
"Hai guys, apa kabar kalian berdua?" tanya Erlin yang terkenal paling cerewet di antara keempat gadis itu.
"Tiap hari ketemu masih saja menanyakan kabar kita," seloroh Saras menimpali Erlin sambil menarik baju Agna dari bawah meja. Bermaksud supaya gadis itu tidak terus-terusan menunduk, supaya Erlin dan Vita tidak curiga.
"Tau nih, secara kita satu kelas." Vita yang berada di sebelah Erlin malah menyenggol lengan si cerewet itu.
"Aku cuma bertanya bastie, dan itu tidak ada salahnya," kata Erlin sambil menarik satu kursi untuk gadis itu duduki. "Siapa tahu saja Agna dan Saras sedang demam, karena lagi mabuk cita sama Dave dan satu lagi Gibran." Erlin terkekeh saat gadis itu mengatakan itu, karena sejujurnya dia sangat suka menggoda dua gadis yang sudah dikenal sejak duduk di bangku sekolah SMA itu.
"Sudah ayo duduk manis jangan malah asik menggodaku dan Agna, karena sekarang ini aku sangat lapar gara-gara sudah menunggu kalian terlalu lama," ucap Saras yang terus saja mencuri-curi pandang pada Darren yang duduk di paling ujung di dalam ruangan restoran itu. "Ayo Vita, kamu juga duduk dulu biar kita bisa pesan yang lain," sambung Saras yang sekarang malah menyuruh si kutu buku yang mengepang rambutnya itu untuk duduk.
"Hm, sorry ya, aku tadi memberitahu Dave kalau kita sedang makan malam di sini. Nggak apa-apa 'kan, Agna?" Dengan takut-takut Vita bertanya pada Agna yang masih saja menunduk.
"Hah?"
Agna pura-pura tidak mendengar pertanyaan Vita. Karena saat ini gadis itu mendadak malah tidak mau bertemu dulu dengan Dave. Dan entah apa itu alasan Agna hanya dirinya lah yang tahu.
__ADS_1
"Dave mau kesini, kamu malah pura-pura budek!" sahut Erlin yang sedang sibuk memilih menu makanan apa yang akan ia pesan.
"Dave?" Agna terlihat mengangkat wajahnya sambil menatap Vita dengan kening yang berkerut.
"Iya, apa nggak apa-apa dia ikut gabung sama kita?" Kutu buku itu nyengir kuda saat ia bertanya lagi pada Agna.
Erlin dan Saras yang melihat Agna malah diam ketika ditanya lagi dengan serempak dua gadis itu malah berkata, "Boleh kok, Vita, asal dia datang bersama Gib–" Belum selesai kalimat dua gadis itu.
Tiba-tiba saja malah terlebih dahulu terdengar suara laki-laki yang tadi di maksud oleh Vita.
Agna yang melihat Dave langsung saja melongo, karena saat ini gadis itu merasa bahwa dirinya saat ini sedang melihat pangeran. Sebab baru kali ini Agna melihat model rambut serta cara Dave berpakaian seperti saat ini. Sungguh membuat gadis itu merasa bahwa laki-laki itu adalah jodohnya yang tertunda.
"Tuh tanya sama ketua dalam sirkel kita ini," celetuk Erlin menunjuk Agna yang malah diam saja.
"Agna, apa bo–"
__ADS_1
"Iya, kamu duduk saja, Dave," potong Agna cepat yang kini menarik satu kursi untuk Dave. "Ayo Dave, duduk di sebelahku saja tidak apa-apa." Dengan pipi yang bersemu merah Agna mengulum senyum. Karena jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
"Cie ... yang lagi kasmaran, ayo bestie kita pindah ke meja yang kosong itu saja. Karena kita tidak boleh menjadi orang ketiga, keempat, dan kelima di sini." Erlin yang memang sangat peka dengan keadaan di sekitarnya dengan cepat menarik tangan Saras dan Vita. "Kita pindah lapak dulu guys, dan biarkan teman kita yang satu ini. Eh, salah yang dua ini ruang supaya bisa makin begini." Erlin masih sempat-sempatnya memperagakan dengan gerakan tangannya yang seperti orang sedang ciu*an.
"Erlin, kamu memang terbaik. Dan ini dua jempol untukmu." Vita mengangkat dua jempolnya sambil membenarkan posisi kacamatanya. "Kuy, kalau gitu kita pindah." Vita yang memang setuju dengan hubungan Dave dan Agna merasa senang saat dirinya melihat dua manusia yang jenis kelaminnya itu berbeda sedang duduk bersebelahan.
"Lho, diam saja di sini biar kita ramai-rami," kata Dave hanya untuk sekedar berbasa-basi saja. Padahal laki-laki itu berharap ke tiga gadis itu cepat pindah ke meja sebelah, biar dirinya lebih leluasa akan berbicara empat mata dengan Agna, gadis yang sudah sangat sejak lama Dave sukai.
"Kalau begitu kita ke sana dulu." Saras yang dari tadi diam akhirnya memutuskan untuk mengikuti apa yang Erlin katakan. "Ayo kalian berdua jalan, dan jangan pernah merasa iri pada Agna yang di taksir oleh cowok, ehem ... paling wow di sekitar sekolah kita waktu dulu di SMA."
Rupanya Saras juga bisa bercanda seperti saat ini. Membuat suasana yang tadi sempat sedikit canggung menjadi kembali seperti saat hanya dirinya dan Agna yang di sana. "Agna, kita kesana ya, kamu lanjutkan saja makan malam bersama Dave. Nanti kalau ada apa-apa atau Dave yang mau macam-macam cepat teriak," seloroh Saras yang memang sangat suka bercanda gurau.
"Jangan kebanyakan ngomong, kasihan Dave yang sudah dari tadi mau berduaan saja dengan Agna," bisik Erlin yang menarik tangan Saras dengan pelan.
Saras menghela nafas sambil menimpali, "Baiklah, kita kesana kuy," ajak gadis duplikat dari Sonia itu.
__ADS_1
"Nah gitu dong, kita jalan sekarang." Vita dengan senyum yang semakin mengembang menjauh dari dua sejoli yang sama-sama sedang di mabuk cinta itu.