
Mendengar kabar bahwa cucunya sudah lahir, Al langsung saja pergi dari sana begitu saja.
Namun, sebelum itu Al sempat berkata, "Kalian semua harus ingat, bahwa urusan kita belum selesai!" Al menunjuk orang-orang itu satu per satu. "Jangan harap, kalian bisa lolos dari masalah ini setelah apa yang kalian lakukan pada putri saya." Sambung Al sebelum laki-laki itu benar-benar pergi dari sana dengan perasaan yang tidak menentu. Diikuti oleh Bagas dari arah belakang.
"Tuan selamat, cucu Anda berjenis kelamin laki-laki," kata Bagas sambil terus berjalan. "Cucu Anda juga sehat, tanpa kekurangan apapun. Tapi ...." Bagas menjeda kalimatnya.
"Jangan membuatku malah melemparmu saat ini juga dari sini Bagas. Katakanlah tanpa perlu kamu harus menjeda kalimatmu itu karena aku sungguh tidak suka." Al terdengar mendesis pada saat laki-laki itu mengatakan itu semua. "Katakan, jangan malah diam saja."
"Anu Tuan, Nona Agna ...." Lagi-lagi Bagas terdengar menjeda kalimatnya.
__ADS_1
"Kenapa dengan Agna? Jangan membuatku berpikiran yang tidak-tidak Bagas." Al berbalik demi melihat tangan kanannya itu.
"Nona Agna ... Nona Agna, belum sadarkan diri." Bagas dengan takut-takut mengatakan itu padahal isi pesan singkat yang Ranum kirim bertulisan dengan sangat jelas kalau saja Bagas tidak boleh memberitahu Al.
Namun, Bagas yang tidak bisa menyimpan rahasia apapun dari tuannya itu dengan lancar memberitahu Al tentang Agna yang belum juga sadar pasca menjalani operasi karena wanita itu bersalin dengan cara cesar.
"Tapi Tuan, saya sangat berharap jika Anda tidak akan menyuruh saya melakukan hal yang gegabah karena itu semua pasti akan merugikan banyak pihak." Bagas rupanya masih bisa berpikiran jernih tidak seperti Al yang sudah gelap mata sehingga laki-laki itu malah ingin nekat seperti saat ini. "Cukup Anda pindahkan saja Nona Agna ke Universitas yang ada di sini jauh lebih elit daripada Universitas ini, tanpa harus melakukan apapun. Bila perlu juga saya akan membuat surat pengunduran diri untuk menantu Anda yaitu Tuan Darren. Bagaimana apa Anda setuju?"
Al terlihat sedang berpikir sejenak. "Nanti aku pikirkan, untuk saat ini aku harus melihat bagaimana keadaan Agna dulu." Al rupanya memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Bagas karena saat ini ia terus saja memikirkan bagaimana keadaan putrinya. Jika tadi ia sudah mendengar kabar bahwa cucunya baik-baik saja.
__ADS_1
"Bukan apa-apa Tuan, tapi alangkah baiknya Anda pikirkan beberapa nasib para mahasiswa yang lain. Jika saya ini akan menuruti apa yang tadi Anda katakan," kata Bagas yang lagi-lagi mengingatkan Al. "Pikirkan lagi Tuan, jangan karena keegoisan Anda yang tidak tahu apa-apa tapi malah ikut kena getahnya juga," sambung Bagas yang memang benar berbicara apa adanya pada tuannya itu.
"Jangan, katakan apapun lagi karena saat ini aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan putriku." Al kini kembali melangkahkan kakinya menuju ke tempat parkiran. Meskipun sejujurnya ia saat ini juga sedang mencerna setiap apa saja yang tadi tangan kanannya itu katakan pada dirinya.
Akan tetapi, Al yang saat ini hanya ingin fokus memikirkan Agna malah mengatakan itu pada Bagas. Seolah-olah ia mengabaikan kalimat tangan kanannya itu padahal nyatanya tidak sama sekali, dimana Al saat ini sebenarnya membenarkan ucapan Bagas.
...****************...
Hai semua, apakah cerita Agna sama Darren harus sampai ke anak cucunya, atau cukup sampai di sini saja? Tolong di komen jika mau kisahnya beranak pinak😁🙏 supaya Author ini tidak di kira ceritanya puter² terus kayak roda😊
__ADS_1