
...--Happy Reading---...
Ken dengan langkah beratnya melangkah memasuki sebuah lahan luas yang sepi. Hanya ada beberapa penjaga dan petugas kebersihan yang terlihat disana. Dengan langkah berat, Ken memaksakan diri melangkah mendekati tempat yang ingin dia tuju hari ini. Cuaca sedang mendung seakan mengerti suasana hatinya hari ini. Hembusan angin terasa lebih dingin dari sebelumnya. Ditangan laki-laki terdapat sebuah buket bunga matahari. Ken menghentikan langkahnya sejenak sambil mengatur deru nafas. Dadanya sesak seolah ada yang menghimpit sampai susah untuk bernafas. Setelah merasa kembali tenang meski hanya sedikit, Ken kembali melangkahkan kakinya ke sebuah gundukan tanah yang menjadi tujuannya hari ini. Yah, Ken sedang berada di pemakaman.
Setelah sampai di tujuannya, segera ken berjongkok menatap batu nisan yang tertulis nama 'Aluna Georgia'. Ken mengusap lembut batu nisan tersebut.
"Aku datang", katanya pelan dengan suara bergetar. Tangannya meletakkan buket bunga matahari diatas makan tersebut.
"Maaf ya, baru bisa datang sekarang. Oh iya, aku bawa bunga kesukaan kamu", ucapnya sambil menatap sendu batu nisan tersebut.
"Hari ini aku udah wisudah, udah lulus. Andai kamu masih disini, pasti kita udah wisudah bareng-bareng", kata Ken menahan sesak didadanya. Matanya berkaca-kaca siap meluncurkan cairan bening.
"Kamu bahagia gak disana?", tanyanya.
"Pasti bahagiakan, sama dia", lanjutnya menjawab pertanyaannya sendiri. Sepersekian detik setelah mengatakan itu, air matanya terjun bebas tak dapat dia cegah. Bahunya bergetar karena menangis, sesekali memukul dadanya yang terasa begitu sesak.
"Maaf gak bisa jaga kamu", ucapnya lagi disela isakannya.
"Kenapa secepat ini Una. Bahkan sampai sekarang pun aku belum siap", lanjutnya. Tangisnya seketika pecah.
Dari jarak 1 meter dibelakang Ken seseorang terus memperhatikannya. Menatapnya dengan hati yang juga ikut sesak. Arsal, berdiri menatap abangnya yang kini tengah menangis sesenggukan di samping makan seorang gadis. Bukan hanya Ken yang merasakan sesak, tapi Arsal juga.
Saat hendak melangkah semakin dekat, Arsal terpaksa mengurungkan niatnya karena mendengar ucapan dari Ken yang membuat sudut bibirnya sedikit terangkat. Dia sekarang yakin satu hal.
"Abang belum datang ya?", tanya Ken seolah bertanya pada orang yang akan bisa menjawab pertanyaannya.
"Abang lagi sibuk. Dia banyak kerjaan, dia tadi bilang sama aku titip salam buat Una, katanya nanti kalau ada waktu dia bakal datang", kata Ken sesekali menghapus air matanya yang mengalir.
"Kami bertiga gak pernah lagi bertengkar kok. Una tenang aja, kami baik-baik aja", katanya parau.
"Aku kangen, Una", Tangisnya kembali pecah membuat arsal kembali melangkah mendekat dan menepuk pundak saudaranya yang masih menunduk dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
"Gue kangen dia, Ar", kata Ken dengan suara bergetar. Dia tahu betul siapa yang ada disampingnya ini, bahkan sebelum dia lihat orangnya. Ken hafal bau parfum saudaranya.
"Kenapa dia ninggalin gue secepat ini, gue gak bisa", katanya lagi.
Arsal hanya diam sambil terus menepuk pelan pundak Ken berusaha memberi ketenangan pada kakak laki-lakinya itu.
"Bukan cuma lo, tapi gue juga", kata Arsal pelan setelah diam cukup lama.
"Mereka berdua ninggalin gue, Ar. Gue belum ikhlas", sahutnya lemah. Arsal kembali diam tidak tau harus mengatakan apa. Dia hanya bisa memberi ketenangan untuk saudaranya.
"Mau bagaimana pun, lo harus belajar ikhlas. Hidup terus berjalan Ken", ujar Arsal.
"Gue gak bisa, kenapa semesta jahat banget sama gue. Gue bahkan belum sempat liat dia, gue belum bisa jaga Una dengan baik tapi mereka pergi ninggalin gue, sendirian", kata ken dengan lirih.
"Gue kesiksa, Ar", ujarnya begitu pelan.
"Setiap malam, dada gue sesak gak bisa tidur dengan tenang. Gue kangen mereka", lanjutnya.
"Bukan cuma lo Ken. Bahkan Gio lebih menderita dari ini", batin Arsal.
"Lo harus belajar ikhlas, Una gak akan suka liat lo jadi kayak gini", ujar Arsal lagi.
"Andai hari itu gue cepet datang, semua ini gak akan terjadi. Andai hari itu gue bisa cegah Gio", kata Ken lemah.
Mendengar penuturan Ken, Arsal hanya bisa menghela nafas pelan. Bukan saatnya dia marah-marah, bukan saatnya memberitahu saudaranya ini tentang semua kebenarannya. Ken masih terlalu keras kepala dan susah untuk diajak bicara.
"Lo bakal tau nanti',
__ADS_1
...---πΌπΌπΌ---...
Dirumah besar keluarga Ananda, kini tengah diadakan acara kecil-kecilan. Tepat di taman belakang rumah megah itu berkumpul beberapa orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Kevin, Gio, Arsal, Zian dan Reyhan tengah duduk di gazebo sambil bercerita banyak hal. Sedangkan Vio dan Muti duduk di kursi taman saling berbagi cerita, lebih tepatnya Vio yang menceritakan bagaimana persahabatannya dulu dengan Aira, bunda Ara. Sedangkan tiga gadis yang tak lain Ara, Gea dan Dara sedang berdiri di depan panggangan, memanggang daging untuk makan malam mereka hari ini.
"Awas mata lo lepas", tegur Arsal yang melihat Gio sedari tadi mengawasi adik dan kekasihnya.
"Gak bakalan hilang bang. Gak usah diliatin kayak gitu terus", sahut Reyhan ikut menatap kekasihnya yang kini tertawa bahagia bersama Gea.
Gio mendengus pelan lalu merebahkan tubuhnya disamping ayahnya yang kini memperhatikan ke empat anak muda didepannya.
"Arsal gak bawa pacar ?", tanya kevin tiba-tiba membuat Gio terkekeh mengejek.
"Emm enggak Yah..... "
"Dia gak tau yang mana yang harus dia bawa", celetuk Gio membuat kevin mengerutkan keningnya.
"Kemana lo?", tanya Gio tiba-tiba saat melihat zian beranjak.
"Ke Gea ", jawabannya singkat dan berlalu dari sana.
"Pacarnya banyak, makanya gak tau mau bawa yang mana", kata Gio menjawab pertanyaan ayahnya.
"Biasalah om, playboy", celetuk Reyhan.
"Sialan", umpat Arsal pelan.
Arsal ini sudah seperti anak dikeluarga Ananda, jadi dia tidak mau ayah dan bunda tau kelakuannya. Bisa-bisa dia diberi ceramah panjang setelah ini.
"Arsal, ayah kan udah bilang....... "
"Arsal mau liat adek dulu, Yah", kata Arsal memotong ucapan Kevin dengan cepat dan tergesa-gesa meninggalkan gazebo menuju tempat dimana Gea berada. Melihat itu, Kevin hanya menghela nafas pelan.
"Loh kok kesini, kan bang Arsal nyusulin", tanya Kevin melihat anak perempuan berjalan mendekat dengan tangan yang di genggam Zian.
"Kena pemanggangan", jawab Gea pelan.
"Makanya hati-hati. Sini ayah obatin", kata Kevin lembut.
"Biar Zian aja Om", kata Zian beralih duduk disamping Reyhan disusul Gea.
"Bang.... ", panggil Kevin pada putranya yang memperhatikan Gea dan Zian.
"Bang Leon gak datang?", tanya Kevin membuat Gio dan Gea kompak menoleh pada ayahnya. Gea melirik Gio yang sepertinya tak berniat menjawab.
"Abang lagi sibuk, udah Gea ajak tapi katanya gak bisa kalau hari ini", kata Gea menjawab. Yah, keluarga mereka sudah saling mengenal dekat bahkan mereka sudah seperti saudara sendiri. Hanya saja, sampai sekarang kedua keluarga itu belum ada yang tahu tentang kerenggangan hubungan Ken dan Gio selama hampir 5 tahun belakangan ini. Keduanya terlalu pandai menyembunyikan masalah mereka.
...---βββ---...
Ara begitu serius membersihkan bekas makanan mereka tadi sampai tidak sadar Gio sedari tadi berdiri dibelakangnya, bahkan gadis itu terlonjak kaget saat merasakan sebuah tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Ara menengok dan menemukan wajah Gio yang kini sudah bertumpuh dibahu kirinya.
"Jangan gini, malu diliatin orang", kata Ara pelan mengelus lengan Gio berharap laki-laki itu mengerti. Bukan apanya, dia hanya malu menjadi tontonan orang-orang nanti.
"Mereka gak bakal peduli, tuh", kata Gio menunjuk kearah depan dengan dagunya. Ara ikut menatap kedepan.
Didepan sana Gea dan Zian tengah mojok berdua, sama halnya dengan Dara dan Reyhan. Dua adik Gio itu tengah ngebucin. Sedangkan para orang tua sudah masuk dan istirahat setelah makan malam tadi. Hanya..... eemmmm Arsal yang kini duduk di bangku taman sedang cengar cengir sendiri menatap poselnya.
"Aku cium kamu disini pun gak akan ada yang peduli", kata Gio berbisik.
"Iih kebiasaan gak tau tempat", kata Ara lagi, menyembunyikan raut wajahnya yang memerah.
__ADS_1
" Lepas dulu, Gio. Aku selesaikan ini dulu", kata Ara. Gio yang selalu menempel padanya seperti ini sangat membuatnya susah bergerak.
"Iya, iya. Aku tunggu disitu", kata Gio melepas pelukannya dan menunjuk teras belakang rumahnya. Setelah mendapat anggukan dari Ara, Laki-laki dengan balutan hoodie hitam itu berjalan dan duduk anteng diteras rumah dengan mata yang terus menatap setiap gerak-gerik Ara.
Setelah beberapa menit menunggu, Gio mengalihkan tatapannya dari ponsel saat merasakan seseorang duduk disampingnya.
"Capek? ", tanya Gio mengusap lembut rambut Ara.
Gadis itu hanya tersenyum lalu merebahkan kepalanya pada bahu Gio.
Ara berujar, "Lumayan sih",
"Kan udah dibilangin, gak usah malah ngeyel", sahut Gio.
"Dua hari lagi bakal ada peresmian CEO baru di kantor", kata Ara memulai percakapan.
"Kok cepet banget", sahut Gio.
"Ayah yang minta, katanya biar gak terlalu lama, biar kita bisa fokus sama kerjaan nantinya, gak mikirin yang lain", jawab Ara.
"Ya udah sih, atur aja. Jangan bahas kerjaan sekarang, malas", kata Gio lagi.
Dia begitu malas jika harus membahas pekerjaan jika sudah berdua dengan Ara seperti ini. Dia ingin menikmati waktu bersama tanpa ada gangguan ataupun bahasan tentang pekerjaan.
"Besok kamu sibuk gak?", tanya Gio.
Ara menegakkan kembali duduknya dan menatap Gio yang juga kini menatapnya. " Enggak sih, kenapa?", tanya Ara.
"Jalan yuk", ajak Gio.
"Kemana? ", tanya Ara antusias.
"Pantai",
"Mauuuuuu",
"WOI GUE JUGA IKUT". Teriakan itu berhasil menganggu waktu berdua Ara dan Gio.
Gio mendengus kesal melihat Arsal, Zian, Gea, Dara dan Reyhan kini sudah berdiri didepan keduanya.
"Kami ikut", kata Arsal dengan binar dimatanya. Yah kelakuan sahabatnya itu benar-benar membuat Gio kesal bukan main. Tidak tau apa, dia ingin menghabiskan waktu dengan kekasihnya berdua saja, tanpa gangguan orang lain.
"Gak bisa", sahut Gio ketus.
"Yaahhhh", ucap kelima orang itu dengan kecewa.
"Adek ikut yaa", pinta Gea dengan raut wajah memohon yang dibuat-buat. Oke sepertinya tak perlu menebak lagi apa yang akan terjadi, Arsal bahkan tahu betul jawab Gio.
"Baiklah", sahutnya pasrah. Kan, kan, Gio tak bisa menolak permintaan adiknya.
"Yeaay", sahut Gea, Dara dan Arsal begitu girang, kapan lagi berlibur tanpa mengeluarkan uang, kan?.
Gio menatap Ara dengan pandangan memelas, sebenarnya dia ingin menghabiskan waktu dengan Ara, tapi mau bagaimana lagi dia paling tidak bisa menolak keinginan adiknya itu.
"Gak papa, makin rame kan makin seru", kata Ara pengertian.
"Tapi sayanggg.... ", rengek Gio.
"Gak papa, lain kali kita pergi berdua. Adek juga butuh refresing, pasti otaknya panas nugas mulu", ucap Ara berusaha memberi pengertian. Ya walaupun tak dipungkiri, dia juga ingin jalan-jalan hanya berdua tapi untuk kali ini tidak papa dia mengalah dulu.
__ADS_1
"Lain kali kita perginya berdua aja", kata Gio merupakan kepalanya dipundak Ara, mencari kenyamanan yang dia dapat saat bersama Ara.
...---TBC---...