Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 117. Restu


__ADS_3

Gio menatap wajah istrinya yang kini tengah terlelap setelah melayaninya tadi. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Gio baru sadar ternyata dia cukup lama mengajak istrinya itu bertempur sampai-sampai istrinya sekarang sudah terlelap dengan begitu nyamannya. Gio tersenyum tipis dan mengecup kening Ara sebelum beranjak dari tempat tidur.


Gio meraih baju kaos dan boxernya yang terletak tak jauh dari kasur lalu memakainya. Sebelum benar-benar beranjak dari tempat tidur, Gio kembali mengamati Ara yang masih tenang dalam tidurnya. Gio memperbaiki selimut tebal yang menutupi wajah polos istrinya, lalu detik berikutnya benar-benar beranjak keluar dari kamar.


Gio berjalan keluar kamar menuju dapur hendak mengambil minum, namun suara TV dari arah ruang tamu mengalihkan atensinya. Kening Gio mengerut bingung dan berjalan mendekat, hingga matanya menatap kedua orang tuanya yang kini duduk sambil menonton TV di ruangan tamu apartemennya. Gio sebenarnya sedikit bingung kenapa kedua orang tuanya bisa ada disini tanpa memberitahukannya terlebih dahulu. Apalagi ayahnya masih marah. Hanya ada dua kemungkinan, bundanya yang memaksa atau ayahnya yang akan menjemput istrinya. Gio menghela nafas pelan lalu menggeleng, dia tidak boleh selalu berprasangka buruk pada kedua orang tuanya. Gio berjalan mendekat dan hal itu disadari oleh kedua orang tuanya.


"Loh, ayah sama bunda kapan datangnya?" tanya Gio lalu duduk disofa samping ayah dan bundanya berada.


"Sejam yang lalu, mungkin," jawab Vio menatap putranya dengan senyum tipis. Sedangkan Kevin masih menatap putranya itu dengan tatapan datar.


"Kenapa gak tanya abang dulu?" tanya Gio.


"Emang kenapa kalau bunda sama ayah kesini?" tanya Vio.


"Tidak boleh?" tanya wanita paruh baya itu lagi.


"Bukan gitu bunda. Maksud abang tuh, supaya abang bisa sambut ayah sama bunda,"


"Dimana Ara?" tanya Kevin tiba-tiba. Gio langsung menatap ayahnya dengan cepat, tampak raut was-was tercetak jelas di wajah tampan putranya itu.


"Tidur, Yah," jawabnya.


"Jam segini udah tidur aja?" tanya Vio bingung.


"Kecapean bunda,"


Jawaban Gio membuat Vio menatapnya jahil. Menyadari itu, Gio buru-buru membantah agar bundanya tak semakin memojokkannya.


"Katanya kerjaan di restoran lagi banyak, makanya capek,"


Vio hanya ber-oh ria mendengar jawaban putranya. Tentu saja dia tidak akan sepenuhnya percaya, dia juga pernah muda dan dia juga tau bagaimana kehidupan diawal pernikahan.


"Bunda sama ayah ada perlu sesuatu?" tanya Gio pelan.


"Ayah udah restuin kalian," Jawab Vio cepat tanpa basa-basi.


"Bunda," tegur Kevin sambil menghela nafas kasar.

__ADS_1


Mendengar pengajuan spontan bundanya, Gio menatap Kevin berusaha menyakinkan dirinya jika itu adalah kebenaran bukan hanya candaan belaka. Melihat ayahnya yang tersenyum tipis dan menggeleng pelan menatap bundanya dengan gemas, Gio tanpa sadar menarik sudut bibirnya.


"Ayah...?"


"Bunda bohong, ayah gak gitu,"


"Halah, di rumah saja ayah tadi mohon-mohon sama bunda buat temani ketemu abang, kangen kan ayah sama abang?" bantah Vio dengan wajah tanpa dosanya.


Kevin mendengus mendengar itu, mau mengelak bagaimana istrinya tetap akan keras kepala seperti ini.


"Ayah.." panggil Gio lagi.


Kevin menghela nafas pelan lalu beralih menatap putranya yang kini menatapnya dengan tatapan penuh harap. Kevin tersenyum tipis, benar kata Gea, putra sulungnya ini benar-benar luar biasa baik, mengikuti sikap istrinya yang pemaaf dan tak pernah dendam pada keluarganya.


"Ayah minta maaf,"


"Untuk apa?"


Kevin kembali menghela nafas pelan. Tangannya beralih menggenggam tangan istrinya yang masih diam menunggu dua jagoannya itu berbaikan.


"Ayah salah, harusnya ayah tidak seperti ini. Dari dulu ayah selalu maksa kamu nikah sama Ara tapi sekalinya kamu sama dia nikah, ayah malah buat masalah,"


Kevin semakin tersenyum manis mendengar putranya. Anak laki-laki yang dulu dia besarkan dan dia ajarkan banyak hal kini menjadi sosok laki-laki hebat yang selalu mengutamakan keluarga, selalu menghargainya dan tentunya selalu bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dia perbuat. Kemarin, Kevin hanya diliputi amarah hingga tidak berfikir jernih dan berujung membenci putranya sendiri. Hari ini setelah diberi pemahaman oleh Vio dan Gea, Kevin sadar dia memang bersalah. Semua masalah ini bukan Gio penyebabnya, hanya kesalahpahaman yang membuat Gio terlihat bersalah. Tapi, dia juga tidak membenarkan sikap Gio yang berbohong padanya tentang Ara.


"Ayah restui pernikahan kalian dan ayah harap kamu tetap jadi laki-laki bertanggungjawab dan selalu membahagiakan istri mu," ujar Kevin membuat senyum Gio mengembang sempurna.


Laki-laki dengan balutan baju kaos itu berdiri menghampiri orang tuanya lalu duduk diantara Vio dan Kevin. Laki-laki yang kini sudah tak lagi dibilang remaja itu memeluk lengan kedua orang tuanya. Raut bahagia tak bisa lagi disembunyikan dari wajah tampannya.


"Udah nikah, jangan kekanak-kanakan," ujar Kevin memukul pelan lengan putranya.


"Jaga putri ayah,"


"Pasti, yah. Abang pasti jaga,"


"Kalau kamu sakiti dia lagi, ayah gak akan kasi kesempatan kedua lagi,"


"Enggak, abang janji akan selalu membahagiakan istri abang. Terima kasih karena ayah sudah memberi restu,"

__ADS_1


"Ayah dari awal sudah memberi restu, ayah seperti kemarin ingin menguji mu saja,"


"Pintar banget bohongnya," celetuk Vio tiba-tiba yang disambut gelak tawa dua jagoannya itu.


"Ini ayah balikin semua kartu kamu, kunci mobil dan kunci motor kamu. Balik kerja ke perusahaan besok, ayah gak mau tau. Oh satu lagi, ini ayah kasi kunci rumah sebagai hadiah pernikahan kalian," cerocos Kevin meletakkan satu persatu barang itu keatas meja tepat dihadapan Gio.


"Yah.."


"Jangan membantah,"


"Maaf karena menikah tanpa memberitahu ayah dan bunda," ujar Gio penuh sesal.


"Kita adakan resepsi minggu depan," ujar Vio yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.


"Tapi bunda..."


"Gioooo..."


Seketika ucapan Gio berhenti saat suara dari pintu kamarnya terdengar. Disana Ara sudah berdiri dengan tubuh yang dibungkus selimut tebal dan hanya menampakkan kepalanya beserta rambut berantakannya. Gio yakin istrinya itu masih belum sepenuhnya sadar. Buru-buru Gio beranjak mendekat sebelum Ara kembali merengek. Begitupun Kevin dan Vio yang juga ikut menatap dua anaknya itu.


"Kok bangun, sayang?" tanya Gio memperbaiki rambut Ara.


"Kamu tiba-tiba hilang," rengek Ara.


Perempuan dengan balutan selimut tebal itu mengikis jarak dengan Gio lalu menyenderkan kepalanya pada dada suaminya membuat Gio terkekeh dan memeluk istrinya dengan gemas. Tumben-tumben Ara jadi manja seperti ini.


"Kenapa ditinggal?" tanya Ara.


"Ada ayah sama bunda," ucap Gio memberitahu.


Ara mendongak sambil mengerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan nyawanya dan memastikan bahwa apa yang dia dengar tidak salah. Ara mengikuti Ara pandang Gio yang mengkodenya lewat tatapan. Seketika mata Ara membulat melihat kedua mertuanya ada disana, berdiri sambil menatapnya. Ara menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Gio, sedikit bergeser agar tak lagi menatap Kevin dan Vio. Sungguh, dia malu sekali. Bagaimana tidak malu, dia keluar dengan penampilan seperti ini. Dia kira tidak ada orang karena memang jam seperti ini, biasanya hanya ada dirinya dan Gio.


"Malu," cicit Ara.


Gio tertawa mendengar Ara, pelukan pada istrinya itu di eratkan sambil ikut mempererat selimut yang membungkus tubuh istrinya. Kevin dan Vio berjalan mendekat. Setelah sampai tepat di samping Ara dan Gio, Kevin mengelus kepala Ara membuat perempuan itu menoleh padanya tanpa mengubah posisinya.


"Kalian istirahat, bunda sama ayah pulang dulu," pamit Kevin lalu menarik istrinya keluar dari apartemen Gio. Dia tidak ingin menganggu waktu anaknya. Lagipula dia juga ada agenda bersama istri tercintanya.

__ADS_1


"BIKININ BUNDA CUCU YAA," teriak Vio membuat pipi Ara memerah malu.


...-To be Continued-...


__ADS_2