Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Menjebloskan Ke Penjara


__ADS_3

"Papi." Darren tidak pernah menyangka kalau saja Hugo akan datang ke rumah sakit untuk menanyakan kabar Nawa. "Papi sama siapa datang ke sini?" 


"Papi hanya butuh jawaban Darren, bukan pertanyaan seperti ini." Hugo menatap kedua bola mata putranya. "Nawa, apa cucuku itu baik-baik saja?"


"Iya Pi, Nawa baik-baik saja. Papi tenang saja," jawab Darren supaya Hugo menjadi tidak gelisah karena terus memikirkan bagaimana keadaan Nawa. "Kita tunggu disini saja karena kita belum diperbolehkan untuk masuk." Darren mengambil satu buah kursi untuk sang ayah. "Duduk dulu Pi, Papi disini sama Saras dulu karena aku ingin melihat bagaimana keadaan Agna."


"Tetaplah di sini, di sana sudah ada kedua orang tuanya yang sedang menunggunya membuka mata." Hugo tidak membiarkan Darren pergi dari sana.


"Jadi, Papi datang kesini bersama Bunda?" 


"Iya," jawab Hugo singkat.


"Oh, kalau begitu biarkan aku kesana karena aku harus melihat bagaimana keadaan istriku, Pi." Meski Hugo menyuruhnya untuk tetap di sana. Darren tetaplah Darren, dimana laki-laki itu ingin melihat bagaimana keadaan Agna. "Maaf Pi, untuk situasi seperti saat ini Papi tidak boleh melarangku." Darren lalu melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. Sebab ia harus benar-benar memastikan bahwa Agna juga baik-baik saja seperti Nawa.


"Anak itu keras kepala, bagaimana jadinya jika dia tahu kalau saja Agna masih belum bisa sadarkan diri." Hugo bergumam pelan. 


Namun, Saras yang ada di sebelahnya masih bisa mendengarnya. Membuat raut wajah gadis itu terlihat menegang.


"Ya Tuhan, kenapa ini semua harus terjadi kepada Agna dan keluarganya? Apa salahnya? Sehingga Engkau mengujinya dengan cobaan yang terus saja bertubi-tubi. Kapan dia akan bahagia?" Saras membatin.

__ADS_1


"Ikutlah, kalau kau mau melihat Agna juga. Biar Om yang menjaga Nawa." Hugo menatap Saras pada saat ia mengatakan itu.


"Nanti saja, Om." Saras menolak karena ia harus menjaga Nawa. Meskipun Hugo yang ingin menjaga bayi enam bulan itu. "Mungkin Om yang mau melihat Agna, silahkan, biar saya saja di sini. Tidak apa-apa saya sendirian."


"Tidak, Om tetap di sini saja menemanimu. Sambil menunggu polisi datang karena mereka ingin menangkap para penjahat itu." Tatapan Hugo begitu datar, tidak seperti waktu Alea masih hidup. Kini pria paruh baya itu lebih ke arah Darren sebelum putranya itu menikah dengan Agna. "Papamu sudah mengurus semuanya, nanti kalau kamu mau pulang, ikutlah dengan Papamu. Jangan risaukan Nawa maupun Agna karena keduanya akan baik-baik saja. Ditambah para penjahat itu semuanya sudah dikalahkan oleh anak buah Pak Al."


Saras mengangguk tanda mengerti dengan apa yang Hugo katakan, tapi gadis itu saat ini benar-benar tidak ingin pulang sebelum ia melihat sendiri Agna membuka mata.


"Saya izin ke toilet dulu sebentar. Om tetap di sini." Saras sebenarnya tidak ingin pergi kemana-mana walaupun  sekedar ke toilet saja. Akan tetapi, gadis itu kebelet pipis membuatnya terpaksa harus pergi ke toilet.


Hugo mengangguk. "Pergilah, Om akan tetap di sini, dan kalau kamu lapar. Bisa beli makanan di ujung jalan sana. Itu sebuah kedai." Rupanya pria paruh baya itu tahu kalau saja Saras lapar. Sebab tadi ia sempat mendengar suara perut Saras yang berbunyi minta untuk segera diisi. 


"Hm, baik Om." Saras tersenyum sambil berlalu pergi.


"Kita harus menjebloskannya ke dalam penjara, biar pihak berwajib saja yang menghukumnya. Bagaimana menurut Tuan?" Bagas berharap jika saja Al mau memasukkan Sopian ke jeruji besi.


"Tidak Bagas, aku harus menghukumnya sendiri. Sudah sangat cukup dia membuat keluargaku seperti ini." Al rupanya tidak setuju dengan apa yang tadi Bagas katakan. "Dia benar-benar harus tahu siapa aku ini Bagas, supaya tidak terlalu meremehkanku seperti ini."


"Tuan, jangan hiasi hati Anda dengan dendam. Itu semua tidak baik." Meski Bagas tahu sangat sulit sekali untuk membuat Al mau menjeboskan Sopian ke dalam penjara. Tapi ia akan terus saja membujuk tuannya itu.

__ADS_1


"Jika kamu mengajakku ke sini hanya untuk membahas masalah ini, lebih baik tadi aku tidak mengikutimu." Al mendesis kesal. "Aku harus kembali karena Bundanya Agna pasti sedang menungguku." Rupanya Al membiarkan Ranum sendiri di depan rawat inap Agna.


"Tuan, tapi saya sudah menghubungi polisi. sebentar lagi mereka pasti sampai di sini." Dengan sedikit rasa takut Bagas memberitahu Al.


"Lancang kamu Bagas! Seharusnya kamu mengatakan ini dulu padaku. Jangan malah seenak jidatmu memanggil polisi tanpa persetujuan dariku." Al meninju tembok karena pria itu sekarang benar-benar marah pada Bagas. "Padahal aku sudah menyiapkan semuanya untuk menghukum Dokter jahat itu. Tapi kamu malah menghancurkan semua rencanaku ini!"


"Tuan, ini semua atas perintah Nyonya Ranum. Maka dari itu saya berani mengambil tindakan seperti ini." Bagas tertunduk setelah ia mengatakan itu. "Nyonya tidak mau kalau sampai Anda menghabisi Dokter Sopian. Sebab menurut Nyonya hanya pihak berwajib yang pantas memberikannya hukuman."


"Omong kosong, setelah begini kamu malah melibatkan Bundanya Agna. Katakan saja jika ini semua adalah rencanamu, jangan malah kamu menyalahkan wanitaku." Al menatap Bagas dengan mata yang melotot. "Bawa Sopian itu pergi dari sini, sebelum polisi datang." Al memerintahkan Bagas untuk membawa Sopian pergi.


"Mas, bisa tidak kamu jangan egois seperti ini. Aku hanya tidak mau Mas menjadi pembunuh. Jangan pernah salahkan Bagas karena ini semua memang benar atas perintahku. Bukan atas keinginan Bagas sendiri." Entah datang darimana Ranum karena wanita itu sudah berdiri saja di sebelah sang suami. "Aku tidak mau tangan Mas kotor, aku juga tidak mau memiliki suami yang menjadi pembunuh. Apa kata Agna nanti? Apa kata cucu kita juga nanti kalau dia sudah dewasa? Pasti Nawa akan menjadi bulan-bulanan, dia juga bahkan akan di bully semua orang. Apa Mas mau semua itu terjadi?"


Al terdiam mencerna kalimat sang istri. Begitu juga dengan Bagas yang ikut diam sambil mendengarkan apa yang terlontar dari mulut Ranum.


"Jangan egois Mas, jangan mengambil keputusan di saat Mas dalam keadaan sedang marah seperti ini karena semuanya bisa berujung menjadi penyesalan," ucap Ranum sambil melihat Al yang diam saja. "Anggapalah apa yang sudah terjadi ini sebagai pelajaran, sehingga kedepannya kita bisa jauh lebih hati-hati pada orang yang baru kita kenal. Jangan sampai kejadian serupa terjadi lagi."


"Kali ini saja, biarkan aku menghukumnya sendiri, Sayang. Aku mohon ...." Al terdengar memohon.


"Tidak Mas, aku tidak akan membiarkan Mas melakukan kejahatan. Jika Mas masih saja bersikukuh aku akan menjadi saksi di persidangan bahwa Mas adalah seorang penjahat, yang telah tega menghabisi nyawa orang."

__ADS_1


"Tapi Sayang ...."


"Tidak ada tapi-tapian, sekarang kita hanya perlu menunggu polisi datang."


__ADS_2