
Aldi mondar mandir didepan ruangan yang menjadi tempat Ara diatasi, bersama dengan Aura yang tak kalah cemasnya dengan kondisi Ara. Tadi, dia yang hendak mengantar makanan ke rumah Ara bertemu dengan Aldi yang baru saja datang dari kota mengambil beberapa barangnya yang tertinggal. Aura yang hendak ke rumah Ara menawarkan untuk laki-laki itu ikut karena dia tahu kedekatan keduanya.
Sampai di rumah Ara, keduanya dibuat terkejut dengan kondisi Ara yang sudah terduduk di lantai rumah dengan darah yang terus mengalir di kakinya. Tanpa pikir panjang, keduanya membawa Ara ke klinik dan disinilah mereka sekarang. Didepan ruangan yang didalamnya Ara dan dokter sedang berjuang untuk menyelamatkan ibu dan anak itu.
Aldi dan Aura dibuat cemas bukan main. Kondisi Ara tak baik-baik saja saat mereka menemukannya di rumah tadi. Dalam hati keduanya berdoa semoga Ara dan anaknya selamat.
"Kenapa bisa jadi kayak gini?" monolog Aura yang masih bisa didengar oleh Aldi.
Laki-laki dengan balutan denim hitam itu menoleh pada Aura sekilas lalu kembali menatap pintu ruangan. Laki-laki itu tak kalah cemasnya sama seperti Aura.
Aura berdecak kesal lalu bangkit dari duduknya, mendekat ke pintu ruangan tersebut. Rasa khawatir dan cemasnya membuat perempuan itu jadi tidak sabaran.
"Ck lama banget," kesal Aura hendak mengetuk pintu ruangan tersebut. Namun, belum sempat Aura melakukan itu tangannya ditahan oleh Aldi.
"Sabar. Kita tunggu dokter aja," ujar Aldi.
"Lama banget, aku mau tau keadaan Ara kayak gimana," kesal Aura menarik tangannya dengan kasar.
"Gue juga, tapi kita tunggu dokter dulu. Sabar, bentar lagi." sahut Aldi.
Keduanya kembali diam dengan pikiran masing-masing. Aura menghela nafas kasar. Sungguh, dia takut dan dia khawatir dengan keadaan adiknya didalam sana. Aldi terus memperhatikan Aura yang nampak tak sabaran, lalu atensi keduanya beralih pada saat pintu ruangan tersebut terbuka. Keduanya mendekat pada dokter Anin yang menatap keduanya bergantian.
"Gimana, dok. Adik saya sama keponakan saya gak papa kan?" tanya Aura tak sabaran.
"Gimana, Nda. Ara sama anaknya gak papa kan?" Aldi juga ikut angkat suara.
Dokter Anin menatap keduanya bergantian lalu menghela nafas pelan. Matanya menatap sang putra yang menatapnya dengan penuh harap. Dia sudah tau jika putranya menyukai pasiennya itu.
"Ara tidak papa, dia hanya butuh istirahat yang cukup. Tapi...." ucapan dokter Anin menggantung. Dokter itu kembali menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Bunda sudah berusaha tapi janinnya memang tidak bisa diselamatkan," ujarnya pelan.
Deg.
Bagai disengat listrik, Aura menegang ditempatnya begitupun dengan Aldi. Keduanya tidak ada yang bersuara. Bahkan dokter Anin juga ikut terdiam.
"Obat penggugur kandungan yang tercampur dalam makanan Ara terlalu banyak masuk kedalam tubuhnya hingga membuat kandungannya melemah. Jenis obatnya merupakan obat yang memang ampuh dan sering digunakan orang-orang untuk menggugurkan kandungan. Efek obatnya terlalu kuat," jelas dokter Anin setelah cukup lama terdiam.
Dua orang dihadapannya itu masih terdiam tak tahu harus mengatakan apa.
"Siapa yang memberikan Ara makanan itu?" tanya dokter Anin. Dia tahu betul jika Ara tak ingin menggugurkan kandungannya. Dia tahu bahwa Ara mau menjaga kandungannya bahkan dia rela checkup dua kali seminggu hanya untuk mengetahui perkembangan anaknya, bertanya ini itu untuk menjaga kesehatannya demi sang bayi, lalu tiba-tiba dia datang dalam keadaan yang seperti ini membuat dokter Anin heran.
"Saya gak tau, dok. Tadi siang saya mau membawakan Ara makanan tapi justru menemukan dia dengan keadaan seperti itu. Kami tidak tau dia habis memakan apa," jawab Aura. Dia ikut terpukul dengan apa yang menimpa Ara. Dia juga tahu sebesar apa sayang dan cinta Ara untuk anaknya. Setiap hari dia menceritakan ini dan itu pada Aura yang menyangkut tentang bayi kecilnya. Dan bagaimana dia harus menghadapi Ara setelah ini. Begitu besarkah cobaan yang harus Ara lalui?.
"Boleh Aldi masuk?" tanya Aldi pada bundanya.
Dokter Anin mengangguk dan mempersilahkan dua orang itu untuk masuk melihat Ara. Dokter Anin sudah mengecek kondisi Ara dan semuanya stabil. Dokter juga tidak perlu melakukan tindakan kuret karena janin bahkan ari-ari dari bayi yang ada diperut Ara sudah bersih keluar. Dia juga sempat berbicara banyak dengan Ara tadi. Dokter Anin sangat menyayangkan kejadian ini, dia juga ikut merasakan apa yang Ara rasakan sekarang.
Aldi dan Aura berjalan mendekat dan berhenti tepat disamping brankar Ara. Usapan lembut pada rambut Ara membuat perempuan itu menoleh dan mendapati Aura dan Aldi yang kini menatapnya dengan senyum tipis. Air mata Ara tiba-tiba meluncur begitu saja saat matanya bersitatap dengan Aura.
"Kak.." panggilnya pelan.
Aura mengangguk lalu duduk disamping Ara mengusap lembut rambut perempuan yang sudah dianggap adiknya tersebut. Mata Aura berkaca-kaca melihat Ara yang begitu terpukul. Sorot mata perempuan itu begitu menggambarkan bahwa dirinya sedang benar-benar tidak baik-baik saja.
"Dede bayi," ujarnya pelan dan serak. Suaranya pun bergetar.
"Tenang, dek," ujar Aura berusaha menenangkan dengan mengelus rambut Ara.
"Tadi dede bayi minta martabak. Terus Ara makan tapi pas udah makan kenapa dede bayi malah keluar. Dede bayi udah gak sabar ya ketemu sama aku, makanya keluarnya cepat banget," adunya lirih mengelus perutnya yang kini kembali rata. Air matanya tak henti keluar.
__ADS_1
Air mata Aura menetes mendengar penuturan Ara. Demi Tuhan ini begitu menyakitkan. Aldi hanya mengalihkan tatapannya tak sanggup melihat Ara yang sudah kacau seperti ini.
"Kemarin papanya yang ninggalin Ara, sekarang dede bayi juga pergi ninggalin aku. Ara sendirian kak," layaknya anak kecil yang mengadu pada ibunya, Ara terus meracau pada Aura yang kini juga ikut menangis.
"Ara gak bisa jaga dede bayi, kak. Ara bukan ibu yang baik, Ara bukan ibu yang baik," racaunya. Ara memukul perutnya pelan.
"Jangan gini dek," ujar Aura menggenggam tangan Ara yang kini beralih mencengkram kuat rambutnya.
"Kenapa harus anak Ara, kak. Kenapa Tuhan ambil semua orang-orang yang Ara sayang. Ayah, bunda, nenek, Gio, sekarang.....anak Ara juga Tuhan ambil gitu aja. Besok siapa lagi, apa Ara gak berhak bahagia yaa?." racaunya makin tak terkendali. Ara mengamuk tak peduli pada sakit yang dia rasakan.
Aldi yang sedari tadi hanya menyimak, memberanikan diri mendekat dan memeluk Ara meski perempuan itu memberontak dan memukul punggungnya. Dia tak sanggup melihat perempuan yang dia cintai tampak kacau seperti ini. Hatinya sakit. Aura sedikit memberi jarak, menghapus air matanya dan menatap Ara yang masih memberontak dalam pelukan Aldi.
"Jangan gini, Ra. Pikirin diri kamu dulu," ujar Aldi pelan tepat ditelinga Ara. Jika Ara terus mengamuk seperti ini, dia takut terjadi apa-apa dengannya, terlebih Ara baru saja keguguran.
"Kamu masih bisa bilang pikirin diri sendiri saat aku kehilangan anak aku," teriak Ara.
"Lepas," bentaknya lagi.
Dia tidak habis pikir dengan cobaan yang selalu datang dalam hidupnya, setiap dia ingin menggapai bahagianya, dada saja yang membuatnya jatuh. Demi Tuhan, dia sungguh lelah.
"Aku tau ini sulit buat kamu, tapi jangan kayak gini Ra nanti kamu...."
"Arrrggghhh,"
Belum sempat Aldi menyelesaikan ucapannya, Ara berteriak keras sambil memegangi perutnya yang sekarang terasa begitu sakit.
"Panggil bunda, Aura," perintah Aldi panik saat melihat Ara yang terus meringis.
Aura yang tak kalah panik langsung berdiri dari duduknya dan berlari keluar ruangan memanggil dokter Anin.
__ADS_1
"Sabar, bunda sebentar lagi datang," ujar Aldi berusaha tenang.
...-To be continued-...