
Gio duduk di tepi tempat tidur dan terus mengamati foto hasil USG dengan tatapan tak percaya. Sungguh, ini semua masih begitu terasa tak nyata untuknya. Bundanya sudah pulang beberapa menit yang lalu, sedangkan Ara ada di dapur membuatkannya minuman. Mata laki-laki itu tak lepas dari foto USG istrinya tadi siang hingga tak menyadari kehadiran Ara didepannya.
Ara ikut terdiam melihat Gio yang sedari tadi diam memandang kertas ditangannya itu. Ara sungguh bahagia bukan main karena kembali diberi kepercayaan oleh Tuhan tapi melihat reaksi Gio membuatnya sedikit was-was.
"Gii.." panggil Ara yang tak direspon Gio sama sekali.
"Gak senang ya?" tanya Ara takut-takut.
Dengan cepat Gio mendongak menatap istrinya yang berdiri sambil menunduk memainkan jari tangannya. Kening Gio mengerut mendengar ucapan Ara barusan.
"Maksudnya gimana?" tanya Gio dengan raut datar.
"Kamu gak senang..."
"Siapa bilang gak senang?" potong Gio cepat.
Ara menghela nafas pelan berusaha menahan tangisnya. Dia takut Gio tak senang dengan kehamilannya, dia takut Gio belum siap dan menyuruhnya membunuh anaknya sendiri.
"Reaksi kamu yang buat aku nyimpulin gitu, dari rumah sakit sampai sekarang bahkan bunda lebih antusias daripada kamu," ujar Ara dengan suara bergetar.
Gio membuang nafas kasar lalu menarik Ara hingga istrinya itu duduk dipangkuannya lalu tersenyum tipis. Siapa yang tidak senang jika istrinya sedang mengandung.
"Bukan gak senang..."
"Terus apa?"
Gio terdiam menatap wajah sendu istrinya, memang benar dari tadi dia tidak berekspresi lebih setelah tau istrinya hamil bukan karena tidak senang tapi merasa tidak percaya saja. Rasanya baru saja kemarin mereka menikah dan Tuhan begitu baik memberi mereka hadiah sebesar ini.
"Rasanya belum percaya aja, Tuhan baik banget sama aku. Terima kasih sudah mengizinkan anakku tumbuh dalam tubuh mu," ucap Gio begitu tulus.
"Terima kasih sayang, aku bahagia, sangat bahagia," lanjut Gio mencium pipi Ara lalu memeluk istrinya dengan erat.
"Jangan pernah tinggalin aku, kita rawat dede bayi sama-sama,"
Ara mengangguk dengan mata berkaca-kaca, sungguh, hari ini dia begitu bahagia sampai tak bisa lagi berekspresi seperti apa untuk menggambarkan kebahagiaannya.
"Kamu senang?" tanya Gio.
"Sangat," jawab Ara cepat.
Raut bahagia begitu terlihat jelas dikedua wajah pasangan suami istri itu. Sebentar lagi akan memiliki anak dan menjadi orang tua adalah sebuah mimpi besar bagi Ara dan Gio setelah cukup lama berpisah dan sempat kehilangan anak pertama mereka.
...🌻🌻🌻...
Malam harinya, Gio dan Ara menghadiri pernikahan Arsal di salah satu gedung mewah yang tak jauh dari gedung apartemen mereka. Ara terlihat sangat cantik dengan gaun panjang berwarna biru dongker yang terlihat serasi dengan Gio yang menggunakan jas berwarna senada. Keduanya kini berjalan memasuki gedung dengan Gio yang terus menggandeng istrinya itu.
"Kita sebentar aja ya, takut kamu capek nanti," ucap Gio yang langsung diangguki Ara.
"Itu bunda," tunjuk Ara pada mertuanya yang sedang berkumpul bersama Albi dan Rini.
"Kita temui Arsal dulu, habis itu ke bunda,"
Keduanya melangkah menuju pelaminan dimana Arsal dan istrinya berdiri menerima tamu. Sahabat Gio yang satu itu sedari tadi tak pernah kehilangan senyum bahagianya.
__ADS_1
"Datang juga lo," sapa Arsal yang melihat Gio dan Ara mendekat.
"Selamat ya Ar, bahagia selalu," ucap Ara dengan senyum bahagianya.
"Selamat," ucap Gio singkat.
"Terima kasih udah datang. Btw amplop buat gue isinya berapa?" tanya Arsal serius.
"Gak ada, gue gak bawa apa-apa," jawab Gio ketus.
"Diih gak usah makan lo, awas aja lo nyentuh makanan,"
"Lo mau apa kalo gue makan,"
"Gue seret lo keluar,"
"Udah-udah, ribut mulu berdua. Ini Ar," Ara menyerahkan paperbag yang dia bawa sejak tadi.
"Ape nih?"
"Catatan utang lo selama sahabat sama gue," Jawa Gio.
"Dihh apaan,"
"Kak Arsal sering ngutang?" tanya Naya dengan polosnya.
"Iya Nay, Arsal mah miskin," jawab Gio asal.
"Gii..." tegur Ara.
"Sama istri aja takut," celetuk Arsal.
"Udah ah, gue mau ke bunda dulu. Sekali lagi selamat, semoga bahagia selalu," ujar Gio begitu tulus.
Setelah mengatakan itu, Gio menggandeng tangan istrinya lalu turun dari pelaminan dan berjalan menuju tempat dimana sudah ada ayah dan bundanya. Bahkan bukan hanya orang tuanya, orang tua Ken, Ken dan istrinya, bahkan sudah ada Gea dan Dara beserta suami mereka dan juga ada Rania.
Gio memeluk erat pinggang Ara saat sampai tepat dikumpulan keluarga besar tersebut. Kabar orang-orang itu baik, Rania yang sudah melahirkan, Gea dan Dara yang kini sudah mengandung beberapa bulan dan Veronica, istri Ken yang sedang menyuapi putri kecilnya yang berada dipangkuan Ken. Gio menatap orang-orang itu satu persatu. Senyum tipisnya tercetak namun sangat tipis.
"Gimana kabar mantu dan cucu ayah?" tanya Kevin begitu antusias.
Semua orang yang ada disana sudah mengetahui kabar pernikahan dan kehamilan Ara, semuanya ikut bahagia terlebih lagi hubungan mereka kembali direstui.
"Baik ayah, dede bayi sehat," jawab Ara.
"Ada keluhan selama kehamilan, kalau ada bunda temani periksa lagi, mau?" kali ini Vio yang angkat bicara.
"Gak ada bunda, justru Gio yang lemes dan mual-mual," jawab Ara terkekeh pelan.
Semua orang tersenyum mendengar penuturan Ara. Yah, Gio mengikuti jejak ayahnya dulu. Kata Vio saat dirinya mengandung Gio, dia tidak merasakan apapun justru Kevinlah yang tersiksa, like father like son. Semua sibuk berbincang tentang apapun, mulai dari kehamilan, pekerjaan dan banyak lagi, itu yang membuat kumpulan itu semakin menyenangkan.
Ara menatap Gio yang berdiri disampingnya sedang berbincang dengan ayah dan juga rekan kerja mereka. Melihat Gea yang sedang anteng memakan eskrim dia juga menginginkan itu tapi dia juga tidak enak menganggu Gio. Dengan perlahan perempuan itu melepas genggaman tangan Gio hendak pergi sendiri. Saking fokusnya Gio berbagi cerita dengan rekan-rekan bisnisnya disana dia tidak sadar jika istrinya sudah melangkah mendekati stand eskrim yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Selamat malam tuan Kevin, lama tidak bertemu," sapa seseorang membuat Kevin dan yang lainnya menoleh melihat laki-laki yang seumuran dengan Kevin juga menggunakan jas sedang berdiri didekat mereka dengan seorang gadis yang begitu mereka kenali. Dia, Naumi. Dan laki-laki yang datang bersamanya adalah ayahnya. Yah, Ayahnya berteman baik dengan Kevin dan Albi.
__ADS_1
"Loh kalian sudah lama?" sapa Albi.
"Baru aja. Anak mu sekarang dua-duanya sudah menikah ya," kata papa Naumi terkekeh kecil.
"Begitulah," jawab Albi.
"Kalau kau Kevin, bagaimana. Putrimu sudah menikah bahkan sudah mengandung. Sebentar lagi jadi kakek," papa Naumi beralih pada Kevin yang terkekeh pelan.
Naumi yang berdiri disamping papanya terus menatap Gio dengan tatapan kagumnya. Hal itu membuat Gio risih dengan tatapan perempuan itu, dia tidak suka ditatap seperti itu selain dari istrinya.
"Bagaimana dengan tuan muda ini?" tanya papa Naumi berakhir menatap Gio yang sedari tadi hanya terdiam.
"Belum punya gandengan nih?" tanyanya lagi.
"Bagaimana Vin kalau kita jodohkan saja anak kita?" ucapnya sambil terkekeh pelan.
Mendengar itu, senyum Naumi mengembang. Semua orang menatap papa Naumi setelah kalimat itu dia lontarkan. Bahkan Gea yang tadi asik memakan eskrimnya tersedak mendengar ucapan tiba-tiba itu.
"Tapi..." ucapan Kevin dipotong begitu saja.
"Kenapa, bukannya anak-anak kita masih sama-sama tidak memiliki pasangan, jadi tidak ada salahnya bukan," sahut papa Naumi lagi tidak memberi kesempatan pada Gio ataupun Kevin membantah.
Sadar akan arah pembicaraan yang membuat Gio risih, Gio menoleh saat sadar tangannya sudah tak menggenggam apa-apa. Namun, tubuh Gio seketika tersentak saat melihat istrinya berdiri tepat dibelakangnya sambil memegang satu cup eskrim. Tatapan bumil itu menatap kearahnya dengan tatapan sendu.
"Bagaimana Gio, mau gak kira-kira?" tanya papa Naumi lagi masih dengan senyum mengembangnya.
Gio tak merespon sama sekali, dia hanya fokus pada istrinya yang kini menatapnya dengan tatapan sendu. Melihat itu, Kevin tersenyum kecil sambil menarik tangan Ara untuk mendekat. Setelah Ara berdiri disampingnya, Gio memeluk pinggang istrinya dengan posesif.
"Maaf tuan, tapi putra saya sudah memiliki istri bahkan sekarang sedang mengandung," ucap Kevin sopan.
Papa Naumi dan Naumi membulatkan matanya mendengar penuturan Kevin, mereka tidak tahu jika Gio sudah menikah karena kabar pernikahan Gio memang belum tersebar luas.
"Benarkah? Kok bisa?" tanya Naumi spontan.
"Maksud lo apaan?" ketus Rania tidak terima dengan pertanyaan Naumi yang terkesan menyinggung kakaknya.
"Loh bukannya dulu kamu yang kejar Gio, kenapa sekarang biarin mereka nikah, udah hamil lagi atau jangan-jangan..."
"Jaga ucapan kamu ke istri saya," potong Gio cepat. Dia tidak terima istrinya direndahkan seperti itu.
"Sekali lagi saya dengar kamu berbicara yang tidak-tidak ke istri saya, kamu tanggung sendiri akibatnya," tegas Gio.
"Seharusnya Tuan Kevin lebih selektif dalam memilih menantu, bagaimana bisa orang biasa seperti ini menjadi menantu anda dan akan melahirkan penerus anda nantinya," ujar papa Naumi blak-blakan.
Mendengar itu, tangan Gio terkepel kuat. Bukan hanya Gio bahkan orang-orang yang ada disana juga ikut kesal dengan penuturan pria paru baya itu.
"Tau apa anda tentang istri saya?" tanya Gio dengan tatapan tajamnya.
"Emm......s-saya permisi ke toilet sebentar," pamit Ara menghentikan ketegangan yang ada disana. Dia tidak enak dan merasa tidak nyaman berada diantara mereka setelah kata-kata dari papa Naumi melukai hatinya.
Tanpa menunggu persetujuan dari siapapun, Ara pergi begitu saja meninggalkan lingkaran itu, menulikan telinga dan terus berjalan menjauh dari sana.
"Gio kejar istri Gio dulu," pamit Gio ikut menyusul Ara.
__ADS_1
...-To be continued-...