
Pagi menjelang Darren terlihat sudah rapi dengan setelan baju yang seperti biasa laki-laki itu kenakan untuk pergi mengajar karena dirinya adalah dosen. Jadi, laki-laki itu harus terlihat selalu rapi serta wangi sebab itu salah satu ciri khas Darren, laki-laki yang juga adalah dokter itu.
Darren juga tadi malam tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena ia terus saja memikirkan bagimana keadaan Agna saat ini sebab Darius rupanya tidak bisa membantunya untuk kali ini. Dikarenakan temannya itu juga sedang sangat sibuk mengingat Darius bekerja dibidang IT. Sehingga Darren merasa bahwa dirinya sendiri yang harus mencari Agna.
"Apa Agna tidak tahu kalau aku belakangan ini sangat sibuk? Sehingga anak itu malah kabur dari rumahku ini bersama laki-laki itu." Darren mengatakan itu sambil menggigit sepotong roti bakar yang tadi sempat ia buat sendiri hanya untuk mengganjal perutnya saja, yang tadi malam tidak pernah ia isi hanya gara-gara memikirkan istrinya itu.
"Agna, aku ini Dosen sekaligus Dokter. Jadi, aku tidak tahu harus membagi waktuku untuk mencarimu yang pergi entah kemana bersama pacarmu itu." Darren berbicara pada dirinya sendiri, karena memang benar bahwa dirinya belakangan ini sangatlah sibuk. Mengingat sebentar lagi anak-anak didiknya akan sidang skripsi ditambah pasien yang harus laki-laki itu operasi semakin hari kian banyak saja.
"Jika bisa aku membelah diri maka, aku akan membelah diriku ini," gumam Darren sambil terus saja mengunyah roti yang seharusnya laki-laki itu nikmati di pagi ini.
Namun, hanya gara-gara ia terus saja memikirkan Agna dan pekerjaan membuat Darren sama sekali merasa memakan roti bakar itu terasa hambar.
"Aku pikir setelah menikah masalah tidak akan menghampiriku lagi, tapi apa kini masalah itu seolah-olah menjadi temanku. Bukan karena aku mengeluh tapi ... aku merasa jika kehidupanku sekarang jauh lebih rumit dari sebelumnya," ucap Darren yang kini malah kembali menggigit roti itu.
"Pagi sampai siang aku harus tetap mengajar, sore sampai malam aku ada dirumah sakit. Lalu bagaimana bisa aku akan membagi waktuku untuk mencari bocah yang masih labil itu." Darren menggeleng-gelengkan kepalanya, karena jujur saja Darren tidak tahu harus memilih untuk mencari Agna atau mementingkan pekerjaan.
"Jika aku mencari Agna maka dapat dipastikan aku akan dimarahi oleh atasanku, karena aku ini dianggap tidak profesional." Darren meletakkan roti bakar kesukaannya, ketika ia mengingat ekspresi wajah Agna yang memarahinya tadi malam.
"Aku harus berangkat secepatnya, karena mungkin saja Agna juga masuk kuliah pagi ini, mengingat tadi malam aku sudah memberitahunya kalau di pagi ini akan ada ujian mendadak." Sesaat setelah mengatakan itu Darren beranjak dari duduknya, dan segera menyambar kunci mobil yang ada di atas meja. "Semoga dia masuk kuliah, jangan ada drama dia meliburkan dirinya sendiri mengingat Agna tidak seperti anak didikku yang lain," sambung Darren sambil melangkahkan kakinya untuk pergi kuliah.
***
Saras terlihat terus saja celingak-celinguk mencari Agna, karena temannya itu tidak biasanya sampai sekarang belum datang juga.
"Apa jangan-jangan dia hari ini tidak masuk? Atau akan datang terlambat?" Saras masih saja terlihat celingak-celinguk.
"Wah, jika begini maka dapat disimpulkan sendiri bahwa Agna tidak akan masuk kuliah, karena aku melihat mobil Pak Darren sudah terparkir di parkiran. Tapi Agna sama sekali belum juga kelihatan batang hidungnya. Fix pokoknya anak itu benar-benar tidak masuk kuliah, karena sejak dia menikah dengan Pak Darren, Agna malah semakin merasa tidak takut. Apa jangan-jangan itu karena suaminya seorang Dosen? Jadi, dia seenak jidat mau masuk atau tidak bahkan bolos jika suasana hatinya sedang tidak ingin belajar." Saras beribaca panjang kali lebar pada dirinya sendiri, sebelum tiga tepukan pelan di pundaknya mendarat dengan sempurna.
Membuat Saras pada saat itu juga langsung saja berbalik, demi melihat siapa yang berani menepuk pundaknya. Namun, pada saat gadis itu sudah berbalik ia begitu terkejut saat melihat Darren yang sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Eh, Pak Darren ada apa, Pak?" Jujur saja Saras merasa malu jika dirinya bertemu dengan Darren. Apalagi saat dirinya mengingat suara Agna dan dosennya itu pada malam yang hampir saja membuat kesuciannya direnggut.
__ADS_1
"Ish, kenapa aku yang harus merasa malu? Kenapa bukan Pak Darren saja? Sebeb dia yang sudah melakukan itu semua." Saras malah bertanya di dalam benaknya.
"Apa kamu tahu dimana rumah Dave?" tanya Darren tiba-tiba. Sehingga membuat Saras langsung saja terlihat menggeleng kuat. "Apa benar kamu tidak tahu?" Darren bertanya sekali lagi.
"Benar Pak, saya tidak tahu. Memangnya ada apa Bapak mencarinya?" Raut wajah Saras langsung saja berubah karena ia pikir kalau Darren sudah tahu jika Agna dan Dave adalah pasangan kekasih.
"Ah, tidak ada Saras. Saya hanya ingin tahu dimana rumahnya," jawab Darren yang tidak mungkin akan mengatakan kalau Dave membawa Agna tadi malam, mengingat beberapa anak didiknya terus saja lewat di dekatnya. Sehingga membuat laki-laki itu tidak bisa leluasa berbicara dengan Saras. "Ya sudah, jika kamu tidak tahu maka Bapak akan bertanya pada temanmu yang lain," kata Darren sebelum laki-laki itu pergi meninggalkan Saras.
"Wah, aku rasa ada sesuatu yang terjadi," gumam Saras yang terlihat mengambil benda pipihnya, karena ia ingin menghubungi bestie nya itu.
Namun, nomor Agna malah tidak aktif sehingga membuat Saras merasa jika sesuatu hal yang buruk sudah terjadi pada Agna.
"Tidak bisa dibiarkan, aku harus mencari tahu apa yang telah terjadi. Tadi kenapa juga aku sampai lupa menanyakan tentang Agna pada Pak Darren." Saras lalu melihat punggung Darren yang sekarang semakin menjauh.
***
Sedangkan di apartemen Dave, Agna terlihat sedang sarapan bersama. Kedua insan itu terlihat saling melempar senyum simpul. Setelah tadi malam mereka saling curhat satu sama lain.
"Lho kenapa?" tanya Dave.
"Aku tidak memiliki baju, bukankah kamu lihat sendiri kalau aku ini meminjam bajumu saat ini." Agna menunjuk baju yang wanita itu kenakan saat ini. "Jadi, kamu tahu kenapa hari ini aku memilih tidak masuk kuliah, bukan karena aku pemalas melainkan tidak ada baju ganti." Agna menaik turunkan kedua alisnya. Mood wanita itu memang cepat sekali berubah-ubah. Tadi malam ia menangis sampai matanya sembab. Tapi sekarang lihatlah Agna sudah tersenyum manis. Sehingga membuat Dave merasa gemas sendiri saat ini.
"Kita bisa beli baju di toko terdekat, ayo kita berangkat saja." Dave memegang pergelangan tangan Agna. "Ayo nanti kita bisa terlambat."
Agna tetap saja menggeleng. "Tidak Dave, aku tidak mau kuliah." Agna melepaskan tangan Dave dari pergelangan tangannya. "Jika kamu ingin kuliah berangkat saja sendiri, karena aku memang benar-benar tidak mau kuliah," sambung wanita itu.
"Ya sudah, jika kamu tidak kuliah maka aku juga tidak akan pergi," kata Dave tiba-tiba.
"Tidak Dave, aku tidak setuju nanti kedua orang tuamu marah. Mengingat hari ini kita ada ujian mendadak," ujar Agna yang malah keceplosan karena ia mengingat kalimat Darren yang tadi malam.
"Ujian mendadak, siapa yang memberitahumu?" tanya Dave dengan dahi yang mengkerut, karena laki-laki itu heran sebab Agna bisa tahu tentang ujian itu. Mengingat hanya para dosen saya yang mengetahui akan hal itu.
__ADS_1
Sedangkan Agna terdiam karena dirinya saat ini sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk Dave, dan tidak mungkin dirinya akan mengatakan kalau yang memberitahunya itu adalah Darren bisa-bisa Dave akan curiga dengan dirinya.
"Na, siapa yang memberitahumu?" Dave terdengar bertanya lagi pada wanita itu.
"Hm, Saras yang memberitahuku karena kebetulan papanya dengan Pak Darren berteman, sehingga dia bisa tahu tentang kita yang akan ujian," jawab Agna dengan kalimat kebohongan yang sudah kesekian kalinya. "Jadi, sana kamu pergi saja. Biarkan aku saja yang tidak masuk."
"Aku juga tidak akan masuk," timpal Dave yang tidak mau jika hanya Agna yang tidak masuk kuliah. "Lebih baik aku menemani kamu disini saja, daripada harus memikirkan jawaban yang tepat saat nanti aku jawab soal ujian."
"Dave, jangan begini ayolah." Agna menggoyang-goyangkan lengan laki-laki itu.
"Aku ulangi sekali lagi Agna, aku akan masuk kuliah jika kamu masuk." Dave mencubit pelan hidung Agna dengan gemas. "Daripada kita terus saja membicarakan masalah ini, lebih baik kita pergi ke pantai saja. Bagimana, apa kamu setuju?"
Agna yang tidak mau jika Dave mengikuti jejaknya yang sering meliburkan dirinya sendiri langsung saja menggeleng. "Kita pergi kuliah saja," kata Agna yang memutuskan bahwa dirinya harus kuliah. Meskipun sebenarnya dirinya tidak mau bertemu dengan Darren. "Ayo Dave, kita pergi saja," ajak Agna.
Dave yang merasa senang, karena ia berpikir kalau dirinya berhasil membuat Agna pergi kuliah dengan cepat mengangguk. Sebagai responnya kalau dirinya mengiyakan ajakan wanita itu saat ini.
*
Saat Agna dan Dave masuk ke dalam kelas mereka, terlihat Darren sudah membagikan kertas ujian. Sehingga membuat pasangan kekasih yang terlambat itu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum mereka masuk. Sebab mereka tidak tahu apakah Darren menguzinkan mereka masuk atau tidak.
"Permisi Pak, maaf kita berdua terlambat. Apa boleh saya dan Agna masuk?" Dave membungkuk tanda hormat pada sang dosen.
Sedangkan Darren yang melihat Agna langsung saja mengangguk sambil mengisyaratkan menyuruh dua anak didiknya itu untuk segera masuk.
"Terima kasih, Pak." Dave langsung saja memegang tangan Agna, karena kebetulan mereka duduk berdekatan meskipun di barisan yang berbeda. "Na, jalan Pak Darren sudah mengizinkan kita masuk," kata Dave setengah berbisik.
Agna hanya bisa mengangguk saja, tetapi baru saja Agna akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba suara Darren terdengar.
"Untuk Agna, tolong kamu ikut sebentar ke ruangan saya, dan kamu Dave silahkan duduk dibangkumu kerjakan soal ujian seperti teman-temanmu yang lain." Darren mengatakan itu dengan wajah datarnya.
"Si brengsek mesum ini mau apalagi dia? Apa belum puas mengambil apa yang paling berharga pada diriku ini?" gumam Agna membatin yang terlihat melepaskan tangan Dave, karena saat ini dirinya harus patuh untuk pergi ke ruangan Darren. "Kenapa juga hanya aku saja yang sering kali dia suruh ke ruangannya?" sambung Agna membatin.
__ADS_1
"Ikut saya." Darren lalu terlihat keluar dari dalam kelas itu.