Perjodohan With Dosen

Perjodohan With Dosen
Bab 19


__ADS_3

"Kenapa dia sangat manis sekali? Apa begini rasanya ketika kita sedang jatuh cinta? Rasanya seperti hatiku sedang di tumbuhi oleh ribuan bunga dan di hinggapi kupu-kupu yang berwarna warni." Sungguh Agna tidak akan pernah menyangka bahwa dirinya akan bisa jatuh cinta secepat ini pada Dave, laki-laki yang sudah menem baknya sebanyak dua kali itu.


Namun, sampai sekarang gadis itu sama sekali belum memberikan jawaban untuk laki-laki yang terus saja mengirimi Agna pesan singkat dengan kata-kata yang selalu saja membuat hati gadis itu berbunga-bunga hingga meleleh.


"Dave sepertinya sangat cocok menjadi calon suamiku, dia humoris selalu saja membuatku tersenyum sendiri seperti ini," gumam Agna sambil mengulum senyum. "Apa aku terima saja dia, untuk menjadi pacarku?" Saat Agna bertanya pada dirinya sendiri tiba-tiba saja sebuah panggilan video masuk ke dalam benda pipihnya.


"Astaga, bagimana ini? Kenapa Dave meneleponku melalui video call? Mana aku belum dandan lagi, mana muka bantalku masih kelihatan." Agna terlihat turun dari atas ranjang dengan cepat dan gadis itu segera menuju meja riasnya.


Dan ternyata rupanya semua masih sangat lengkap di meja riasnya, karena sang ibu selalu saja memperhatikan hal seperti itu. Membuat Agna merasa kalau Ranum adalah seorang ibu yang sangat pengertian dan perhatian.


"Tunggu dulu Dave, aku harus merias sedikit wajahku karena aku tidak mau kalau kamu sampai akan melihat wajahku yang pucat ini, sebab aku lupa memakai lipstik dan sedikit riasan wajah," kata Agna sambil terus saja menatap dirinya dari pantulan cermin. "Pokoknya kamu harus terlihat cantik di mata Dave, jangan malah buluk nanti dia malah risih sama kamu." Saat Agna terus saja berbicara pada dirinya sendiri. Ponselnya malah kembali lagi berdering

__ADS_1


"Iya, Dave tunggu aku dulu. Ini aku masih dandan, biar makin cantik." Agna dengan raut wajah yang sangat bahagia segera menuju ranjangnya setelah tadi gadis itu menggunakan make up dengan tipis-tipis biar tidak terlihat menor. "Ah, aku angkat dulu. Siapa tahu Dave mau mengungkapkan perasaannya lagi padaku," ucap Agna yang sekarang terlihat meraih ponselnya dan tanpa melihat nama si pemanggil. Gadis itu malah langsung mengangkatnya saja.


"Ha-halo Dave, a-pa kabar?" tanya Agna terbata-bata sambil terus saja menunduk. Karena ia merasa malu. "Maaf tadi aku lama mengangkatnya karena aku sedang belajar. Jadi, aku minta ma–"


"Agna!" potong Darren dengan cepat. Karena laki-laki itu merasa sedikit kecewa dengan sang istri. Di saat Agna malah menyebut nama laki-laki lain di saat dirinyalah yang menghubungi gadis itu.


Mendengar suara Darren, Agna langsung saja mengangkat sedikit wajahnya, sehinhga membuat Agna bisa melihat kalau di layar ponselnya itu adalah Darren bukan Dave.


"Sudahlah Agna, jagan sebut nama pacarmu itu!" ketus Darren yang mula-mula tadi sempat terpesona dengan wajah cantik sang istri.


Namun, detik berikutnya Darren merasa kecewa ketika ia tahu bahwa Agna berdandan untuk laki-laki lain bukan untuk dirinya.

__ADS_1


"Untuk apa Bapak menelepon saya?" Pada akhirnya Agna memilih untuk bertanya pada Darrel, dan terlihat gadis itu juga menghela nafas.


"Kenapa pesan saya tidak kamu balas?" Darren malah mengabaikan pertanyaan Agna, dan memilih untuk melontarkan pertanyaan pada gadis yang terlihat di layar benda pipihnya itu berwajah masam.


"Bukan urusan Bapak, dan ya sudah kalau tidak ada hal penting yang mau Bapak bicarakan saya akan tutup panggilan telepon ini," jawab Agna sambil menghapus riasan wajahnya yang tadi menggunanakan tisu basah. "Saya ngantuk, Bapak tutup saja telepon ini secara sepihak," sambung Agna yang memilih untuk memalingkan wajahnya.


"Saya cuma mau minta tolong Agna, makanya saya mengirim pesan pada nomor kamu. Tapi kamu malah mengabaikannya."


"Saya ngantuk Pak, minta tolongnya besok pagi saja karena malam ini juga saya dan teman-teman ada acara. Jadi, saya benar-benar tidak akan bisa membantu Bapak," timpal Agna sambil terlihat berpura-pura menguap.


"Agna, ayolah tolong bawakan saya berkas dokumen yang ada di rumah. Apa kau mau?"

__ADS_1


"Tidak! Saya harus tidur. Kalau Bapak merasa itu penting ambil saja sendiri!" ketus Agna sewot.


__ADS_2