menyelamatkan ayah",
"Ayah tidak punya adik perempuan, itu sebabnya ayah sudah menganggap Aira adik ayah sendiri. Ayah juga berhutang nyawa padanya. Setelah Aira mengenalkan ayah pada bunda, beberapa tahun kemudian setelah pernikahan ayah dan bunda, ayah juga mendengar kabar bahagia dari Aira dan Aditama. Tapi setelah itu karena kesibukan masing-masing, kami benar-benar lost kontak dan tak lagi bertemu sampai sekarang. Ayah bahkan sudah mencari mereka kemana-mana tapi tak pernah menemukannya", kata ayah tertunduk lesu.
"Melihat kamu, rasanya ayah ketemu adik ayah kembali", kata ayah sambil menatap Ara dengan sendu.
"Jadi bunda sudah mengenal Ara saat pertama kali bertemu ?", tanya Gio penasaran.
"Bukan kenal lebih tepatnya dia begitu mirip dengan sahabat bunda", sahut bunda tersenyum tipis.
"Itu sebabnya bunda begitu menyetujui kamu dengan Ara. Terlebih lagi bunda pastikan gadis ini gadis yang begitu baik. Diluar itu semua, bunda benar-benar menyukai Ara, bang", lanjut bunda.
"Awalnya bunda tidak yakin, bunda pikir hanya kebetulan mirip tapi semakin kesini bunda liat sikap Ara semakin mirip dan mengingatkan bunda dengan Aira",
"Kemarin saat bunda mengajak nenek mu tinggal, bunda semakin yakin kamu putrinya Aira", kata bunda menatap Ara dengan tatapan berbinar.
"Tapi diluar dugaan, semuanya tak seperti yang bunda harapkan", lanjut wanita paruh baya yang mengetahui bagaimana hidup Ara sekarang.
"Bagaimana keadaan ayah dan bunda mu sekarang ?", tanya ayah menatap Ara.
Mendengar pertanyaan sensitif itu, Ara menghela nafas pelan dan menunduk menyembunyikan matanya yang sudah siap meluncurkan air. Dia memang lemah jika harus membahas orang tua.
__ADS_1
"Bunda sama ayah udah gak ada sejak Ara kecil", jawab Ara pelan dengan suara sedikit bergetar. Refleks Gio menggenggam tangan Ara erat berusaha menguatkan gadisnya.
Mendengar itu, ayah benar-benar terkejut bukan main. Bahkan mereka belum bertemu lagi tapi harus mendengar kabar seperti ini.
"Ayah dan bunda kecelakaan", lanjut Ara. Air matanya sudah menetes membuat bunda dengan sigap berpindah tempat dan langsung memeluk tubuh rapuh gadis itu.
"Selama ini Ara tinggal sama nenek. Ayah dan bunda aja kangen sama mereka, bagaimana dengan Ara yang anak kandungnya", sahut Ara.
"Udah sayang", kata bunda berusaha menenangkan. Matanya juga ikut berkaca-kaca mendengar kabar sahabatnya sudah tidak ada.
"Tapi Ara juga senang, bisa ketemu ayah sama bunda yang ternyata kenal baik sama ayah bundanya Ara. Dengan begitu, Ara bisa rasain lagi kasih sayang orang tua, boleh kan ?", tanya Ara menatap bunda dengan air mata yang terus mengalir. Bunda tersenyum lalu mengangguk pasti.
"Mulai sekarang anggap ayah dan bunda orang tua kamu. Rumah bunda akan selalu terbuka untuk kamu" lanjut bunda mengusap punggung Ara yang masih bergetar.
"Nanti kalau abang nyakitin kamu, bilang sama bunda biar bunda coret dari KK", kata bunda berhasil sedikit mencairkan suasana, terlihat dari Ara yang terkekeh pelan meski air matanya belum juga kering.
"Gak akan bunda, abang janji gak akan nyakitin Ara", sahut Gio cepat.
"Ayah...", panggil Gio menatap ayahnya.
"Gimana kalau abang sama Ara nikah besok ?", tanya Gio membuat Gea yang hanya menyimak tersedak ludahnya sendiri. Bahkan kini Ara juga sudah menatap Gio dengan mata melotot terkejut.
"Gak ada ya. Ayah gak kasi restu, kalian harus lulus dulu", sahut ayah cepat.
"Tau tuh, abang ngebet banget pengen nikah", kata Gea.
"Emang kamu gak mau ponakan lucu-lucu", kata Gio menatap Gea.
"Ah iya juga ya. Ya udah abang nikahnya cepat-cepat terus Gea juga bisa nikah deh", kata Gea dengan senyum manisnya.
Bunda menepuk keningnya pelan, dua anaknya ini ternyata ngebet banget pengen nikah.
"Lah ya udah, kak Ara jangan mau nikah sama abang", kata Gea menatap serius pada Ara yang hanya cekikikan. Ternyata keluarga ini begitu hangat, tak salah Ara mengenal mereka dan takdir seperti apa yang sekarang sedang dia jalani, bahkan orang tua kekasihnya bersahabat dengan bunda dan ayahnya dulu, apa dunia sesempit itu.
"Gak. Enak aja, abang gak akan nikah sama siapapun kecuali Ara"
...-💗💗💗-...
Rania melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah minimalis milik kakak sepupunya itu. Entah apa yang membuatnya datang kesini, yang jelas dia ingin menemui Ara. Tak bisa dipungkiri, dia begitu merindukan Ara. Mengingat betapa dekatnya mereka dulu, namun rasa benci menutup rasa rindu itu yang akhirnya Rania melihat Ara sekarang bukan sebagai kakak tapi sebagai musuhnya. Terlebih saat mengetahui fakta jika Ara merebut Gio darinya, semakin membuatnya membenci saudaranya itu.
Saat langkahnya sampai diruang tamu, dia melihat neneknya yang sedang asik menonton tv.
"Kamu datang sama siapa malam-malam gini ?", tanya Muti, neneknya dengan mata berbinar. Menyadari kedatangan cucunya.
"Sendiri", sahut Rania duduk di sofa samping neneknya.
"Ara mana ?", tanya Rania tak melihat kehadiran Ara disana.
"Belum pulang, mungkin sebentar lagi", sahut nenek.
"Nenek buatkan minum ya", kata neneknya lalu beranjak menuju dapur tanpa mendengar persetujuan Rania.
Saat Rania hendak menyusul neneknya ke dapur, suara mobil dari arah luar mengalihkan pandangannya, lalu dengan segara mengecek siapa yang datang malam-malam begini. Rania berdiri didepan jendela menatap dua orang yang kini sedang berdiri didepan mobil.
Sedangkan didepan sana, Ara yang baru saja sampai dipekarangan rumahnya tersenyum manis kearah Gio yang kini berdiri didepannya.
"Pulang gih", kata Ara pelan.
__ADS_1
"Ngusir ?", tanya Gio datar.
"Iya, sana pulang. Ini udah mau malam", kata Ara menahan senyum melihat raut datar Gio.
"Ini kan emang udah malam", kata Gio mengalihkan tatapannya kesekitar lalu kembali menatap Ara.
"Besok aku jemput", kata Gio.
"Gak mau", sahur Ara cepat.
Alis Gio terangkat menatap Ara dengan penuh tanya.
"Mau berangkat sendiri", kata Ara seolah mengerti pikiran Gio.
"Lupa apa kata ayah tadi ?", tanya Gio masih dengan tatapan datarnya.
"Abang harus jaga Ara. Berangkat kantor sama abang, pulang sama abang. Dan abang tidak diperbolehkan membiarkan Ara pulang pergi sendiri apalagi suatu saat abang menyakiti hati Ara", kata Ara menirukan ucapan Kevin, ayah kekasihnya. Sepertinya kasih sayang ayahnya sekarang berpindah pada Ara.
Melihat Ara yang menirukan ucapan ayahnya membuat Gio gemas sendiri. Wajah yang tadinya hanya menunjukkan ekspresi datar kini berubah tersenyum manis.
"Gemesin banget sih calonnya abang", kata Gio memeluk Ara gemas.
Ara tertawa pelan dengan reaksi Gio, gadis itu juga memeluk pinggang Gio erat dan mendongak menatap Gio.
"Aku gak mau panggil kakak atau abang", kata Ara membuat Gio menunduk menatap Ara.
"Kenapa ?", tanya Gio.
"Kita seumuran", jawab Ara dengan mengerjakan matanya membuat Gio makin gemas. Laki-laki itu menghujani seluruh wajah Ara dengan ciuman bertubi-tubi membuat Ara semakin tertawa keras.
"Geli", protes Ara setelah meredakan tawanya.
"Makanya jangan gemesin", sahut Gio.
"Takdir kita keren kan, ternyata orang tua kita udah saling kenal", kata Ara tersenyum tipis.
Saat hendak membuka suara lagi, keduanya di buat terdiam saat seseorang berdiri didepan pintu dan menyapa Ara.
"Ara..", panggil Rania yang sudah panas melihat kedekatan keduanya tadi. Refleks Ara melepas pelukannya pada Gio dan menatap Rania sedikit bingung, tumben gadis itu ada disini sedangkan Gio sudah menatap Rania datar dan dingin, kedua tangan laki-laki itu tenggelam dalam saku jaket parasut yang dia kenakan.
"Lo dari mana ?", tanya Rania berjalan mendekat tanpa mengalihkan tatapannya dari Gio.
Saat Ara hendak menjawab, Rania langsung menyela dan menatap Gio dengan mata berbinar.
"Hai Gio, kamu kenal kakak aku ya?", tanya Rania membuat kening Ara berkerut sedangkan Gio hanya diam enggan menatap Rania.
"Raa, aku pulang ya", pamit Gio. Setelah itu tanpa menunggu persetujuan Ara, Gio berlalu masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah Ara. Malas sekaligus muak harus bertemu gadis itu lagi.
Sedangkan Rania sudah menarik Ara kedalam rumah dan langsung menyuruh Ara duduk disampingnya.
"Lo habis kerja kan ?", tanya Rania membuat Ara mengangguk pelan.
"Lo kerja sama Gio ?", tanyanya lagi yang hanya di jawab anggukan Ara.
"Demi apa ?", tanya Rania girang. " Gue udah lama suka sama dia. Gue bahkan udah suka dari beberapa tahun lalu", kata Rania membuat Ara terkejut bukan main.
"Lo kenalin gue sama dia ya, kalian kan pasti dekat soalnya lo kerja sama dia. Gue suka banget sama dia"
__ADS_1
...---To Be Continued---...