
Pagi hari, Ara terbangun dan mendapati sudah tidak ada Gio disampingnya. Mata perempuan itu melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 7 pagi. Dari semalam Gio benar-benar tak banyak bicara. Setelah membersihkan diri dan makan malam bersama, mereka langsung tidur tanpa bercerita seperti biasanya. Ara jadi semakin bersalah, ah sungguh, dia tidak bermaksud menyinggung perasaan Gio.
Ara menghela nafas lalu beranjak dari tempat tidurnya, matanya tak sengaja menangkap secara kertas diatas meja dan sebuah susu coklat hangat.
"Diminum ya, aku berangkat duluan,"
Kurang lebih seperti itu isi pesan yang ditulis Gio, lagi dan lagi Ara menghela nafas pelan. Sampai sekarang Gio belum menceritakan pekerjaannya tapi justru sekarang laki-laki itu mendiamkannya seperti ini. Setelah menghabiskan susu coklat buatan suaminya, Ara beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia akan masuk lebih awal hari ini, bosan juga rasanya harus di apartemen sendiri tanpa Gio.
Setelah beberapa membersihkan diri dan mengenakan pakaiannya, perempuan itu berjalan meninggalkan apartemen menuju tempat kerjanya. Di parkiran apartemennya, benar dugaannya, Gio tidak menggunakan motornya. Motor matic biru itu masih terparkir rapi membuat Ara kembali menghela nafas. Perempuan itu memilih tak menggunakan motornya, lebih baik dia naik ojek saja. Malas sekali rasanya mengendarai motor sendirian. Berbeda lagi jika itu bersama Gio.
Ara berjalan di trotoar jalan saat ojek yang dia pesan tadi sudah membawanya ke tempat yang ditujukan, atau lebih tepatnya dekat dengan tempat kerjanya. Dia sengaja turun sebelum tempat kerjanya hanya untuk jalan-jalan pagi. Dia yakin, toko tempat dia bekerja belum buka sekarang.
Ara berjalan sambil terus berfikir apa yang akan dia lakukan nanti agar Gio tak lagi marah dengannya dan kembali cerewet seperti biasa. Apartemen sepi jika tak ada Gio yang cerewet dan Ara membenci Gio yang pendiam.
Brakk.
Ara meringis saat seseorang menabrak tubuhnya hingga hampir jatuh mencium trotoar jalan jika orang itu tak menahan pinggangnya. Ara mendongak menatap orang itu dan seketika matanya membulat saat senyum kecil orang itu terukir jelas untuknya.
"ALDI," pekik Ara begitu girang melihat laki-laki dengan postur tubuh tinggi dengan balutan jas hitam menatapnya dengan senyum manis.
Ara terkejut bukan main saat Aldi memeluknya gemas. Ah rasa rindunya membuat Aldi tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat bertemu Ara ditempat ini.
"Kangen banget," ujar Aldi pelan.
Ara menelan salivanya. Dia tak membalas pelukan itu, dalam hati dan otaknya sekarang hanyalah Gio. Bagaimana jika laki-laki itu melihatnya seperti ini, terlebih dalam keadaan yang seperti ini.
"Kamu kemana saja sih, aku sempet balik ke desa tapi kata Aura kamu udah gak disana. Ternyata pindah kesini toh, sama siapa?" tanya Aldi melepas pelukannya dan menatap Ara yang hanya mengerjapkan matanya.
"Hei," panggil laki-laki itu lagi menyadarkan Ara.
"Malah bengong,"
Ara terkekeh kecil saat Aldi menyentil keningnya pelan. Laki-laki itu masih sama seperti beberapa tahun yang lalu saat mereka masih sering bertemu.
__ADS_1
"Aku balik kesini sama adek aku. Dia datang jemput aku," jawab Ara.
"Kamu apa kabar, makin sukses aja nih," tanya Ara meneliti penampilan laki-laki itu.
Aldi semakin melebarkan senyumnya saat melihat raut Ara yang begitu menggemaskan. Ara terlihat sedikit berbeda dari yang pertama kali dia kenal. Perempuan itu sekarang terlihat lebih lepas dan lebih bahagia tidak seperti beberapa tahun yang lalu. Dengan gerakan cepat, Aldi kembali merengkuh tubuh kecil perempuan itu dan mencium puncak kepalanya dengan gemas. Ternyata perempuan yang dicintainya itu sekarang hidup dengan baik, terlihat dari penampilan dan keadaannya sekarang.
"Sarapan bareng yuk," Aldi melepas pelukannya dan beralih menggandeng tangan Ara.
Saat hendak melangkah, kaki Ara terhenti begitu saja saat melihat didepan sana, tepatnya didepan sebuah rumah makan sosok tegas dan tegap berdiri menatap kearahnya dengan tatapan datar, dingin, kecewa dan marah. Ara terpaku ditempatnya melihat Gio yang untuk pertama kalinya melayangkan tatapan seperti itu padanya. Jantung Ara berdetak cepat. Masalah apalagi ini, bahkan masalah kemarin belum juga kelar dan sekarang harus bertambah lagi.
"Gio," gumam Ara.
...🍀🍀...
Gio berjalan keluar dari rumah makan yang menjadi tempatnya bekerja beberapa hari ini. Dia hendak keluar untuk menelfon istrinya yang dia tinggal tadi. Dia ingin tau istrinya itu sudah bangun atau belum. Meskipun diam seperti itu, tetap saja Gio peduli dengan sang istri. Dia tidak marah pada Ara, dia memang tersinggung tapi dia tidak marah pada Ara, dia hanya sedang berada di fase insecure dengan keadaannya sekarang. Merasa tak pantas dan tidak seharusnya disamping Ara. Dia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa membahagiakan istrinya, justru dia jadi menyusahkan istrinya itu.
Gio fokus pada ponselnya yang kini berdering menunggu istri kesayangannya itu untuk menerima panggilannya. Percobaan pertama tak terjawab, namun Gio tak akan menyerah, dia mencoba untuk yang kedua kalinya namun sama saja tetap tidak ada jawaban.
"Apa dia masih tidur," gumam Gio kembali mencoba untuk yang ketiga kalinya. Gio berdiri didepan rumah makan tersebut, menunggu sambungan telfon sambil mengamati keadaan sekitar hingga matanya menangkap suatu pemandangan yang membuatnya terpaku ditempat.
Gio diam ditempat hingga akhirnya Ara menyadari kehadirannya. Tatapan Gio turun pada tangan yang saling menggenggam erat. Gio memejamkan matanya sejenak berusaha meredam amarah dalam dirinya. Setelah beberapa menit, Gio memilih berbalik dan meninggalkan tempat itu, tak menghiraukan istrinya lagi, toh Ara juga tak mengejarnya atau sekedar memanggilnya saja.
Hati Gio benar-benar sakit bukan main melihat secara langsung istrinya dipeluk orang lain, bahkan istrinya itu tak menolak sama sekali. Demi apapun ini adalah sakit hati yang lebih sakit dari sakit yang dia rasakan kemarin-kemarin. Gio menghela nafas berulang kali saat rasa sesak itu kian menghantam dadanya hingga rasanya tak bisa lagi bernafas.
"Bangsat," umpat Gio memukul tiang yang ada disampingnya, berusaha menyalurkan rasa sesak yang dia rasakan.
Tak peduli dengan orang-orang yang melihatnya. Gio kembali memukul tiang tersebut dengan keras hingga punggung tangannya mengeluarkan darah.
Sakit sekali rasanya. Gio yang sedang berada difase tidak pantas untuk sang istri justru melihat istrinya dipeluk laki-laki lain yang dari penampilannya pun Gio tau kalau laki-laki itu bukanlah orang-orang biasa seperti dirinya sekarang. Bagaimana dia tidak marah dan cemburu jika sudah seperti itu, terlebih lagi Gio melihat dengan mata kepalanya sendiri laki-laki itu mencium istrinya. Darah Gio benar-benar mendidih dibuatnya, tidak ada yang boleh menyentuh istrinya selain dirinya sendiri tapi kenapa Ara tak menolak sama sekali.
"Sakit banget, anjing," gumamnya memukul dadanya pelan.
...💔💔...
__ADS_1
"Putra sulung pengusaha ternama, Gio Pratama Ananda turun jabatan dan kini bekerja sebagai koki dan tukang cuci piring di salah satu rumah makan terkenal, ada apa dengan keluarga Ananda?"
Ara meremas ponselnya yang menampilkan artikel serta beberapa foto Gio yang baru saja dikirim Rania padanya. Mata perempuan itu berkaca-kaca, hatinya semakin sakit mengetahui fakta yang sebenarnya. Tidak, dia bukannya malu tapi dia sedih, hanya karena mempertahankannya, Gio rela bekerja seperti ini dan dia malah menyinggung serta menyakiti hati suaminya itu.
Ara menghapus air matanya dengan kasar lalu beranjak dari duduknya. Tadi saat melihat Gio, Ara berhasil lepas dari Aldi dan mengejar Gio hanya saja dia tidak tahu Gio kemana dan memutuskan kembali ke apartemen tapi tetap saja, Gio tidak ada disini.
Ara menghela nafas pelan, lalu meraih tas kecilnya yang ada diatas meja. Ada satu tempat yang ingin dia kunjungi sekarang, dia ingin bertemu ayah mertuanya. Dia harus berusaha untuk membantu Gio meminta restu pada ayah laki-laki itu. Dia tidak mau Gio berjuang sendiri untuk dirinya.
Setelah beberapa menit mengendarai motornya, Ara sampai di gedung besar tempat ayah mertuanya bekerja.
"Saya mau ketemu Tuan Kevin," ucap Ara pada resepsionis yang bekerja disana.
"Sudah ada janji sebelumnya?" tanya perempuan yang memakai blazer hitam tersebut.
Ara terdiam, dia belum membuat janji untuk bertemu Kevin lalu bagaimana sekarang. Ara menghela nafas kasar, berusaha berfikir alasan apa yang harus dia berikan.
"Kalau tidak ada janji, anda tidak....."
"Biarkan dia masuk," suara dari arah belakang itu berhasil mengalihkan pandangan kedua perempuan itu. Ara tersenyum melihat Gea dan Zian sudah berdiri tak jauh dari nya.
"Tapi pak..."
"Kalau ayah tau kamu melarang putrinya bertemu dengannya, kamu akan dipecat," ujar perempuan dengan balutan dress berwarna putih yang berdiri dihadapan Ara.
Resepsionis tersebut menatap Ara lalu mengucapkan maaf dengan pelan.
"Terima kasih Gea, Zian. Kalau gak ada kalian aku gak tau harus berbuat apa," ujar Ara pada Zian dan Gea yang membelanya tadi.
"Gak masalah kakak ipar. Abang kemana kok gak temani kakak ipar kesini?" tanya Gea.
"Emmm abang kamu..."
"Kalau gitu Gea pamit ya kak, mau check up dede bayi," ucap Gea yang melihat tampang kebingungan Ara, dia tidak mau terlalu ikut campur urusan rumah tangga kakaknya. Gea sudah tahu mereka menikah? Jelas, bundanya sudah memberitahunya.
__ADS_1
Ara mengangguk saja lalu tiga orang itu berpisah, Ara segera melangkah menuju lift yang akan membawanya ke ruangan ayah mertuanya dan Gea menuju parkiran.
...-To be continued-...