Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Berhenti Berdetak


__ADS_3

"Jadi, hanya kamu yang tahu tentang penyakit Mami." Darren mendahului sang ayah untuk mengatakan itu. Setelah tadi Agna selesai menceritakan semuanya pada Darren maupun Hugo.


Agna mengangguk lemah. Lalu ia menatap Hugo yang juga menatap dirinya "Maafkan aku Pi, aku melakukan ini atas permintaan Mami. Sehingga aku merahasiakan semuanya." Agna tidak bisa menahan air matanya saking dirinya terus saja memikirkan Alea. "Aku minta Maaf, Pi." Suara Agna serak.


Hugo diam saja karena pria paruh baya itu sedikit merasa kecewa dengan Agna yang merahasiakan penyakit Alea sampai detik ini.


"Kamu tidak salah sayang, yang salah aku sebagai putra Mami yang tidak pernah menyelidiki tentang ini semua. Padahal aku sering kali menemui Mami menebus obat di apotik kala itu." Darren mengusap wajahnya dengan kasar tidak lama ia mengingat waktu dirinya bertemu dengan Alea di rumah sakit.


"Lho, Mami kok datang ke sini nggak bilang-bilang sama aku?" tanya Darren sambil melihat kresek obat yang dipegang oleh sang ibu.


"Darren." Alea begitu terkejut, tapi wanita itu dengan cepat merubah ekspresi wajahnya supaya putranya itu tidak curiga pada dirinya.


"Iya, ini aku, Mi. Aku tanya Mami tadi. Ayo di jawab." Kepala Darren terlihat celingak-celinguk demi bisa melihat obat di dalam kresek itu. "Obat penyakit jantung, siapa yang sakit, Mi?" Kini Darren terdengar malah menanyakan tentang obat yang ada di dalam kresek yang Alea pegang.

__ADS_1


"Hm, anu Ren, tadi teman Mami yang nitip karena Mami bilang Mau ke rumah sakit makanya dia suruh Mami saja untuk mengambil obatnya." Meski merasa gugup Alea mencoba untuk tetap terlihat tenang. 


Darren mengangguk-ngangguk kecil, pertanda bahwa laki-laki itu percaya dengan jawaban Alea. "Ya sudah, Darren harus segera masuk ke dalam ruang operasi, kalau Mami mau tunggu aku. Tunggu saja di dalam ruanganku, nanti kita di sana lanjut ngobrol-ngobrol lagi. Kalau sekarang waktunya sudah sangat mepet."


Alea menggeleng. "Mami pulang saja, kasihan teman Mami itu mungkin saat ini dia sedang menunggu obatnya." Senyum yang selalu terukir di bibir Alea membuat Darren tidak memikirkan hal yang tidak-tidak. "Cepetan gih, pergi sana ke ruang operasi, dan nanti kalau kamu ada waktu luang bawa Agna ke rumah utama karena Mami sudah merasa rindu dengan menantu Mami itu."


"Iya Mi, Mami sudah mengirim pesan singkat ke nomor ponselku tadi pagi dengan kalimat yang sama. Masa iya harus di ulangi lagi," celetuk Darren.


Darren yang melihat Alea perlahan menjauh dari pandangannya kini laki-laki itu juga berbalik setelah ia memastikan Alea menghilang di balik tembok.


"Semoga saja teman Mami itu cepat sembuh," gumam Darren yang berjalan ke arah ruang operasi.


"Jantung Mami berhenti berdetak."

__ADS_1


Tiba-tiba saja suara Hugo membuat Darren tersadar dari lamunannya.


"Berhenti berdetak? Itu artinya … tidak, tidak. Mami tidak boleh meninggalkan kita semua." Agna langsung saja menangis histeris.


Sedangkan Darren melotot ke arah Hugo yang masih saja berdiri di ambang pintu ruang rawat inap Alea. Rupanya Hugo tadi sempat masuk ke dalam ruangan itu hanya untuk melihat keadaan Alea.


Namun, apa yang ia lihat di layar monitor membuat pria paruh baya itu merasa bahwa jiwanya sudah pergi bersama dengan detak jantung sang istri.


"Katakan, Papi hanya bercanda. Ayo katakan!" Darren juga terdengar histeris karena wanita yang sangat berharga di dalam hidupnya selama ini dikabarkan malah jantungnya berhenti berdetak.


"Mami, sudah pergi meninggalkan kita." Hugo tertunduk lemas.


Darren bergegas masuk ke dalam ruangan Alea, sedangkan Agna yang tidak sanggup mendengar kabar ini malah jatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2