Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Infus


__ADS_3

"Makanya Ren, kalau tidak bisa makan makanan yang pedes jangan di makan. Supaya kejadian yang seperti ini tidak terluang lagi." Darius yang tadi panik kini terus saja berbicara pada Darren, karena laki-laki itu sangat peduli dengan om suami Agna itu sehingga membuat Darius tidak henti-hentinya menginngatkan Darren tentang jangan makan makanan yang terlalu pedas.


"Jika sudah memasangaku selang infus kamu boleh pulang, dari pada disini terus malah membuat perutku semakin mulas." Dengan mata yang terpejam Darren menimpali Darius. "Dar, kamu pokok harus pulang. Jangan lama-lama disini."


"Ren, aku ini sedang mengingatkanmu. Bukannya berterima kasih tapi kamu malah menyuruhku untuk pulang." Darius setelah memasang cairan infus, kini laki-laki itu terlihat berdiri dan segera menjauh dari ranjang Darren. "Aku sudah menulis surat, kalau di pagi ini kamu tidak bisa pergi mengajar. Bukan cuma itu saja aku mengirim surat itu juga ke rumah sakit. Biar orang-orang tahu kalau kamu kurang enak badan bukan pemalas," ucap Darius.


"Terima kasih, kamu memang sahabat terbaik," kata Darren yang tidak tahu saja dari tadi Agna terus saja berdiri seperti manekin dekat dengan tembok.


Wanita hamil itu juga terlihat terus saja memperhatikan Darren yang terbaring lemah di atas ranjang dengan selang impus yang sudah menancap dengan sangat sempurna.


"Aku yakin, kamu pasti akan demam." Darius mengatakan itu karena ia sangat tahu betul jika Darren sakit perut karena kebanyakan makan cabe pasti laki-laki itu mungkin saja akan deman juga.


"Jangan ngadi-ngadi kamu Dar, mana mungkin aku deman karena aku sudah langsung di tangani oleh seorang ahli dalam bidang IT, sekaligus ahli dalam soal infus menginfus," celetuk Darren.


Darius mengdengkus kesal pada saat laki-laki itu mendengar Darren mengatakan itu semua pada dirinya.

__ADS_1


"Baiklah, karena aku juga ingin kaya sepertimu. Jadi, sekarang aku harus pergi bekerja dulu dan semoga setelah ini kamu akan sembuh seperti sedia kala. Aku juga menunggu teraktiranmu seperti yang dulu waktu kita masih duduk di bangku SMA. Tapi untuk sekarang seperti kataku yang tadi bahwa kamu harus sembuh terlebih dulu, Ren."


"Ya, pergilah. Nanti kalau aku sembuh pasti akan mentraktirmu seperti dulu," balas Darren menimpali Darius.


"Na, titip Darren dan kamu harus ingat kalau manusia setengah Dosen setengah Dokter ini tidak bisa makan yang pedas-pedas. Nanti kalau dia deman tinggal kasih obat yang aku letakkan di atas nakas sama jangan lupa di kompres." Darius menatap Agna sebelum laki-laki itu pergi, karena saat ini laki-laki itu sedikit akan terlambat pergi bekerja gara-gara dirinya yang malah datang ke rumah Darren.


"I-iya ...." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut wanita yang sedang hamil itu. Agna juga sekarang terlihat mulai mendekat ke arah ranjang setelah ia melihat kalau Darius sudah keluar dari dalam kamar itu.


Hening beberapa saat setelah Darius pergi, dan tidak berselang lama tiba-tiba saja suara Agna terdengar memecah keheningan pada saat wanita hamil itu sudah duduk di pinggir ranjang.


Darren membuka matanya hanya untuk melihat sang istri yang saat ini sedang meminta maaf pada dirinya.


"Agna, tidak apa-apa. Ini hanya kesalahan kecil saja kamu jangan membesar-besarkannya." Darren tidak akan mungkin menyalahkan wanita yang mood-nya itu sangat mudah sekali berubah-ubah. Mengingat jika Agna sudah marah pasti tepung serba guna saja wanita itu anggap menjadi tepung serba salah.


"Tidak, ini semua salahku. Jika saja kamu bilang kalau nasi goreng itu asin dan pedas pasti aku tidak akan menyuruhmu untuk memakannya." Agna kini menggigit kecil bibirnya pada saat dirinya mengingat betapa antusiasnya dirinya ketika Darren menghabiskan sepiring nasi goreng yang membuat laki-laki itu malah menceret dan langsung di infus seperti saat ini. "Aku janji kalau lain kali aku tidak usah masak saja, jika ujung-ujungnya seperti ini. Lebih baik kita beli saja yang lebih mudah tanpa takut keracunan seperti ini."

__ADS_1


"Na, aku hanya mules, bukan keracunan kamu ini ada-ada saja." Darren sempat mengulum senyum pada saat ia mendengar Agna yang mengatakan kalau dirinya keracunan.


"Om suami 'kan, saat ini keracunan nasi goreng asin bercampur pedas. Pokoknya aku nggak mau masak lagi setelah ini aku benar-benar sangat kapok." Agna menggeleng kuat sambil mengingat dirinya yang memasukkan bayak sekali cabai pada nasi goreng yang membuat Darren malah sakit perut.


"Aku juga akan mengajarkanmu cara memasak yang baik, jika aku nanti ada waktu luang. Jadi, kamu jangan takut lagi. Tidak ada salahnya kamu melakukan kesalahan karena aku sudah sangat memaklumi itu semua." Darren, sang dosen galak yang selalu membuat Agna menjadi kesal kini wanita hamil itu bisa melihat sisi lain dari Darren. Sehingga membuat Agna terdiam karena wanita itu sedang mencerna setiap kalimat laki-laki itu.


"Sekarang ambil laptop gih, supaya kamu tidak ketinggalan mata pelajaran karena mulai sekarang kamu akan kuliah di rumah." Darren sekarang terdengar menyuruh Agna mengambil laptop.


Agna tidak beranjak sedikitpun dari duduknya, ia malah terlihat menatap Darren dengan sangat lekat.


"Aku tidak akan fokus menyimak, karena Om suamiku sakit. Lagipula hari ini adalah mata pelajaran yang akan dibawakan oleh Miss Kara, seorang guru kecentilan yang tidak pantas ataupun cocok untuk di tiru." Agna malah mengatakan itu pada Darren.


"Buang yang jelek-jelak Agna, jangan ditiru sekarang kamu hanya perlu pokus untuk mendegarkan setiap kalimat-kalimat penjelasan yang akan disampaikan oleh Miss Kara. Lagipula Miss Kara mengajar dengan cara unik sangat mudah sekali di pahami oleh para mahasiswa yang lain," ucap Darren memberitahu sang istri.


"Eleh, hanya gara-gara Miss Kara juga menaruh rasa padamu. Sekarang kamu malah berbicara panjang kali lebar seperti itu," timpal wanita hamil muda itu.

__ADS_1


__ADS_2