
Motor besar Gio membelah jalanan kota yang masih lumayan padat karena ini masih belum terlalu larut.
Setelah beberapa menit menghabiskan waktu diperjalanan, keduanya sampai di depan gerbang rumah minimalis milik Ara.
"Mau mampir dulu", tawar Ara saat gadis itu sudah turun dari motor dan berdiri disamping Gio.
Gio yang sibuk membantu Ara membuka helmnya menggeleng pelan. Laki-laki itu masih duduk dimotornya tanpa melepas helmnya.
"Kapan-kapan aja, ini udah malam dan kamu juga butuh istirahat", sahut Gio.
Wajah serius laki-laki itu semakin membuat jantung Ara berdetak tidak karuan.
"Gih sana masuk", kata Gio mengacak pelan rambut Ara membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
Ara mengangguk dengan senyum manisnya. Gio benar-benar memperlakukannya dengan baik, salahkah jika Ara berharap lebih dari sifat manis Gio padanya, sepertinya itu suatu kesalahan, pikir Ara.
"Aku masuk dulu, makasih bonekanya", sahut Ara mengangkat boneka besar itu kehadapan Gio.
"Sama-sama. Good night, selamat istirahat", kata Gio lagi.
Ara mengangguk lalu melangkahkan kakinya masuk menuju pintu utama rumahnya. Sedangkan Gio masih belum beranjak dari tempatnya. Dia memastikan Ara masuk dengan aman terlebih dahulu. Saat hendak menarik gas motornya untuk berlalu dari sana, pergerakan Gio langsung terhenti saat melihat dari kejauhan Ara juga berhenti tepat diambang pintu dan keluar beberapa orang. Yang Gio lihat dua orang laki-laki paruh baya, dua wanita yang seumuran dengan laki-laki itu dan satu wanita lanjut usia.
Dari tempatnya, Gio dapat melihat kedatangan Ara disambut baik oleh perempuan lanjut usia itu, namun tidak dengan empat orang yang ada disana juga. Gio dapat melihat amarah, tatapan kebencian dan tatapan sinis dari keempatnya.
Sedangkan diujung sana saat Ara hendak mengucapkan salam dan membuka pintu, gerakannya terhenti saat pintu besar itu terlebih dahulu bergerak dan keluar lima orang yang begitu Ara kenali. Ara memang sudah melihat mobil mereka saat datang tadi, tapi sebisa mungkin dia terlihat tenang dan tidak memperlihatkan kecemasannya.
"Kamu udah pulang", Muti, sang nenek menyambutnya dengan senyum manis namun juga heran karena Ara kembali lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
"Jam kerja Ara udah.......", ucapan Ara terpotong saat laki-laki didepannya mengangkat suara.
"Udah pulang kamu. Apa yang kamu kerjakan setiap malam sampai pulang larut dan meninggalkan nenek mu sendiri dirumah, bagaimana jika terjadi sesuatu, hah ?", katanya ketus dengan nada tinggi. Dia Bimo, kakak laki-laki dari bundanya.
"Jual diri, mas. Biasalah, anak jaman sekarang", sahut wanita dengan dress berwarna coklat. Dia Arini, kakak perempuan bundanya dan yang dua lagi Anggi istri dari Bimo dan Beni suami dari Arini. Mereka semua om dan tante Ara, namun begitu membenci Ara entah apa yang membuat mereka membencinya, Ara pun sampai sekarang juga tidak tahu. Mereka hanya mengatakan jika kelahiran Ara membawa kesialan dalam keluarga mereka. Apapun yang Ara lalukan pasti selalu salah dimata mereka.
"Maaf, Tante tapi Ara kerjanya halal kok", sahut Ara. Meskipun mereka membencinya, Ara masih punya sopan santun untuk tidak membalas mereka terlebih lagi mereka adalah keluarnya.
"Halah kerja apaan lo sampai larut gini, dan apa ini ?", sahut seseorang yang baru bergabung dengan mereka, menunjuk boneka yang Ara peluk dari tadi. Dua orang gadis yang seumuran dengannya baru saja bergabung membuat Ara semakin menghela nafasnya berusaha menenangkan diri.
Salah satu dari mereka, sebut saja Aini anak dari Arini dan Beni atau kakak sepupu Ara merampas boneka itu lalu membuangnya begitu saja.
"Dapat uang dari mana lo bisa beli gituan ?", tanyanya.
"Dikasi teman, Aini. Gak beli kok aku belum gajian", jawab Ara tenang dan memungut kembali bonekanya.
"Nia, jaga bicara kamu", sahut Muti tidak terima cucunya dihina seperti ini.
"Belain aja terus", sahutnya ketus.
Pandangannya teralih menatap Ara dari atas sampai bawah. Tunggu, dari mana Ara dapat baju-baju ini, meskipun terlihat simpel tapi Rania tahu betul itu keluaran dari salah satu merk ternama. Meskipun keluarganya terbilang keluarga yang berkecukupan tapi tetap saja, rasa irinya pada Ara membuatnya semakin membenci gadis itu. Kadang Ara bingung apa yang membuat mereka iri padanya. Padahal jika dilihat, mereka lebih beruntung dari Ara, memiliki keluarga utuh tidak seperti Ara yang sudah ditinggal kedua orang tuanya.
"Bagi duit", pinta Aini merampas tas Ara.
"Jangan, Aini. Aku belum gajian. Aku gak nyimpan uang sekarang", sahut Ara berusaha merebut kembali tasnya.
"Diam", gertak Arini, melihat kelakuan anaknya bukannya menghentikan dia justru memarahi Ara yang berusaha mengambil kembali tasnya.
__ADS_1
"Tante, om.. Ara minta tolong hentikan mereka. Ara belum gajian, itu simpanan Ara buat beli obatnya nenek", sahut Ara menatap nanar pada tasnya yang digeledah Aini.
"Ara mohon, tante", semua hanya diam menatap kelakuan Aini. Tak ada yang mau mencegah apalagi menghentikannya.
"Aini, Rania. Cukup, kasian adik kalian dia yang kerja kalian ambil hasilnya dia", Muti berusaha menghentikan namun sama sekali tak didengarkan.
"AINI HENTIKAN", pekik Ara. Bukan apanya dia benar-benar kehabisan uang sekarang dan yang dia punya hanya untuk membeli obat neneknya besok, dia tidak berbohong akan hal itu, dia juga tidak mungkin menguras tabungannya lagi hanya untuk membiayai sepupunya ini untuk foya-foya.
Mendengar pekikan Ara yang cukup keras, Bimo maju selangkah lalu melayangkan tangannya menampar pipi mulus Ara membuat Ara menoleh kesamping dengan menahan denyutan pada pipinya, namun denyutan pada hatinya lebih perih dia rasakan sekarang, apa ini yang dinamakan keluarga. Mereka tak pernah bersikap baik pada Ara sedikit saja, selalu seperti ini jika keinginan mereka tidak Ara penuhi, tubuhnya yang jadi sasaran kekerasan. Dan apa tadi itu ? Mereka bahkan menuduhnya menjual diri. Sakit hati ? Jelas, namun Ara hanya bisa diam dan memendamnya sendiri.
"Jangan berteriak pada anak saya", sahut Bimo setelah menampar Ara. Tak ada rasa kasihan sama sekali dihati keempat orang ini untuk Ara. Sebisa mungkin Ara menahan air matanya agar tidak pecah sekarang. Dia tidak boleh terlihat lemah.
Setelah menemukan apa yang mereka inginkan, Aini dan Rania kembali memasuki rumah lalu beberapa menit kemudian kembali dan berjalan dengan orang tuanya masing-masing untuk meninggalkan Ara yang menatap tasnya dengan pandangan berkaca-kaca. Dia tidak memikirkan tasnya atau sakit hati dan sakit dipipinya tapi dia memikirkan bagaimana caranya besok dia membelikan neneknya obat sedangkan uangnya sudah habis diambil Aini dan Rania tadi.
Ara menghela nafas pelan lalu memungut tasnya dan menghadap pada neneknya yang menatapnya dengan tatapan sendu.
"Maaf, nenek tidak bisa menolong Ara", ucapnya lalu memeluk tubuh cucu kesayangannya.
"Ara gak papa nek, ayo masuk ini udah malam", sahut Ara tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.
Sedangkan diujung sana tanpa disadari siapapun, Gio melihat semua kejadian tadi. Tangannya mencengkram erat stir motornya. Dengan tatapan tajam dan rahang mengeras menahan amarah, Gio menatap dua mobil yang sebentar lagi akan meninggalkan rumah Ara.
Sedangkan Rania, satu-satunya orang yang menyadari keberadaan Gio menatap punggung laki-laki itu yang perlahan menghilang dari pandangannya.
"Kayak kenal, tapi siapa", batinnya.
...****************...
__ADS_1