
Setelah mendengar cerita Darren, Hugo dan Alea. Detik itu juga langsung saja merubah raut ekspresi wajah mereka karena kedua orang tua Darren itu begitu terlejud.
"Apa kamu sudah melaporkan ini semua pada pihak berwajib?" tanya Hugo.
"Iya Pi, aku sudah meminta tolong pada Darius untuk melaporkan semua ini kepada pihak yang berwajib," jawab Darren yang menguap beberapa kali, karena laki-laki itu saat ini sangatlah ngantuk.
"Mungkin kalau Darius, prosesnya akan lama," kata Hugo tiba-tiba. "Biar Papi saja yang akan melaporkannya," sambung pria paruh baya itu.
"Papi kamu benar Darren, biar Papi kamu saja yang mengurus semuanya." Alea yang dari tadi hanya menyimak ikut menimpali. "Sekarang kamu istirahat saja, Mami tahu pasti kamu seharian ini tenagamu sangat terkuras habis, lain di rumah sakit sama mencari Agna."
Mendengar itu Darren langsung saja mengiyakan sang ibu. "Mami benar, aku harus istirahat karena aku juga sudah merasa sangat ngantuk," kata Darren sambil menutup mulutnya. Sebab ia terus saja menguap. "Mami sama Papi kalau mau
nginep, nginep saja dan pilih kamar yang mana saja. Soalnya mataku ini sudah sangat ngantuk di tambah badanku terasa sangat sakit." Darren terlihat menggerakkan badannya kekiri dan kekanan.
"Makanya Mami suruh kamu istirahat saja, biar besok pagi badanmu kembali pulih. Sama anu ...." Alea menjeda kalimatnya, karena wanita paruh baya itu tidak enak mengatakan kalau di leher sang putra ada banyak sekali tanda me rah. Sehingga membuat Alea hanya bisa memberi kode pada Darren melalui gerakan tangan yang wanita paruh baya itu usap ke lehernya sendiri.
__ADS_1
"Mi, apaan?" Darren bertanya, karena laki-laki itu rupanya tidak mengerti dengan isyarat yang Alea berikan.
"Mami ini tinggal bilang saja, jangan lupa ngaca. Nggak usah pakai isyarat-isyarat
segala lah." Hugo lalu beranjak dari duduknya setelah mengatakan itu. "Ren, kamu jangan lupa ngaca," ucap Hugo sebelum pria paruh baya itu menuju ke kamar paling ujung. Kebetulan di rumah Darren itu ada empat kamar sehingga Hugo bisa bebas memilih kamar yang mana saja sesuka hati yang malam ini akan ditempati. Sebab ia rupanya mau menginap di rumah putranya.
"Mami sama Papi aneh." Darren juga terlihat beranjak dari duduknya, dan ingin segera menuju ke kamarnya, yang kebetulan ada di lantai dua.
Namun, pada saat Darren akan menaiki anak tangga tiba-tiba saja laki-laki itu teringat dengan Agna. Sehingga membuat langkah kakinya terhenti.
Darren yang tidak mau semuanya menjadi kacau, sehingga kedua orang tuanya akan menjadi tahu. Laki-laki itu tanpa mengucapkan sepatah kata terus saja berjalan menuju kamar sang istri.
"Cari aman dulu, hanya untuk malam ini saja," batin Darren.
***
__ADS_1
Cahaya matahari yang menerobos masuk dari celah-celah kaca jendela yang kelambunya sedikit terbuka, membuat Agna wanita yang sudah tidak perawan itu lagi terlihat menggeliat di bawah selimut tebalnya.
"Akhh …." Ringisan kecil keluar dari mulut Agna begitu saja. Ketika wanita itu merasakan tubuhnya seperti sudah melakukan olahraga yang sangat berat. Sehingga membuat Agna detik itu juga perlahan membuka mata.
"Kamarku? Siapa yang membawaku ke sini?" Agna langsung saja bertanya-tanya pada dirinya sendiri saat dirinya menyadari kalau saat ini ia sudah berada di dalam kamarnya sendiri. "Bagaimana aku bisa berada disini? Apa dia menyelamatkan aku pada malam itu?" Saat Agna masih saja terus bertanya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba saja Darren malah keluar dari dalam kamar mandi Agna hanya dengan menggunakan handuk yang dililitkan pada pinggangnya.
Agna yang baru kali ini melihat deretan roti sobek milik sang suami langsung saja kesulitan menelan salivanya, karena pikiran wanita itu malah langsung saja traveling mengingat sedikit sisa-sisa efek obat perang sang itu masih ada.
Namun, detik berikutnya Agna malah terlihat menggeleng kuat sambil menjerit. "Aaaa, tidak!" Agna menjerit sehingga membuat Darren segera berlari menghampiri sang istri. Supaya jeritan wanita itu tidak didengar oleh Hugo dan Alea.
"Jangan berisik, kedua orang tuaku ada disini," kata Darren sambil meletakkan jari telunjuknya pada bibir Agna. Darren juga menyadari kalau kamar yang wanita itu tempati tidak kedap suara.
"Tapi kenapa Bapak malah mandi kamar mandiku?" tanya Agna yang sekarang malah benar-benar terpesona oleh ketampanan Darren. Apalagi saat ini rambut laki-laki itu basah serta meneteskan sedikit air dari rambut itu, bukan cuma itu saja aroma mint dari nafas Darren sampai membuat Agna sejenak melupakan tentang dirinya yang akan memarahi Darren, karena sudah berani mandi di kamar mandinya ditambah Agna juga akan menanyakan tentang kejadian yang semalam ketika dirinya di culik oleh Lian.
"Untuk hari ini saja, saya pinjam kamar mandimu." Darren menjawab wanita yang masih saja mengagumi dirinya itu. "Ini hanya karena ada kedua orang tua saya, kalau bukan ada mereka saya juga tidak akan mau mandi disini," sambung Darren yang tidak menyadari kalau Agna saat ini menatap wajah tampannya.
__ADS_1