
Setelah berhasil membuka ikatan pada tangannya Saras segera berlari mengambil ponsel Agna dan bergegas menuju kamar mandi, karena gadis itu berharap kalau dirinya bisa meminta tolong melalui ponsel yang tadi sempat gadis itu ambil.
Namun, sangat di sayangkan sekali rupaya ponsel Agna itu malah tidak memiliki sinyal yang artinya saat ini tidak ada yang bisa Saras lakukan selain menunggu keajiban itu datang seprti apa yang tadi sempat Agna katakan.
"Nona manis, ayolah jangan membuat saya menunggu terlalu lama," kata Bram sambil menggedor pintu kamar mandi itu dengan sangat keras. "Ayolah Nona buka pintunya, apa jangan-jangan Anda mau main di dalam sana?" Si me sum Bram malah mengatakan itu semua. Sambil masih saja menahan rasa nyeri pada adik kecilnya.
Sedangkan Saras yang mendengar itu semua malah memikirkan bagimana keadaan Agna saat ini. Sehingga membuat gadis itu berusaha berpikir dengan sangat keras supaya dirinya dan Agna selamat.
"Ya Tuhan, selamatkan aku supaya aku juga bisa menyelamatkan Agna." Saras memejamkan mata sambil terus saja berdoa di dalam benaknya. Berharap tidak akan ada hal buruk yang akan menimpa dirinya.
__ADS_1
"Nona, jangan begini ayolah kita bersenang-senang!" seru Bram sambil menggedor pintu itu dengan sangat keras.
"Tidak akan! Kau jangan mimpi me sum!" sahut Saras menimpali yang sekarang terlihat sedang menahan pintu kamar mandi itu dengan tubuhnya, karena ia takut jika saja Bram akan berhasil membuka kamar mandi itu dari luar. "Pergilah! Sebelum polisi datang, karena aku sudah meminta bantuan!" sambung Saras lagi yang berniat ingin membuat Bram takut. "Kau yang saat ini sedang ada di luar pergilah!" Saking kesal dan takutnya Saras malah mengedor pintu kamar madi itu dari dalam. "Dasar pecundang beraninya sama perempuan, kalau memang berani noh, pergi ke kantor polisi karena di sana pasti banyak laki-laki," celetuk Saras.
"Buka, sebelum saya rusuk pintu ini Nona, janga malah terus-terusan mengulur waktu seperti ini." Bram mundur beberapa langkah karena laki-laki itu saat ini malah akan mau mendobrak pintu kamar mandi itu.
***
"Aku disini melihat kalau Agna keluar dari klub malam bersama laki-laki," jawab Darius yang sengaja mengulangi kalimatnya.
__ADS_1
"Itu jawaban yang keluar dari mulutmu sudah yang ketiga kalinya. Apa sebenarnya maksudmu, Darius?" Darren menatap temannya itu dengan kening yang berkerut.
"Maaf, aku memang begini sering lupa." Darius mengangkat dua jarinya.
"Kau memang aneh, sekarang kita harus pergi ke mana?" Darren saat ini sama sekali tidak bisa mengenali Lian, meskipun Darius tadi sempat mengezoom tubuh anak murid Darren itu, karena posisi Lian sedang membelakangi kamera cctv.
Darius mengangkat bahunya sambil menjawab. "Aku tidak tahu kita harus pergi kemana, karena aku sama sekali belum bisa mencari titik terang saat ini.".
"Jangan bercanda, kita harus segera menemukan gadis bar-bar itu senbelum Om Al tahu bahwa putrinya saat ini diculik," ucap Darren yang merasa harus secepatnya bisa menemukan Agna, karena laki-laki itu merasa kalau Agna saat ini pasti sedang dalam bahaya.
__ADS_1
"Kalau begitu jalan lurus ke depan saja, sebab aku melihat kalau sinyal kartu Agna malah berhenti di perbatasan," kata Darius yang sepertinya bisa mengetahui dimana keberadaan Agna saat ini. "Ayo, Ren, jalan jangan malah diam saja dan menatapku sepertiku."
"Awas, jika kali ini kau bohong maka aku akan melemparmu dari dalam mobil ini," ucap Darren menatap temannya itu sinis.