
Agna tanpa berpamitan dengan Darren bergegas pergi dari sana, karena kebetulan juga kedua orang tua laki-laki itu sudah pergi dari sana ketika masih pagi-pagi buta sekali. Sehingga membuat Agna bisa bernafas dengan lega sebab dirinya tidak perlu berakting dalam segi hal apapun itu.
"Saya antar!" seru Darren menawarkan untuk mengantar Agna, karena rupanya dari tadi laki-laki itu terus saja memperhatikan wanita itu sampai ke teras depan rumahnya.
"Tidak perlu, Bapak lanjutkan saja apa yang mau Bapak kerjakan. Jangan sok baik juga sama saya!" sahut Agna ketus yang sekarang sedang menunggu taxi online yang tadi sempat wanita itu pesan.
"Agna, niat saya baik ingin mengantarmu ke rumah Saras," kata Darren semakin mendekat ke arah wanita bar-bar itu.
"Tidak ada niat baik kalau itu keluar dari mulut Bapak, pasti ujung-ujungnya ada bakwan di balik udang." Agna tanpa menatap Darren membalas kalimat sang suami.
"Saya memang ingin mengantarmu ke rumah Saras, Agna tanpa ada maksud lain. Apa seburuk itukah isi pikiranmu terhadap saya ini? Lagipula saya hari ini juga harus pergi ke rumah sakit. Oleh sebab itu, saya menawarkan kamu untuk ikut bersama saya sekalian juga kita searah biar kamu tidak pakai jasa taxi online. Sayang 'kan, uang kamu yang di pakai untuk ongkos it–" Belum selesai kalimat Darren, Agna sudah terlebih dahulu melempar kartu black card milik Darren yang rupanya sengaja laki-laki itu kasih untuk Agna.
__ADS_1
"Nih, ambil kartu Bapak, saya nggak butuh! Saya juga nggak pernah pakai kartu itu." Agna lalu pergi begitu saja karena taxi yang gadis itu pesan tadi rupanya sudah sampai.
"Astaga Agna, kenapa dengan dirimu? Apa setiap kalimat saya ... kamu dengar selalu salah di telingamu? Padahal niat saya ini baik dan sangatlah tulus tapi kamu malah beranggapan selalu buruk." Darren membungkuk setelah mengatakan itu, demi bisa mengambil kartu ajaib yang ia berikan pada Agna, tepat ketika dirinya dan Agna baru satu minggu menikah. Tapi sekarang kartu itu malah dikembalikan lagi oleh Agna dengan cara dilempar.
"Saya tidak butuh duit, Bapak!" seru Agna setengah berteriak saat wanita itu sudah duduk di dalam taxi.
"Sangat keras kepala dan egois," gumam Darren yang merasa jika dirinya tidak akan mungkin bisa membuat wanita itu merubah sifatnya. "Jika begini terus, lebih baik aku harus menyuruh Om Al untuk memblokir semua atm yang Agna miliki, karena hanya dengan cara begitu sepertinya dia mau menggunakan kartu yang aku berikan ini," sambung Darren berbicara pada dirinya sendiri.
***
"Agna, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Saras ketika Agna sudah sampai di dekatnya.
__ADS_1
"Baik, memangnya apa ada yang salah denganku?" Agna terdengar bertanya balik pada temannya itu.
"Cara jalanmu." Saras langsung menarik kursi itu untuk Agna duduki. Setelah gadis itu menjawab pertanyaan Agna.
"Ini yang mau aku tanyakan padamu, kenapa daerah di bagian sini." Agna menunjuk bawah pusarnya. "Terasa sangat nyeri dan perih sekali, apa kamu bisa menceritakan aku apa saja yang sudah terjadi tadi malam denganku?"
Saras terdiam, karena gadis itu tidak bisa menjawab pertanyaan Agna itu. Sebab ia sangat takut jika saja temannya itu malah akan membuat perhitungan dengan Darren jika Saras sampai menjawab jujur tentang kejadian yang tadi malam.
"Sar, jawab aku sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Agna sambil menggoyang-goyangkan tangan gadis itu.
"A-anu, sebenarnya ... kamu dan Pak Darren sudah melaku–"
__ADS_1
"Hei, kalian berdua ada disini juga?" Tiba-tiba saja seorang laki-laki datang dan malah memotong kalimat Saras. "Apa aku boleh ikut duduk disini? Kebetulan aku juga sedang menunggu temanku."
"Dave," panggil Agna.