Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Aruna Annya Nazeela


__ADS_3

Setelah beberapa jam berlalu pada akhirnya Darren terlihat sudah keluar dari dalam ruangan operasi, laki-laki yang duduk di kursi roda itu terlihat berwajah sendu karena tadi di dalam ia melihat sendiri bahwa bayi yang meninggal di dalam perut Agna itu berjenis kelamin perempuan, sangat mirip sekali dengan Agna bukan dengan dirinya. Meskipun usia bayi itu baru saja enam bukan tetapi Darren sudah bisa melihatnya bahwa putrinya itu benar-benar sangat mirip dengan sang istri.


"Ren." Terdengar Alea langsung saja memanggil putranya, bukan cuma itu ibunya Darren itu langsung saja menghampiri laki-laki yang menggunakan kursi roda itu. "Bagaimana, apa semuanya berjalan dengan lancar?" tanya wanita paruh baya itu dengan perasaan yang sedikit agak cemas.


"Semuanya sudah berjalan dengan sangat lancar Mi, sekarang Agna hanya tinggal di pindahkan saja ke ruangan yang lain dan kita hanya perlu menunggunya sadar," jawab Darren yang merasa sangat sedih karena telah kehilangan salah satu bayinya, tetapi di sisi lain laki-laki itu merasa senang kalau saja Agna bisa melewati masa-masa yang sangat menegangkan seperti ini.


Bukan cuma itu saja rupanya tadi denyut nadi Agna sempat melemah ketika berada di detik-detik terakhir operasi yang sedang berlangsung. Sehingga membuat detak jantung Darren hampir saja berhenti.


Namun, Darren yang tidak ingin terjadi sesuatu dengan wanita yang sangat ia cintai langsung saja membisikkan doa apa saja yang laki-laki itu tau sehingga keajaiban terjadi. Dimana denyut nadi Agna yang sempat melemah malah kembali normal seperti biasa. Membuat Darren langsung saja bisa bernafas dengan lega.


"Syukurlah." Alea yang mendengar itu malah langsung saja bersujud syukur di lantai karena apa yang wanita paruh baya itu takutkan tidak terjadi dengan menantu kesayangannya. "Terima kasih Tuhan karena Engkau telah mendengar doa kita semua yang ingin operasi Agna berjalan dengan sangat lancar tanpa ada kendala. Terima kasih ... terima kasih, sesungguhnya Engkau Maha melihat, Maha mengetahui segalanya." Air mata Alea yang baru saja kering ini kembali menetes lagi saking terharunya tentang Agna yang mampu melewati ini semua.


Sedangkan Ranum yang mendengar itu semua merasa bahwa bongkahan batu yang sempat terasa mengganjal di dalam hatinya sejak tadi kini bongkahan batu itu terasa langsung lebur begitu saja membuat wanita itu juga langsung saja bisa bernafas dengan sangat lega. Pada detik berikutnya Ranum melihat seorang suster yang sedang membawa bayi yang sudah tidak bernyawa itu lagi tepat berada di belakang Darren.


Rupanya tadi Darren meminta salah satu suster yang ada di dalam ruang operasi itu untuk membawa bayi itu supaya keluarganya bisa melihat dengan jelas bayi yang mungkin saja tidak sanggup untuk melihat ke dunia yang sangat kejam ini. Sehingga membuat bayi itu malah memilih untuk menyerah sebelum lahir.


"Sus, sini bawa cucu saya." Ranum merentangkan tangannya dengan mata yang saat ini terlihat sangat sembab.

__ADS_1


"Baik Nyonya," timpal suster itu yang langsung saja memberikan Ranum cucu perempuannya yang sangat malang itu.


Sedangkan Hugo dengan cepat membantu Alea untuk berdiri supaya wanita paruh baya itu juga bisa melihat cucu mereka.


"Mi, ayo bangun dulu," kata Hugo pada saat dirinya melihat Ranum sudah menggendong bayi berusia enam bulan di dalam kandungan itu. "Kita lihat cucu kita," sambung ayahnya Darren itu.


Alea dengan cepat bangun, ia lalu bergegas menghampiri Ranum setelah tadi dirinya dibantu berdiri oleh Hugo.


Darren hanya bisa diam saja saat menyaksikan pemandangan itu membuat hati kecilnya menjadi sedikit terluka karena dirinya merasa tidak becus dalam menjaga Agna sehingga membuat ini semua terjadi.


Sedangkan Al yang juga masih ada di sana meraba wajah bayi yang beratnya hanya 1 kilo itu dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Iya sangat mirip sekali," balas Ranum yang sekarang malah meluk bayi itu dengan sangat erat. Seolah-olah wanita paruh baya itu melihat Agna sewaktu baru saja keluar dari dalam rahimnya tepat beberapa tahun yang lalu.


"Inilah sebab mengapa bayi ini meninggalkan kita semua karena dirinya tidak mau bersaing dengan ibunya sendiri. Sebab di dalam istana harus ada satu ratu bukan dua," celetuk Ranum untuk menghibur dirinya sendiri untuk saat ini.


"Wah, Jeng Ranum benar sekali." Alea menimpali karena wanita paruh baya itu ingin menghibur dirinya juga. "Dimana cucu kita ini tidak ingin bersaing dengan Mamanya." Pada saat itu juga suara tawa yang diiringi dengan air mata mulai terlihat serta terdengar dengan sangat jelas. Sehingga membuat orang yang menyaksikan itu semua pasti akan merasa sedih.

__ADS_1


"Ini giliran Jeng Alea." Ranum memberikan bayi merah yang sudah tak bernyawa itu pada Alea, tetapi Alea yang merasa tidak akan tega menggendongnya terlihat dengan cepat menggeleng. "Lho, kenapa, Jeng?" tanya Ranum.


"Saya cukup melihatnya saja dari dalam gendongan Jeng Ranum karena saya merasa tidak akan tega menggendong cucu kita ini," jawab Alea jujur yang sekarang meraba wajah sang cucu. Setelah Al dan Hugo terlihat pergi dari sana karena entah apa yang akan dibicarakan oleh mertua serta ayah Darren itu.


"Baiklah kalau begitu kita duduk dulu, biarkan saja Pak Hugo dan suami saya pergi karena mungkin mereka ingin mengurus pemakanan untuk cucu kita yang cantik ini," ujar Ranum tersenyum getir. Dan ternyata rupanya Al dan Hugo pergi karena mereka ingin mengurus acara pemakanan. "Ren, kamu sini juga." Ranum sekarang terlihat memanggil Darren untuk mendekat. "Kira-kira nama bayi perempuan penghuni surga ini siapa?" Ranum terdengar menanyakan tentang siapa nama bayi yang malang itu pada sang menantu.


"Kebetulan aku dan Agna sudah menyiapkan nama untuk bayi kita Bun, sejak jauh-jauh hari dimana kita sudah menyiapkan dua nama, satu untuk cewek, satunya lagi untuk cowok yang kita beri nama kalau cewek, Aruna Annya Nazeela. Maaf kita tidak ingin memberikan marga dari Mami maupaun Bunda." Mata Darren berkaca-kaca pada saat laki-laki itu menjawab itu semua dengan sangat lancar meskipun dadanya sangat terasa sesak.


"Nama yang sangat cantik, dan tidak apa-apa cucu kami ini tidak memiliki marga," timpal Ranum dan Alea serempak.


"Mami sama Bunda tidak marah?" Laki-laki itu bertanya tentang apakah Ranum dan Alea tidak akan marah jika dirinya tidak memberikan marga pada anaknya karena tujuan Darren adalah supaya anaknya kelak di sama ratakan saja dengan anak yang lain ketika tumbuh besar nanti tidak akan dibeda-bedakan. Sebab Darren tahu jika saja marga itu sangat dipandang ketika nanti anaknya masuk sekolah. Sehingga akan membuat anaknya akan merasa di anak emaskan ketika tahu tentang jati diri siapa ayah serta ibu dari anak tersebut.


"Ren, kalau untuk alasan yang sudah sangat jelas. Untuk apa kami harus marah? Sebab Bunda merasa jika pilihan kamu ini sudah sangat tepat." Ranum memang merasa jika marga menentukan semuanya. Dapat dilihat dari Agna yang dulu sekolah dasar hanya mendapatkan nilai D tapi pas lulus Agna malah dengan nilai yang sangat tinggi karena putrinya itu dilihat dari marga Ezza-nya waktu itu.


"Apa yang di katakan oleh Bunda memang benar, Ren," kata Alea yang ikut menimpli. "Tidak ada marga bukan berarti tidak punya, tapi hanya saja kamu itu memiliki niat yang baik. Oleh sebab itu, kamu tidak memakai marga," sambung Alea, wanita paruh baya itu.


"Sekarang kamu jangan menayakan tentang itu lagi Ren," ucap Ranum. "Karena Bunda sudah tahu alasamu itu apa."

__ADS_1


🍂🍂


Pagi semua, maaf author up tipis-tipis dulu🙏💜💜 dan disini adakah yang mau masuk grup Ayuza? Kalau ada komen yak, biar bisa saya buat GC😉🌹


__ADS_2