Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Dinyatakan Koma


__ADS_3

"Dimana Dokter kandungan yang waktu itu memeriksa Agna?" tanya Hugo pada Lestari, seorang suster yang selama ini menjadi orang kepercayaan Darren.


"Isabela, atau Naya?" Lestari malah bertanya balik pada Hugo.


"Isabela, apa dia itu Dokter kandungan?" Mata Hugo merah menyala. "Jawab, Les, jangan diam saja kamu!" Hugo yang sudah terlanjur marah membentak suster itu, sampai Lestari terlihat sampai tersentak karena kaget.


"Bukan, Tuan tapi ...." Lestari menjeda kalimatnya sebelum suster itu melanjutkannya. "Tapi Dokter Isabela juga yang memeriksa Nona Agna waktu itu," ujar Lestari menyambung kalimatnya yang tadi sempat ia jeda.


"Saya ingin Dokter kandungan yang bernama Naya datang ke hadapan saya saat ini juga. Bukan Dokter Isabela." Pria paruh baya itu menjadi mengingat nama Naya karena seingatnya dokter itu adalah teman putranya, Hugo juga sempat dulu pernah berkenalan dengan wanita yang sudah membuat rumah tangganya putranya hancur berantakan.


"Tuan, Dokter Naya mengundurkan diri dari rumah sakit ini tepat dua hari yang lalu," ucap Lestari memberitahu Hugo, saat ini suster itu juga tidak mengerti kenapa pria paruh baya itu malah mencari dokter kandungan itu. "Kalau boleh tahu, ada urusan apa Anda dengannya Tuan?"


Hugo mengusap wajahnya kasar. "Kurang ajar! Dia pasti tahu hal ini akan terjadi. Oleh sebab itu, dia malah mengundurkan diri. Pokoknya aku akan mencarinya sampai ke ujung duniapun!" geram Hugo yang malah mengabaikan pertanyaan Lestari. "Dia tidak boleh hidup dengan tenang, setelah apa yang dia lakukan, Dokter keparat itu malah mau melarikan diri. Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan!" gumam pria paruh baya yang sekarang berniat ingin mencari tahu tentang Naya lebih jauh lagi.


"Tuan, kenapa Dokter Darren selalu saja absen setiap hari? Tidakkah dia berpikiran kalau di rumah sakit ini banyak sekali orang-orang yang membutuhkan tenaganya, karena jika tidak ada Dokter Darren maka suasana di dalam ruang operasi menjadi sedik–"


"Apa kamu tahu alamat Dokter kandungan itu?" Hugo dengan cepat memotong kalimat Lestari dengan kalimat pertanyaan, yang pria paruh baya itu lontarkan. "Les, apa kamu tahu alamatnya dimana? Kalau kamu tahu tolong bagi saya alamatnya, karena saya ada urusan yang sangat penting sekali dengannya."


Lestari menggeleng, menandakan bahwa suster itu tidak memiliki alamat rumah Naya, sebab ia selama ini tidak pernah terlalu dekat dengan dokter kandungan itu selain dengan Darren dan beberapa dokter bedah lainnya.


"Saya benar-benar tidak tahu Tuan, kalau Anda benar-benar ada urusan. Tuan boleh menanyakan alamatnya langsung pada beberapa teman Dokter kandungannya, karena pasti mereka akan tahu alamat rumah Dokter Naya," ujar Lestari yang menjadi sedikit takut dengan tatapan tajam Hugo.

__ADS_1


"Baik, dan terima kasih." Hugo lalu terlihat pergi begitu saja, karena saat ini ia harus benar-benar tahu di mana tempat tinggal Naya–dokter kandungan yang saat ini di matanya adalah wanita licik dan pembual.


"Huh ...." Lestari terdengar menghela nafas pada saat suster itu melihat Hugo sudah mulai menjauh. Ia juga merasa heran kenapa pria paruh baya itu mencari Naya, di tambah Lestari semakin keheranan pada saat Hugo tidak mau menjawabnya tentang kenapa Darren yang tidak biasanya cuti bekerja sampai berhari-hari. Tanpa suster itu tahu kalau saja Darren saat ini sedang berjuang di dalam ruang operasi.


"Apa perlu aku selidiki, kenapa Dokter Darren tidak pernah masuk? Apa jangan-jangan Dokter Darren dan Dokter Naya kawin lari? Sehingga Dokter kandungan itu tiba-tiba saja mengundurkan diri. Oh, tidak! Jangan sampai ini semua terjadi, karena kalau itu terjadi aku bisa benar-benar menjadi gila," kata Lestari yang saat ini malah menjadi menebak-nebak sendiri.


🍂🍂


"Apa Dokter tahu dimana tempat tinggal Dokter Naya?" Sekarang Hugo terdengar bertanya pada dokter kandungan yang juga adalah teman Naya.


"Maaf, kalau boleh saya tahu ada perlu apa Tuan menanyakan tempat tinggal teman saya itu?" Jesika, dokter kandungan itu malah bertanya balik pada Hugo. "Karena kita di sini memiliki kata privasi Tuan, sehingga tidak sembarangan orang bisa tahu alamat para Dokter di rumah sakit ini," sambung dokter itu.


"Katakan saja dimana alamatnya, karena saya benar-benar ada urusan dengannya." Rahang Hugo mengeras, sebab ia semakin marah ketika Jesika mengatakan itu semua pada dirinya. "Katakan saja Dokter, jangan malah berbelit-belit seperti saat ini karena gara-gara Dokter itu …." Hugo menjeda kalimatnya sebab pria paruh baya itu tidak akan mungkin mengatakan apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Tidak apa-apa, berikan saja saya alamat rumahnya." Hugo dengan cepat menjawab Jesika.


"Ini alamat rumah Dokter Naya." Entah mengapa tiba-tiba saja Jesika malah memberikan alamat rumah Naya pada Hugo. Padahal tadi Jesika sama sekali tidak memiliki niat untuk memberikan alamat rumah itu. Akan tetapi, Setelah tadi ia sempat berpikiran kalau Hugo bukan orang jahat, dokter itu menjadi berubah pikiran.


Hugo, dengan cepat mengambil surat itu, ia lalu terlihat langsung saja pergi setelah tadi dirinya sempat berterima kasih pada Jesika, karena dokter itu mau memberikannya alamat rumah Naya.


"Orang-orang pada kenapa hari ini? Kenapa orang yang berbicara padaku hari ini berwajah masam semua?" Jesika malah bertanya seperti itu pada dirinya sendiri. Pada saat ia melihat Hugo sudah menghilang dari balik tembok.

__ADS_1


***


"Saya berhasil menemukan alamat tempat tinggalnya, tapi kata para tetangganya dia sudah pindah sejak lima hari yang lalu." Terdengar suara Hugo dari seberang telepon yang saat ini sedang memberitahu Al. "Sepertinya dia sudah benar-benar tahu bahwa kita akan mencarinya," lanjut Hugo.


"Kita bisa cari dia nanti, bahkan di lain waktu Pak Hugo, sekarang lebih baik Bapak ke rumah sakit saja, karena operasi Darren sudah berhasil dan berjalan dengan lancar. Meskipun para rekan medis yang menanganinya tidak tahu kapan Darren akan membuka mata." Dengan perasaan yang tidak karuan Al mengatakan itu pada Hugo, supaya pria paruh baya di seberang telepon itu tahu bagaimana keadaan sang putra. "Dengan kata lain Darren koma Pak Hugo, dan hanya sebuah keajaiban saja yang harus kita tunggu pada saat ini."


"Saya akan segera kesana." Hugo lalu memutuskan sambungan telepon itu secata sepihak. Bersamaan dengan itu air mata Hugo menetes pada saat putra semata wayangnya itu malah dikabarkan mengalami koma.


"Tuhan, apa salah dan dosa hamba, sehingga Engkau menguji hamba dengan cara begini? Kenapa juga harus putra hamba?" batin Hugo yang saat ini benar-benar merasa sangat menyesal karena telah berkali-kali memu kul Darren sampai babak belur. Dari sinilah Hugo tahu tentang penyesalan itu selalu saja datang di akhir.


***


Jika Al dan Hugo saat ini merasa sangat sedih. Sekarang lihatlah bagaimana Agna yang terus saja menangis histeris dimana wanita itu hanya bisa melihat Darren yang lemas terbujur kaku di balik kaca jendela saja, karena para keluarga belum diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan rawat inap laki-laki itu. Mengingat Darren baru saja dikeluarkan dari ruangan operasi.


"Bunda, ini semua salahku. Jika saja aku tidak menarik tangan Darren ini pasti tidak akan pernah terjadi." Agna terdengar terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Wanita itu juga tidak henti-hentinya berteriak memanggil nama Darren, menyuruh laki-laki itu untuk membuka mata supaya dirinya meminta maaf. "Aku memang pembawa sial! Aku pembawa sial ...!" Agna histeris dan malah menjambak rambutnya sendiri.


"Agna, tenangkan diri kamu, jangan sampai gara-gara kamu yang tidak bisa mengontrol diri malah akan berimbas pada calon bayimu." Ranum yang saat ini sedang membantu Agna untuk berdiri terus saja menenangkan putrinya. "Kamu harus ingat-ingat Sayang, bahwa saat ini kamu tengah hamil dan kamu tahu sendiri bahwa ibu hamil tidak boleh stres yang berlebihan." Ranum sekarang membantu Agna untuk duduk di kursi roda lagi, karena jika Ranum terus memberikan putrinya melihat Darren maka dapat dipastikan kalau saja mental Agna malah akan menjadi terganggu lagi. Mengingat putrinya itu baru-baru ini sembuh dari penyakit depresinya.


"Tidak! Tidak ... Bunda, aku masih mau melihat Darren. Jangan dudukkan aku lagi di kursi roda ini lagi!" Agna menggeleng kuat, karena ia benar-benar masih mau melihat Darren. "Bun, ayo bantu aku untuk berdiri lagi," kata Agna yang memang saat ini kedua kakinya terasa sangatlah lemas, karena wanita hamil itu juga belum sepenuhnya pulih.


"Kita kembali lagi ke ruangan kamu ya, nanti kalau kita sudah diperbolehkan masuk, baru Bunda akan mengajak Agna masuk ke dalam sana dan Agna akan bisa melihat Darren dengan sangat jelas jika dari dekat. Tidak seperti sekarang yang terjalang kaca jendela." Sehalus dan selembut mungkin Ranum mengatakan itu, memberikan pengertian pada putrinya.

__ADS_1


"Bun, Darren harus tahu jika saja aku ini benar-benar masih mengandung darah dagingnya. Dia harus tahu supaya matanya terbuka." Dada Agna sesak ketika wanita hamil itu mengucapkan kalimat itu, karena ia rupanya tahu kalau saja Darren dikabarkan koma setelah berhasil menjalankan operasi. "Darren harus tahu Bunda, kalau aku ini sedang hamil." Lirih Agna yang pada saat itu juga langsung saja pingsan.


__ADS_2