
Gio yang baru saja menerima panggilan telfon dari istrinya kini beranjak meninggalkan kursi kebesarannya menuju lobby perusahaan. Baru saja Ara mengabarkan padanya jika anak laki-lakinya yang kini berusia 1,5 tahun datang menemuinya dan dengan segera dia beranjak menjemput jagoannya itu.
Setelah sampai di lobby perusahaan, Gio langsung disambut teriakan sang anak yang membuatnya tersenyum kecil melihat Argi, berlari menuju kearahnya.
"Kalau begitu saya pulang dulu pak," pamit sang supir yang mengantar anaknya tadi.
Setelah diangguki Gio, laki-laki paruh baya tersebut undur diri. Sedangkan Gio langsung menggendong putranya dan berjalan menuju lift yang akan membawa kedua laki-laki tampan itu kebagian paling atas perusahaan besar tersebut.
"Mama mana sayang?" tanya Gio pada putranya yang hanya datang sendiri.
"Pecan makan dilual," jawab balita yang memiliki paras tak jauh dari papanya, sangat tampan.
"Datang kok nanti, mama agi beyi makan," lanjutnya dengan suara cadel.
Gio tertawa pelan dan mencium pipi gembul putranya dengan gemas. Putra yang istrinya lahirkan beberapa tahun yang lalu kini tumbuh menjadi anak manis dan super aktif, wajahnya mewarisi semua dari sang ayah.
Setelah sampai di ruangannya, Gio membawa Argi masuk kedalam kamar khusus yang ada disana.
"Kita main disini dulu sambil nunggu mama, okey boy?"
"Oke papa,"
Melupakan sejenak tumpukan dokumen yang menunggunya, Gio lebih memilih menemani putranya bermain di kamar khusus yang ada di ruangannya. Gio mengamati putranya yang kini sedang bermain dengan beberapa mainan yang dia bawa dari rumah. Senyum kecil Gio mengembang melihat jagoannya tumbuh dengan baik. Ini semua juga berkat istrinya yang merawat sang anak.
Setelah mengamati jam tangannya, Gio beralih pada ponsel yang dia genggam sejak tadi. Mencari kontak sang istri lalu menghubunginya.
"Dimana, sayang?" tanya Gio setelah panggilan telfonnya terhubung.
"Lobby," jawab Ara dari seberang.
"Aku jemput," saat Gio hendak beranjak dari duduknya, suara dari seberang memintanya untuk tetap menemani Argi dan tak perlu menjemputnya. Gio pasrah dan mengiyakan keinginan sang istri. Sambungan telfon terputus bersamaan dengan Argi yang berjalan kearah Gio dengan satu robot mainan yang dia sembunyikan dibelakang tubuhnya.
"Papa, maaf." ujar Argi menunduk merasa bersalah.
"Kenapa sayang?" tanya Gio mengangkat tubuh Argi dan mendudukkan di pangkuannya.
"Kepalanya copot," ujar Argi pelan menunjukkan robot mainannya yang tak sengaja dia jatuhkan hingga robot mainannya itu jadi rusak.
__ADS_1
Gio tersenyum tipis mengusap rambut tebal putranya. "Gak papa sayang, nanti kita perbaiki. Okey" ucapnya lembut membuat putranya menatapnya dengan mata yang berbinar-binar.
"Okey papa," sahut Argi riang.
Bersamaan dengan itu, suara pintu ruangan terbuka menampakkan sosok cantik membawa satu kantong plastik menatap keduanya dengan senyum cantik. Gio sontak berdiri dengan Argi yang ada di gendongannya, berjalan mendekat pada istrinya yang masih berdiri di pintu.
"Kok lama banget?" tanya Gio setelah mencium kening Ara.
"Tadi antri banget, jadi agak lama." jawab Ara.
Ara berjalan masuk yang kemudian disusul Gio dibelakang. Perempuan dengan dress hitam selutut itu duduk di sofa dan menata makanan yang dia beli tadi di atas meja.
"Dua jagoan mama makan dulu." ucapnya sembari menatap Gio dan Argi yang juga duduk disampingnya.
"Siap mama." jawab keduanya kompak.
Ara tersenyum lalu menyodorkan sendok berisi makanan pada mulut Gio dan bergantian dengan Argi yang menerima suapan dari Ara dengan senang hati.
"Hari ini kita mau kumpul di rumah ayah." kata Gio disela-sela kegiatan menguyahnya.
"Ada acara?" tanya Ara.
"Mama juga halus makan," celetuk Argi yang dari tadi melihat mamanya belum makan sama sekali.
"Mama kenyang sayang, tadi udah makan di rumah." jawab Ara tersenyum manis.
"Beneran udah makan?" tanya Gio menatap istrinya serius.
"Beneran. Tadi Argi belum bangun, aku sempetin makan dulu. Pas dia udah bangun kami siap-siap kesini, aku mikirnya biar Argi makan siang sama kamu aja. Dia juga gak mau makan sepagi itu" jelas Ara membuat Gio mengangguk mengerti.
Kegiatan acara makan siang keluarga kecil itu berlanjut diiringi dengan tawa dan celotehan dari Argi yang tak berhenti berbicara. Perlu kalian tau, dengan papa dan mamanya, anak laki-laki itu bisa menjadi sangat-sangat cerewet tapi dengan orang lain akan cosplay jadi Gio yang dingin dan malas bicara.
...❤❤❤...
Setelah menyelesaikan makan siangnya dan melanjutkan pekerjaan, tepat pukul 3 sore Gio mengakhiri kegiatannya bergelut dengan dokumen dan memilih beranjak menuju kamar khususnya. Ara dan Argi ada didalam sedang istirahat, karena anak laki-lakinya tadi merengek mengantuk setelah menghabiskan makan siangnya.
Gio membuka pintu dan langsung disuguhi pemandangan yang setiap pagi selalu dia lihat. Pemandangan indah, melihat anak dan istrinya. Gio selalu bersyukur setiap kali melihat dua kesayangannya itu.
__ADS_1
Gio berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur tepat di samping sangat istri. Tangannya terangkat mengusap dengan lembut pipi Ara membuat ibu satu anak itu terganggu dan mengerjapkan matanya. Pemandangan yang pertama kali Ara liat saat membuat mata ialah Gio yang sedang menatapnya dengan senyum manis.
"Udah selesai?" tanya Ara bergerak untuk duduk menghadap Gio.
"Udah, maaf ganggu tidurnya." jawab Gio.
"Gak papa. Mau pulang sekarang?" tanya Ara lagi yang hanya dibalas anggukan pelan oleh Gio.
Laki-laki yang kini hanya mengenakan kemeja putih itu bergeser lebih dekat pada Ara dan melingkarkan tangannya pada pinggang ramping sang istri. Kepalanya dia tenggelamkan pada ceruk leher Ara. Hal itu refleks membuat Ara tersenyum tipis dan mengusap rambut Gio dengan lembut.
"Cape banget ya?" tanya Ara perhatian yang dibalas Gio dengan gumaman.
"Nanti malam ditunda dulu yaa makan malamnya sama Ayah bunda?" tanya Ara lagi. Bukan tidak ingin hanya saja dia kasihan pada suaminya. Pasti hari ini berat bagi Gio.
"Gak papa. Kangen Bunda juga. Dipeluk kamu kayak gini aja udah hilang capenya." jawab Gio.
"Gombal banget."
"Emang bener kok,"
"Inget udah punya anak,"
"Mau nambah lagi gak?"
Pertanyaan tersebut berhasil membuat Gio mendapat hadiah dari istrinya berapa cubitan di pinggang yang membuatnya sedikit meringis tapi tak urung juga terkekeh pelan.
"Argi masih kecil" jawab Ara.
"Iya iya nanti nambah lagi kalau Argi udah gede."
...✨✨✨...
Hai Hai... i'm back.
aaaa kangen banget rasanya bisa nyapa kalian, setelah menyelesaikan pendidikan dan banyak hal, sekarang aku udh bisa balik nulis lagi.
jangan bosan-bosan yaa nunggu cerita ku Terima kasih atas dukungannya selama ini,, sebentar lagi cerita baru ku juga akan rilis. tungguin terus yaa
__ADS_1
semoga kalian selalu sehat dan selalu senang
love youu❤