
...---Happy reading---...
Hari berikutnya, hmm tepat malam hari, Ken berjalan menyusuri taman luas yang terletak tak jauh dari perumahan Gio. Laki-laki itu sengaja datang kesini untuk menenangkan pikirannya. Hanya tempat ini yang bisa membuatnya selalu tenang. Banyak kenangan yang membuat sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Kenangan saat masa SMAnya dulu, bagaimana dia menghabiskan waktu ditaman ini dengan sahabat-sahabatnya dan dengan gadis itu.
Mengingat gadis itu membuat Ken kembali menghela nafas pelan meredam rasa sesak yang bersarang didadanya. Dia belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri, bahkan dengan keadaan dan masa lalu pun tidak bisa. Kata 'seandainya' selalu muncul di otak dan pikirannya saat mengingat segalanya tentang gadis itu.
Langkah kakinya berjalan pelan mengelilingi taman dengan mata yang terus menatap sekeliling taman yang kebetulan sepi. Membayangkan masa-masa indah itu sebelum semuanya hancur berantakan seperti sekarang. Bahkan hidupnya juga ikut hancur. Hidupnya sudah tak seperti dulu lagi, benar-benar hancur berantakan. Orang-orang dekat menjauh lebih tepatnya dia jauhi. Hanya ada dendam dan rasa benci dihidupnya sekarang.
Saat langkahnya semakin mendekati danau buatan ditaman itu, matanya menangkap sosok gadis bertubuh mungil sedang duduk di bangku menghadap danau. Sudut bibir Ken terangkat membentuk senyum tipis saat mengenali gadis itu. Dia merindukannya, sangat merindukannya.
Dengan tergesa-gesa, Ken datang dan langsung duduk disamping gadis yang sedang menggunakan hoodie kebesaran berwarna abu-abu dengan rambut dicepol asal.
Dari raut wajah gadis itu terlihat jelas jika dia terkejut dengan kehadiran Ken.
"Udah lama dek ?", tanya Ken pada Gea. Ya gadis itu Gea, yang sengaja datang untuk menyegarkan otaknya yang sudah pening dengan tugas kampus yang luar biasa banyak.
"Bang Leon", gumam Gea pelan membuat senyum Ken semakin mengembang.
Gadis dihadapannya ini masih jadi adik kecilnya yang dulu, sudah dikatakan bukan, meski Ken membenci Gio tapi tak pernah membenci adiknya. Gea ini selain dimanjakan Gio, Arsal dan Ken juga begitu menyayanginya. Jika ditanya kenapa, dua saudara itu akan menjawab "soalnya mama gak kasih adek perempuan".
Jika Gea memanggil Arsal dengan sebutan kak Al, beda dengan Ken, dia akan memanggil laki-laki itu dengan sebutan bang Leon yang dia ambil dari Leondra, nama belakang Ken. Diantara Gio, Ken dan Arsal hanya Arsal yang dia panggil kakak, alasannya simpel saja karena Arsal tengil dan selalu mengganggunya, tidak ada hubungannya memang, tapi entahlah Gea memang kadang tidak jelas.
"Ngapain disini ?", tanya Gea dingin.
"Kenapa di kampus seolah-olah gak kenal sama abang ?", tanya Ken mengacuhkan pertanyaan Gea.
"Perlu Gea jawab ", tanya Gea lagi.
Nada bicara dari gadis itu begitu dingin, begitupun ekspresi yang begitu datar. Ken baru pertama melihat Gea seperti ini.
"Dek", panggil Ken lembut hampir meruntuhkan pertahanan Gea.
"Udah benci ya sama abang ?", tanya Ken sambil mengusap lembut rambut panjang gadis itu.
Gea buru-buru menepis pelan tangan Ken yang menyentuhnya lalu menatap Ken tajam seolah yang berada disampingnya sekarang adalah musuhnya.
"Gak usah dekat-dekat Gea", peringat Gea mengalihkan tatapannya.
"Adek gak pernah loh bicara kayak gitu sama abang", sahut Ken lembut. Demi apapun dia ingin menangis melihat sikap Gea padanya sekarang. Dia begitu menyayangi gadis ini seperti adik kandungnya, jadi wajar dia sedih melihat perubahan Gea padanya sekarang.
"Gak kangen sama abang ?", tanya Ken pelan dengan suara bergetar.
Mendengar itu, Gea mendongak menatap Ken yang juga menatapnya dengan tatapan sendu.
"Kangen", lirihnya sangat pelan bahkan Ken yang ada disampingnya pun tak mendengarnya.
"Pulang aja, jangan ganggu Gea", sahut Gea kembali mengalihkan tatapannya. Matanya kini dilapisi cairan bening yang siap meluncur kapan saja.
Bukannya pergi, Ken justru menarik Gea kedalam pelukannya membuat pertahanan gadis itu runtuh. Gea menangis didalam pelukan laki-laki yang sudah menjadi kakak keduanya itu.
__ADS_1
"Abang kangen", kata Ken pelan.
"Gea juga", sahut Gea mempererat pelukannya.
Keduanya diam, hanya isak tangis Gea yang memecah keheningan malam ditaman itu.
"Kenapa gak mau sapa abang kalau dikampus, kenapa kayak orang gak kenal ?", tanya Ken beruntun.
"Gea benci abang", jawab Gea dengan suara bergetar.
"Abang paham", kata Ken mengangguk mengerti.
"Tapi Gea lebih benci diri sendiri yang gak bisa benci abang dan gak bisa berbuat apa-apa. Seenggaknya Gea bisa perbaiki keadaan tapi ini gak bisa sama sekali. Gea benci hidup di keadaan sekarang bang. Kehidupan yang benar-benar hancur, gak ada lagi yang saling menyayangi, semua saling membenci satu sama lain. Adek benci sama keadaan ini", kata Gea penjang lebar disela isakannya.
"Jangan nangis", kata Ken berusaha menenangkan Gea.
"Gea kangen", sahut Gea mengeratkan pelukannya. Gadis itu bukan hanya rindu pada Ken tapi juga kebersamaan bersama tiga abangnya.
"Apa semuanya udah gak bisa diperbaiki lagi bang ?", tanya Gea penuh harap membuat Ken terdiam beberapa saat.
"Abang minta maaf", kata Ken pelan sambil mengusap lembut rambut panjang Gea. Dia bukannya tidak mau memperbaiki semuanya, dia mau tapi setiap berusaha rasa benci itu lebih dulu menguasainya.
"Semuanya udah berlalu, kita mulai dari awal lagi ya", pinta Gea namun Ken hanya diam tak tau harus mengatakan apa, memulai dari awal ? sepertinya akan sulit untuknya. Melihat Ken diam, Gea sudah tidak bisa melanjutkan pembahasan itu.
Dari posisi yang tidak terlalu jauh dari dua orang itu, Gio berdiri menatap keduanya dengan perasaan yang benar-benar kacau. Niatnya ingin menjemput adiknya tapi saat sampai disini dia harus melihat kedekatan dua orang itu. Setelah kejadian hari itu, ini kali pertamanya lagi Gio melihat mereka dekat. Dia tau apa yang adiknya dan Ken rasakan sekarang.
Gio menghela nafas pelan lalu berbalik melangkah meninggalkan keduanya.
...---🌺🌺🌺---...
Setelah menghubungi Ara jika dia menunggu gadis itu di taman yang tak jauh dari rumah Ara, dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket parasutnya lalu melangkah pelan dengan pikiran yang tak lepas dari adiknya. Percakapan keduanya terdengar jelas ditelinga Gio tadi membuatnya semakin pusing. Gio tak pernah melarang adiknya dekat dengan Ken, bahkan Gio sendiri yang selalu bilang pada adiknya untuk tidak menjauhi Ken karena dia tau betul bagaimana sayangnya Ken pada adiknya itu.
"Gioooo...",teriak seorang gadis dari arah belakang Gio membuat langkah laki-laki berhenti dan memutar tubuhnya melihat siapa yang memanggilnya.
Setelah melihat siapa yang memanggilnya, Gio kembali menghela nafas kasar. Orang yang memanggilnya bukanlah yang diharapkan Gio.
Gadis itu berlari dengan girang dan menabrak tubuh Gio, melingkarkan tangannya erat pada pinggang Gio.
"Kangen iih, udah lama gak ketemu sama kesayangan", kata gadis itu.
"Rania lepas", bentak Gio. Dia termasuk orang sabar tapi jika sudah berhadapan dengan gadis ini, kesabarannya entah hilang kemana.
"Gak mau, kangen tau. Udah lama gak ketemu", sahut Rania semakin mengeratkan pelukannya.
Saat hendak melepas tangan Rania dari pinggangnya, suara dari arah lain membuat Gio membeku ditempat.
"Gii...", panggil Ara pelan. Gadis itu sudah berdiri dibelakangnya dengan tatapan yang----Entahlah Gio tidak bisa mengartikan itu.
Buru-buru Gio melepas dengan paksa pelukan Rania dan langsung mendekat pada Ara.
__ADS_1
"Sayang, aku bisa jelasin", kata Gio begitu lembut.
Ara menatap Rania tajam, sedangkan Rania hanya tersenyum mengejek melihat kehadiran Ara.
"Gimana, Kaiyara Zoe ?", tanya Rania sarat akan makna.
"Diam", bentak Gio menatap tajam Rania, lalu detik berikutnya menatap Ara dan menggenggam tangan Ara lembut.
"Ini gak seperti yang kamu lihat, aku bisa jelasin", kata Gio begitu lembut, takut jika Ara salah paham.
Ara tersenyum manis pada Gio lalu melepas genggaman tangannya dan beralih memeluk Gio tepat dihadapan Rania.
"Udah lama ?", tanya Ara lembut.
"Sayang...."
"Aku gak marah, aku tau pasti bukan salah kamu kan ?", tanya Ara melirik Rania.
"Dia datang-datang langsung meluk aku", adu Gio.
"Sini aku hilangin bekasnya", kata Ara memeluk Gio erat.
"Gemas banget sih", celetuk Gio mencium puncak kepala Ara.
Tanpa melepas pelukannya pada Gio, gadis dengan balutan cardigan hitam itu menoleh pada Rania yang menatapnya dengan tatapan kebencian.
"Aku peringatkan sama kamu, walaupun kamu adik aku tapi kamu gak bisa seenaknya gitu. Kamu udah tau Gio pacar aku, hargai aku juga dong", kata Ara memberi peringatan.
"Siapa lo, Ra. Orang yang baru dikenal Gio kemarin yang beruntung dijadikan pacar sama Gio. Bangga lo", tanya Rania ketus.
Gio yang hendak menjawab langsung ditahan oleh Ara.
"Jelas. Aku tau kamu udah lama suka dan berjuang buat dia, tapi apa dia mau sama kamu. Apa dia pernah liat kamu sekali aja?", tanya Ara pelan namun menusuk untuk Rania. Ara tidak bermaksud menyakiti hati adiknya itu, namun Ara hanya berusaha mempertahankan miliknya dan mempertahankan kebahagiannya. Tidak salah kan ?
"Berhenti berjuang untuk orang yang gak pernah hargai kamu Nia", kata Ara. Ucapannya terdengar jahat tapi dia ingin jika Rania berhenti berharap pada orang yang hanya akan menyakiti hatinya.
"Lo gak perlu ikut campur", balas Rania ketus.
Ara melepas pelukannya pada Gio lalu berjalan mendekat pada Rania yang masih berdiri dihadapannya.
"Aku bilang gini karena peduli sama kamu. Aku gak mau kamu sakit karena harapan kamu sendiri", kata Ara.
Rania diam tak tau harus menjawab apa. Pandangannya beralih pada Gio yang berdiri dibelakang Ara. Laki-laki itu tampak tak peduli dengan kehadirannya. Matanya hanya fokus menatap Ara meski gadis itu membelakanginya.
"Gii..", panggil Rania membuat Gio menoleh malas.
"Lo tau apa jawabannya", kata Gio datar.
Rania menghela nafas pelan melihat penolakan-penolakan dari Gio. Mata sendunya berubah menatap tajam Gio lalu menatap Ara.
__ADS_1
"Sebentar lagi dia akan jadi milik gue, bagaimana pun caranya. Ingat itu",
...---To Be Continued---...