
"Darren," panggil Alea pada saat wanita paruh baya itu melihat sang putra yang saat ini sedang berlari sambil menggendong Agna.
Alea juga terlihat sempat mematung karena ia tidak percaya dengan apa yang saat ini wanita paruh baya itu lihat.
"Mami, bukan waktunya untuk membahas apapun lagi. Sekarang aku harus membawa Agna ke ruang persalinan karena dia mau melahirkan!" seru Darren yang sekarang terlihat semakin mempercepat langkah kakinya untuk berlari. "Mami, ikut aku!" sambung Darren setengah berteriak karena ia tahu bahwa saat ini sang ibu pasti tidak percaya melihat dirinya yang sudah sembuh.
Alea yang mendengar itu langsung saja berlari juga, sehingga membuat wanita paruh baya itu lupa jika saja dirinya harus menebus obat untuk Hugo di apotik karena suaminya itu sudah satu minggu belakangan ini mengalami demam.
"Ren, benarkah itu kamu 'Nak?" Alea terdengar bertanya sambil terus saja berlari.
Sedangkan Darren yang semakin panik tidak sempat menjawab pertanyaan sang ibu, dimana saat ini laki-laki itu terus saja mengajak Agna untuk berbicara karena ia takut kalau sampai mata Agna yang sayu malah akan terpejam. Membuat Darren berusaha untuk terus saja membuat wanita yang akan melahirkan itu terjaga.
__ADS_1
"Sayang, bertahanlah." Darren meniup mata Agna beberapa kali. "Bertahanlah demi anak kita, aku mohon ...."
"Jangan tinggalkan aku lagi." Lirih Agna dengan kelopak mata yang semakin terasa sangat berat. "Jangan tinggalkan aku Om suami."
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, maka dari itu tolong jangan pernah pejamkan matamu karena kalau kamu memejamkan matamu. Kamu ini tidak akan bisa melihat calon anak kita, calon buah hati kita, Sayang." Meski nafas Darren ngos-ngosan laki-laki itu terdengar terus saja berbicara dengan Agna. "Dengarkan aku, jika kamu mau calon anak kita sehat dan selamat, maka kamu hanya perlu melakukan suatu hal yaitu tetaplah terjaga."
Agna mengangguk. "Perutku terasa sangat sakit sekali, aku takut jika hal yang tidak kita inginkan terjadi." Kini bayangan bayinya yang dulu meninggal di dalam kandungannya malah membuat Agna sangat takut. Saking takutnya Agna malah meremas kemeja Darren sehingga kancing kemeja laki-laki itu lepas.
***
Di sisi lain, Al terlihat mengamuk di Universitas tempat putrinya menimba ilmu. Iya, rupanya laki-laki itu datang kesana ketika Saras memberitahu Bagas, dan Bagas malah memberitahu Al tentang semua kejadian yang menimpa Agna sehingga membuat Al rela meninggalkan pekerjaannya hanya untuk melihat wajah-wajah yang telah menjadikan putrinya bahan tontonan gratis di Universitas yang sangat terkenal itu.
__ADS_1
"Apa kalian semua tidak tahu bahwa Agna itu adalah putri saya?!" bentak Al pada saat laki-laki itu bertanya pada rektor, wakil rektor bahkan dekan dan dosen. "Selama ini saya selalu saja menyumbang ke sini dengan dana yang tidak sedikit, tapi kalian malah memperlakukan putri saya seperti ini!" Rahang Al terlihat mengeras.
"Saya tidak ada niat untuk mengungkit masalah ini, tapi karena kalian sudah memperlakukan putri saya layaknya manusia paling hina maka saya dengan terpaksa akan mengungkitnya bahkan saya juga akan menyatakan mulai hari, jam dan detik ini bahwa saya ini tidak akan pernah lagi menjadi Donatur di Universitas ini!"
Saking kesalnya Al sampai mendobrak meja sehingga membuat yang ada di dalam ruangan itu menjadi terkejut. Memang selama ini Al adalah laki-laki yang sering memberikan sumbangan pada Universitas itu dengan sejumlah uang yang tidak sedikit. Sehingga membuatnya sampai bisa mengatakan itu pada rektor yang rupanya juga ada di sana.
"Kalian semua sepertinya sudah tidak memiliki hati nurani, sehingga memperlakukan putri saya yang sedang hamil seperti itu. Sungguh kalian semua jauh lebih hina!" Al sekarang melempat vas bungga ke tembok sehingga suara pecahan vas itu terdengar sangat nyaring.
"Kalian biadab! Jika sesuatu hal terjadi pada Agna dan calon cucu saya. Maka Universitas ini dapat saya pastikan kalau isinya bukan manusia lagi melainkan mahluk tak kesat mata." Kini Al menatap orang-orang yang ada di sana satu persatu meskipun orang-orang tersebut malah terlihat menunduk. Entahlah saat ini mereka benar-benar merasa takut dengan Al atau hanya sekedar berpura-pura saja.
"Tuan, cucu Anda sudah lahir," kata Bagas yang tiba-tiba saja berbisik di telinga Al karena ia mendapat kabar dari Ranum melalui pesan singkat yang segaja wanita itu kirim ke nomor ponsel Bagas.
__ADS_1