Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Mengalami Kecelakan


__ADS_3

Terdengar suara isak tangis yang bersahut-sahutan dari bibir Alea juga Ranum, mereka tidak menyangka kalau kecelakaan ini akan membuat putri dan putra mereka menjadi seperti ini.


Dimana Darren mengalami cedera yang sangat serius. Sehingga membuat laki-laki itu harus menjalani operasi. Sedangkan Agna saat ini sudah ditangani oleh beberapa medis. Wanita itu juga dikabarkan tidak terlalu parah tidak seperti Darren yang saat ini harus berjuang antara mati dan hidup.


Mengingat laki-laki itu yang parah dibagian kepala serta tongkat saktinya yang sempat terhimpit oleh mobilnya sendiri, karena rupanya Darren malah menabrak pohon yang artinya itu adalah sebuah kecelakaan tunggal.


"Pi, bagaimana keadaan Darren dan Agna?" tanya Alea di sela-sela isak tangisnya, karena saat ini ia benar-benar ingin tahu bagaimana keadaan menantunya serta putranya. "Pi, katakan, bagaimana keadaan mereka." Alea menarik tangan Hugo yang saat ini juga terlihat sangat bersedih.


Sebab tiba-tiba saja bayangan dirinya yang sering memu kul Darren terngiang-ngiang di ingatan pria paruh baya itu karena sekarang ia menjadi menyesal.


"Agna, tidak apa-apa. Cuma ada beberapa sedikit saja goresan di siku, lengan, lutut, dan pahanya. Bekas dia terguling-guling di aspal, dan untuk putra kita ...." Hugo menjeda kalimatnya, karena ia tidak sanggup untuk melanjutkannya. Ditambah pria paruh baya itu malah melihat Ranum yang pingsan.


"Pi, kenapa dengan putra kita?" Firasat Alea sudah tidak enak. Pada saat Hugo tadi menjeda kalimatnya.


"Darren parah Mi, sehingga membuat kita harus berdoa, untuk kesembuhan dan keselamatan putra kita itu," jawab Higo dengan lirih. Sungguh hatinya saat ini terasa sangat sesak pada saat dirinya mengingat penjelasan dokter sebelum Darren di operasi tadi. "Kita berdoa, karena putra kita sedang berjuang antara mati atau tetap bertahan hidup."


Mendengar itu Alea sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi, sehingga membuat wanita itu juga malah langsung pingsan begitu saja.


"Mami!" teriak Hugo yang saat ini malah menangkap tubuh Alea. Tubuh dari wanita paruh baya yang mungkin saja sedang merasa sangat shock karena apa yang sudah menimpa putra mereka saat ini.


***


"Ini sebuah keajaiban, karena janin yang ada di dalam perut Nona Agna sama sekali tidak apa-apa. Meskipun Nona Agna sempat terguling-guling di atas aspal beberapa meter." Dokter yang memeriksa Agna menjelaskan itu semua pada Hugo dan Al.


"Saya begitu yakin, kalau ini semua berkat Nona Agna yang melindungi perutnya sendiri dengan cara melingkarkan tangannya pada perutnya sendiri, yang itu artinya Nona Agna berusaha melindungi bayinya sendiri. Tapi tetap saja saya akan menganggap ini semua adalah keajaiban, sebab tidak banyak orang yang kecelakaan waktu hamil tidak akan keguguran. Dimana sebagian besar mereka akan kehilangan buah hati mereka, tapi untuk Nona Agna ... dia benar-benar wanita yang sangat luar biasa. Sehingga membuat beberapa rekan medis saya tercengang ketika mengetahui jani yang berusia sepuluh minggu itu tidak apa-apa," kata dokter itu panjang kali lebar saking tidak percayanya dengan apa yang terjadi saat ini.


Hugo dan Al langsung saja saling pandang, karena kedua pria paruh baya itu benar-benar tidak mengerti dengan kalimat yang dokter itu sampaikan saat ini pada mereka berdua.

__ADS_1


"Janin, bayi, selamat, kabar apa ini?" Al bertanya dengan kening yang berkerut.


"Lho, apa Tuan tidak tahu jika Nona Agna sedang hamil?" Dokter itu malah bertanya balik pada Al.


"Bukan saya tidak tahu, justru saya ini merasa sangat bingung karena putri saya baru delapan minggu yang lalu di katakan keguguran. Lalu kalimat Dokter yang tadi apa maksudnya?" Saat ini pertanyaan Al dapat mewakilkan rasa penasaran Hugo. "Katakan Dok, dengan sejelas-jelasnya biar kami berdua mengerti."


"Tuan Al, Tuan Hugo, saat ini Agna hamil dan saya tidak menemukan hasil kalau Nona Agna keguguran. Apa sebelumnya Dokter yang mengatakan itu sudah mekeriksa Nona Agna dengan sungguh-sungguh?" Dokter itu mengeluarkan hasil USG pada Hugo juga Al. "Silahkan Tuan, bisa lihat sendiri kalau memang benar Nona Agna hamil."


"Jadi, Agna tidak pernah keguguran?" Hugo bertanya pada dokter itu.


"Iya Tuan Hugo, Nona Agna sama sekali tidak pernah mengalami keguguran, dan sekarang Tuan bisa melihat keadaan Nona Agna mungkin saja saat ini dia sudah sadar, dan saya mau pamit dulu setelah saya menyampaikan kabar yang sangat membahagiakan ini." Dokter itu lalu terlihat pergi setelah ia menyampaikan apa yang seharusnya ia sampaikan.


"Pak Al, itu artinya Dokter di rumah sakit waktu itu telah membohongi kita." Rahang pria paruh baya itu terlihat mengeras. "Ini semua tidak bisa dibiarkan! Saya harus mencari tahu siapa Dokter itu." Mata Hugo mengisayaratkan kalau saja ia benar-benar sangat kecewa dan murka dengan kabar yang ia dengar ini.


Al juga mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, karena pria paruh baya itu juga sama seperti Hugo. Dimana ia bermaksud mencaritahu siapa dokter itu juga.


"Saya setuju," timpal Hugo.


***


Sedangkan di ruangan rawat inap Agna.


Perlahan terlihat mata Agna mulai terbuka, wanita yang memang benar-benar masih hamil itu mencoba mengenali bahwa dirinya saat ini sedang ada dimana. Matanya juga terlihat beberapa kali berkedip hanya gara-gara lampu neon yang tepat berada di atasnya saat ini membuat wanita itu menjadi sedikit silau.


Selang infus yang menancap sempurna di punggung tangannya membuat Agna langsung saja menyadari sesuatu hal, dimana dirinya dan Darren telah mengalami kecelakaan tuggal yang disebabkan oleh dirinya juga Darren yang mengemudi dengan kecepatan tinggi.


"Bunda …."

__ADS_1


Kalimat pertama yang keluar dari mulut Agna adalah dirinya memanggil nama Ranum. Akan tetapi, sang ibu yang juga baru saja sadar dari pingsan terlihat di luar ruangannya sedang berbicara dengan seorang polisi.


Samar-samar Agna bisa mendengtar percakapan polisi dan Ranum, sehingga membuat dirinya merasa sangat bersalah.


"Apa maksud Bapak, itu murni kecelakan tunggal?" tanya Ranum dengan mata wanita itu yang sudah sembab dan juga memerah.


"Benar Bu, kecelakaan itu adalah kecelakaan tunggal, dan dari hasil olah TKP bahwa sudara Darren sempat menginjak pedal rem sekuat tenaga sebelum ia mendorong saudari Agna untuk keluar dari dalam mobil itu. Sehingga saudari Agna terguling-guling sebelum saudara membanting strir ke arah kiri yang kebetulan di sebelah kiri itu ada pohon yang memang ukuran sangatlah besar sekali," jawab polisi itu sekaligus ia memberitahu tentang proses kecelakaan itu terjadi. "Jadi, disini dapat saya simpulkan bahwa saudara Darren berusaha menyelamatkan saudari Agna," sambung polisi itu lagi.


Ranum lagi-lagi harus meneteskan butiran bening pada saat dirinya mendengar itu semua, karena sungguh hatinya sedikit tersentuh pada saat mendengar penjelasan polisi yang tadi, yang mengatakan kalau Darren berusaha menyelamatkan putrinya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya. Nanti kalau ada sesuatu yang akan saya sampaikan berkaitan dengan kecelakaan ini pasti saya akan memberitahu Anda lagi," ujar polisi itu sebelum ia pergi dari sana.


Ranum hanya bisa mengangguk, karena dirinya tiba-tiba saja merasa kalau saja Darren sudah memiliki rasa pada Agna. Sehingga membuat laki-laki itu lebih memilih untuk menyelamatkan Agna ketimbang menyelamatkan diri.


"Inilah hidup, dimana kita selalu saja di berikan ujian serta cobaan," gumam Ranum sambil berjalan masuk ke dalam ruangan Agna, dimana saat ini putrinya itu juga sama seperti dirinya yang sedang menangis.


"Bunda," panggil Agna dengan leher yang terasa begitu tercekat, ditambah pada saat dirinya mengingat wajah Darren yang sangat panik waktu kecelakaan itu terjadi.


"Sayangnya Bunda." Ranum kini bergegas menghampiri putrinya, ia juga terlihat dengan cepat menghapus sisa-sisa butiran air matanya. "Syukurlah kalau kamu sudah sadar," kata wanita itu lagi, pada saat dirinya sudah berada di dekat Agna.


"Bun, bagimana keadaan Darren?" Agna terdengar menanyakan bagimana keadaan Darren.


"Darren … Darren, saat ini masih ada di ruang operasi. Kamu hanya perlu berdoa untuk kesembuhannya." Ranum menjawab sambil mengelus pucuk kepala putrinya dengan rasa sayang. "Apa sebelum kecelakaan Darren sempat mengatakan sesuatu padamu?" tanya Ranum.


"Dia mengucapkan kata rujuk," jawab Agna dengan air mata yang sekarang semakin deras mengalir. "Dia datang lalu membawaku pergi, sehingga kecelakaan itu terjadi." Suara Agna serak, karena ingatannya lagi-lagi tertuju pada saat kecelakaan itu terjadi.


Mendengar itu Ranum sedikit merasa lega, karena Agna dan Darren sudah menjadi pasangan suami dan istri lagi.

__ADS_1


Akan tetapi, Ranum belum menanyakan tentang apakah kata rujuk yang Darren ucapkan benar-benar sah atau tidak. Menginggat Darren mengucapkan kata rujuk saat laki-laki itu hanya berdua saja dengan Agna. Dan itu artinya tidak ada yang menjadi saksi waktu kata rujuk itu terlontar dari mulut Darren.


__ADS_2