Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Hari H


__ADS_3

Dua minggu berlalu dengan sangat cepat, dan itu artinya tepat hari ini Agna akan melangsungkan pernikahan dengan Darren.


"Ini tidak akan berlangsung lama Agna, cobalah untuk tetap berusaha terlihat tenang," gumam Agna membatin. Karena saat ini wanita itu merasa sangat gugup di saat melihat banyak sekali orang-orang yang hadir di acara yang sangat sakral itu. Membuat Agna terus saja menunduk.


"Sayang, jangan menunduk terus. Cobalah lihat sekelilingmu, orang-orang ini datang untuk menyaksikan acara pernikahanmu dengan Darren," ucap Ranum pelan saat wanita itu menuntun putrinya untuk terus saja berjalan supaya cepat sampai di ruangan tempat pak penghulu, Al dan Darren berada saat ini.


"Bun, aku sangat gugup. Lihatlah tanganku sampai mengeluarkan keringat dingin seperti ini." Agna terlihat memperlihatkan telapak tangannya pada Ranum. "Aku benar-benar gugup, Bunda."


"Wajar Sayang, kamu merasa gugup karena Bunda juga dulu begitu," timpal Ranum yang tiba-tiba saja mengingat bagaimana dulu saat ia dan Al menikah.


"Bunda juga gugup?"


"Lebih dari kata gugup Sayang, sekarang kamu diam dan tetap berdoa supaya acara ini berjalan dengan lancar, tanpa ada halangan sedikitpun," jawab Ranum dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Karena tepat hari ini ia akan melepas tanggung jawabnya pada Agna dan mengalihkan tanggung jawab itu pada Darren. "Agna, Bunda cuma mau berpesan padamu, bahwa jangan sekali-kali kamu melawan suamimu, jangan juga kamu sampai membuat suamimu marah. Karena setelah kalimat ijab qobul diucapkan, maka semua tanggung jawab Bunda dan Ayah akan beralih kepada suamimu. Oleh sebab itu, kamu harus pandai-pandai menjaga perasaan Darren." Ranum berharap kalau Agna akan mengerti dengan apa yang disampaikan saat ini.


"Bunda, nangis," ucap Agna yang dengan gerakan cepat mengusap air mata Ranum menggunakan tisu yang dari tadi gadis itu bawa. "Jangan menangis Bunda, karena mau sampai kapanpun aku ini tetap anak kecil yang akan selalu membutuhkan Bunda. Meskipun aku ini sudah menikah dan memiliki keluarga baru." Tidak bisa di pungkiri kalau saat ini Agna juga sangat merasa sedih. "Aku juga berjanji, akan mengingat semua pesan Bunda ini." Meski Agna berkata seperti itu. Namun, siapa yang tahu tentang isi hati gadis itu.


Agna juga saat ini tidak tahu mau bagaimana lagi, karena ia sudah terlanjur menandatangani surat itu, ditambah Al sudah terlebih dahulu setuju dengan perjodohan ini. Membuat Agna tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dan tidak mungkin gadis itu akan nekat kabur dari acara ini bisa-bisa Al dan Hugo pasti akan menanggung malu.


"Bunda jangan sedih lagi, karena hari ini Bunda harus full senyum. Sebab ini hari bahagia." Meski bibir Agna sangat berat mengatakan kata bahagia. Namun, gadis itu tetap mengatakan itu demi melihat sang ibu tersenyum. Demi meyakinkan Ranum juga kalau dirinya tidak terpaksa menikah dengan Darren. Meskipun kenyataannya bahwa gadis itu memang terpaksa demi kelancarannya nanti dalam menyelesaikan kuliahnya. Tanpa ada hambatan atau drama dirinya yang tidak bisa lolos dalam mengerjakan skripsi.


"Maafkan Bunda yang tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah Ayah kamu, supaya perjodohan ini dibata–"

__ADS_1


"Tidak Bunda, aku sudah menerima garis takdir hidupku ini. Dan Bunda jangan pernah mengatakan itu lagi," potong Agna cepat. "Yang harus Bunda lakukan berdoa untuk anak Bunda ini. Supaya bisa menjadi istri yang berbakti pada suami. Hanya itu yang aku minta."


"Pasti, dan selalu Bunda akan berdoa untuk putri Bunda yang paling cantik ini. Putri yang pertama kali tumbuh di rahim Bunda," ucap Ranum.


Agna menunduk lagi dan pada saat itu butiran bening membasahi pipinya, karena gadis itu sangat terharu mendengar kalimat sang ibu.


***


Tidak perlu mengulang sampai dua tiga kali, karena Darren terdengar mengucapkan ijab qobul dengan satu tarikan nafas. Membuat semua tamu undangan berseru mengucapkan kata sah dengan suara yang memenuhi ruangan yang didekorasi seindah serta seelegan mungkin.


"SAH!"


"Saahh!!"


Saat mendengar kata sah Agna yang terus saja menunduk lagi-lagi meneteskan air mata. Karena gadis itu merasa bahwa dirinya sudah benar-benar bukan milik ibu bapaknya lagi melainkan sudah menjadi milik suaminya.


"Hanya sebentar, ya, pernikahan ini hanya sebentar dan itu tidak akan berlangsung lama," batin Agna yang berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri. Meskipun kenyataannya gadis itu merasa sangat tertekan sekali. Hanya gara-gara ia sudah sah menjadi istri dari dosennya sendiri.


"Agna, cium tangan suamimu, Nak." Ranum mengatakan itu sambil menepuk pundak Agna dari belakang.


Sedangkan Agna yang tadi sempat melamun dengan cepat meraih tangan Darrel. Meskipun gadis itu saat ini merasa terpaksa menuruti apa yang dikatakan oleh Ranum. Sebab Agna tidak mungkin menolak apa yang sang ibu perintahkan untuknya.

__ADS_1


"Jika tidak mau tidak usah," ucap Darrel tiba-tiba yang sepertinya tahu dengan isi hati gadis yang sudah sah menjadi istrinya beberapa detik yang lalu itu.


Agna tidak menghiraukan Darren, karena saat ini Agna harus berusaha terlihat patuh di hadapan orang banyak seperti ini. Biar namanya tidak di cap jelek di mata orang-orang yang saat ini sedang menyaksikan acara pernikahannya.


"Pak, jangan berharap lebih. Ini hanya sebagai pencitraan saya saja," celetuk Agna dengan suara yang setengah berbisik. Supaya hanya Darren yang bisa mendengarnya. "Sekali lagi, jangan berharap lebih."


"Lidahmu memang tidak bertulang, Agna, tapi mampu menyakiti ha–"


"Ini cincinnya Darren, pasangkan untuk istri kamu," kata Alea sambil memberikan dua cincin berlian pada Darren. "Pasangkan sekarang Darren, biar orang tahu kalau Agna sudah menikah, dan berhenti mengejar-ngejar istrimu," sambung Alea yang tahu kalau selama ini banyak laki-laki yang mendekati gadis yang sudah sah menjadi menantunya itu.


"Iya Mi," sahut Darren sambil meraih telapak tangan Agna, dan tidak perlu membutuhkan waktu yang lama. Cincin yang terbuat dari berlian itu sudah melingkar sempurna di jari manis Agna.


"Sekarang giliran kamu, Sayang." Alea tersenyum saat menyuruh Agna yang memasang cincin itu untuk Darren.


Agna mengangguk dan sama seperti Darren. Gadis itu juga memasangkan cincin itu pada jari manis sang suami.


"Semoga, hanya maut yang memisahkan kalian berdua, semoga juga kalian berdua akan mampu melewati ujian-ujian dalam rumah tangga kalian." Sudut mata Ranum berair saat kalimat itu keluar dari bibirnya. "Jangan pernah juga ada kata bosan yang keluar dari mulut kalian berdua. Karena itu bisa saja membuat hubungan kalian menjadi renggang.


"Ayah juga minta Darren, jika suatu hari nanti kamu merasa jenuh atau sudah bosan dengan Agna. Tolong kembalikan saja dia pada kami, jangan malah ada niat untuk menyakitinya. Karena mau sampai kapanpun Agna adalah putri kecil bagi kami. Dan ayah harap kamu mengerti akan hal ini Darren." Tidak terasa air kata Al jatuh saat ia mengatakan itu semua. Karena pria itu merasa bahwa kemarin sore ia masih menggendong serta mengajak Agna bermain.


Tapi sekarang lihatlah, bayi kecil yang dulu sangat menggemaskan kini sudah tumbuh dewasa. Dan Agna juga sudah berstatus menjadi istri dari seorang dosen sekaligus seorang dokter. Membuat Al merasa bahwa waktu begitu singkat.

__ADS_1


"Ayah." Lirih Agna yang langsung saja berdiri dan segera memeluk tubuh Al. Karena ia merasa sangat tersentuh dengan kalimat yang dilontarkan oleh sang ayah.


__ADS_2