Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Masih Belum Sadar


__ADS_3

"Rasa hormat saya pada manusia seperti kamu ini sudah hilang!" Suara Al menggema di lorong rumah sakit itu, tempat dirinya menghajar Sopian sampai lemah tidak berdaya. "Tidakkah kamu berpikir, kalau besan saya meninggal karena ulah anakmu yang tidak waras itu. Tapi sekarang kenapa kamu seolah-olah menyalahkan Darren atas hilangnya nyawa putrimu itu? Lalu anak serta cucu saya yang tidak bersalah malah kena imbasnya." Al berdecak, amarahnya semakin menggebu-gebu pada saat ia mengingat kalau Sopian mengurung Agna dan Nawa di dalam ruangan yang memiliki asap yang mengandung racun.


"Sekarang sudah terbayar tunai." Dengan sisa tenaga yang dimiliki Sopian mengatakan itu dengan bibir yang sudah berlumuran darah. "Cucu serta anak Anda pasti sudah meninggal, sekarang Anda hanya perlu menyiapkan pemakamannya." Sopian memperlihatkan barisan giginya yang berwarna marah.


"Kau memang biadab! Manusia terkutuk sepertimu ini seharusnya tidak pantas menjadi manusia!" Al yang murka menendang perut Sopian beberapa kali. Sehingga dokter itu lagi-lagi harus memuntahkan darah segar. "Seharusnya kau sadar diri dengan kesalahan putrimu, bukan malah membuat masalah seperti ini. Sekarang kau akan tahu siapa saya ini, seorang yang tidak bisa dianggap remeh. Jaga nyawamu dengan sekuat jiwa dan raga karena kita tidak pernah tahu kapan malaikat itu akan mencabut nyawamu secara langsung."


"Malaikat memihak kepada saya, buktinya Anak, cucumu tidak selamat. Itu artinya saya lah yang memenangkan drama yang sangat menegangkan ini. Bukankah begitu Tuan Al yang sangat terhormat?" Meski merasakan sakit pada sekujur tubuhnya, Sopian masih saja bisa memancing emosi Al. "Malaikat memang tahu, mana orang baik dan jahat seperti Anda Tuan A. Oleh karena itu, mereka lebih memihak kepada saya bukan kepada Anda." Saking bahagianya karena berpikir Agna dan Nawa sudah tidak ada. Sopian tertawa terbahak-bahak sambil terbatuk-batuk.


"Kau memang tidak pantas untuk hidup!" Al terlihat menyeret tabung gas oksigen yang ada di dekatnya. "Kau yang seharusnya menyusul putrimu yang tidak memiliki moral yang baik itu. Terkutuklah kau Dokter licik!" Al akan melepas tabung oksigen itu pada kelapa Sopian.


Namun, Bagas tiba-tiba saja datang. Menahan tangan Al supaya tuannya itu tidak melakukan hal yang sangat gila. 


"Jangan kotori tangan Anda Tuan, biarkan saja dia berbicara sesuka hatinya yang terpenting Agna juga Nawa selamat. Kita hanya perlu berduka atas kematian puluhan preman yang dia sewa. Ternyata preman itu tidak ada tandingannya dengan anak buah kita walaupun secuil saja." Kalimat Bagas berhasil membuat amarah di dalam dada Al yang sempat berkobar-kobar kini menjadi sedikit padam. "Mari kita pergi saja dari sini, biarkan polisi yang mengurus semuanya karena tugas kita hanya cukup sampai di sini saja Tuan." Bagas mengajak Al untuk pergi dari sana.

__ADS_1


"Tidak, Bagas. Aku ingin menyaksikan bagaimana seorang Sopian yang bergelar D,r,s. Akan ditangkap oleh polisi atas kebodohannya sendiri. Pasti namanya akan langsung hancur di mata orang-orang terdekatnya. Bukankah begitu Dokter jahat?" Al menyunggingkan senyum simpul. "Kenapa diam? Apa mulutmu ini sudah tidak berfungsi lagi? Katakan jika iya, maka saya sendiri yang akan membuat mulutmu itu berbicara seperti tadi saat kau mengoceh tidak jelas."


"Bodoh." Sopian mendesis sebelum pria paruh baya itu memuntahkan darah yang sangat banyak.


"Biar saya yang mengurusnya Tuan, Anda bisa pergi melihat keadaan Agna sekarang," kata Bagas yang menyuruh Al untuk pergi melihat Agna. Sebab Bagas takut jika Al tetap di sana kemungkinan besar dia nanti malah akan melenyapkan Sopian. mengingat ayahnya Agna itu amarahnya belum sepenuhnya mereda. "Tuan Al, jangan pikirkan apapun yang keluar dari mulut Dokter ini karena dia sangat sering sekali membual."


"Aku akan pergi Bagas, dan kamu harus ingat satu hal, bahwa aku ini sama sekali tidak memikirkan semua kalimat-kalimatnya karena aku sudah tahu tentang dia yang pandai membual." Setelah mengatakan itu Al bergegas pergi dari sana karena ia ingin melihat bagaimana keadaan Agna.


***


"Sus, apa anak saya atas nama Agna baik-baik saja?" Al bertanya pada suster yang keluar dari salah satu ruangan rawat inap.


"Maaf Tuan, putri Anda saat ini masih belum sadar. Mungkin ini karena dia terlalu banyak menghirup asap itu." Suster itu menjawab jujur. Dimana Agna saat ini masih belum saja bisa sadar, meskipun beberapa dokter sudah menangani Agna.

__ADS_1


Mendengar itu, dunia Al terasa seperti mau runtuh karena ia tahu bahwa 99% orang yang terlalu banyak menghirup asap beracun di kabarkan tidak bisa selamat. Membuat pria paruh baya itu terus saja berdoa di dalam benaknya untuk keselamatan sang putri.


"Apa boleh saya masuk, untuk melihat keadaannya, Sus?" Al bertanya sambil terus saja menatap ke arah ruangan yang pintunya sedikit terbuka itu. Berharap supaya ia bisa melihat Agna.


"Saya minta maaf Tuan, untuk saat ini Anda tidak bisa masuk sebelum putri Anda membuka mata. Ini semua atas perintah Dokter yang masih tetap berada di dalam. Untuk tetap melihat bagaimana perkembangan putri Anda." Suster itu menunduk setelah ia menjawab Al. "Kalau begitu saya permisi dulu Tuan, semoga Anda juga bisa mengerti dengan kalimat saya yang tadi."


Al diam membisu karena pikirannya sudah berkelana jauh ke depan sana. Membuatnya hanya bisa merespon suster itu dengan anggukan kecil saja.


"Agna, putri yang sangat Ayah sayangi. Bertahanlah 'Nak, demi Nawa sang buah hatimu." Al membatin dengan hati yang terasa begitu sangat perih karena ia menyesal telah terlambat sampai di rumah sakit itu. "Kamu putri Ayah yang kuat Agna, Ayah yakin bahwa kamu akan mampu melewati ini semua. Kuat-kuat di dalam sana Agna untuk berjuang." Pada saat Al terus saja membatin terdengar suara wanita yang sangat ia cintai sampai detik ini bertanya padanya.


"Mas, putri kita ... apa dia baik-baik saja?"


Al menghela nafas karena ia tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan sang istri. menginggat Ranum tidak bisa mendengar kabar yang kurang enak di dengar.

__ADS_1


__ADS_2