Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 101. Amarah Gio


__ADS_3

Gio dan Ara



Dengan mengendari motornya ugal-ugalan, tak peduli umpatan para pengendara dan nyawanya sendiri, Gio terus melajukan motornya menuju rumah Rania. Bayangan gadisnya seketika muncul di kepalanya membuat Gio mencengkram stir motornya kuat dan kembali menancap gas penuh. Tak mempedulikan berapa kali dia hampir menabrak mobil, dia hanya ingin segera sampai di rumah Rania.


Setelah beberapa menit mengendarai motornya, Gio sampai didepan rumah besar yang memang menjadi tujuannya. Rumah itu tampak sepi, tapi Gio yakin pemilik rumahnya belum keluar terlihat dari mobil di garasi masih terparkir rapi.


Gio melepas helmnya, mengusap rambut hitam legamnya. Laki-laki yang masih menatap pintu utama rumah Rania dengan tatapan datarnya itu turun dari motor lalu berjalan menuju pintu utama. Tak menerapkan prinsip sopan santun saat bertamu, Gio langsung menyelonong masuk dengan membanting pintu cukup keras. Gio benar-benar sudah diambang batas kesabaran. Amarahnya sudah berada di ubun-ubun ingin segera dilupakan detik ini juga.


Bisma dan Rania yang sedang duduk di sofa ruang tamu dibuat terkejut saat mendengar suara gaduh dari pintu utama. Bahkan Ara yang berdiri di lantai dua hendak turun, menghentikan langkahnya saat melihat siapa yang kini berdiri dihadapan Bisma dan Rania. Ara menyorot Gio dengan tatapan yang entah dia rindu, marah, kecewa atau masih ada sayang. Tidak ada yang tau, hanya dirinya sendirilah yang tau itu.


Beralih ke tiga manusia yang ada di lantai dasar saling berhadapan dengan tatapan yang berbeda. Rania yang terkejut, Bisma yang santai dan Gio yang mati-matian menahan amarahnya.


"Tau adab bertamu?" tanya Bisma tenang. Laki-laki itu masih sempat memberi kode pada Ara tak turun dan masuk kedalam kamarnya. Namun gadis itu tak mengindahkan. Dia hanya bersembunyi di dekat guci besar untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


Gio menatap Bisma dan Rania bergantian dengan mata memerah menahan amarah, tangan mengepal kuat dan rahang yang mengeras. Nafas laki-laki itu memburu menandakan bawa dia benar-benar marah.


"Ngapain kesini?" tanya Rania memberanikan diri.


Gio melangkah mendekat namun dengan cepat, Bisma berdiri didepan istrinya melindungi tubuh sang istri takut jika Gio kelepasan.


"Mana dia?" tanya Gio pelan namun tajam.


"Dia siapa?" tanya Bisma seolah tak tahu apa yang membuat Gio datang kesini, padahal dia tahu betul.


"DIMANA?" bentak Gio membuat Rania dan Bisma terkejut.


"ARA KELUAR KAMU," teriak Gio lantang mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.


Ara yang masih berada di lantai dua, mundur selangkah agar Gio tak menjangkaunya. Jujur, dia takut dengan Gio yang sekarang.


"JAWAB GUE BANGSAT. DIMANA ARA?" tanya Gio masih dengan suara meninggi, bahkan laki-laki itu sudah mencengkram kuat kerah baju Bisma.


Melihat Bisma yang hanya diam dengan tatapan santainya, Gio benar-benar tak bisa lagi menahan amarahnya. Satu pukulan keras berhasil dia layangkan kerahang tegas Bisma membuat laki-laki itu terjatuh ke lantai akibat tak siap dengan serangan tiba-tiba dari Gio.


"BERHENTI," teriak Rania menatap Gio tajam lalu beralih membantu Bisma berdiri.


Rania yang sudah hilang kesabaran berdiri tepat dihadapan Gio. Meski Bisma menarik tangannya agar menjauh dari Gio namun Rania menghempaskan tangan Bisma keras dan beralih menatap Gio tajam. Bumil itu tak pernah takut dengan Gio, dia tahu Gio tidak akan pernah berani main tangan dengan wanita.

__ADS_1


"Jawab gue, Rania," desis Gio menatap tajam Rania.


Rania menghela nafas panjang, dia benci harus berasa di situasi seperti ini.


"Dia gak ada disini," jawab Rania tegas.


"BOHONG," sentak Gio.


"GUE GAK BOHONG, DIA GAK ADA DISINI DAN GAK PERNAH DATANG KESINI," jawab Rania ikut berteriak.


"Jangan bohong, Rania," kata Gio. Tatapannya beralih pada Bisma yang sedari tadi hanya memperhatikan keduanya. Gio terkekeh miris dan menggeleng pelan. Bisa-bisanya mereka masih berbohong padanya saat dia sudah ada disini.


"Dimana, Bisma?" tanya Gio.


Bisma diam tak mau menjawab membuat amarah Gio semakin memuncak, dia tidak suka diabaikan apalagi jika itu perihal Ara.


"Anjing," umpat Gio dengan spontan melempar vas bunga yang ada diatas meja. Persetan dengan sopan santun.


Tindakan Gio itu berhasil membuat Rania mundur selangkah, terkejut dengan aksi spontan Gio. Laki-laki yang ada dihadapannya sekarang bukanlah Gio yang dia kenal. Gio tidak tempramen dan menyeramkan seperti sekarang.


"LO MASIH AJA NYEMBUNYIIN DIA, MAKSUD LO APA ANJING?" tanya Gio berteriak.


"LO YANG EGOIS,"


"GUE GAK EGOIS. KALIAN SEMUA YANG EGOIS. MIKIRIN DIRI SENDIRI TANPA MIKIRIN GUE. LO EGOIS UDAH NYEMBUNYIIN KEBERADAAN ARA DAN ARA LEBIH EGOIS, MERASA DIRINYA YANG PALING TERSAKITI TANPA MEMIKIRKAN ORANG LAIN," teriak Gio lantang.


"DIA GAK EGOIS, DIA GAK MERASA PALING TERSAKITI KARENA MEMANG DISINI LO YANG SALAH, LO YANG NYIA-NYIAIN DIA DAN DENGAN SEENAKNYA LO DATANG BILANG KALO DIA MERASA PALING TERSAKITI, GILA LO," sahut Rania ikut berteriak. Didalam rumah besar itu terjadi perdebatan antara Gio dan Rania. Keduanya tak bisa lagi dibujuk untuk menyelesaikannya baik-baik. Keduanya sudah tersulut emosi.


"GUE GAK PERNAH NYIA-NYIAIN DIA, GUE GAK PERNAH NINGGALIN DIA. DIA YANG NINGGALIN GUE, DIA YANG EGOIS, DIA YANG NYAKITIN GUE," sahut Gio mengacak rambutnya frustasi.


"GOBLOK,"


"Bilang sama gue, dimana dia?" tanya Gio menurunkan nada bicaranya berharap Rania luluh.


"Gue gak tau," jawab Rania.


"JANGAN BOHONG," sentak Gio lagi.


Bugh

__ADS_1


"Jangan berteriak ke istri gue," ujar Bisma tak suka. Satu pukulan berhasil membuat Gio tersungkur dilantai ruang tamu. Laki-laki itu duduk sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Kalo gue bilang gak ada, itu berarti gak ada. Mau sampai kapan lo disini juga gak akan ada, bego," lanjut Bisma. Kesabarannya sudah habis saat melihat Gio terus-terusan membentak istrinya.


"Lo tinggalin dia, lupain dia dan jangan bali lagi kesini," lanjutnya.


"GAMPANG BANGET LO NGOMONG KAYAK GITU," teriak Gio masih dengan posisi duduknya.


"LO GAK TAU HIDUP SEPERTI APA YANG GUE JALANI SELAMA INI. KALIAN PIKIR GUE YANG NINGGALIN DIA? IYA?, KALIAN SALAH DAN KALIAN TIDAK AKAN TAHU BAGAIMANA SUSAHNYA GUE SELAMA INI. Bukan cuma dia yang sakit tapi gue juga," teriak Gio.


Laki-laki itu beranjak dari duduknya menatap Rania dan Bisma bergantian. Tatapan tajam yang tadi dia layangkan kini berganti dengan tatapan sayu laki-laki itu.


"Gue tersiksa. Ini...," tunjuk Gio pada dadanya.


"Sesak dan sakit banget. Kalian gak akan tau itu," lanjutnya parau.


Tanpa mendengar respon dari Rania dan Bisma lagi, Gio berbalik meninggalkan rumah itu. Gio kembali membanting pintu rumah saat dirinya benar-benar keluar. Sedangkan Ara yang sedari tadi mendengar pertengkaran tiga orang itu hanya terdiam dengan menahan sesak dan air matanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


...-To be Continued-...


Hai selamat malam..


Huhuhu akhirnya update lagi.


Mana nih suaranya yang kangen Gio dan Ara??


Btw Gimana kabarnya? Baikkan? pasti dong.


Jaga kesehatan ya kalian, perbanyak minum air putih.


Gak mau bilang apa-apa, cuma mau bilang Terima kasih untuk yang masih stay menunggu kelanjutan cerita ku, walaupun Author ini sedang sibuk dan jarang update. Author harap kalian semua sabar menunggu dan author akan usahakan yang terbaik. Maaf ya jarang update, Tugas dunia melelahkan guys.


Tapi, jangan menyerah, tetap semangat.


Buat siapapun yang sedang berjuang, semoga dimudahkan.


Bahagia selalu kalian.


One more, Thank you so much guys ❤

__ADS_1


__ADS_2