
"Ren, kata Dokter tadi apa?" tanya Alea saat melihat putranya kembali dengan mimik yang sendu.
"Dokter Isabel malah menyuruhku untuk memeriksa Agna ke Dokter kandungan," jawab Darren yang kini menatap Alea dan Hugo secara bergantian.
"Dokter kandungan?" Wajah Alea yang mula-mula sama sendunya dengan sang putra kini malah kembali ceria lagi, karena sepertinya wanita itu tahu kenapa sang menantu bisa pingsan. "Mami masuk dulu, kamu tinggal panggilkan Agna Dokter kandungan itu untuk datang kesini." Wajah Alea semakin berseri-seri beda halnya dengan Hugo dan Darren yang terlihat bingung.
"Pi, biar Mami yang masuk duluan nanti Papi belakangan," kata Alea sebelum wanita itu benar-benar masuk ke dalam ruang rawat inap Agna. "Ren, kamu cepat panggil Dokter kandungan itu," sambung Alea yang kini terlihat sudah masuk dan menutup pintu itu.
Darren hanya mengangguk, kini laki-laki itu semakin heran karena tidak biasanya wajah sang ibu begitu berseri-seri serta berhias senyum dari tadi.
"Pi, aku panggil Dokter dulu. Papi kalau mau masuk ke dalam masuk saja tidak apa-apa." Darren lalu terlihat akan pergi, tetapi suara Hugo berhasil membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya.
"Darren, ada yang ingin Papi bicarakan dengan kamu." Hugo menatap putranya dengan sangat dingin. "Duduk, nanti saja panggil Dokter."taaw
"Ada apalagi sih, Pi? Aku harus memanggil Dokter dulu supaya kita tahu Agna sakitnya apa dan dimana. Nanti kita bicara empat mata kalau aku sudah mengetahui apa penyebab Agna yang tiba-tiba saja pingsan." Darren terlihat tidak mau duduk, karena saat ini laki-laki itu ingin memanggil dokter untuk sang istri.
Hugo tidak merespon putranya, ia sekarang malah terlihat duduk. Pria paruh baya itu juga tiba-tiba saja berkata, "Jika kamu menceraikan Agna, maka Papi dengan sangat tegas dan jelas mengatakan kalau kamu bukan putra Papi lagi. Jangan mentang-mentang kalian tinggal berdua, sehingga kamu malah meremehkan Papi yang tidak tahu semuanya. Kamu salah besar Darren bahwa mengira Papi tidak tahu apa-apa."
"Apa maksud Papi? Sungguh aku tidak mengerti." Darren berusaha terlihat biasa saja, meskipun di dalam benak laki-laki itu merasa kalau saat ini dirinya sedang ada dalam masalah besar, karena jika sampai Hugo sudah tahu seperti ini maka dapat dipastikan kalau Darren tidak akan bisa hidup dengan tenang serta damai.
__ADS_1
"Berhenti pura-pura, sekarang lebih baik kamu ikut dengan Papi." Hugo mengajak putranya untuk segera pergi dari rumah sakit itu, karena saat ini pria paruh baya itu tidak ingin ada orang lain yang mendengar percakapan antara dirinya dan Darren.
"Pi, ini bukan waktu yang tepat." Darren menggeleng menandakan bahwa laki-laki itu tidak ingin ikut dengan sang ayah. "Aku tidak bisa meninggalkan Agna disaat dia di dalam belum juga sadarkan diri," sambung Darren.
Hugo yang tadi duduk kini malah terlihat kembali berdiri. "Istri kamu akan baik-baik saja. Kamu tinggal ikut dengan Papi saja, Ren."
"Bagaimana bisa Papi mengatakan kalau Agna baik-baik saja. Disaat dia belum juga sadar," timpal Darren yang tidak terima jika Hugo mengatakan kalau istrinya saat ini pasti baik-baik saja. "Pokoknya aku harus pergi mencari Dokter kandungan dulu, setelah itu baru aku akan berbicara dengan Papi."
"Ren, tadi Papi sudah meminta untuk memanggil Dokter kandungan. Sekarang kamu tidak memiliki alasan lagi untuk tidak mau ikut dengan Papi," ucap Hugo yang memang benar tadi pria paruh baya itu sempat memanggil Lestari, meminta suster itu untuk memanggilkan Agna dokter kandungan.
"Papi apa-apaan sih, kita masih ada banyak waktu untuk membahas apa yang mau Papi bahas saat ini. Tapi untuk kali ini jangan dulu mengatakan serta membahas masalah apapun itu."
Darren yang ditanya hanya bisa menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Pi, please ... jangan bahas apapun dulu, karena aku ingin fokus dengan keadaan Agna saat ini."
"Papi tahu kalau kamu saat ini hanya tidak ingin Papi membahas masalah kamu dan Agna yang akan bercerai." Hugo menepuk bahu putranya beberapa kali. "Darren, Darren ... jika kamu terus-terusan seperti ini. Kapan kamu akan bersikap dewasa 'Nak? Kapan ...? Coba katakan pada Papi kapan itu kamu akan berpikir jernih serta bersikap dewasa?"
"Papi mau aku bersikap dewasa seperti apa? Kurang apalagi putra Papi ini dalam menghadapi menantu kesayangan Papi dan Mami yang sangat egois serta keras kepala itu, apa kurangnya aku, Pi?" Darren menghela nafas, karena laki-laki itu menyadari kalau memang mungkin benar Hugo tahu semuanya. "Aku seperti ini seperti itu, berusaha mendidik menantu Papi itu tapi apa yang malah menantu Papi itu lakukan malah di luar dugaanku. Semakin aku mengajarinya hal yang benar maka dia semakin menentangku."
"Ini hanya tentang waktu Ren, cobalah untuk memahami istrimu jangan malah gegabah dengan cara mau menceraikan Agna, ingat penyesalan itu selalu datang di akhir kalau pertama itu namanya pendaftaran." Hugo mengatakan itu sambil menatap putranya semakin lekat.
__ADS_1
***
Sedangkan di dalam ruangan kamar rawat inap Agna, terlihat Alea terus saja mengelus tangan menantunya dengan lembut.
"Agna, sayang bangun 'Nak." Alea terus saja mengucapkan kata-kata itu berulang-ulang kali, karena ia sangat berharap kalau menantu kesayangannya itu akan bangun.
Hingga pada detik berikutnya, perlahan Agna terlihat membuka mata. Wanita itu juga saat ini berusaha mengenali dimana dirinya saat ini berada.
"Tante," panggil Agna lirih. "Aku sedang ada dimana saat ini?" Agna terlihat memegang kepalanya yang terasa masih sangat berdenyut nyeri.
"Agna, ini Mami kok kamu malah manggil Tante sih, Sayang." Alea sekarang mengusap rambut sang menantu dengan penuh kasih sayang. "Apa ada yang sakit?"
Agna menggeleng kuat. "Ma-Mami." Agna memanggil Alea, karena wanita itu kini mulai menyadari kalau dirinya sedang berada di rumah sakit. "Apa yang sebenarnya sudah terjadi padaku, Mi? Kenapa aku bisa sampai ada di sini?" Agna bertanya dengan suara serak.
"Agna, kata Darren kamu tiba-tiba saja pingsan setelah muntah. Kemudian suamimu itu membawamu ke sini. Apa sekarang kamu masih merasa pusing atau mual?" Alea bertanya lagi pada menantunya itu.
"Bundaku mama, Mi?" Agna sekarang malah terdengar menanyakan tentang keberadaan Ranum.
"Bundamu sedang ada di dalam perjalanan menuju kesini, kamu tenang saja sayang." Alea berusaha menenagkan Agna.
__ADS_1