
Setelah Ranum pergi Darren terlihat seperti orang bodoh, bagaimana tidak laki-laki itu malah diam mematung karena ia merasa pasti Agna akan menyuruhnya tidur di sofa. Sehingga membuat Darren hanya bisa menghela nafas dan membuangnya dengan kasar.
Darren juga tidak pernah menyangka kalau Ranum sama seperti ibunya yang juga sangat sering meminta cucu padanya.
"Bapak jangan me sum, anggap saja kalimat Bunda saya yang tadi hanya angin lalu." Agna mengatakan itu karena ia tidak mau jika Darren malah akan benar-benar mau membuat dedek bayi dengannya.
"Iya," timpal Darren singkat karena laki-laki itu tahu kalau Agna pasti akan mengatakan itu.
"Bagus, oh ya, tadi kenapa Bapak tidak membuat alasan?" Agna bertanya seraya melempar Darren dengan satu bantal dan selimut.
Darren yang di tanya, langsung saja menangkap bantal itu sambil menjawab, "Alasan apa? Saya belum sempat bicara Tante Ranum sudah main tutup pintu saja."
"Alasan saja, biar Bapak bisa tidur di kamar saya dasar modus!" ketus Agna.
"Saya tidur di sofa saja tidak apa-apa, lagipula benar kata Tante Ranum kalau menyetir larut malam begini tidak baik." Darren sekarang terlihat memungut selimut. "Sudah kau tidur saja karena saya tidak akan macam-macam."
"Saya heran tadi Bapak sama Om Bagas pergi ke rumah sakit, tapi kenapa sekarang Bapak malah ada di sini?" Agna akhirnya bertanya pada Darren tentang kebingungannya saat ini.
"Kau tidak perlu tahu Agna karena itu tidak penting." Darren kemudian berjalan ke arah sofa. "Tidurlah, saya sudah tidak punya tenaga untuk berdebat denganmu." Laki-laki itu melepas kacamatanya sambil memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1
"Dasar me sum!" desis Agna sebelum gadis itu menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Darren yang sempat melihat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, karena jujur saja laki-laki itu sudah mulai ada getaran halus di hatinya saat dirinya hanya berdua begini dengan gadis bar-bar itu.
"Dia memang gadis yang berbeda daripada yang lain," gumam Darren pelan. Dan yang sebenarnya terjadi saat ini laki-laki itu merasa kalau dirinya kurang enak badan. Sehingga membuatnya memilih untuk pulang dari pada ke rumah sakit.
Namun, karena kecerobohannya kunci rumahnya malah Darren jatuhkan ke tas Agna. Menyebabkan ia harus datang larut malam begini ke rumah mertuanya demi mengambil kunci itu.
"Bapak jangan macam-macam, kalau ngantuk tidur jangan malah sibuk berbicara sendiri." Agna yang sempat mendengar kalimat Darren malah mengatakan itu. "Bapak tidur!"
Darren memilih untuk diam saja karena laki-laki itu rasa, meladeni Agna hanya akan membuat kepalanya yang sedang berdenyut nyeri malah akan bertambah sakit. Sehingga membuatnya memilih untuk mencari aman saja dengan cara dibungkam.
"Hm ...."
"Saya boleh libur 'kan, besok pagi?" Agna terlihat membuka selimutnya. Hanya untuk melihat Darren.
"Tidak boleh," jawab Darren singkat sambil mendudukkan b*kongnya di atas sofa.
"Hanya besok saja Pak, hari-hari selanjutnya saya janji tidak akan li–".
__ADS_1
"Tidur Agna karena saya juga harus tidur," potong Darren sebelum laki-laki itu merebahkan tubuhnya. "Jangan sampai gara-gara obrolan yang tidak ada gunanya ini, kita berdua besok pagi bisa bangun kesiangan."
Agna langsung memilih diam saja karena gadis itu merasa, bahwa percuma saja ia akan meminta izin kepada Darren. Jika ujung-ujungnya sang suami tidak akan pernah memberikannya izin untuk libur.
***
Pagi menjelang saat Darren baru saja membuka mata, hal pertama yang laki-laki itu lihat adalah pemandangan yang sangat luar biasa. Dimana Agna terlihat sedang membungkuk dan entah apa yang sedang gadis itu ambil dengan posisi begitu di saat Agna hanya menggunakan handuk.
Membuat Darren kesulitan menelan salivanya karena melihat tubuh gadis itu yang sangat putih mulus tidak ada sedikitpun hal yang dapat dicela, dan samar-samar Darrel mendengar Agna yang sedang berbicara melalui gawai gadis itu.
"Iya, aku masih mencari baju yang cocok untuk kita healing-healing. Kamu tenang saja," kata Agna pelan yang ternyata saat ini gadis itu sedang mencari baju. Sehingga ia tidak menyadari kalau Darren sudah membuka mata dari tadi.
"Kamu kuliah saja dulu karena aku takut Pak Darren akan marah," ucap Saras di seberang telepon mengingatkan Agna.
"Dia masih molor, kamu tenang saja semua akan berjalan lancar. Ini aku sedang mencari baju yang pas dan setelah itu aku akan langsung otw, tanpa ketahuan oleh Bunda, Ayah, dan Pak Dosen galak ini." Agna sempat terkekeh-kekeh ketika ia mengatakan itu. "Kamu suruh saja Vita dan Erlin siap-siap, supaya kita bisa langsung jalan." Agna terlihat akan melepas handuknya karena gadis itu akan memakai bajunya.
Namun, suara Darren membuat Agna spontan saja malah melempar ponselnya, dan tidak jadi membuka handuknya karena gadis itu benar-benar sangat kaget.
"Kau, mau apa Agna?"
__ADS_1
Deg, jantung Agna rasanya mau lepas dari tempatnya. Hanya karena gadis itu mendengar suara serak milik Darren.