Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Pingsan


__ADS_3

Agna sangat kesal di saat Darren benar-benar menunjuknya untuk menjadi salah satu siswa yang akan membantu laki-laki itu untuk melakukan kegiatan praktek di hari ini. Sehingga membuat gadis bar-bar itu merasa jika Darren benar-benar menaruh dendam padanya.


"Agna, bisa tolong jelaskan pada teman-temanmu yang lain tentang bagian-bagian mana saja yang harus di bius ketika akan melakukan proses pembed4han," ucap Darren yang sebenarnya saat ini sedang mengetes gadis itu apakah Agna tadi memerhatikan dirinya atau tidak.


"Pak, maaf saya belum mengerti dengan apa yang tadi Bapak jelaskan. Sehingga saya merasa sangat kesulitan untuk menjelaskan apa yang Bapak minta." Dengan entengnya Agna malah membalas kalimat Darren seperti itu. Ia juga sama sekali tidak terlihat takut dengan apa sorot mata tatapan tajam laki-laki itu. "Sekali lagi saya minta maaf Pak, dan jika Bapak tidak keberatan maka saya minta Bapak bisa menyuruh yang lain untuk menjelaskan semuanya karena saya benar-benar tidak bisa."


Darren menatap Agna sambil berkata, "Saya menyuruh kamu, itu artinya saya sangat percaya sepenuhnya padamu. Jadi, jelaskan yang mana saja yang kamu tahu, Agna." Darren sama sekali tidak mempedulikan mulut Agna yang sudah maju beberapa sentimeter saking kesalnya dengan dirinya. "Ayo Agna jelaskan karena waktu kita sangat ternbatas, sangat disayangkan sekali jika kamu malah membuang-buang waktu hanya untuk diam saja. Kasihan temanmu yang lain, yang mungkin saja sangat membutuhkan penjelasan darimu tentang masalah ini."


"Kenapa tidak Bapak saja yang menjelaskannya sekali lagi?" tanya Agna yang malah balik memelototi Darren. "Jangan minta saya karena saya ini tidak tahu, sebab saya hanya siswa bukan seorang Dosen seperti Bapak! Dan jika saya tahu semua maka saya tidak akan menjadi siswa karena saya lakan ebih memilih menjadi seorang Dosen seperti Bapak!" Dengan beraninya Agna malah mengatakan itu. Sehingga membuat semua teman-temannya yang ada di dalam kelas itu tercengang.


"Nilai D untukmu, dan silahkan kamu keluar dari dalam kelas ini." Darren dengan tatapan dingin mengatakan itu pada Agna. "Karena saya tidak membutuhkan siswa songong sepertimu."


Agna menghentakkan kakinya karena gadis itu tahu saat ini ia dalam bahaya, sebab jika ada siswa yang mendapat nilai D maka dapat di pastikan siswa itu akan kesulitan untuk menyelesaikan sidang skripsi.


"Silahkan kamu bisa keluar dari sini karena saya tidak pernah suka dengan siswa pembangkang sepertimu, pintu ruangan ini juga masih berada di posisi yang sama tidak bergeser ataupun berubah." Darren menunjuk pintu dengan polpoin yang laki-laki itu pagang saat ini.


"Baiklah, saya akan kelaur dari sini dan saya harap Bapak bisa menjelaskan materi yang tadi pada teman-teman saya dengan benar." Agna rupanya memilih untuk pergi saja daripada gadis itu hanya akan di jadikan bahan tontonan didepan para siswa-siswa yang lain.


Darren sama sekali tidak menanggapi Agna karena saat ini laki-laki itu terlihat menunjuk salah satu siswa lagi.


"Kamu Iren, silahkan jelaskan di depan jagan sampai kamu mendapat nilai D seperti gadis bar-bar yang isi otaknya sangat nol besar." Darren secara terang-terangan malah mengatan itu pada istrinya. "Buat kalian semua, jika tidak ingin hal seperti ini terjadi maka saya minta, kalian semua jangan main-main dan tetap fokus mendengarkan setiap apa yang saya jelaskan. Supaya kalau saya minta kalian maju ke dapan untuk menjelaskan kalian tidak menjawab seperti gadis yang tidak pernah mau di atur ini."

__ADS_1


Agna yang tadi sedang mengambil tasnya, tiba-tiba saja gadis itu malah berdiri di atas meja salah satu temannya. "Bapak yang salah!" seru Agna menunjuk Darren. "Disaat anak-anak lain libur, tapi kami yang mengambil jusuran kedokteran malah Bapak paksa masuk, dimana otak Bapak, hah?!" Dengan berapi-api Agna malah mengatakan itu. "Kami semua juga mau libur, biar otak kita ini tidak melulu memikirkan pelajaran setiap hari. Tapi Bapak malah egois hanya mementingkan diri Bapak sendi–"


"Heh, kalau kamu mau libur, libur saja sendiri," potong Sindi salah satu gadis yang sangat mengidolakan Darren. "Kami semua disini mau belajar bukan seperti kamu yang malah modal ngeb*cot!" Sindi menatap Agna sinis. "Kamu lebih baik keluar saja karena kami mau mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari Pak Darren, seorang Dosen muda yang mungkin saja memiliki banyak sekali ilmu yang akan beliau berikan pada kami yang ada disini."


"Cunguk! Diam kau ya, aku tidak ada urusannya dengan gadis kecentilan dan suka cari muka sepertimu." Agna sekarang malah menunjuk Sindi. "Disini aku hanya mengeluarkan unek-unek saja. Jadi, kau tidak berhak mengatakan apapun itu. Jika kau tidak suka jangan malah ngeb*cot juga di kelas ini. Kalau berani di luar hadapi gadis bar-bar ini, apa jangan-jangan kau juga mau menjadi pahlawan kesiangan?" Agna benar-benar dibuat semakin kesal oleh Sindi.


"Si pembuat onar!" teriak salah satu teman Sindi yang bernama Ratih. "Kita seret dia keluar karena gara-gara dia kita jadi membuang-buang waktu kita yang sangat berharga ini." Ratih yang membawa bola basket malah mengangkat bola itu dan melemparnya ke arah Agna. "Nih, buat gadis songong!" Tanpa aba-aba gadis itu melempar bola itu sekuat tenaga.


Buuukk!


Tepat bola itu malah mengenai kepala Agna, hingga pada detik berikutnya pengelihatan gadis bar-bar itu malah nenjadi buram.


"S*alan!" umpat Agna sebelum gadis itu jatuh dari atas meja karena pengelihatannya kini malah berubah menjadi gelap gulita.


"Agna ...!" Darren berlari sekuat tenaga. Sehingga membuat manekin yang digunakan untuk praktek tadi malah jatuh ke lantai membuat manekin itu rusak. Sebab Darren tadi sempat menyanggolnya.


***


Darren mengambil minyak kayu putih yang tadi sempat ia ambil di ruangannya dan saat ini sangat terlihat jelas raut wajah laki-laki itu begitu khawatir.


"Gadis ini terlalu bar-bar, sehingga membuatnya menjadi begini." Darren bergumam di dalam benaknya sambil terlihat mengolesi sedikit minyak kayu putih itu pada hidung Agna supaya gadis itu cepat sadar.

__ADS_1


Darrel juga terlihat mengolesi salep pereda nyeri pada benjolan yang ada di kening gadis itu. Rupanya kening gadis itu benjol gara-gara bola basket yang dilempar oleh salah satu siswa di kelas tadi.


"Pak, biarkan saya saja yang menjaga Agna," ucap Lian yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan tempat Agna saat ini masih saja betah memejamkan mata.


Darren kemudian menoleh saat mendengar suara Lian. "Tidak usah Lian, kamu kembali saja ke kelas karena saya akan kesana sebentar lagi." Darren mengatakan itu karena ia tidak akan mungkin membiarkan Lian berduaan bersama istrinya, disaat Agna sedang tidak sadarkan diri sebab ia takut Lian akan macam-macam pada gadis itu.


"Tapi Pak, anak-anak yang lain sedang menunggu Bapak." Lian mengatakan itu sambil menunduk.


Darren menghela nafas sambil beralih menatap Agna yang sekarang mulai terlihat mengerjapkan mata.


"Agna sepertinya sudah sadar, kamu kembali saja ke kelas." Darren rupanya tetap bersikukuh dengan pendirianya yang tidak mau memberikan Lian di sana. "Kembali saja, jangan khawatirkan Agna karena dia sudah menjadi tanggung jawab saya."


Lian pada akhirnya memutuskan untuk pergi saja karena ia juga tidak mau jika Darren nanti malah akan memarahinya, jika masih saja teguh dengan pendiriannya yang mau menemani Agna di sana.


"Baiklah Pak, kalau begitu saya permisi dulu dan jika Bapak butuh sesuatu panggil saja saya." Setelah mengatakan itu Lian langsung pergi dari sana.


Namun, pada saat Lian pergi Agna langsung saja membuka suara.


"Akhh, keningku sakit sekali," guam Agna lirih ketika gadis itu terlihat malah meraba keningnya.


"Agna, kau tidak apa-apa 'kan?"

__ADS_1


Agna rasanya mau menyemprot Darren karena bisa-bisanya laki-laki itu malah menanyakan tentang keadaannya disaat keningnya saat ini benjol.


__ADS_2