
Darren menatap Agna ketika gadis itu sudah menggunakan pakaian lengkap, laki-laki itu juga sama sekali tidak meminta maaf pada Agna meskipun tadi ia sempat melihat penampilan sang istri ketika sedang memakai handuk saja.
"Lain kali jangan di ulangi lagi," kata Darren yang terlihat membenarkan dasinya.
"Bapak yang lain kali jangan asal membuka mata!" ketus Agna. "Sudah tahu ini kamar saya dan Bapak menginap di sini. Jadi, Pak Darren harus bisa menjaga pandangan Bapak," sambung Agna yang masih saja menyalahkan Darren.
"Baiklah," timpal Darren yang tidak mungkin akan berdebat dengan Agna di rumah itu di pagi-pagi buta seperti saat ini, karena bagi Darren tidak pantas saja jika nanti mertuanya itu akan tahu ditambah Ranum dan Al juga pasti akan tahu tentang dirinya yang tidak pernah menyentuh Agna sedikitpun jika ia membesar-besarkan masalah yang tadi.
"Bapak memang benar-benar sangat me sum," gumam Agna pelan.
"Agna, saya tidak mau ribut di sini. Jadi, saya harap kau mengerti." Darren lalu terlihat memegang gagang pintu.
"Lagi-lagi rencanaku gagal untuk pergi holiday bersama teman-temanku, di tambah Dosen me sum ini tadi melihat sebagian tubuh mulusku, akhh! Sangat s*al sekali," gumam Agna membatin, dimana gadis itu sekarang hanya bisa pasrah jika Darren akan mengajaknya pergi kuliah.
Namun, detik berikutnya Agna tiba-tiba saja tersenyum karena saat ini di dalam otaknya gadis itu sudah menyusun rencana lain.
"Pak, kok tiba-tiba kepala saya sakit. Apa jangan-jangan ini efek Bapak yang tadi melihat tubuh saya yang hampir saja berte lanjang?" Agna terdengar malah melontarkan pertanyaan bodoh.
"Astaga, sejak kapan otak kau ini menjadi bo doh begini, Agna?" Darren yang masih saja memegang gagang pintu terlihat menggeleng-gelengkan kepala. "Sejak kapan seorang gadis ketika di lihat hanya menggunakan handuk, malah akan menjadi sakit kepala? Apa kau bisa menjelaskan semuanya?"
"Bisa saja 'kan, Pak karena saya ini masih perawan ting-ting," celetuk Agna yang tidak tahu kalau kalimatnya akan membuat Darren malah akan kembali mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. "Seharusnya Bapak mengizinkan saya libur karena telah melihat kulit punggung dan pa ha saya yang mulus," tambah Agna sambil berharap Darren memberinya izin.
Darren langsung saja membuka pintu kamar itu karena meladeni Agna yang saat ini sedang berbicara ngawur, malah membuat laki-laki itu merasa kalau istrinya itu sedang mencoba untuk mengulur waktu di saat ia hari ini harus mengajar, ditambah hari ini juga ada jadwal operasi yang akan Darren lakukan.
"Saya tunggu di dalam mobil, nanti kita sarapan di jalan saja karena tidak enak disini malah akan merepotkan Tante Ranum." Darren langsung pergi begitu saja setelah laki-laki itu mengatakan itu semua pada istrinya.
"Ish, si me sum itu rupanya benar-benar tidak mengizinkan aku libur kuliah walau sehari saja. Awas saja akan aku buat kekacauan saat praktek nanti, sebagai timbal balik aku gagal kumpul tadi malam dan pergi healing bersama teman-temanku." Agna membatin.
__ADS_1
"Ayo Agna!" seru Darren yang rupanya masih menunggu istrinya di luar kamar itu. "Jangan sampai kita terlambat."
"Saya bisa pergi kuliah sendiri, itu artinya Bapak berangkat saja duluan," sahut Agna.
"Tidak, kita akan berangkat bersama karena saya tahu, kalau kau pasti merencanakan sesuatu supaya bisa libur hari ini." Rupanya Darren menolak keras untuk pergi sendiri. "Cepat Agna, pokoknya saya tunggu kau di dalam mobil."
"Dosen s*alan!" gerutu Agna yang merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa membohongi suaminya yang sekaligus adalah dosennya.
***
Di dalam mobil, Agna diam saja karena gadis itu merasa bahwa keputusannya untuk menikah dengan Darren sangat salah besar. Sebab bukannya Agna menjadi bebas tapi gadis itu merasa bahwa ia semakin dijaga dengan ketat. Sehingga membuatnya berpikir bahwa sebaiknya ia harus berbicara pada Darren supaya dirinya dan laki-laki itu berpisah saja.
"Pak, apa sebaiknya kita bercerai saja?" Kalimat Agna membuat Darren menginjak pedal rem secara mendadak. Sehingga membuat Agna sedikit terhuyung ke depan.
"Kau jangan gila Agna, apa kata kedua orang tua kita nanti, hah?" Darren menatap gadis bar-bar yang saat ini malah membicarakan tentang perpisahan. Disaat usia pernikahan mereka baru seumuran jagung. "Apa kau tidak pernah memikirkan sebab dan akibatnya, sebelum kau memutuskan suatu hal?"
"Pantang bagi saya mengingkari janji Agna. Jadi, saya harap simpan di dalam benakmu saja tentang keinginan itu." Dengan santai Darren menimpali gadis itu.
"Bapak memang kurang ajar! Masa saya minta cerai Bapak tidak mau. Sungguh Bapak ini adalah orang terbo doh yang saya kenal," kata Agna yang secepat kilat memalingkan wajah dari Darren karena perasaannya saat ini malah semakin dongkol.
***
Sepuluh menit sebelum praktek dimulai Agna malah membuat drama, dapat dilihat gadis itu sekarang terlihat meringis seperti orang yang benar-benar sedang kesakitan.
"Pak, Agna sepertinya sakit," kata Lian yang saat ini duduk di sebelah Agna.
Darren yang sedang mempersiapkan semuanya malah menghentikan gerakan tangannya hanya untuk melihat gadis bar-bar yang sudah menjadi istrinya itu.
__ADS_1
"Lian, kamu bisa ambilkan obat sakit perut di ruangan saya. Disana ada tulisan berbagai macam obat dan kamu tinggal ambil obat yang saat ini Agna butuhkan." Darren lalu melanjutkan gerakan tangannya setelah ia mengatakan itu karena ia sangat tahu betul, kalau kelemahan seorang Agna adalah meminum obat. "Sana Lian, sebelum kita mulai ambilkan dulu Agna obat. Kasihan dia jangan sampai perutnya tambah sakit."
"Baik Pak, saya akan per–" Kalimat Lian terputus gara-gara Agna memotongnya.
"Tidak usah Lian," potong Agna cepat. "Aku merasa sakit perutku sudah sedikit berkurang."
"Tapi Na, aku takut kamu kenapa-kenapa." Lian seorang laki-laki yang juga menaruh rasa pada Agna begitu mencemaskan keadaan gadis yang saat ini sedang berpura-pura sakit perut itu.
"Aku tidak apa-apa, nanti kalau aku pingsan kamu tinggal menggendongku," kata Agna sambil tersenyum manis pada Lian.
Darren yang mendengar serta melihat Agna langsung saja mendobrak meja dengan sangat keras.
Brak …!
"Perhatian anak-anak, sebentar lagi saya akan membawakan materi. Untuk kalian yang pacaran dan saling tatap-tatapan nanti dulu dilanjutkan. Tolong semuanya fokus hadap depan jangan ada yang berisik apalagi membuat keributan di saat saya nanti sudah mulai menjelaskan beberapa poin-poin penting tentang proses pembeda han." Darren kembali pada setelan pabriknya dimana laki-laki itu selalu saja berwajah datar dengan sikapnya yang dingin. "Jika kalian tidak memperhatikan maka siap-siap out dari kelas ini karena saya tidak mau mengajar siswa yang hanya modal cengengesan tidak jelas!" Setiap kalimat yang Darren ucapkan begitu penuh dengan penekanan.
"Saya izin ke toilet dulu, Pak," kata Agna tiba-tiba, yang malah berniat ingin kabur dari sana karena gadis itu sangat yakin, kalau pasti dirinya yang akan menjadi orang pertama yang akan Darren suruh maju. Sehingga membuat Agna merasa kalau dia harus benar-benar bisa keluar dari kelas itu.
"Bisa gunakan toilet yang ada di dalam kelas ini." Darren mengatakan itu tanpa menatap Agna. "Saya sengaja menggunakan ruangan ini untuk kita semua praktek biar kalian semua tidak repot-repot keluar jika ada yang mau buang air kecil maupun besar," sambung Darren sambil membenarkan posisi sebuah manekin yang mirip persis seperti manusia yang akan digunakan untuk praktek.
"Dia memang Dosen paling menyebalkan! Yang aku kenal sejauh ini" gerutu Agna membatin.
"Silahkan, jika kamu mau pergi ke toilet karena lima menit lagi saya sudah akan membawakan materi." Darren lagi-lagi mengatakan itu tanpa menatap Agna.
"Iya Pak, saya akan pergi ke toilet." Agna lalu terlihat beranjak dari duduknya.
"Lima menit," kata Darren mengingatkan Agna.
__ADS_1
Agna mengangguk sambil melangkahkan kakinya menuju ke toilet yang ada di dalam ruangan itu. Ia juga tidak berhenti mengutuk Darren di dalam benaknya, saking kesalnya dengan sang dosen muda itu.