Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 19. Bersama mu


__ADS_3


...---Happy reading---...


Sesuai yang dikatakan Gio tadi, laki-laki itu benar-benar membawa Ara keliling seharian. Setelah makan, Gio mengajak Ara pada salah satu tempat bermain di pusat perbelanjaan itu.


"Kita mau ngapain kesini ?", tanya Ara tak mengerti melihat berbagai macam permainan dihadapannya.


"Kamu temani aku seharian ini. Kebetulan aku gak ada kerjaan begitupun kamu jadi kita main sepuasnya hari ini", jawab Gio.


Sebenarnya besok, dia akan ikut dengan ayahnya mengurus perusahaan selama beberapa hari diluar negeri, itu sebabnya dia ingin menghabiskan waktu bersama gadis ini.


"Besok aku gak bisa jemput kamu, aku harus ikut ayah ngurus pekerjaan", kata Gio menatap Ara yang juga terus memperhatikannya.


Mendengar itu, diam-diam Ara menghela nafas pelan, jadi beberapa hari kedepan dia tidak akan bertemu dengan laki-laki ini ?, ah Ara jadi tidak bersemangat.


"Habis dari sini aku bakal ajak kamu ke suatu tempat", kata Gio lagi membuat Ara semakin kebingungan.


"Kemana ?", tanya Ara.


"Nanti kamu bakal tau. Ayo", ajak Gio menarik pelan tangan Ara.


Keduanya menghabiskan waktu ditempat bermain itu. Layaknya sepasang kekasih, keduanya menikmati waktu mereka berdua. Semua permainan mereka coba sampai akhirnya gadis yang sedari tadi tidak lepas dari pengawasan Gio itu mengeluh lelah.



Setelah puas bermain, tak terasa waktu sudah berganti menjadi malam hari. Gio membawa Ara ketempat sesuai yang dia katakan tadi. Keduanya tengah berdiri di lobby bangunan besar yang Ara yakini ini tempat penginapan atau bisa jadi tempat tinggal semacam apartemen.


Ara menatap Gio bingung sekaligus gugup. Untuk apa Gio membawanya kesini, terlebih ini sudah malam. Aiissh Ara tidak mau berfikir yang tidak-tidak dulu.


"Kita mau ngapain kesini ?", tanya Ara gugup.


"Ikut aja, ayo", sahut Gio menarik tangan Ara.


Keduanya berjalan menuju lift untuk mencapai tempat yang Gio maksud. Setelah beberapa menit, sampailah mereka didepan pintu besar berwarna hitam membuat Ara semakin bertanya-tanya.


"Ini tempat siapa ?", tanya Ara lagi.

__ADS_1


Gio hanya diam sambil menekan angka yang berhasil membuat pintu terbuka. Tangan yang masih Gio genggam hendak ditarik masuk saat pintu terbuka, namun Ara menahannya sebelum langkah laki-laki itu membawanya masuk.


"K-kita ngapain kesini ? Ini tempat siapa ?", tanya Ara sedikit takut. Oke dia yang sedari tadi berusaha berfikir positif sekarang sudah tidak bisa.


"Ini apartemen aku. Ayo masuk, aku mau ganti baju dulu", sahut Gio menatap Ara yang sedari tadi menatap cemas kesegala sisi.


"Gak bakal ngapa-ngapain, janji", sahut Gio menahan tawa melihat ekspresi ketakutan Ara.


Gadis itu mendongak menatap Gio yang tersenyum kearahnya.


"Awas sampai ngapa-ngapain, aku tonjok", sahut Ara penuh peringatan.


"Iya-iya, ayo masuk. Masu sampai kapan berdiri disini mulu", kata Gio lagi dan dengan langkah ragu, Ara mengekori Gio yang masuk kedalam apartemennya.


Ara menatap kagum pada interior apartemen ini, tak terlalu luas tapi ini cukup untuk dua orang tinggal dan satu lagi, apartemen ini sangat bersih dan rapi.


"Kamu tunggu disini, aku mau bersih-bersih dulu. Anggap aja rumah sendiri", kata Gio lalu berjalan meninggalkan Ara yang masih terkagum-kagum dengan ruangan ini. Hanya ruangan kombinasi hitam, putih dan abu-abu tapi ini sangat cantik menurut Ara.


Saat matanya sibuk mengamati setiap sudut ruangan, pandangannya jatuh pada figura yang terletak diatas meja samping tv besar diruang tamu itu. Ara berjalan mendekat dan mengamati setiap bingkai foto yang terletak disana. Ada beberapa foto yang membuat senyum kecil Ara mengembang. Foto ayah dan bunda laki-laki itu, foto keluarka mereka, fotonya Gio sendiri, foto Gea dan foto berdua dengan adiknya, sangat manis.


Senyum kecil Ara mengembang, tangannya terulur mengusap lembut figura berisi ayah dan bunda laki-laki itu. Ingatannya dengan langsung mengingat ayah dan bundanya. Andai dia juga memiliki kenangan manis bersama kedua orang tuanya, pasti Ara akan dengan senang hati memajangnya disetiap sudut kamarnya, namun sayang kedua orang tuanya lebih dicintai sang pencipta sampai harus kembali lebih cepat. Ara menghela nafasnya pelan lalu beranjak berdiri dan terkejut saat berbalik dia sudah menemukan Gio yang sudah rapi dengan hoodie putihnya. Ara yakin, laki-laki ini suka sekali memakai hoodie.


"Mau mandi gak?", tanya Gio.


"Emmm, boleh sih soalnya gerah tapi aku gak bawa baju ganti", kata Ara.


"Gak usah deh", tolak Ara kemudian.


Gio menarik tangan Ara masuk kedalam kamar lalu berbalik menuju lemari mencari pakaian yang sekiranya bisa Ara gunakan.


"Percaya atau gak percaya tapi setiap lemari aku pasti ada baju Gea. Entahlah anak itu selalu saja membuat ku repot dengan menguruskan hal-hal tidak penting", Gio mendumel dengan tangan yang sibuk mencari baju adiknya.


Gea memang sering datang kesini, itu sebabnya dia meminta Gio menyediakan baju untuknya, agar jika berkunjung dia tidak perlu repot-repot membawa bajunya lagi.


"Kayaknya baju Gea masih ada disini, mana yaaa....", kata Gio yang terus mencari apa yang dia butuhkan.


"Kamu mandi aja nanti kalau bajunya ketemu aku kasi", lanjutnya.

__ADS_1


Ara hanya diam menatap punggung Gio dengan senyum tipis, laki-laki ini ternyata tidak secuek yang orang tau. Lihat saja, dia sekarang terus mengoceh hal tidak penting tanpa mendengar tanggapan Ara lebih dulu.


"Nah ketemu", kata Gio mengangkat baju kaos putih dan celana cargo berwarna hitam milik adiknya tak lupa Gio memberikan Ara hoodie kebesaran miliknya.


"Gih kamu mandi", kata Gio menyodorkan bajunya pada Ara setelah berbalik menatap gadis yang sedari tadi menatapnya dalam diam.


...---🌻🌻🌻---...


Setelah bersiap dan mengisi perut tadi, Gio menepati janjinya membawa Ara ke suatu tempat dan tempat itu tak lain adalah rooftop apartemennya.


"Kita mau ngapain disini ?", tanya Ra memandang hamparan lampu kota dibawah sana. Langit yang cerah mendukung mereka untuk berlama-lama disana.


"Gak ngapa-ngapain, mau habisin waktu berdua aja", sahut Gio menatap Ara dari samping, dia tidak tertarik dengan pemandangan didepannya, dia hanya tertarik pada pemandangan disampingnya.


"Gii", panggil Ara menoleh menatap Gio yang menunggu ucapannya.


"Aku mau nanya boleh ?", tanya Ara.


Gio mengangguk sebagai jawaban, Ara sebenarnya sedikit gugup dengan apa yang akan dia tanyakan, takut jawaban Gio diluar ekspektasinya. Dia takut jika semua ini Gio lakukan hanya karena kasihan.


"Kamu... Kamu kenapa baik banget ke aku ?", tanya Ara membuat kening Gio berkerut.


"Kita kenal belum terlalu lama, tapi kamu udah baik banget ke aku, pengertian banget dan manis banget ke aku", kata Ara berusaha menjelaskan.


Pandangan gadis itu kembali menatap hamparan lampu kota dan lalu lintas dibawah sana.


"Kamu sekarang tahu kehidupan aku kayak gimana, kejadian malam itu udah cukup jelasin semuanya. Kamu orang satu-satunya yang tau semua ini, dan kamu mengerti banget bahkan aku ngeras terhibur dengan apa yang kamu lakukan hari ini", kata Ara lagi.


"Aku cuma harap itu bukan hanya karena kamu kasihan. Karena aku gak butuh dikasihani, aku masih sanggup lalui itu. Aku berharap kamu lakuin itu semua karena benar-benar menganggap aku teman bukan alasan kasihan", lanjut Ara memberanikan diri.


Gio masih diam tak memberi respon. Teman ? Kata itu terngiang diotaknya sampai tak tau harus mengatakan apa. Keheningan tercipta cukup lama setelah Ara mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Besok dan beberapa hari kedepan aku bakal ikut ayah ngurus pekerjaan diluar negeri", sahut Gio membuat Ara menoleh menatap laki-laki yang kini ikut menatap pemandangan didepan sana. Apa-apaan dia, Ara sudah mati-matian menahan malu dan gugup hanya untuk mengatakan itu, tapi laki-laki ini justru mengalihkannya.


"Saat aku pulang nanti, aku harap kamu mengerti dan udah bisa meyakinkan diri. Dan kata teman itu.....", Gio menggantung ucapannya menatap Ara yang juga sedang menatapnya menunggunya menyelesaikan ucapannya.


"Berubah",

__ADS_1


...---To Be Continued---...


__ADS_2