
Pada saat Darius sedang mengotak atik laptop yang ada di ruangan kerja Darren. Pria itu begitu terkejut pada saat mengetahui bahwa titik lokasi GPS itu ada di rumah sakit. Tepat di tempat Sopian—ayahnya Fika bekerja.
"Jangan pernah katakan kalau saja pria paruh baya itu yang telah menculik putraku." Tatapan Darren masih tetap saja fokus menatap layar yang ada di depan Darius. Meski mulutnya terus saja mengulang-ngulang kalimatnya berulang kali.
"Bisa lihat sendiri. Jadi, kamu juga langsung bisa simpulkan tanpa merasa bingung dan ragu. Bahkan kamu tahu sendiri bahwa Ika saat ini sudah tidak bernyawa. Membuatku juga menyimpulkannya dengan cepat bahwa Dokter Sopian telah sengaja menculik Nawa hanya untuk membalas dendam kepadamu atas apa yang telah menimpa Ika, sang putri kesayangan Dokter gila itu." Darius dengan cepat sekali bisa membaca situasi serta kondisi saat ini.
"Apa benar wanita itu sudah tiada?" Agna tiba-tiba saja terdengar bertanya seperti orang linglung karena ia tidak menyangka bahwa Fika, wanita yang sangat Agna benci kini sudah tidak ada lagi di muka bumi ini.
"Yap, dia bun dir di dalam sel." Dengan entengnya Darius menjawab sebab ia merasa bahwa tidak ada yang harus ditutup-tutupi lagi dari Agna. Supaya ibunya Nawa itu berhenti memikirkan tentang Fika yang terus saja ingin menghancurkan rumah tangga Agna dengan Darren.
__ADS_1
"Terus tadi, apa benar Nawa ada di rumah sakit?" tanya Agna untuk sekedar memastikan karena belakangan ini pendengarannya sedang sedikit bermasalah.
"Sayang, lebih baik kita segera pergi saja ke rumah sakit karena aku merasa bahwa Nawa dalam bahaya." Entah feeling Darren yang seorang ayah tidak meleset atau malah sebaliknya yaitu salah. Dimana ia terlalu berlebihan mencemaskan keadaan putranya sehingga ia merasa bahwa Nawa ada dalam bahaya. "Ayo Sayang, lebih cepat lebih baik karena aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri, jika saja hal buruk terjadi kepada Nawa."
Agna terlihat mengangguk sambil menggenggam telapak tangan sang suami. Menandakan bahwa ia setuju untuk segera pergi ke rumah sakit karena feelingnya juga mengatakan bahwa Nawa tidak sedang baik-baik saja saat ini.
"Bawa saja, tapi aku mohon cepatlah. Jangan buang-buang waktu seperti ini." Darren meminta Darius untuk tidak membuang waktu di saat keadaan seperti ini. "Putraku dalam bahaya, aku takut Dokter itu akan melakukan hal yang di luar dugaan kita."
Darius langsung saja mencopot kabel yang terhubung dengan laptop yang saat ini pria itu pegang, sebab apa yang Darren katakan ada benarnya juga. Bahwa orang yang gelap mata bisa saja melakukan hal yang bukan-bukan.
__ADS_1
"Oke semuanya sudah aku atur, kita tinggal berangkat saja. Semoga Nawa tidak apa-apa di rumah sakit, kita hanya perlu berdoa saja untuk hal itu." Darius melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari ruang kerja Darren.
Namun, pada saat laki-laki itu ada di ambang pintu tiba-tiba saja ia menghentikan langkah kakinya.
"Tunggu dulu, Papi di sini akan sendiri jika kita ber tiga bergi." Darius masih sempat memikirkan keadaan Hugo yang akan sendirian di rumah utama itu.
"Pergi ke rumah sakit, biar saya yang akan menjaga Pak Hugo." Entah datang dari mana Al, yang langsung saja mengatakan kalau dirinya yang akan menjaga Hugo.
"Ayah," panggil Agna dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1