
Sore ini, Gio enggan kembali ke rumahnya dan memilih kembali ke apartemen. Setelah kejadian di taman tadi, dia memilih masuk kerja untuk menenangkan dirinya sejenak. Namun bukannya fokus bekerja, pikiran Gio justru tak pernah lepas dari gadisnya Bagaimana keadaanya sekarang, dimana dia, apa sudah makan atau belum, apa dia sudah berhenti menangis atau belum. Semua pikiran-pikiran itu silih berganti menguasai pikirannya membuat laki-laki tampan itu tak bisa tenang sama sekali.
Langit sore yang cerah menemaninya sepanjang jalan, untung sore ini jalan sedikit lebih lenggang hingga dia tak perlu repot-repot mengabsen kebun binatang karena macet dan panas. Moodnya hari ini benar-benar berantakan setelah membentak Ara tadi.
Setelah berkendara beberapa menit, laki-laki yang masih rapi dengan setelan jas kerjanya itu berjalan menuju lift yang akan membawanya pada lantai dimana kamarnya berada. Tak butuh waktu lama, laki-laki itu sampai didepan pintu kamarnya, menekan setiap angka untuk membuka pintu apartemennya yang terkunci. Setelah itu, dia masuk sembari melepas jas dan melonggarkan dasi yang terasa mecekik lehernya. Laki-laki itu terus melangkah menuju kamarnya tanpa memperdulikan seseorang disofa ruang tamu yang sedari tadi menatapnya. Ara. Yah gadis itu yang sedari tadi menunggu Gio. Dia ingin bertemu Gio menjelaskan semua kejadian tadi pagi setelah cukup lama berfikir.
"Gii....", panggil orang itu.
Meskipun pelan, tapi suara itu sukses mengejutkan Gio. Laki-laki itu langsung berbalik dan mengerjap melihat siapa yang sudah duduk di sofa ruang tamunya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ara beranjak mendekat pada Gio yang masih berdiri menatapnya dengan tatapan antara kaget dan juga tak percaya.
Setelah sampai didepan laki-laki itu, dengan pergerakan pelan Ara memeluk Gio erat, menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik kekasihnya. Rasa nyaman yang selalu Ara rasakan saat bersama Gio tidak akan pernah dia dapatkan dari orang lain. Berada di dekat laki-laki itu selalu berhasil membuat Ara merasa nyaman, tenang dan aman.
"Maaf", kata Ara membuka obrolan.
Kata yang membuat Gio menghela nafas panjang dan ikut membalas pelukan gadisnya.
"Maaf udah buat kamu marah", kata gadis itu lagi dengan suara bergetar menahan tangis.
"Maaf udah ngomong yang tidak-tidak",
"Maaf udah berbuat seenaknya"
"Maaf...."
"Sssssttttt, udah sayang", potong Gio cepat. Dia tidak suka Ara selalu minta maaf padanya seperti ini.
"Udah ya, udah", tangan kekar laki-laki itu bergerak mengelus lembut rambut panjang Ara, mencium puncak kepala gadisnya berulang-ulang.
"Kamu gak salah. Aku yang salah udah bentak kamu tadi, udah ngomong kasar dan ninggalin kamu ditaman sendirian", kata Gio pelan membuat Ara menggeleng.
Gadis itu mendongak menatap Gio tanpa melepas pelukannya sontak hal itu membuat Gio juga menunduk menatap wajah sembab gadisnya. Mata bengkak dan memerah dengan pipi yang masih terlihat jelas bekas air mata disana. Gio yakin, seharian ini Ara pasti terus menangis.
"Aku tarik kata-kata aku tadi. Gak mau pisah, mau sama Gio terus", kata Ara pelan.
Gio terkekeh kecil mendengar penuturan Ara. Kenapa gadisnya jadi menggemaskan seperti ini. Gio mengecup sekilas kening gadisnya lalu kembali menatap Ara dengan senyum hangatnya.
"Cantiknya Gio capek yaa makanya tadi pagi ngomongnya ngelantur", ujar Gio, lagi dan lagi Ara mengangguk mengiyakan.
"Sini peluk yang kencang", pinta Gio.
Ara kembali mengeratkan pelukannya, menumpahkan segala apa yang terjadi hari ini, pelukan Gio selalu mampu menjadi obat dari segala keresahan dan kesedihannya. Laki-laki yang kini tengah memeluknya itu sudah seperti obat yang mampu membawa Ara keluar dari kesedihannya.
"Maaf", kata Ara lirih hampir terdengar seperti bisikan.
"Jangan minta maaf terus dong sayang. Udah makan?", tanya Gio lembut mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Belum, Ara lapar", sahut Ara pelan membuat tawa Gio pecah seketika. Ah gadisnya ini benar-benar menggemaskan.
Gio melepas pelukannya dan beralih menangkup pipi Ara.
"Pesan aja ya, bahan makan habis kalau mau masak", ujar Gio.
"Tapi...."
"Ini, kamu pesan makanan. Aku mandi dulu", kata Gio menyodorkan ponselnya.
Ara mengangguk menerima ponsel Gio dan membiarkan Gio berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri, sedangkan dia sendiri kembali duduk disofa membuka ponsel milik Gio. Senyum tipis Ara melengkung begitu saja saat melihat lockscreen HP Gio adalah fotonya. Tak menunggu lama, Ara memesan makanan yang sekiranya bagus sebagai makanan mereka sore ini.
Setelah beberapa menit berlalu, Gio keluar dari kamar dengan mengenakan baju kaos putih dan celana pendek berwarna hitam dan langsung duduk disamping Ara yang sibuk menonton film kartun kembar botak favoritnya.
"Kesini sama siapa?", tanya Gio setelah duduk rapi disamping Ara.
"Sendiri, aku mau nyari ke kantor tapi aku pikir pasti kamu udah pulang. Aku juga udah nelfon Gea tapi katanya kamu gak kerumah, makanya aku kesini", jawab Ara.
Gio mengangguk paham, lalu memutar tubuhnya menghadap Ara, menatap gadis itu lekat.
"Sayang gak sama aku?", pertanyaan yang tiba-tiba Gio lontarkan sontak membuat Ara menatapnya dengan kening berkerut.
"Sayang lah", jawabnya pasti.
Gio meraih tangan Ara, menggenggamnya erat lalu berujar "kalau sayang, gak boleh gitu lagi ya. Gak boleh ngomong aneh-aneh lagi",
"Boleh peluk lagi gak?", tanya Ara membuat senyum Gio semakin lebar.
"Kok masih nanya, peluk ya peluk aja", sahut Gio.
Tanpa aba-aba, Ara kembali memeluk Gio erat. "Kok jadi manja gini", tanya Gio.
"Gak manja, Gii. Kangen", sahut Ara.
"Padahal kita baru ketemu loh",
"Biarin, soalnya kalau gini nyaman"
"Makanya jangan ditinggal"
"Gak akan",
"Bener ya?",
"Siap captain, Ara akan selalu ada sama Gio"
Gio terkekeh mendengar penuturan Ara, tidak tau lagi dengan kata apa dia mengungkapkan rasa sayangnya pada gadis ini. Dia begitu mencintai Ara, sangat, lebih dari dirinya sendiri.
__ADS_1
ting tong
Suara bel membuyarkan lamunan Gio, Laki-laki itu melepas pelukannya pada Ara dan beranjak menuju pintu hendak membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
"Siapa?", tanya Ara. Gio mengangkat kantong plastik putih berisi makanan yang Ara pesan tadi.
"Makanan udah datang, sini sayang", panggil Gio setelah mengambil pesanan Ara tadi.
Keduanya lalu menuju meja makan, dengan sigap Ara menyiapkan makanan yang dibawa Gio. Sedangkan laki-laki itu duduk diam memperhatikan setiap pergerakan Ara.
"Selamat makan", kata Ara dengan senyum manisnya setelah selesai dengan urusannya lalu duduk didepan Gio.
"Habis ini, kita mau kemana?", tanya Gio.
"Jalan-jalan, mau gak?", lanjutnya.
Gio menatap Ara yang kini sibuk mengunyah tapi tampak berfikir.
"Pasar malam, mau gak?", tawar Ara.
Gio sejenak berfikir, tidak ada yang salah hanya saja....
"Gak deh, terlalu ramai", sahut Ara cepat tahu betul sifat Gio.
"Gak papa kalau kamu mau, kita kesana", jawab Gio cepat. Apapun akan dia lakukan untuk menghibur Ara.
"Gak jadi, kita ke taman kota aja. Katanya malam ini ada live akustik lagi", usul Ara lagi, tempat itu juga pasti akan ramai tapi tidak akan seramai pasar malam nantinya.
"Oke, habis ini kamu mandi dan siap-siap kita berangkat setelah ini",
"Kok cepet banget?"
"Biar gak kena macet, sayang. Kita bisa ke danau dulu terus beli jajanan",
"Siap bos"
Gio terkekeh pelan melihat Ara yang begitu semangat, ditambah lagi senyum yang sedari tadi terukir dibibir kekasihnya membuatnya tenang.
Ara yang hendak kembali membuka suara, kembali menelan ucapannya saat deringan ponselnya berbunyi keras. Segera Ara mengangkatnya setelah melihat siapa yang menelponnya sore-sore begini.
Kening Gio mengerut dalam menatap Ara yang langsung terdiam dengan raut wajah kaget sekaligus panik. Membuat Gio ikut khawatir.
"Kenapa sayang?", tanya Gio mendekat.
"Sayang, heii", panggil Gio saat tak mendapat respon dari gadisnya.
"Nenek kecelakaan", sahut Ara setelah lama terdiam, syok
__ADS_1
...---To be continued---...