Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Sadar


__ADS_3

Setelah lima jam, pada akhirnya Agna mambuka mata dan orang pertama yang wanita itu cari adalah sang suami karena wanita itu ingin meminta maaf pada Darren lagi tentang apa yang menimpa dirinya saat ini.


"Om suami," panggil Agna dengan bibir pucat yang kini terlihat sedikit mengelupas.


Alea dan Ranum yang saat ini sedang berjaga disana langsung saja mendekat ke arah bed Agna karena mereka merasa lega melihat Agna yang sudah sadar.


"Agna, sayang." Alea dengan cepat duduk di bangku dan mambiarkan Ranum untuk duduk di atas bed tepat di sampaing Agna.


"Mi, Bun, mana Om suami?" Lagi-lagi Agna terdengar menanyakan keberadaan Darren.


Detik berikutnya Alea dan Agna saling pandang, entah apa yang saat ini kedua wanita paruh baya itu sembunyikan dari Agna.

__ADS_1


"Hm ... Darren, Darren ...." Alea tidak tahu harus menjawab apa karena jika ia memberitahu Agna kalau Darren sedang pergi ke pemakanan Alea takut jika nanti Agna akan mengamuk mengingat perut wanita itu habis di operasi.


"Darren tadi minta izin untuk pulang sebentar katanya, suami kamu itu mau ganti baju." Ranum berusaha menutupi rasa gugup pada saat dirinya mengatakan kebohongan pada putrinya. "Darren pasti sebentar lagi kesini karena dia juga dari tadi nungguin kamu membuka mata," sambung Ranum yang saat ini memegang pergelangan tangan Agna.


"Nah, apa yang di katakan Bunda kamu benar Agna, kalau Darren pulang hanya untuk mengganti bajunya, dan kebetulan tadi kamu belum bangun membuat dirinya merasa harus pulang sebentar." Alea ikut menimpali supaya Agna benar-benar percaya. "Sekarang Agna mau makan apa?" Alea berusaha mengalihkan pembicarannya untuk saat ini.


"Bayiku Annya mana?" Tiba-tiba saja terdengar Agna sekarang menanyakan tentang bayinya.


"Bayiku Bun, Aruna Annya Nazeela. Om suami yang memberikan nama itu," jawab Agna dengan mata yang kini mulai berkaca-kaca karena wanita itu tahu bahwa bayinya yang sudah tidak bernyawa itu pasti sudah di makankan. Bukan cuma itu Agna juga tahu jika saja anaknya yang meninggal itu berjenis kelamin perempuan karena sebelum melakukan operasi dokter Jesika sudah memberitahunya. "Mi, Bun, kenapa kalian tega tidak membiarkanku melihatnya dulu sebelum di makamkan? Padahal aku ingin memeluk bayi yang aku kandung itu meskipun hanya enam bulan saja." Kini air mata wanita hamil itu malah tidak bisa di bendung lagi. Mengingat selama ini dirinya selalu saja menjaga bayi kemar yang ada di dalam rahimnya supaya kedua bayinya itu sehat-sehat sampai hari H itu tiba.


Namun, Sang pemilik alam semesta rupanya memiliki rencana lain. Dimana bayi Agna di ambil sebelum bayi itu bisa mengghirup udara bebas serta melihat dunia.

__ADS_1


"Agna, biarkan bayimu tenang sayang. Jangan malah mau melihatnya kalau kamu hanya ingin menumpahkan air matamu saja. Lagipula Annya adalah penghuni surga kelak dia yang akan membawamu dan Darren ikut ke surga bersamanya." Alea tidak henti-hentinya menenangkan menantu kesayangannya. Meskipun dada wanita paruh baya itu juga merasa sesak karena dulu dirinya pernah kehilangan anak kedua yaitu adik dari Darren. Dimana dulu Alea kehilangan anak keduanya karena dirinya terpeleset di kamar mandi. Sehingga kedua rahim Alea menjadi rusak membuatnya tidak bisa hamil lagi yang artinya hanya Darren putra semata wayangnya serta ahli warisnya.


"Untuk terakhir kalinya, aku janji aku tidak akan menumpahkan air mataku. Bun, Mi, ayo antar aku ... aku ini hanya ingin melihat bayiku saja untuk yang terakhir kalinya aku mohon ...." Agna terus saja memohon supaya dirinya di izinkan untuk melihat bayinya.


"Jeng, bagaimana?" tanya Ranum pada Alea.


"Saya tanya dulu sama Dokter Jesika, dan buat Jeng Ranum. Tolong hubungi Pak Al untuk menyuruhnya menunggu kita," jawab Alea sebelum wanita paruh baya itu beranjak dari duduknya dan segera keluar dari dalam ruangan itu. Tepat pada saat ia melihat Ranum mengangguk.


...----------------...


Mohon maaf, author up tipis2 dulu😁 buat yang masih nungguin Agna sama om suami terima kasih😍

__ADS_1


__ADS_2